Showing posts with label Kinerja 2005. Show all posts
Showing posts with label Kinerja 2005. Show all posts

Wednesday, April 5, 2006

Laba Medco meleset dari perkiraan

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Medco Energi Internasional Tbk membukukan kenaikan laba sebesar 1%, meleset dari perkiraan, menyusul meningkatnya pembayaran pajak yang mengikis pendapatan perusahaan itu dari harga minyak yang tinggi.

Dalam laporan keuangannya, Medco menyatakan laba bersih perseroan pada sepanjang tahun lalu naik menjadi US$74,7 juta, dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$73,85 juta.

Perolehan laba perseroan ini meleset dari perkiraan sebelumnya yang menyatakan Medco akan membukukan laba bersih sebesar US$101 juta. Besaran laba ini juga lebih rendah dari yang diperkirakan Dirut Medco Hilmi Panigoro pada 8 September 2005 sebesar US$90 juta.

Beban pajak Medco naik hampir dua kali lipat, membuat perseroan gagal mengambil keuntungan dari kenaikan harga jual minyak dan gas yang menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada tahun lalu.

"Ini kinerja yang buruk. Peningkatan pendapatan hanya sepertiga dari kenaikan harga minyak pada tahun lalu," tutur Kepala Riset PT Indo Premier Securities Suherman Santikno, kemarin. Dia merekomendasikan investor untuk menjual saham perusahaan minyak dan gas bumi itu.

Harga saham Medco kemarin ditutup menurun ke posisi Rp4.125 per saham dari posisi penutupan 28 Maret yang masih mencapai Rp4.200.

Dalam neracanya, Medco menyatakan beban pajak perseroan naik menjadi US$103,49 juta dari sebelumnya US$55,14 juta. Emiten itu membukukan kerugian dari transaksi swap sebesar US$34,7 juta, dibandingkan perolehan tahun lalu yang sebesar US$1,86 juta.

"Yang mengejutkan adalah pengeluaran pajak. Seluruh penjualan, laba operasi, laba kotor, dan lainnya sejalan dengan ekspektasi kami. Akan tetapi, pajak yang digabungkan dengan kerugian transaksi swap telah memotong perolehan dari penjualan minyak," kata analis PT Danareksa Sekuritas Bonny Setiawan.

Danareksa tetap merekomendasi beli pada saham Medco mengingat operasi perseroan yang solid, serta aset dan cadangan baru yang potensial. Bonny menyebutkan aset Medco tersebut a.l. ladang minyak Senoro di Sulawesi, kontrak 18 ladang minyak di Oman, dan 25% saham untuk ladang Jeruk di Jawa Timur.

Harga minyak naik 40% pada tahun lalu, dan sempat mencetak rekor sebesar US$70,85 per barel pada 30 agustus. Pendapatan Medco dari penjualan minyak, gas, listrik, dan methanol naik menjadi US$620,2 juta dari sebelumnya US$550,1 juta.

Dalam pernyataannya pada 22 Februari, perseroan menyatakan penjualan gas alam perseroan turun 9,2% menjadi 136,3 juta kaki kubik per hari, sementara produksi minyak mentah naik 2,8% menjadi 57.040 barel per hari.

Penjualan perseroan dari gas dan minyak bumi pada tahun lalu naik 18% menjadi US$432,4 juta. Sedangkan pada bisnis listrik yang dimulai sejak Desember 2004, perseroan mampu membukukan penjualan sebesar US$8,2 juta.

Perusahaan penambangan ini membukukan perolehan valas sebesar US$4,39 juta dari kerugian sebesar US$6,88 juta pada tahun sebelumnya.

Apexindo rugi

Anak perusahaan Medco Energi, PT Apexindo Pratama Duta Tbk, tahun lalu membukukan kenaikan rugi bersih sebesar 18,1% menjadi Rp43,12 miliar dari tahun sebelumnya Rp36,52 miliar.

Dalam siaran pers kemarin disebutkan bertambahnya kerugian itu karena transaksi swap Apexindo terkait dengan penerbitan obligasi pada April tahun lalu.

Meski ruginya meningkat, pendapatan emiten tiu meningkat 11,2% menjadi Rp1,13 triliun tahun lalu dari periode 2004 yang hanya mencapai Rp1,02 triliun.

Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (Ebitda) Apexindo tahun lalu meningkat 37,2% menjadi Rp459,89 miliar dari posisi tahun sebelumnya Rp335,25 miliar.

Faktor utama yang mendorong pertumbuhan EBITDA adalah penerapan kebijakan efisiensi secara disiplin dan berhasil menambah tingkat profitabilitas. Apexindo juga dapat menekan beberapa komponen biaya seperti biaya perbaikan, pemeliharaan, dan biaya rental.

Laba usaha perusahaan itu tahun lalu melonjak 71,3% menjadi Rp279,51 miliar dari posisi sebelumnya Rp163,17 miliar. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Rugi Bersih Apexindo Bengkak 18,07%, Rp 43,12 Miliar

JAKARTA, investorindonesia.com --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) pada tahun yang berakhir 31 Desember 2005 menderita rugi bersih Rp 43,12 miliar, membengkak 18,07 % dari rugi bersih tahun sebelumnya Rp 36,52 miliar, demikian laporan keuangan tahunan perseroan di Jakarta, Selasa.

Disebutkan, kerugian terjadi terutama akibat membengkaknya beban lain-lain bersih perseroan, karena penjualan bersihnya masih meningkat dari Rp 1,02 triliun pada 2004 menjadi Rp 1,13 triliun pada 2005.

Laba operasional perseroan juga bertambah dari sebelumnya Rp 163,17 miliar menjadi Rp 279,51 miliar, namun dalam waktu bersamaa jumlah beban lain-lain bersih perseroan lebih besar dan membengkak dari Rp 203,03 miliar menjadi Rp 337,88 miliar, sehingga mengalami rugi.

Rugi bersih per saham (EPS) perusahaan operator rig minyak ini, juga meningkat dari semula Rp 19,71 menjadi Rp 21,21. (ant)

Summary: PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) pada tahun yang berakhir 31 Desember 2005 menderita rugi bersih Rp 43,12 miliar, membengkak 18,07 % dari rugi bersih tahun sebelumnya Rp 36,52 miliar, demikian laporan keuangan tahunan perseroan di Jakarta, Selasa.

Saturday, November 12, 2005

Apexindo Sukses Bukukan Laba

JAKARTA (Media Indonesia): Perusahaan pengeboran minyak PT Apexindo Pratama Duta Tbk berhasil membukukan laba bersih pada triwulan ketiga 2005 setelah pada tahun sebelumnya merugi Rp27 miliar. Laba bersih sampai 30 September 2005 tercatat Rp3,4 miliar.

Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R Satari dalam siaran persnya, kemarin, mengatakan pada triwulan ketiga tahun ini perseroan mampu menekan beban langsung dan beban usaha dalam rangka efisiensi biaya. Meskipun, total pendapatan perseroan hanya tumbuh 5,7%.

Pada periode triwulan ketiga 2005, perseroan membukukan pendapatan Rp798,9 miliar, sedikit lebih tinggi daripada pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp755,6 miliar. Rendahnya pertumbuhan pendapatan disebabkan kontribusi pendapatan pengeboran darat menurun tahun ini.

Seiring dengan menurunnya tingkat utilisasi rig darat menjadi 46% pada triwulan ketiga tahun ini--dari 54% pada kuartal III tahun sebelumnya--kontribusi pendapatan dari pengeboran darat juga menurun 16,7%, yakni dari Rp227,2 miliar pada triwulan ketiga 2004 menjadi Rp189,3 miliar periode yang sama tahun ini.

''Penurunan utilisasi rig darat ini disebabkan beberapa rig darat perseroan, seperti Rig 5, 8, dan 12 yang masih dalam kondisi stacked (menganggur),'' ungkap Ade.

Sebaliknya, pendapatan dari pengeboran lepas pantai naik 15,4% menjadi Rp609,6 miliar bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp528,4 miliar, dengan tingkat utilisasi 100%. Utilisasi secara penuh itu dicapai karena kontrak-kontrak dengan para klien masih berjalan dengan baik sebagaimana yang direncanakan.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan menyatakan upaya efisiensi terus dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga, walaupun terjadi kenaikan biaya operasional baik di lapangan maupun di kantor pusat akibat dampak kenaikan harga BBM nasional dan dunia serta peningkatan inflasi secara global, pembengkakan biaya dapat ditekan.

Laba bersih positif yang dicapai di triwulan ketiga, tambah Agustinus, selain dipicu keberhasilan perseroan menekan biaya, juga didukung penurunan kerugian selisih kurs sebesar 26,7% dari Rp79,2 miliar pada triwulan ketiga 2004 menjadi Rp58,1 miliar di periode sama tahun ini. Penurunan kerugian kurs disebabkan keberhasilan perseroan memperkecil net open position sehingga mengurangi risiko kerugian kurs dari fluktuasi mata uang.

Pada triwulan ketiga tahun ini Apexindo membukukan net monetary asset sebesar US$9,3 juta berbanding pembukuan net monetary liabilities sebesar US$93,6 juta pada periode sama tahun lalu. Hal itu, kata Agustinus, menunjukkan suksesnya aksi korporasi perseroan sepanjang tahun ini. (Ndy/E-3)

Wednesday, November 9, 2005

Penjualan Bersih Apexindo Capai Rp 755, 6 Miliar

Jakarta, Investor Daily - PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX ) membukukan laba bersih sebesar Rp 3,4 Miliar pada triwulan III 2005 atau naik drastis di banding periode sama tahun lalu yang merugi Rp 27 miliar. Hingga akhir tahun ini, laba bersih di perkirakan mencapai Rp 30 miliar.

Penjualan juga meningkat sekitar 5,7% menjadi Rp 755, 6 miliar. Peningkatan laba bersih itu di dukung konsistensi perseroan menekan biaya dan penurunan biaya kerugian akibat selisih kurs. Kerugian akibat selisih kurs berkurang sekitar 26, 7 % dari Rp 79, 2 miliar tahun lalu menjadi Rp 58,1 miliar .

Ditrektur Apex Agustinus B Lomboan mengatakan, penurunan kerugian selisih kurs tersebut di sebabkan keberhasilan perseroan memperkecil net open position sehinggga mengurangi resiko kerugian kurs dari flukturasi mata uang. ”Kami mampu membukukan net monetary asset sebesar US $ 9,3 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 93,6 juta,” ujarnya lewat siaran pers yang diterima Investor Daily di Jakarta,Senin (7/11).

Selain itu, perseroan pada kuartal ketiga tahun ini dapat mengurangi jumlah utang dengan signifikan sehingga beban bunga turun cukup tajam. Agustinus mengatakan, pelunasan utang itu berpengaruh cukup signifikan sehingga beban bugna turun cukup tajam. Hal itu secara signifikan dapat mengangkat laba bersih dan peningkatan pada rasio interest coverage perseroan dimasa mendatang.

Dia menjelaskan, perlunasan sebagian utang kepada Medco Energi Finance Overseas (MEFO) dengan menggunakan dana dari right issue sebesar Rp 460, 7 miliar telah menurunkan rasio utang berbunga dengan ekuitas menjadi 0, 69 kali dari sebelumnya 1,06 kali periode sama tahun 2004. Hal itu mengakibatkan neraca keuangan perseroan makin membaik .

Selama kuartal ketiga tahun 2005, perseroan yagn bergerak di bidang penyewaan rig dan kontraktor pemboran minyak berhasil menekan biaya langsung dan beban usaha. Akibatnya, EBITDA perseroan meningkat sekitar 2, 2 menjadi Rp 324, 5 miliar di bandingkan tahun lalu Rp 255, 1 miliar. Margin operasi juga meningkat dari 16, 9% menjadi 23,9 %. “Upaya efisiensi yang dilakukan secara berkesinambungan berhasil meningkatkan profitabilitas yagn makin membaik walaupun terjadi kenaikan biaya oprasional baik di lapangan maupun di kantor pusat yang di sebabkan dampak kenaikan bahan bakar minyak dan peningkatan secara inflasi secara global,” paparnya .

Meski perseroan berhasil membukukan laba bersih, lanjut dia, kontribusi pendapatan dari pemboran darat turun sekitar 16,7 % dari Rp 227,2 miliar menjadi Rp 189,3 miliar. Menurut dia, penurunan ini disebabkan akibat dari utilisasi dari rig darat dalam kondisi stagnan. Sebaliknya pendapatan ini pemboran lepas pantai menigkat sebesar 15,4 % menjadi Rp 609,6 miliar, dari tahun lalu menjadi Rp 528,4 miliar.

Sedangkan likuiditas dari perseroan pada kuartal ketiga dari tahun ini makin membaik, peningkatan rasio lancar menjadi 3,45 kali dari sebelumnya 1,75 kali peningkatan rasio tersebut dipicu peningkatan kas dan setara kas sekitar 260,1% dari 39, 0 miliar menjadi Rp 140, 5 miliar. Faktor penting pemicu peningkatan kas dan setara kas tersebut yakni bebasnya kas idle di rekening penampungan di projet finance. Setelah pelunasan secara penuh sisa outstanding utang ke Fortis Bank US$ 36,8 juta dengan menggunakan dana hasil dari penerbitan obligasi. (c73).

Ikhtisar Keuangan Apexindo (dalam miliar Rp)

Kuartal III 2004

Kuartal III 2005

Pendapatan Bersih

755,63

798,93

Laba Kotor

186,65

240,11

Laba Sebelum Pajak

(30,55)

9,60

EBITDA

255,07

324,53

Laba Bersih

(27,00)

3,35

Laba per Saham

(16)

2

Sunday, November 6, 2005

Apexindo Mulai Bukukan Laba Bersih

Jakarta, Kompas - PT Apexindo Pratama Duta Tbk dalam laporan keuangan periode 30 September 2005 berhasil membukukan laba bersih Rp 3,4 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, Apexindo masih rugi bersih Rp 27,0 miliar karena tingginya kerugian selisih kurs. Berbagai upaya keuangan, seperti pengalihan utang dalam dollar AS ke utang rupiah, upaya memperkecil net open position untuk mengurangi risiko kerugian kurs dari fluktuasi mata uang, serta upaya menekan biaya, telah berhasil membuat perusahaan membukukan laba bersih.

Direktur Keuangan Apexindo, Agustinus B Lomboan di Jakarta, Selasa (1/11), menyatakan, upaya efisiensi secara berkesinambungan berhasil meningkatkan profitabilitas. ”Tingkat keuntungan berhasil kami tingkatkan walaupun terjadi kenaikan biaya operasional sebagai dampak dari kenaikan harga BBM nasional dan dunia, serta peningkatan inflasi secara global.”

Apexindo berhasil menekan rugi kurs sebesar 26,7 persen, dari Rp 79,2 miliar pada kuartal III 2004 menjadi Rp 58,1 miliar pada kuartal III tahun ini. Penurunan rugi kurs ini disebabkan keberhasilan memperkecil net open position. Dengan demikian, perseroan membukukan net monetary asset sebesar 9,3 juta dollar AS dibandingkan pembukuan net monetary liabilities sebesar 93,6 juta dollar AS pada periode yang sama tahun lalu.

Ini semua adalah hasil dari berbagai langkah yang diambil manajemen, yaitu menerbitkan obligasi rupiah untuk melunasi sebagian utang dollar AS serta penggunaan dana hasil penerbitan saham baru (rights issue) untuk melunasi sebagian utang kepada Medco Energi Finance Overseas.

Apexindo berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 798,9 miliar, naik tipis sebesar 5,7 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Rp 755,6 miliar. Sebaliknya, pendapatan dari pengeboran lepas pantai meningkat 15,4 persen menjadi Rp 609,6 miliar dari sebelumnya yang Rp 528,4 miliar. Saat ini tingkat utilisasi rig lepas pantai telah mencapai 100 persen. (anv)

Thursday, November 3, 2005

Pendapatan Apexindo Naik Tipis

Jakarta, Bisnis Indonesia: Pendapatan PT Apexindo Pratama Duta Tbk mengalami kenaikan tipis sebesar 5,7% menjadi Rp798,9 miliar pada periode triwulan III/2005 dari periode yang sama tahun lalu Rp755,6 miliar.

Dalam siaran pers kemarin disebutkan emiten itu dapat membukukan laba bersih Rp3,4 miliar pada triwulan III tahun ini setelah pada periode yang sama tahun lalu mengalami rugi bersih p27 miliar yang disebabkan tingginya rugi selisih kurs.

Kontribusi pendapatan dari pengeboran darat juga mengalami penurunan sebesar 16,7% dari Rp227,2 miliar pada kuartal III tahun lalu menjadi Rp189,3 miliar pada kuartal III tahun ini.

Pendapatan dari pengeboran lepas pantai meningkat sebesar 15,4% menjadi Rp609,6 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang sebasr Rp528,4 miliar dengan tingkat utilisasi 100% dimana kontrak-kontrak dengan para klien masih berjalan. (Bisnis/wiw)

Saturday, October 29, 2005

Sisa utang Apexindo ke MEFO US$11 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia : Sisa kewajiban PT Apexindo Pratama Duta Tbk kepada perusahaan afiliasi Medco Energi Finance Overseas saat ini tinggal US$11 juta.

Kewajiban ke perusahaan afiliasi ini menurut penjelasan Apexindo kepada Bisnis, berkurang setelah perseroan melunasi sebagian kewajiban menggunakan dana hasil penerbitan saham baru.

Sebelumnya perusahaan memiliki kewajiban sebesar US$55 juta dengan tingkat bunga sekitar 10%.

Selain memiliki kewajiban ke MEFO, perusahaan juga memiliki utang kepada bank senilai US$15 juta dan utang obligasi sebesar Rp750 miliar.

Sementara itu posisi rasio utang perusahaan terhadap ekuitas disebutkan mencapai 131% untuk laporan per 31 Juni 2005. Setelah pelunasan kewajiban ini, rasio utang perusahaan tinggal 69%. (Bisnis/adn)

Friday, October 28, 2005

Sisa utang Apexindo lunas tahun ini

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk sebelum akhir tahun berencana melunasi sisa kewajiban kepada perusahaan terafiliasi Medco Energi Finance Overseas senilai Rp70 miliar.

Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R Satari, dana untuk pelunasan sisa kewajiban ini akan diambil dari kas internal.

"Kewajiban ini harus segera dilunasi karena bunganya relatif tinggi yaitu mencapai 10%. Kalau utang ini dilunasi, beban biaya bunga bisa ditekan," kata dia kepada Bisnis kemarin.

Hingga kini dari total kewajiban sebesar Rp530 miliar, sekira Rp460 miliar di antaranya telah dilunasi. Dana untuk pelunasan kewaiban ini diperoleh dari hasil emisi saham baru.

Setelah perseroan melunasi kewajiban ini rasio utang perusahaan terhadap modal akan turun dari 100% menjadi dibawah 50%.

Dengan pelunasan tersebut, jumlah kewajiban perusahaan tinggal senilai US$90 juta yang terdiri dari utang obligasi US$70 juta dan utang bank US$20 juta.

Terkait soal kinerja, Apexindo mematok perolehan pendapatan sebesar US$110 juta (bukan laba seperti tertulis dalam edisi kemarin di halaman B1) atau sedikit lebih kecil ketimbang perolehan tahun lalu sebesar US$113 juta.

Penurunan pendapatan ini terjadi karena tidak maksimalnya utilisasi rig yang dimiliki pada tahun ini karena sejumlah perbaikan. Tahun lalu utilisasi rig perusahaan mencapai 54% sementara kondisi saat ini hanya 46% dan menjadi 50% pada akhir tahun.

Dari sisi laba, perseroan tahun ini bakal membukukan keuntungan bersih mencapai Rp30 miliar.

Oleh Adhitya Noviardi
Bisnis Indonesia

Thursday, October 27, 2005

Apexindo patok laba US$110 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk tahun ini mematok pendapatan mencapai US$110 juta (setara dengan Rp1,1 triliun) atau sedikit lebih kecil ketimbang perolehan tahun lalu sebesar US$113 juta (Rp1,13 triliun, asumsi US$1=Rp10.000).

Direktur Keuangan Apexindo Agus Lomboan mengatakan penurunan laba itu terjadi karena tidak maksimalnya utilisasi rig yang dimiliki pada tahun ini karena sejumlah perbaikan.

"Tahun lalu utilisasi rig perusahaan mencapai 54%. Hingga saat ini diperkirakan hanya 46% dan menjadi 50% pada akhir tahun," katanya.

Namun, dari sisi perolehan keuntungan, perseroan pada tahun ini bakal membukukan laba bersih positif. Hal itu terjadi karena berkurangnya risiko rugi kurs yang diderita perusahaan setelah depresiasi nilai tukar rupiah.

Apexindo memperkirakan laba bersih perseroan pada akhir tahun akan mencapai kisaran Rp30 miliar. Sementara perolehan pada tahun lalu masih rugi bersih sebesar Rp28 miliar.

Menyinggung kinerja hingga Desember, dia memaparkan pendapatan perusahaan diperkirakan mencapai Rp800 miliar atau lebih bagus ketimbang periode yang sama 2004 senilai Rp700 miliar.

Sedangkan perkiraan laba bersih emiten itu diperkirakan mencapai Rp3 miliar hingga Rp4 miliar ketimbang rugi bersih Rp24 miliar.

Guna mengenjot pertumbuhan pendapatan, perusahaan saat ini masih memiliki kontrak kerjasama senilai US$120 juta untuk kategori back up selama tiga tahun.

Baru-baru ini dalam penjelasannya ke BEJ, Apexindo menandatangani kontrak pengeboran baru senilai US$1,99 juta dengan PT Medco E&P Indonesia.

Kontrak pengeboran itu dilakukan untuk pekerjaan pengeboran darat yang dikerjakan oleh Rig 14 yang berlokasi di blok Kaji, Sumatra Selatan.

Saham baru

Menyinggung hasil penerbitan saham baru, dia mengungkapkan prosesnya telah rampung. Perseroan telah mengalokasikan hasil emisi sahambaru itu untuk melunasi kewajiban kepada Medco Energi Finance Overseas.

Menurut Ade Saftari, Sekretaris Perusahaan, kini Apexindo mengalokasikan seluruh dana hasil penerbitan saham baru senilai Rp460 miliar.

Dengan pelunasan utang ini rasio utang perusahaan terhadap modal menjadi berkurang.

"Rasio utang terhadap ekuitas kami kini di bawah 100%. Ini terjadi setelah peningkatan modal dan pelunasan kewajiban kepada perusahaan afiliasi Medco Energi Finance Overseas. Rasio utang kami tinggal 50%," katanya.

Oleh Adhitya Noviardi
Bisnis Indonesia

Apexindo Targetkan Laba Bersih Rp 30 Miliar

JAKARTA, Investor Daily --- PT Apexindo Duta Perkasa Tbk menargetkan laba bersih tahun 2005 sebesar Rp 30 miliar, atau naik drastis dibanding tahun lalu yang masih merugi senilai Rp 31,88 miliar.

Direktur Keuangan Apexindo Pratama Duta Agustinus B. Lomboan mengatakan, membaiknya kinerja perusahaan tahun 2005 disebabkan kerugian selisih kurs dolar AS (forex loss) dapat dikurangi. Karena utang perusahaan dalam dolar AS terus turun. "Selain itu, sejak September-hingga Desember 2005, perusahaan sudah mampu menutupi kerugian selisih kurs. Sehingga kinerja perseroan makin membaik," ujarnya saat berbuka puasa di Jakarta, Selasa (25/10).

Agustinus optimisis, target itu bisa tercapai hingga akhir tahun ini sebab laba bersih hingga September 2005 sudah mendekati Rp 5 miliar. Dia menambahkan, total penjualan tahun 2005 diperkirakan mencapai Rp 800 miliar atau meningkat dibanding Rp 700 miliar tahun sebelumnya.

“Dengan adanya right issue sebesar Rp 460, 68 miliar belum lama, utang kepada induk perusahaan juga berkurang. Dengan demikian, kinerja perusahaan tahun ini dan tahun mendatang akan jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Menurut dia, hingga September 2005, jumlah utang perusahaan mencapai sekitar US$99 juta terdiri atas utang obligasi US$73 juta, pinjaman kredit BCA US$15 juta dan sisa utang kepada MEFO sebesar US$11 juta. Sedangkan total ekuitas mencapai US$180 juta. Sehingga rasio utang terhadap ekuitas (DER) adalah 0,5 kali. Sebelum pembagian utang di atas dibayarkan, DER perseroan tercatat 1,3 kali.

Selain itu, lanjut dia, nilai kontrak dengan perusahaan minyak asing terus meningkat tahun ini dan tahun depan. “Sisa kontrak tahun 2005 masih tersisa US$120 juta dan tahun 2006 sudah diteken senilai US$90 juta. Artinya, untuk dua tahun ke depan, kami cukup aman dan tinggal mencari kontrak baru lagi,” katanya.

Perseroan bergerak di bidang jasa penyewaan rig darat dan lepas pantai. Apexindo memiliki 12 unit rig dan tingkat penggunaannya baru mencapai 50% dan diperkirakan naik menjadi 60% tahun depan.

Jasa kontrak rig lepas pantai memberikan kontribusi sebesar 75% dan sisanya rig darat. Menurut dia, margin keuntungan terbesar berasal dari rig lepas pantai karena semua biaya bisan diperhitungkan. Sebaliknya, biaya penyewaan rig darat sulit diprediksi, apalagi lokasi proyek itu berasal di luar Pulau Jawa. (c77/kp)

Apexindo Pratama

Jakarta, Media Indonesia --- Sementara itu, penyedia jasa pertambangan PT Apexindo Pratama Duta Tbk memproyeksikan membukukan laba Rp30 miliar akhir tahun ini setelah tahun lalu mengalami kerugian.

Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan mengatakan kenaikan harga BBM relatif tidak berdampak terhadap kebutuhan biaya bahan bakar perseroan. Sebab, sebagian besar bahan bakar yang diperlukan perseroan disediakan oleh pengguna jasa Apexindo.

''Dampaknya yang kelihatan adalah pada biaya pengangkutan karena tarif jasa freight (pengangkutan) semua naik. Kalau dihitung, mungkin dampak ke biaya operasional sekitar 5%-10%,'' ungkap Agustinus.

Dia mengatakan dampak naiknya tarif pengangkutan telah diatasi dengan kebijakan Apexindo menaikkan tarif jasa pengeboran dan jasa pertambangan lainnya. Rata-rata kenaikan tarif jasa Apexindo berkisar antara 20%-25%.

Dengan mulai optimalnya penggunaan aset-aset modal kerja, dia optimistis target laba bersih Rp30 miliar tahun ini terpenuhi. Apalagi, mulai tahun ini kerugian yang disebabkan depresiasi rupiah pada 2003-2004 dapat dihentikan. (Ndy/S-3)