Showing posts with label Kinerja 2007. Show all posts
Showing posts with label Kinerja 2007. Show all posts

Wednesday, May 14, 2008

Batal IPO, Medco Global dilego ke pemodal strategis

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Medco Energi Internasional Tbk membatalkan rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) 40%-45% saham subholding Medco Global Plc. dan menawarkan saham itu kepada tiga pemodal strategis.

Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro mengatakan langkah itu ditempuh menyusul kondisi pasar finansial yang tidak menentu, sehingga opsi penjualan kepada mitra strategis diputuskan sebagai skema yang paling menguntungkan.

"IPO bertujuan untuk meraup dana dari publik yang ingin menginvestasikan dananya. Namun, cara untuk meraup dana kan bisa dilakukan dengan cara lain di luar IPO, yaitu mencari strategic partner [penjualan kepada mitra strategis]," katanya kemarin.

Menurut dia, Medco kini bernegosiasi dengan tiga pemodal strategis. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan identitas ketiga pemodal strategis tersebut.

"Yang jelas kami mengharapkan penjualan kepada strategic partner bisa terwujud pada tahun ini seperti halnya pelaksanaan IPO yang sebelumnya juga dijadwalkan pada tahun ini," tuturnya.

Valuasi Medco Global, katanya, berada di kisaran US$1 miliar. Apabila mengacu pada angka itu, nilai subholding, anak perusahaan Medco yang mengendalikan dan mengelola aset migas di luar negeri itu, mencapai US$400 juta-US$450 juta.

"Sejauh ini, patokan yang paling valid untuk menentukan valuasi Medco Global adalah dengan melihat Varenex di Libya, yaitu sebesar US$600 juta. Itu baru di Libya, belum lagi di Oman dan negara-negara lainnya, sehingga nilai valuasi subholding itu US$1 miliar," tuturnya.

Ikhsan Binarto, analis saham PT Optima Securities, mengatakan penjualan kepada investor strategis lebih bagus dibandingkan dengan IPO ketiga pasar sedang bergejolak. "Pemodal strategis bisa masuk ke level manajemen Medco Global."

Medco Energi juga berencana membeli kembali (buy back) 3,29% sahamnya di pasar dengan menyiapkan dana US$80 juta. Medco memiliki 6,71% saham yang disimpan sebagai treasury yang digunakan sebagai instrumen prinsipal dalam penerbitan obligasi tukar dengan opsi jual pada 2009 dan jatuh tempo pada 2011.

Anak perusahaan Medco Energi, yakni PT Apexindo Pratama Duta Tbk membagikan dividen sebesar US$21,8 juta, atau setara US$0,00826 per saham.

Para pemegang saham dalam RUPST kemarin juga menyetujui rencana perusahaan pengeboran itu untuk buy back sahamnya maksimal 10% senilai dengan nilai US$57 juta. (wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Bambang P. Jatmiko & Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia

Medco Batalkan IPO Anak Usaha

JAKARTA, Koran Tempo -- PT Medco Energi Internasional Tbk. mengkaji pembatalan penawaran umum saham perdana (IPO) Medco Global, anak usaha yang mengelola aset-aset di luar negeri.

Presiden Direktur Medco Hilmi Panigoro mengatakan langkah pembatalan tersebut dikaji mengingat kondisi pasar yang kurang kondusif. "Kami menunda rencana IPO dan private placement Medco Global. Kalau perlu opsi tersebut diganti, seperti strategic partner," ujarnya di Jakarta kemarin.

Dia mengatakan, dalam persiapan mencari mitra strategis, perseroan telah melakukan pembicaraan dengan tiga investor asing. "Kami mentargetkan tahun ini (negosiasi dengan mitra strategis) selesai," dia menambahkan.

Tahun lalu Medco berencana melakukan IPO Medco Global di bursa London. Rencananya, perseroan akan melepas 40-45 persen saham perusahaan yang nilainya ditaksir mencapai US$ 1 miliar. Manajemen Medco saat itu mentargetkan pelaksanaan IPO bisa rampung pada akhir 2007. Namun, pelaksanaan aksi korporasi itu tak kunjung terealisasi.

Dalam kesempatan yang sama, Hilmi juga menyampaikan informasi soal pelepasan saham 80 persen PT Apexindo Pratama Duta Tbk. Di perusahaan pengeboran minyak lepas pantai ini, perseroan menguasai 48,9 persen. Sedangkan 31,7 persen saham dikuasai Encore Limited dan sisanya milik publik. PT Mitra Rajasa Tbk. sebelumnya telah menyampaikan minatnya membeli saham milik Medco dan Encore.

Hilmi menjelaskan, saat ini perseroan tengah melakukan pembicaraan serius dengan dua investor yang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Dua investor baru ini, menurut dia, menambah daftar peminat Apexindo yang lain, yaitu Texas Pacific Group, Recapital Advisory, Bormindo Nusantara, dan Abacus Capital.

Dia enggan menjelaskan berapa harga penawaran yang masuk. "Yang jelas di atas Rp 2.400 per lembar" katanya. Proses penawaran ini, ujar dia, tidak formal dan tidak ada proses tender.

Menurut dia, dana dari hasil rencana itu akan dipakai untuk memfokuskan kegiatan usaha perseroan di bidang eksplorasi dan produksi. "Target kami pada kuartal ketiga 2008 proses penjualan itu bisa terlaksana," tuturnya.

Dalam rapat umum pemegang saham tahunan Apexindo kemarin sore, disetujui pembagian dividen US$ 21,8 juta atau US$ 0,00826 (Rp 75) per lembar saham. SORTA TOBING

Medco Global Batal Lakukan IPO

JAKARTA, Republika -- Anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk yang mengoperasikan ladang minyak di luar negeri, Medco Global, membatalkan rencana go public di Bursa London tahun ini. Medco Energi lebih memilih menjual sebagian saham anak perusahaannya itu kepada mitra strategis mereka.

Presiden Direktur Medco Energi, Hilmi Panigoro, mengatakan, tujuan utama go public atau initial public offering (IPO) adalah mendapatkan dana masyarakat yang ingin berinvestasi di sektor energi. Namun karena kondisi pasar global yang sedang bergejolak, Medco Energi memutuskan tidak melanjutkan IPO dan melanjutkan pencarian dana eksternal lewat opsi lain.

''IPO Medco Global kami tunda dulu karena perlu mengganti opsi. Kami bisa saja melepas 40-45 persen saham ke strategic partner, kata Hilmi, usai rapat umum pemegang saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk, Selasa (13/5). Menurut Hilmi, saat ini pihaknya telah berbicara dengan sedikitnya tiga investor. "Kami memang mengambil pemain-pemain besar,'' kata Hilmi.

Total nilai aset Medco Global menurut Hilmi sekitar 1 miliar dolar AS. Nilai blok migas Verenex di Libya saja, kata Hilmi, sudah mencapai 600 juta dolar AS. Dia berharap penjualan sebagian saham Medco Global itu bisa terlaksana tahun ini. Pasalnya, jadwal IPO pun dari semula memang jatuh pada tahun ini.

Selain Medco Global, Hilmi juga sedang menegosiasikan penjualan anak perusahaan yang lain, yakni Apexindo Pratama Duta yang bergerak dalam jasa pemboran migas. Medco Energi akan melepas kepemilikan 80,6 persen saham di Apexindo, yang terdiri dari 48,9 persen saham Medco Energi dan 31,7 persen saham milik Encore Ltd, induk perusahaan Medco Energi.

Sebelumnya sudah ada empat pihak yang menawar Apexindo. Keempatnya yakni Abacus Capital, Recapital Adviory, Texas Pacific Group dan Bormindo Nusantara. Kini tercatat datang lagi tiga penawar baru, yaitu PT Mitra Rajasa Tbk dan dua perusahaan asing, satu dari Amerika Serikat dan satu dari Eropa.

Belum jelas berapa tawaran harga saham dari Mitra, namun perkiraan harga 80,6 persen saham Apexindo itu sekitar Rp 450-550 juta dolar AS. Hilmi menegaskan, pihaknya tidak akan melepas Apexindo dengan harga kurang dari Rp 2.400 per lembar. Bulan Maret lalu harga saham Apexindo sempat jatuh hingga Rp 1.400 per lembar. Namun kemarin saham itu telah diperdagangkan pada kisaran Rp 2.000 per lembar.

Abacus yang pernah menawar Rp 2.450 per lembar saham, menurut Hilmi, belum secara resmi menyatakan mundur dari penawaran. ''Saya tidak bisa ngomong berapa harga penawaran atau yang kita inginkan. Yang jelas lebih dari itu,'' ujar dia.

Upaya melepas Apexindo sebagai bagian dari strategi bisnis Medco Energi Internasional untuk fokus sebagai produsen minyak dan tidak lagi mengurusi bisnis jasa migas. Dengan tambahan dana yang besar, Medco Energi bisa melanjutkan eskpansi usaha serta membiayai berbagai proyek energi yang sudah ada.

Selama dua tahun ini Medco kurang beruntung dengan adanya kesalahan pemboran di Sidoarjo (lumpur Lapindo) dan rendahnya deposit tiga ladang gas di Teluk Mexico, Amerika Serikat. Laba bersih Medco Energi Internasional pada 2007 lalu hanya 6,5 juta dolar AS. Jumlah itu turun dari 2006 yang tercatat 35 juta dolar AS. Namun pada kuartal pertama 2008 ini kinerja Medco Energi sudah membaik.

''Laba bersih pada kuartal ini 23 juta dolar AS. Itu dengan harga minyak 90-104 dolar AS per barrel,'' kata Hilmi. Dia memastikan tahun ini kinerja Medco akan makin baik karena harga minyak terus naik. ''Tahun ini labanya kalikan saja empat. Bisa lebih dari 90 juta dolar AS,'' ujar dia.

Sementara Direktur Utama Apexindo, Hertiono Kartowisastro, berharap siapa pun pemilik baru nanti bisa memberikan gelontoran modal untuk pengembangan usaha Apexindo. ''Kinerja kita sudah bagus, kita ingin berkembang terus dengan bagus,'' ujar Hertiono.

Kuartal pertama 2008, emiten berkode APEX ini membukukan laba bersih 10,2 juta dolar AS atau naik 73 persen dari periode yang sama 2007. Sepanjang 2007, laba bersihnya 34,3 juta dolar AS atau naik 8,9 persen dari 2006. rto

Apexindo Akan Bangun Rig USD150 Juta

JAKARTA (SINDO) – PT Apexindo Pratama Duta Tbk berencana membangun anjungan minyak (rig) akhir tahun ini.Untuk pembangunan tersebut perseroan membutuhkan dana USD150 juta.

Presiden Direktur Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan, rencana pembangunan rig tersebut tergantung dari ada tidaknya perubahan status kepemilikan saham perseroan. ”Artinya, jika saham Apexindo jadi dilepas oleh Medco dan pemegang saham baru menyetujui, rencana itu baru bisa dilaksanakan,” ujarnya seusai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Jakarta kemarin.

Hetriono mengatakan, perseroan tahun ini menganggarkan belanja modal USD10 juta untuk pengembangan usaha. Dana tersebut bisa membengkak berlipat kali jika pemegang saham menyetujui rencana pembangunan rig baru. ”Tergantung dari pemilik baru nanti,” imbuhnya. Terkait rencana pelepasan Apexindo, Presiden Direktur Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro mengungkapkan, proses negosiasi terus berjalan. Hingga kini, selain PT Mitra Rajasa Tbk, ada dua perusahaan luar negeri yang menyatakan minat, yaitu dari Eropa dan Amerika Serikat, ”Yang pasti, Mitra Rajasa belum menyatakan minatnya secara resmi,” kata Hilmi yang juga menjabat Komisaris Utama Apexindo.

Menurut Hilmi, dalam pelepasan 80% saham Apexindo, yang terdiri atas 48% saham Medco dan 32% saham Encore Limited, harga yang ditawarkan setidaknya di atas pembelian Encore sebesar Rp2.400. ”Saya harap proses pelepasan Apexindo selesai pada kuartal ketiga,”imbuhnya. Kepala Riset Sarijaya Securities Danny Eugene mengatakan, Apexindo adalah perusahaan yang baik secara fundamental dan operasional. Namun,jika dikonsolidasikan dengan Medco, Apexindo sulit bergerak, termasuk untuk mencari pinjaman. Pasalnya, rasio utang terhadap modal Medco terlalu tinggi.

”Jika dilepas, Apexindo akan lebih bagus karena bisa ekspansi,” katanya. Pada rapat kemarin, pemegang saham Apexindo juga menyetujui pembagian dividen tunai sebesar USD0,00826 per saham atau Rp76 per saham (dengan asumsi Rp9.200 per dolar Amerika Serikat). Total dividen yang dibagikan mencapai USD21,8 juta atau 63% dari laba 2007 sebesar USD34,3 juta. Pemegang saham juga menyetujui rencana perseroan membeli kembali sahamnya (buyback). Pelaksanaan buyback maksimal 10% dari jumlah saham yang diterbitkan dengan jangka waktu 18 bulan sejak RUPST. (nunung ahniar)

PT Apexindo Patok Harga Minimal Rp2.400 per Lembar Saham

JAKARTA-- Media Indonesia: Perusahaan pengeboran minyak PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) mematok harga jual minimal Rp 2.400 per lembar dalam rencana pelepasan 80,6% saham kepada para penawar. Namun, merasa tidak tahu-menahu tentang rencana akuisisi sahamnya oleh PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA).

"Kami tidak akan melepas Apexindo dengan harga kurang dari Rp2.400 per saham. Abacus Capital yang pernah menawar Rp2.450 per saham hingga saat ini juga belum menyatakan mundur dari panawaran. Saya tidak bisa bicara berapa harga yang kami inginkan, yang jelas di atas Rp2.400," ujar Dirut Medco, Hilmi Panigoro selaku pemegang saham mayoritas, di Jakarta, Selasa (13/5).

Meski demikian, hingga kini belum ada proses penawaran Apexindo secara resmi. Sebab hal tersebut dilakukan secara langsung dengan investor yang berminat.

Saat ini, Medco sedang berencana melepas kepemilikan sahamnya di Apexindo. Komposisi kepemilikan saham di Apexindo saat ini terdiri dari Medco sebesar 48,9% dan Encore International sebesar 51,1%. Dalam rencana pelepasan saham APEX yang sebesar 80,6%, MEDC akan melepas seluruh kepemilikannya yang sebesar 48,9% dan Encore akan melepas sekitar 31,7%. Nilai akuisisi 80,6% saham Apexindo tersebut ditaksir mencapai US$450 - US$550 juta.

"Alasan Medco melepas seluruh kepemilikan saham kami di Apexindo, karena kami berencana fokus pada industri produsen minyak dan tidak lagi mengurusi bisnis jasa migas," tambahnya.

Dalam hal ini, Medco akan memperoleh tambahan dana cukup besar yang rencananya akan digunakan untuk eskpansi usaha serta membiayai berbagai proyek energi yang sudah ada.

Namun menurut Hilmi hingga saat ini belum ada penawaran secara resmi terhadap penawaran Apexindo. Baik itu dari PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) maupun dari dua perusahaan asal Amerika Serikat dan Eropa yang juga dikabarkan berencana mengambil alih APEX. Sebelumnya sudah ada empat pihak yang menawar Apexindo antara lain Abacus Capital, Recapital Adviory, Texas Pacific Group dan Bormindo Nusantara.

Sementara itu, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan Apexindo memutuskan membagikan dividen tunai sebesar US$21,8 juta atau 2,8% dari perolehan laba bersih tahun 2007 yang mencapai US$770,481 juta. Sehingga, para pemegang saham memperoleh dividen sebesar US$ 0,00826 per saham (sekitar Rp 75 dengan kurs 9.200).

RUPS juga menyetujui buy back 10% dari seluruh saham yang diterbitkan perseroan. Dana yang dipakai maksimal sebesar US$57 juta yang diambil dari saldo laba ditahan. Jangka waktu pelaksanaan buy back selama 18 bulan sejak disetujui RUPS. Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan menegaskan, buy back tersebut tidak terkait dengan rencana akuisisi oleh MIRA.(DW/Ant/OL-03)

Penulis : Dwi Tupani

Tuesday, May 13, 2008

Dividen Apexindo Capai US$ 21,8 Juta

INILAH.COM, Jakarta - PT Apexindo Pratama Duta Tbk memutuskan membagi divide tunai sebesar 0,00826 per saham. Total dana yang dikeluarkan mencapai 21,8 juta dolar AS.

Dana itu merupakan 2,8% dari perolehan laba bersih Apexindo selama 2007 yang sebesar 770,481 juta dolar AS. Dalam RUPST di Jakarta, Selasa (13/5), juga disetujui buy back sebesar 10% saham dengan dana sekitar 57 juta dolar AS.

Dirut PT Medco Energy, induk perusahaan Apexindo, Hilmi Panigoro, juga mengatakan, pihaknya berencana menjual saham Apexindo sebesar 82,6% yang terdiri dari saham Medco Energy 48,9% dan 31,7% saham Encore Limited yang merupakan induk perusahaan.

Dikatakannya, saat ini sudah ada 3 perusahaan baru yang berminat, salah satunya Mitra Rajasa, dan dua lainnya asal Eropa dan AS.

"Saat ini belum ada penawaran khusus tentang ini, tapi perusahaan tidak akan melepas jika harga di bawah Rp 2.400 per lembar," katanya.[L5]

SAMSUL MAARIF

Apexindo Bagi Dividen USD21 Juta

JAKARTA, okezone.com - PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) membagikan dividen tunai sebesar USD0,00826 per saham atau Rp76 per lembar saham (dengan asumsi Rp9.200 per USD). Angka itu mencapai USD21 juta atau 63 persen dari laba perseroan tahun 2007 sebesar USD34,3 juta.

"Pemberian dividen yang lebih tinggi pada tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini merupakan wujud dari komitmen perseroan untuk senantiasa memberikan nilai tambah kepada pemegang saham," kata Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan seusai RUPST di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Selasa (13/5/2008) sore ini.

Pemegang saham juga menyetujui rencana perseroan untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback). Pelaksanaan buyback maksimal 10 persen dari jumlah saham yang diterbitkan, dengan dana kas yang akan dicadangkan sebesar maksimal USD57 juta diambil dari saldo di tahan. Jangka waktu pelaksanaan pembelian kembali saham tersebut maksimal 18 bulan sejak dilaksanakannya RUPS.

RUPST juga menyetujui tingkat kompensasi dan remunerasi untuk direksi dan dewan komisaris pada 2007 maksimal USD2,35 juta. (Nunung Ahniar/Sindo/hsp)

Friday, December 21, 2007

Apexindo ingin divestasi segera rampung

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Manajemen PT Apexindo Pratama Duta Tbk menginginkan agar divestasi 51,4% sahamnya milik PT Medco Energi Internasional Tbk kepada dua calon pembeli terkuat segera rampung.

Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan manajemen perseroan tidak bisa menjelaskan lebih jauh soal penjualan saham itu.

"Tidak ada yang bisa dikatakan. Itu murni urusan Medco. Kalau kami ingin urusan itu cepat selesai, apa pun keputusannya nanti," tuturnya saat paparan publik, Rabu.

Harga saham berkode APEX pada penutupan Rabu naik Rp75 menjadi Rp2.075. Posisi tertinggi pernah dicatatkan saham ini Rp2.575 pada 5 Oktober dan terendah Rp1.620 pada 11 Januari.

Medco berencana menjual kepemilikannya di perusahaan pengeboran itu karena akan memfokuskan bisnisnya pada pengembangan hulu minyak dan gas. Untuk melakukan divestasi tersebut, Medco menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan.

Manajemen Medco semula menyatakan divestasi saham Apexindo diperkirakan rampung sebelum Natal. Namun, hingga kini negosiasi antara Medco dan dua calon pembeli yakni Abacus Capital dan PT Bormindo Nusantara masih berlangsung.

Bahkan, Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro beberapa waktu lalu mengatakan penyelesaian divestasi saham pengeboran itu mundur lagi menjadi akhir Januari tahun depan.

Menurut dia, proses negosiasi secara paralel dengan dua calon pembeli masih dilangsungkan sampai saat ini. "Closing paling mungkin dilakukan setelah tahun baru. Dengan perhitungan masa tidak efektif sebanyak dua minggu pada bulan ini dan juga pada Januari, bisa jadi closing pada pekan ketiga atau mendekati akhir bulan depan," ujarnya.

Penundaan penyelesaian penjualan saham karena beberapa faktor seperti kecocokan harga antara penjual dan pembeli, sehingga negosiasi berjalan alot. Medco meminta harga jual Rp2.700 per saham, sedangkan Abacus menawarkan harga Rp2.450.

Hilmi, seperti dikutip Bloomberg beberapa waktu lalu, mengatakan Apexindo kemungkinan membukukan laba bersih US$75 juta tahun depan dan seharusnya dinilai pada 12 kali laba ke depan.

Apexindo mematok pendapatan pada tahun ini meningkat menjadi US$190 juta dibandingkan dengan perolehan tahun lalu US$156,3 juta.

Pertumbuhan kuat

Direktur Keuangan Apexindo Agustinus Lomboan optimistis perseroan dapat membukukan pertumbuhan pendapatan yang kuat tahun depan, mengingat saat ini perseroan memperoleh pendapatan yang tertunda (backlog) US$246,4 juta.

Pendapatan yang dimaksud diasumsikan dapat dibukukan mengacu pada perolehan sejumlah kontrak kerja rig jangka panjang terhitung mulai 2008-2012.

Pendapatan backlog ini tecermin dari tarif harian yang dapat bervariasi bergantung pada perolehan kontrak baru dan selama rig (anjungan pengeboran) menjalani masa istirahat (downtime)

Secara berurutan, pendapatan backlog ini mulai 2009 hingga 2012 diperkirakan US$201 juta, US$118,8 juta, US$33,8 juta, dan US$21,7 juta.

"Jumlah itu masih mungkin dinaikkan lagi karena Apexindo tentu tidak akan berdiam diri. Kami akan giat mencari kontrak-kontrak baru terutama yang jangka panjang di masa yang akan datang," ujarnya.

Agustinus memperkirakan kontribusi pendapatan masih akan ditopang oleh penyewaan rig segmen laut 70%-75% dengan tingkat utilisasi di atas 90%. Selebihnya diharapkan datang dari segmen darat.

Dia menolak memproyeksikan laba bersih perseroan pada tahun ini dan tahun depan. Untuk belanja modal, perseroan memperkirakan jumlahnya pada tahun depan akan sedikit menyusut menjadi US$14 juta dibandingkan dengan US$15,12 juta pada tahun ini.

Alokasi jumlah belanja modal yang mengecil itu terjadi sehubungan dengan tidak adanya rencana besar pada tahun depan. Untuk per 30 September 2007, perseroan telah membelanjakan belanja modal sebesar US$12,21 juta di antaranya untuk peningkatan kemampuan (upgrading) rig US$7,6 juta dan upgrading ke depan (ongoing) US$4,34 juta.

Menurut dia, dengan jumlah belanja modal yang mengecil pada 2008 Apexindo berpeluang membukukan kas yang lebih besar sehingga dapat merealisasikan rencana pembelian kembali (buy back) obligasi yang tertunda pada tahun ini.

"Saat ini, posisi kas kami US$43 juta, tetapi berhubung harga obligasi Apexindo di pasar tinggi, rencana buy back pun ditunda. Tahun depan masih ada bujet untuk itu atau mempercepat pelunasan utang bank," katanya. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Monday, November 5, 2007

Pendapatan Apexindo Naik 25,2%

Jakarta, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) membukukan peningkatan pendapatan sebesar 25,2% dari US$ 111,85 juta pada kuartal ketiga 2006 menjadi US$ 139,33 pada periode sama tahun 2007. Kenaikan tersebut turut mendongkrak EBITDA sebesar 43,8% menjadi US$ 68,6 juta dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 47,7 juta.

“Segmen lepas pantai tetap mengontribusi pendapatan terbesar, yakni 64,3% terhadap total pendapatan perseroan hingga akhir September 2007. Ini berarti, kontribusinya naik sebesar 25,5% dari tahun lalu,” kata Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R Satari dalam keterangan tertulisnya kepada otoritas pasar modal di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sedangkan segmen rig darat menyumbang senilai US$49,9 juta atau meningkat 30,3% dari US$ 39,3 juta tahun sebelumnya. Tingkat utilisasi rig darat mencapai level tertinggi sejak tahun 2002 sebesar 75%. Pencapaian ini dipicu perolehan kontrak-kontrak baru rig darat dengan kenaikan harga sewa harian dan periode kontrak yang lebih panjang.

Menurut dia, tingkat utilisasi rig lepas pantai turun dari 100% tahun lalu menjadi 83%. Penurunan tersebut dipicu dry clocking Jack up Raniworo dari Februari-Mei 2007 dan keterlambatan penyerahan rig Jack up Soehanah oleh shipyard. (c108)

Thursday, September 20, 2007

Apexindo Andalkan Rig Soehana

Jakarta, Investor Daily --- Manajemen PT Apexindo Pratama Duta Tbk optimis, pendapatan usaha pada semester II 2007 akan meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu. Anjungan dan pengeboran migas (rig jack up) laut Soehana yang disewakan kepada Total E&P Indonesia sejak awal 2007 dengan tarif US$ 165 ribu per hari akan menjadi andalan perseroan.

Pada semester I 2007, Apexindo membukukan pendapatan usaha US$ 81 juta dibanding 2006 sebesar US$ 156 juta. “Kami optimis, tahun depan pendapatan Apexindo akan meningkat karena tarif penyewaaan rig Raniworo akan naik dari US$ 72 ribu per hari menjadi US$ 145 ribu per hari,” ujar Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro di Jakarta, Rabu (19/9).

Rig Raniworo saat ini disewakan kepada Crescent Petroleum Company Inc, sebuah perusahaan migas di Republik Islam Iran. Menurut rencana, rig tersebut akan kembali ke Indonesia akhir 2007. “Santo s teleh meneken kontrak untuk penyewaaan rig Raniworo senilai US$ 145 ribu per hari selama tiga tahun,” ujar Hertriono.

Dia menegaskan, kenaikan harga minyak mentah yang kemarin menembus ke level US$ 82 per barel mempengaruhi tarif sewa rig. Ketika jumlah eksplorasi migas tidak sebanyak saat ini, lanjut dia, banyak rig yang tidak terpakai. Namun, dengan naiknya harga minyak mentah, sejumlah investor yang bergerak di sektor migas mulai banyak yang melakukan pengeboran, sehingga banyak rig yang terpakai dan harga penyewaannya meningkat.

Hertriono memperkirakan, pada 2008-2009 akan ada 70 rig yang dikeluarkan dari galangan kapal dari sejumlah pabrik di luar negeri. Dia mencontohkan Amerika Serikat yang membuat rig dengan harga masing-masing rig sekitar US$ 200 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun. (pya)

Monday, August 6, 2007

Harga minyak & metal dongkrak emiten pertambangan

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Harga minyak dan komoditas metal yang melonjak pada semester I/2007 membantu sejumlah emiten pertambangan membukukan kinerja yang kinclong.

Sekarang ini tercatat ada 13 emiten pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Beberapa nama sudah lama bertengger dalam daftar itu, tiga merupakan pendatang baru (lihat tabel).

Satu baru saja masuk bursa pada Juli yakni PT Perdana Karya Perkasa Tbk, sedangkan dua lagi yakni PT ATPK Resources Tbk dan PT Cita Mineral Investindo Tbk berpindah bidang usaha ke pertambangan dari sebelumnya perusahaan tambak dan mebel.

Sebagian besar emiten tersebut telah memublikasikan laporan keuangan semester pertama. Dua BUMN yakni PT Timah Tbk, PT Aneka Tambang Tbk bersama dengan Perdana Karya dan PT Citatah Industri Tbk adalah empat di antaranya yang belum melaporkan kinerjanya ke publik.

Secara umum, pendapatan emiten dalam kurun waktu Januari-Juni 2007 mengalami peningkatan. Begitu pula dengan perolehan laba. Pengecualian terjadi pada PT Energi Mega Persada Tbk, di mana pada pos penjualan dan laba angkanya merosot. Penjualan anjlok 41,36% dari Rp832,33 miliar menjadi Rp488,05 miliar, sedangkan laba bersih tergerus hampir 70% menjadi Rp52,43 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp171,98 miliar.

Hampir senasib, PT Apexindo Pratama Duta Tbk meski membukukan kenaikan pendapatan 19,2% dari US$68,62 juta menjadi US$81,81 juta, perolehan laba bersih perseroan anjlok dari US$16,25 juta menjadi US$15,01 juta akibat penurunan laba nonkas atas transaksi swap.

Sebaliknya, PT Bumi Resources Tbk malah membukukan kenaikan laba yang luar biasa dari US$90,43 juta menjadi US$721,89 juta, atau melonjak hampir delapan kali lipat. Padahal penjualan batu bara perusahaan tambang itu hanya naik 33%.

Perusahaan sejenis yakni PT Pertambangan Batubara Bukit Asam Tbk, yang memang lebih banyak menjual produknya ke dalam negeri, hanya membukukan kenaikan laba sekitar 95%. Pada semester satu, BUMN ini mencatatkan laba sebesar Rp302,22 miliar dari sebelumnya Rp155,16 miliar.

Sedang tinggi

PT International Nickel Indonesia Tbk juga membukukan lonjakan laba sebesar 473% dari US$123,28 juta jadi US$707,01 juta. Penjualan perusahaan nikel dengan biaya produksi terendah di dunia ini bahkan tembus US$1,30 miliar.

Head of Research Recapital Securities Satrio Utomo menilai kinerja emiten pertambangan pada semester satu ini lebih banyak didorong oleh harga komoditas seperti nikel, timah, batu bara, dan minyak yang sedang tinggi.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM diakuinya membayangi kinerja emiten khususnya yang bukan bergerak di pertambangan migas. "Perusahaan pertambangan itu rakus BBM, komponen dalam biaya produksi tinggi. Karena itu investor hendaknya cenderung memilih perusahaan yang bisa menghemat biaya, karena energinya bukan dari BBM," tuturnya, akhir pekan lalu.

Bagi perusahaan migas, kenaikan harga minyak dunia seharusnya mendongkrak penjualan. Namun, Energi Mega malah melempem, dan Medco hanya naik relatif tipis. Hal positif bagi Medco adalah imbas luapan lumpur di Sidoarjo, Jatim telah terdiskon semenjak perseroan menjual kepemilikannya di blok Brantas PSC. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari

Bisnis Indonesia

Wednesday, August 1, 2007

Laba Apexindo turun 7,4%

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk membukukan laba bersih semester I/2007 senilai US$15 juta, turun 7,4% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu US$16,2 juta, menyusul penurunan keuntungan nonkas akibat transaksi swap.

Penurunan itu tidak dipicu faktor kinerja karena pada periode sama pendapatan anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk ini justru menguat 19,2% ke posisi US$81,8 juta dibandingkan semester pertama 2006 sebesar US$68,6 juta.

Pelaku pasar melepas saham berkode APEX ini di pasar, sehingga pada penutupan perdagangan kemarin melemah Rp25 ke posisi Rp2.275.

Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan mengatakan penurunan keuntungan nonkas dalam laporan keuangan Apexindo yang belum diaudit itu tidak berdampak banyak terhadap kinerja perseroan hingga akhir 2007.

"Laba bersih yang dicatatkan perseroan pada semester pertama 2007 semata-mata diperoleh dari kegiatan operasional dan tidak akan banyak terpengaruh laba atau rugi transaksi swap karena perseroan telah menyajikan laporan keuangan dalam mata uang dolar AS," tuturnya dalam siaran persnya, kemarin.

Transaksi swap adalah transaksi jual beli rupiah dan valuta asing (valas) untuk jangka panjang. Perseroan yang banyak memiliki transaksi dalam mata uang asing biasanya menggunakan skema ini untuk lindung nilai (hedging).

Sementara itu, PT Mandom Indonesia Tbk pada semester I/ tahun ini membukukan kenaikan laba bersih 18,2% menjadi Rp72,67 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp61,49 miliar.

Kenaikan tersebut didukung oleh kenaikan penjualan dalam periode Januari hingga Juni. Penjualan bersih naik 7,2% dari Rp500,89 miliar menjadi Rp537,18 miliar. Dari jumlah itu, penjualan domestik masih mendominasi tercatat mengambil porsi 75,73% dari total atau senilai Rp406,8 miliar. Sementara itu, penjualan ekspor meningkat dari 20,41% menjadi 24,27% atau senilai Rp130,3 miliar.

Wakil Presiden Direktur Mandom Yoshihiro Tsuchitani mengatakan pada semester ini, perseroan mulai menjajaki pasar India. Dengan populasi yang mencapai lima kali lipat dari populasi Indonesia, India menjadi potensi pasar yang besar bagi Mandom.

"Kami akan memperkuat sistem pengembangan produk baru dan juga meneruskan investasi pada biaya iklan dan promosi," tuturnya.

Tsuchitani menambahkan strategi penjualan ke pasar India telah dilakukan pada semester pertama, sehingga pada semester ini perseroan dapat mulai bergerak.

Dia tidak bisa menyebutkan berapa besar ekspor ke negara berpenduduk terbesar kedua dunia itu bakal menyumbang kontribusi karena masih baru.

Oleh Arif Gunawan S. & Pudji Lestari

Bisnis Indonesia

Tuesday, April 10, 2007

Laba 2007 Apexindo diprediksi naik 30%

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk akhir tahun ini diperkirakan membukukan kenaikan laba bersih minimum 30%, atau menjadi Rp495 miliar.

Per Desember 2006, anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk yang bergerak di bidang pengeboran ini membukukan laba bersih Rp380,8 miliar atau Rp146,07 per saham, dari posisi 2005 rugi Rp43,1 miliar atau Rp21,21 per saham.

Komisaris Utama Apexindo Hilmi Panigoro mengatakan proyeksi kenaikan laba bersih itu didorong masih besarnya permintaan jasa pengeboran, di tengah kecenderungan proyek eksplorasi minyak dan gas yang stagnan.

"Produksi gas dan minyak pada 2007 akan flat, tetapi permintaan jasa drilling akan naik lagi, sehingga setidaknya laba bersih Apexindo akan naik 30%," tuturnya kepada pers, kemarin.

Tren peningkatan permintaan jasa pengeboran, lanjut dia, tercermin dari kinerja Apexindo tahun lalu yang membukukan kenaikan penjualan 26,5% menjadi Rp1,4 triliun dari sebelumnya Rp1,1 triliun.

Peningkatan pendapatan itu didorong segmen anjungan pengeboran (rig) darat yang naik 88,6% menjadi Rp529,5 miliar dari semula Rp280,8 miliar. Di sisi lain, segmen rig laut menyumbang pendapatan Rp906,4 miliar, atau naik hanya 6% dari Rp854,7 miliar.

Menurut catatan Bisnis, Apexindo kini mengantongi empat kontrak pengeboran baru dan perpanjangan kontrak lama dengan total nilai proyek US$22,5 juta. Perseroan mendapat perpanjangan kontrak US$13,9 juta untuk pengeboran selama enam bulan di Kalimantan Timur dari VICO untuk Rig 9 dan Rig 10.

Perseroan juga mendapat konfirmasi kontrak untuk rig 15 dari Pearoil (Tungkal) Limited senilai US$2,6 juta, kontrak rig 8 sebesar US$2,5 juta dari Lundin Blora BV, dan rig 2 dari joint operation body Pertamina-Medco Tomori senilai US$3,5 juta.

"Perseroan akan terus aktif mengikuti tender pengeboran darat maupun laut, memantapkan posisi Apexindo sebagai kontraktor pengeboran terkemuka, tidak hanya untuk segmen pengeboran lepas pantai tapi juga untuk pengeboran darat baik di Indonesia maupun Asia Tenggara," kata Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro (Bisnis, 14 Maret).

Belanja modal

Sementara itu, Hilmi menjelaskan Medco sendiri akan membelanjakan sebagian besar dari US$200 juta belanja modal untuk membiayai proyek pengeboran di dalam maupun luar negeri.

Medco sedang merampungkan proyek pengeboran sumur eksplorasi ketiga di Libya yang diperkirakan menyimpan 150 juta barel minyak dan menghasilkan 50.000 barel per hari.

Sebastian Tobing, analis riset emiten pertambangan PT Trimegah Securities Tbk, menilai proyeksi laba tersebut terhitung masih realistis, mengingat aktivitas pengeboran sumur minyak di seluruh dunia masih meningkat. Dia memperkirakan pengeboran lepas pantai masih menjadi pasar besar untuk Apexindo.

"Pengeboran sumur minyak baru sekarang banyak di daerah yang terpencil, dan terutama di lepas pantai. Permintaan di sini masih besar," tuturnya.

Banyaknya kontrak pengeboran yang diraih perusahaan-perusahaan minyak dan gas di Indonesia tahun ini akan berbanding lurus dengan pencapaian perusahaan pengeboran. Di Indonesia, pengeboran itu nanti terhadang pada tantangan adanya kontrak eksplorasi yang baru dari pemerintah.

Khusus untuk Apexindo, lanjut dia, kinerja mereka akan sangat terbantu dengan mulai beroperasinya sumur rig Soehanah secara penuh pada tahun ini.

Pada perdagangan kemarin, harga saham Apexindo (APEX) ditutup menguat Rp10 ke posisi Rp1.770. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.

Bisnis Indonesia