JAKARTA, Investor Daily --- Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga mencapai di atas US$ 90 per barel, secara tidak langsung diharapkan menguntungkan industri pengeboran nasional. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengeboran Minyak Indonesia (APMI) Bambang Purwohadi, kenaikan harga minyak mentah tersebut memicu tingginya sewa anjungan (rig) sekitar 10-15%.
Pria kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 Januari 1951 yang menjabat direktur utama PT DJ Services Indonesia dan pernah menjadi direksi pada PT Medco Antareja itu menyebutkan, saat ini 85% rig di Indonesia sudah terkontrak, sedangkan 15% sisanya masih nganggur dan siap mengikuti tender pengeboran.
Seperti apa kondisi industri pengeboran nasional saat ini, berikut petikan wawancara wartawan Investor Daily Tri Listiyarini dengan Bambang Purwohadi di Jakarta, belum lama ini.
Adakah dampak positif untuk industri pengeboran nasional naiknya harga minyak hingga menembus level US$90 pe barel?
Tentu saja. Namun, imbasnya sangat kecil dan bersifat tidak langsung. Dampak kenaikan harga minyak bagi industri pengeboran baru terasa tiga bulan ke depan, sekitar Januari 2008. Sebab, sebagian besar rig-rig yang ada sudah terkontrak sejak enam bulan lalu, yang bisa menikmati hanya rig-rig yang belum terkontrak. Itu pun mereka harus mengikuti tender dulu untuk bisa menikmati keuntungan tingginya harga minyak.
Sebenarnya, berapa jumlah rig yang sudah terkontrak dan yang belum?
Secara umum, 85% rig-rig Indonesia sudah terkontrak, sisanya 15% itu yang masih ‘nganggur’ dan siap mengikuti tender pengeboran.
Untuk rig yang sudah terkontrak, apakah sang pemilik bisa menaikkan sewa seiring kenaikan harga minyak?
Kalau yang sudah terkontrak, sewa tetap mengacu pada harga ketika tender. Kenaikan sewa bisa dilakukan pemilik rig yang tengah mengikuti tender. Yang jelas, kenaikan sewa sangat dipengaruhi kenaikan harga minyak, kalau harga minyak naik sewa juga bisa naik, tapi kalau harga turun sewanya juga bisa turun. Saya perkirakan, kenaikan harga minyak saat ini hanya sementara saja, hingga akhir tahun rata-rata hanya US$ 70-72 per barel. Karena itu, kalau ada kenaikan sewa tidaklah terlalu besar.
Sampai berapa besar kenaikan sewanya?
Selain bergantung pada harga minyak, kekuatan rig bervariasi, demikian juga jenisnya, yakni jenis rig lepas pantai (off shore) atau darat (on shore), karena itu sewanya juga berbeda-beda. Namun demikian, rata-rata kenaikannya sekitar 10-15%. Misalnya, rig kecil jenis on shore dengan kekuatan 500-1.000 hp (horse power) sewanya naik menjadi US$ 10.000-20.000 per hari. Untuk jenis yang sama dengan ukuran lebih besar di atas itu, sewanya bisa naik menjadi US$ 60.000-80.000 per hari. Sementara itu, untuk rig raksasa (jack up) dengan kekuatan di atas 100.000 hp dan berjenis off shore, sewanya bisa di atas US$ 150.000 per hari.
Seberapa besar utilisasi rig nasional, baik di dalam maupun di luar negeri?
Sebanyak 80% dari jumlah rig nasional yang jumlahnya kurang dari 100 digunakan di dalam negeri, sisanya sebanyak 20% masih belum digunakan. Perlu diketahui, kemampuan rig nasional masih sedikit lebih rendah dibandingkan negara lain, karena itu penggunaannya mayoritas untuk pemenuhan dalam negeri. Memang ada beberapa yang bisa tembus ke luar negeri, seperti milik PT Apexindo Pratama Duta Tbk.
Apa penyebab kemampuan rig nasional kurang bisa bersaing dengan rig-rig dari luar negeri?
Sebenarnya, perbedaan rig nasional dengan di luar negeri tidak terlalu mencolok. Hanya saja, dari sisi teknologi kemampuan rig-rig di dalam negeri masih kurang. Rig-rig nasional masih belum mampu mengaplikasikan teknologi pengeboran laut dalam. Rig-rig yang mampu menembus laut dalam masih dikuasai negara-negara seperti Amerika Serikat dan Norwegia.
Upaya seperti apa yang bisa dilakukan perusahaan layanan pengeboran untuk bisa bersaing dengan perusahaan sejenis di luar negeri?
Tentunya berusaha membuat rig-rig yang mampu mengebor di laut dalam. Sebab, saat ini, pengeboran minyak di dunia sudah bergeser ke cekungan-cekungan yang berada di laut dalam yang cenderung ‘sulit’. Mereka bisa mengirimkan sumber daya manusia (SDM)-nya untuk studi banding, sekolah, atau kursus ke negara yang menguasai teknologi itu.***
Thursday, November 1, 2007
Harga Minyak Untungkan Industri Pengeboran
Labels: Industri Pengeboran
Friday, August 10, 2007
Kredit ke Sektor Migas Naik 516%
JAKARTA, Investor Daily --- Pembiayaan perbankan kepada industri minyak dan gas bertumbuh 516% selama periode 2004-Juni 2007 dari Rp 1,8 triliun menjadi Rp 11,3 triliun. Sektor ini membutuhkan pendanaan dari bank sebesar US$ 12 miliar per tahun. Sebagian besar dana itu dialokasikan untuk membiayai industri hulu.
“Perbankan bisa membiayai industri migas mulai dari yang kecil (UKM) hingga industri hulu yang besar-besar,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D Hadad saat membuka seminar Prospek dan Peluang Usaha Penunjang Migas di Gedung BI Jakarta, Kamis (9/8).
Meski prospektif, Muliaman mengingatkan perbankan untuk memperhitungkan risiko kreditnya, sebab dana yang dibutuhkan industri migas relatif besar. Rasio kredit bermasalah (non performing loan) industri ini turun dari Desember 2006 sebesar 9,4% menjadi 4,4% pada Juni 2007.
“Untuk mengurangi risiko kredit, bank-bank sebaiknya melakukan sindikasi untuk membiayai industri migas yang membutuhkan dana besar. Kalau yang UKM saya rasa tidak masalah,” ujar dia.
Melalui kredit sindikasi, perbankan nasional, lanjut Muliaman, dapat bersaing dengan bank-bank asing yang selama ini lebih banyak memenuhi kebutuhan industri tersebut. Dengan berbagi risiko, bunga yang diberikan bisa lebih rendah, sehingga pelaku industri akan memilih pembiayaan dari perbankan lokal.
Muliaman menambahkan, pembiayaan dari luar negeri lebih banyak dipilih oleh industri migas di sektor hulu. Sementara untuk industri penunjang atau hilir cenderung dibiayai perbankan lokal.
Di tempat yang sama, Dirjen Migas Lulu Sumiarso mengatakan, kebutuhan industri migas di sektor hulu sebanyak US$ 9 miliar, sedangkan sisanya untuk sektor hilir. Dia mengaku, selama ini pembiayaan terbesar lebih disokong pihak asing, sedangkan perbankan nasional masih memperhitungkan tingginya risiko kredit.
Sebelumnya, Direktur Korporasi PT Bank Mandiri Tbk Abdul Rahman mengaku kekurangan tenaga yang paham soal migas dan menilai risikonya cukup tinggi. “Kami belum familiar dengan oil and gas. Kalau dalam eksplorasi itu risikonya tinggi dan butuh biaya besar padahal kami belum punyakeahlian yang kuat di bidang ini,” kata Abdul Rahman.
Hingga saat ini, total kredit yang dikucurkan Bank Mandiri ke sektor migas sekitar Rp 800-900 miliar. Jumlah ini dinilai masih kecil dibandingkan minat bank-bank asing membiayai sektor migas.
Sementara itu, Direktur Korporasi PT Bank Central Asia Tbk Dhalia Ariotedjo mengatakan, pihaknya telah mengucurkan kredit ke beberapa perusahaan besar di industri migas seperti Pertamina dan Apexindo. Namun dia enggan menyebutkan plafon kredit tersebut.
Dhalia mengaku minimnya pembiayaan ke sektor migas dari perbankan lokal disebabkan kebutuhan dana cukup besar dan nilai tukar yang digunakan dalam dolar. Untuk memberikan kredit dalam dolar, pihaknya kesulitan mencari sumber pendanaan. “Kami mungkin hanya bisa membiayai sektor migas melalui sindikasi, sebab BCA masih sulit memberikan pinjaman yang besar dalam dolar,” kata dia. (c104)
Labels: Industri Pengeboran
Wednesday, February 14, 2007
'Rig agar dibuat di dalam negeri'
BEKASI, Bisnis Indonesia: Pemerintah mengimbau industri nasional untuk membuat anjungan pengeboran (rig), sehingga operator migas tidak perlu lagi impor alat tersebut.
Dirjen Migas pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luluk Sumiarso mengatakan hal tersebut diperlukan untuk menghilangkan ketergantungan sektor migas terhapap produk luar.
"Selain itu, ini sudah merupakan agenda utama migas ESDM, yaitu pemberdayaan kapasitas nasional bidang migas," ujar dia di sela-sela kunjungan ke PT Welltekindo Nusantara, kemarin.
Berdasarkan hasil kunjungan ke China beberapa waktu lalu, jelas dia, diketahui bahwa untuk membuat rig tersebut tidak terlalu sulit dipelajari. "Saya kira orang sini [Indonesia] mampu membuatnya."
Pada kesempatan tersebut, Djoemantio Djoekardi, Direktur PT Welltekindo Nusantara, menargetkan produksi 25 unit wireline tahun ini, atau naik dari tahun lalu 20 unit.
Wireline merupakan alat yang digunakan untuk menarik minyak dari dalam sumur lapangan migas. Alat ini dapat digunakan di lapangan lepas pantai dan daratan.
Menurut dia, beberapa perusahaan operator migas dalam negeri telah menggunakan produk mereka seperti Chevron dan Total.
Dia mengungkapkan produk mereka saat ini tidak hanya untuk pasar domestik, tapi juga telah diekspor ke India, Malaysia, China, Brasil, Vietnam, dan Nigeria.
Menurut Djoemantio, alat yang mereka hasilkan telah mendapatkan Standar Nasional Indonesia (SNI) sejak dua tahun terakhir ini.
Dengan adanya produk ini, kata dia, membuktikan produk anak negeri dapat mendukung perkembangan migas nasional.
"Kami siap bersaing, kalau soal harga kami lebih murah dari pada alat internasional karena 90% menggunakan peralatan dalam negeri termasuk tenaga kerja."
Harga produk ini berkisar US$200.000-US$300.000 per unit. Tetapi harga itu dapat berubah tergantung pada tambahan alat yang diinginkan konsumen.
Dirjen Migas berharap industri nasional juga dapat menghasilkan alat bor. "Kami ingin industri nasional berperan besar."
Selanjutnya Djoemantio mengatakan pihaknya meminta pemerintah memasukkan pengadaan jasa dalam negeri tertulis dalam dokumen tender migas karena dengan begitu mendorong pertumbuhan industri nasional.
Menurut dia, selama ini pemerintah menyarankan penggunaan jasa dan pengadaan dalam negeri. Namun itu hanya saran bukan keharusan.
"Nah untuk keharusan tuliskan dalam dokumen tender." (09)
Bisnis Indonesia
Labels: Industri Pengeboran
Tuesday, January 9, 2007
Biaya pengeboran minyak meroket hingga 100%
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Biaya pengeboran minyak bumi untuk wilayah lepas pantai melonjak hingga 100% pada awal tahun ini, akibat sulitnya mendapatkan anjungan pengeboran (rig) di dalam negeri.
Sekjen Asosiasi Pemboran Migas Indonesia Tito Kurniadi mengungkapkan ongkos jasa pengeboran minyak bumi untuk kawasan lepas pantai (offshore) kini mencapai US$160.000 per hari.
"Hal ini berarti mengalami kenaikan hingga 100%. Mengingat ongkos [pengeboran offshore] sebelumnya hanya berkisar US$70.000-US$90.000 per hari," ujarnya, kemarin.
Penyebab utama dari melonjaknya ongkos jasa pengeboran tadi, menurut dia, karena terjadi kelangkaan rig yang diikuti dengan kenaikan tarif sewa.
"Terus terang tingginya harga minyak mentah di pasar internasional membuat kontraktor migas gencar melakukan drilling. Tapi kegiatan mereka tidak dibarengi dengan ketersediaan rig di dalam negeri. Akibatnya, perusahaan penyedia peralatan tadi mematok harga sewa yang tinggi," papar Tito.
Sementara itu, Presdir Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro membenarkan terjadinya kenaikan tarif sewa rig. Bahkan kenaikannya mencapai 100%.
Kenaikan tarif sewa rig tadi membawa konsekuensi pada melonjaknya ongkos jasa pengeboran minyak.
"Masih tingginya harga minyak mentah, membuat usaha jasa pengeboran minyak akan mendapatkan hasil yang menggembirakan tahun ini."
Tapi, menurut Sekjen APMI, tidak semua perusahaan jasa pengeboran minyak menuai pendapatan tinggi dari kenaikan harga minyak mentah yang terjadi sejak 2 tahun lalu.
Pendapatan yang didapat dari perusahaan jasa pengeboran minyak wilayah daratan (onshore), katanya, tidak sepesat perusahaan yang beroperasi di lepas pantai.
Hal itu dimungkinkan, kata Tito, karena produksi minyak yang akan dicapai pada wilayah lepas pantai dan laut dalam jauh lebih besar dibandingkan wilayah daratan.
Masih ada distorsi
Meskipun bisnis pengeboran sedang naik daun, tapi Tito melihat masih ada distorsi dalam praktiknya di lapangan. Indikasinya antara lain terjadi ketidakwajaran dalam perhitungan harga kontrak rig.
"Praktik ini terjadi karena pengusaha [rig] tidak konsisten dalam menentukan rate. Mereka hanya mengejar bagaimana caranya mendapatkan proyek."
Di sisi lain, kata Tito, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) selaku pemilik atau pengelola proyek migas cenderung memilih perusahaan penawar terendah dalam tender jasa pengeboran.
"Akibatnya [untuk mendapatkan proyek] terjadi saling banting harga antarsemasa pengusaha jasa pengeboran. Situasi ini tanpa disadari merusak iklim bisnis migas."
Buat KKKS dan perusahaan rig asing, lanjutnya, situasi tadi mungkin tidak menjadi persoalan karena target dari kehadiran mereka di Indonesia adalah mengejar keuntungan.
Tapi buat pengusaha pengeboran nasional akan menjadi masalah besar karena daya saing menjadi lemah, sehingga kelangsungan usaha terpuruk.
"Akhirnya, Indonesia tidak bisa melahirkan pengusaha jasa pengeboran minyak yang tangguh." (ismail.fahmi@bisnis.co.id)
Oleh Ismail Fahmi
Bisnis Indonesia
Labels: Industri Pengeboran
Wednesday, June 28, 2006
Sunday, April 23, 2006
Harga Sewa Rig Minyak Semakin Tinggi
JAKARTA, Koran Tempo -- Meningkatnya harga minyak mentah dunia hingga melebihi US$ 70 per barel membuat harga sewa rig pengeboran minyak naik hingga tiga kali lipat. Peningkatan ini karena jumlah rig terbatas, sedangkan permintaan sangat tinggi.
"Peningkatan ini akibat euforia pengusaha minyak yang ingin mengebor lantaran harga minyak sedang tinggi," kata Ade R. Satari, Sekretaris Perusahaan PT Apexindo Pratama Duta Tbk., di Jakarta, Kamis lalu.
Dia mencontohkan, rig jenis jack up milik Apexindo yang dinamai Raniworo saat ini disewa oleh perusahaan minyak dan gas bumi Santos sebesar US$ 145 ribu per hari. Padahal, pada akhir tahun lalu, saat kontrak lama berakhir masih US$ 50 ribu per hari.
Apexindo memberlakukan kontrak sewa rig maksimal tiga tahun sehingga harga sewa tidak optimal. "Perusahaan lain banyak yang menawarkan rig sekitar US$ 160 ribu dengan spesifikasi yang sama dengan Raniworo," ujarnya.
Menurut Ade, kontrak rig dibatasi tiga tahun karena harga minyak sulit diprediksi sehingga kecenderungan untuk terus berfluktuasi tetap ada. Dengan harga sewa tetap sepanjang tahun, bila ada kenaikan harga ataupun penurunan harga, tidak dapat dilakukan perubahan harga untuk kedua pihak. MUHAMAD FASABENI
Labels: Industri Pengeboran
Saturday, April 22, 2006
Pasar Rig Lepas Pantai Nasional Terbuka Lebar
JAKARTA—Media Indonesia: Pasar rig (anjungan) pengeboran migas lepas pantai di Indonesia saat ini terbuka lebar. Hal itu seiring kebijakan pemerintah yang mulai menggenjot produksi migas lepas pantai, setelah sebelumnya lebih terkonsentrasi di daratan.
Direktur Keuangan PT Apexindo Pratama Duta Tbk, Agustinus B Lomboan, mengatakan itu dalam acara bincang-bincang dengan wartawan, di Jakarta, Kamis (20/4).
Menurut Agustinus, peluang yang besar itu akan banyak dimanfaatkan perusahaan-perusahaan jasa pengeboran migas untuk menambah persediaan rig lepas pantai yang mereka miliki. Apexindo berencana menambah satu rig yang dapat dipergunakan di wilayah lepas pantai dengan kedalaman sumur 100-150 meter. Pemasaran akan difokuskan di wilayah Indonesia.
"Pengeboran lepas pantai relatif masih sangat sedikit dilakukan di Indonesia, bila dibandingkan dengan potensi yang ada. Ke depan, akan banyak pengeboran-pengeboran lepas pantai bermunculan, karena itu yang sedang ditawarkan pemerintah. Apalagi, bagi hasilnya menarik," ujarnya.
Untuk mewujudkan rencana penambahan rig, tahun ini juga perseroan mulai melakukan penjajakan, khususnya yang terkait ketersediaan galangan kapal yang siap memproduksi dan pendanaan. Rig tersebut ditargetkan siap ditawarkan ke sejumlah perusahaan migas pada 2008.
Lebih lanjut Agustinus mengungkapkan, baru-baru ini perseroan mendapatkan komitmen pinjaman sindikasi empat bank asing dengan nilai sekitar US$120 juta. Pinjaman itu akan dipergunakan untuk menuntaskan pembayaran rig Soehana yang segera selesai pengerjaannya.
"Sekarang masih dalam tahap finalisasi, jadi belum bisa kami sebutkan nama-nama banknya. Harga pembelian rig tersebut US$150 juta, sebanyak US$30 juta sudah kami bayar sebagai uang muka," terangnya.
Rig Soehana, kata Agustinus, telah memenangkan tender jasa pengeboran lapangan gas Sisinubi milik Total Indonesia. Rencananya pengeboran akan dimulai pada 2007, namun sebelumnya harus mendapatkan persetujuan dari BP Migas.
Dia berharap BP Migas segera mengeluarkan persetujuannya agar produksi gas yang sangat dibutuhkan konsumen domestik, dapat segera dilaksanakan.
Dalam periode triwulan pertama 2006, Apexindo berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp149,4 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan mencatatkan rugi bersih Rp5,3 miliar.
Perolehan laba bersih perseroan terutama dipengaruhi peningkatan pendapatan perseroan, serta kemampuan perseroan menekan beban usaha. Seiring dengan penguatan rupiah, perseroan mampu membukukan keuntungan selisih kurs sebesar Rp19,9 miliar. Di triwulan pertama tahun lalu, perseroan menanggung kerugian selisih kurs sebesar Rp22 miliar. (OL-1)
Labels: Industri Pengeboran
Thursday, April 20, 2006
Bisnis pengeboran migas mengarah tak sehat
JAKARTA, Bisnis Indonesia: APMI menilai persaingan usaha pengeboran (drilling) minyak dan gas mengarah tidak sehat, sehingga mengancam target produksi minyak nasional 1,3 juta barel per hari pada 2009.
Menurut hasil pemantauan Asosiasi Pemboran Minyak dan Gas Bumi (APMI), indikasi mulai tidak sehatnya persaingan jasa tersebut antara lain terjadi ketidakwajaran dalam perhitungan harga kontrak (rate) atas peralatan pengeboran migas (rig).
"Hal ini dimungkinkan karena pengusaha [rig] tidak konsisten dalam menentukan rate. Mereka hanya mengejar bagaimana caranya mendapatkan proyek," ujar Direktur Eksekutif APMI Eddyono Salatun, kemarin.
Di sisi lain, menurut dia, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS)-selaku pemilik/pengelola proyek migas-cenderung memilih perusahaan penawar terendah dalam tender pemboran.
"Akibatnya [untuk mendapatkan proyek] terjadi saling banting harga antarsesama pengusaha pengeboran. Situasi ini tanpa disadari merusak iklim bisnis migas," tandasnya.
Sementara itu, Bambang Kartika, Head of Procurement and Management Assets Division BP Migas mengemukakan industri migas di Indonesia kini tengah menghadapi masalah sulitnya memperoleh rig karena tingginya permintaan sarana tersebut.
Akibatnya, harga sewa rig semakin melambung, terutama rig yang berada di perairan laut dalam. Saat ini saja, harga sewa rig mencapai US$200.000.
"Bahkan saat kurs rupiah di angka Rp 10.000, harga sewa rig sampai Rp2 miliar per hari," kata Bambang di Balikpapan, belum lama ini.
Harga sewa tersebut, kata Bambang, mengalami lonjakan yang cukup drastis dibandingkan satu atau dua tahun sebelumnya yang berkisar US$60.000-US$80.000 per hari.
Faktor regulasi
Di samping masalah yang timbul dari internal pengusaha, Sekjen APMI Tito Kurniadi menyebutkan kurang kondusifnya iklim bisnis jasa pemboran migas saat ini juga disebabkan oleh faktor regulasi dan pelaksanaan birokrasi di lapangan.
Banyak peraturan yang dikeluarkan Ditjen Imigrasi, Bea Cukai, Badan Koordinasi Penanaman Modal dan pemda, katanya, tidak mendukung usaha pengeboran migas, sehingga layak direvisi.
Dia menyebutkan salah satunya peraturan yang tidak relevan itu adalah ketentuan BKPM yang menyebutkan perusahaan asing dilarang memasukkan rig berukuran di bawah 2.000 tenaga kuda.
"Dalam praktiknya sekarang ini banyak perusahaan dari China yang memasukkan rig di bawah ukuran tersebut. Bahkan kami dengar jumlahnya mencapai 63 unit. Kenapa tidak dikenakan sanksi?"
Pelanggaran peraturan semacam itu, menurut Tito, berdampak pada melemahnya daya saing perusahaan nasional dan rusaknya iklim usaha pemboran migas di Indonesia.
Buat KKKS dan perusahaan rig asing, situasi tadi mungkin tidak menjadi persoalan karena target dari kehadiran mereka di Indonesia adalah mengejar keuntungan. (k30)
Oleh Ismail Fahmi
Bisnis Indonesia
Labels: Industri Pengeboran
Tuesday, April 4, 2006
Sewa “Rig” Terus Meningkat
Asosiasi Pengeboran Minyak Indonesia (APMI) memperkirakan harga sewa anjungan pengeboran minyak (rig) lepas pantai akan terus bergerak naik pada waktu mendatang. Ketua Umum APMI Bambang Purwohadi di Jakarta pekan lalu mengatakan, kenaikan harga sewa rig itu terutama dipicu tingginya permintaan menyusul melonjaknya harga minyak dan kerusakan rig lepas pantai pascabadai Katrina di Teluk Meksiko beberapa waktu lalu. Ia mencontohkan, rig lepas pantai jenis jack up yang sebelumnya hanya 75.000 dollar AS per hari mengalami kenaikan sewa lebih dari dua kali lipat menjadi 150.000-200.000 dollar AS/hari. Padahal, tahun 1985 saat harga minyak 20 dollar per barrel, sewa rig hanya sekitar 12.000 dollar/hari. Kenaikan sewa rig akan terus berlanjut jika harga minyak masih berada di atas 50 dollar AS per barrel. (ANTARA)
Labels: Industri Pengeboran
Sewa rig offshore akan terus naik
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Asosiasi Pengeboran Minyak Indonesia (APMI) memperkirakan harga sewa rig lepas pantai (offshore) akan terus bergerak naik pada tahun-tahun mendatang.
Ketua Umum APMI Bambang Purwohadi mengatakan, kenaikan harga sewa rig tersebut terutama dipicu tingginya permintaan menyusul melonjaknya harga minyak dan kerusakan rig lepas pantai pascabadai Katrina di Teluk Meksiko beberapa waktu lalu.
Dia mencontohkan, rig lepas pantai jenis jack up yang sebelumnya hanya US$75.000 per hari mengalami kenaikan sewa lebih dari dua kali lipat menjadi US$150.000 hingga US$ 200.000 per hari.
Padahal, pada 1985 saat harga minyak US$20 per barel, sewa rig lepas pantai hanya sekitar US$12.000 per hari. Namun, kenaikan sewa rig tersebut tidak berlaku pada lapangan darat (onshore).
"Meski harga minyak naik, namun sewa rig darat tidak terlalu terpengaruh mengingat tingkat suplai rig darat yang cukup banyak sekarang ini," katanya.
Termasuk, lanjutnya, Blok Cepu yang berada di darat tidak akan menemui masalah dalam memperoleh rig.
Bambang melanjutkan, kenaikan harga sewa rig lepas pantai akan terus berlanjut jika harga minyak masih berada di atas US$50 per barel.
Dia juga mengatakan, sekarang ini, pusat permintaan rig lepas pantai bergerak ke Amerika Latin dan Afrika Barat menyusul banyaknya perusahaan migas berekspansi ke dua wilayah tersebut.
Labels: Industri Pengeboran
