Showing posts with label Right Issue. Show all posts
Showing posts with label Right Issue. Show all posts

Wednesday, March 1, 2006

SeaDrill Report Fourth Quarter Results

Rigzone.com, SeaDrill Limited 3/1/2006 --- SeaDrill reports an operating loss of $5.8 million and a net income of $1.1 million for the quarter ended December 31, 2005.

Revenues increased as a function of higher day rate for Ekha and higher day rates and utilization for - SeaDrill 6 and Crystal Ocean.

Vessel and rigs operating expenses increased in the fourth quarter to $15.9 million as compared to $4.2 million in the third quarter. The increase was due to SeaDrill 6 commenced its operations and SeaDrill 7 completed its upgrading in Brownsville and was mobilized to West Africa. Administrative costs were $2.7 million this quarter compared to $0.9 million in the third quarter reflecting the costs incurred in building up the SeaDrill organization in Singapore.

The results for the third quarter have been restated to reflect the change of accounting treatment for the investment in Ocean Rig ASA ("Ocean Rig") and the capitalization of interest expense. The investment in Ocean Rig was equity accounted for in the third quarter which resulted in a share of net loss of $5.7 million. The Company has reviewed its accounting treatment and concluded it is more appropriate to account for it as an investment in available-for-sale marketable securities as the investment was more an opportunistic holding. The investment was subsequently disposed of in January 2006. The unrealized holding gain on investment in Ocean Rig of $81.7 million was accounted for in other comprehensive income at December 31, 2005. The realized gain of 79.9 million will be recorded in the first quarter of 2006. Interest expenses of $5.9 million incurred on the Company's various loans from inception to December 31, 2005 were capitalized as part of the construction costs on newbuildings in accordance with US GAAP.

In addition, the fourth quarter's results have been positively impacted by the Company's share of preliminary results of $3.0 million of its 33.05% investment in PT Apexindo Pratama Duta Tbk ("Apexindo") and share of results of $0.1 million of its 40.08% investment in Mosvold. The contribution from Apexindo may be subject to change as a result of finalization of the accounting treatment of its cross currency swap transactions. In December 2005, SeaDrill entered into a share swap transaction on 2,107,600 Smedvig ASA ("Smedvig") shares with no right to the physical delivery of the shares. The swap was, in accordance with US GAAP, accounted for as a derivative and resulted in positive contribution of $5.3 million based on market to market revaluation.

The Company reports an operating loss of $11.2 million and a net loss of $2.6 million for the period from inception through December 31, 2005.

Earning per share for the quarter was $0.01 and loss per share from inception to December 31, 2005 was $0.01 respectively.

The financial information presented herein is unaudited and is prepared in accordance with U.S. generally accepted accounting principles.

Thursday, February 9, 2006

Apexindo pakai semua dana IPO

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk telah menggunakan seluruh dana hasil penawaran umum terbatas perseroan sebesar Rp460,68 miliar.

Dalam penjelasan tertulisnya kepada PT Bursa Efek Jakarta (BEJ), Direktur Apexindo Agustinus B. Lomboan mengatakan sebagian dari biaya atas penawaran umum terbatas tersebut bahkan dibiayai dengan aliran kas perseroan.

Biaya untuk kegiatan penawaran umum tersebut mencapai Rp10,36 miliar, sementara terdapat selisih kekurangan dana sebesar Rp6,06 miliar antara realisasi penggunaan dana dan hasil emisi yang diperoleh perseroan.

Hasil bersih realiasi penawaran umum terbatas itu, setelah dikurangi biaya penawaran umum, senilai Rp450,32 miliar. Sementara total realiasi penggunaan dana mencapai Rp456,38 miliar. (Bisnis/yes)

Friday, October 7, 2005

SeaDrill kuasai 32,3% saham Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: SeaDrill Ltd melalui Abacus Capital International Ltd telah resmi menjadi pemegang 32,3% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk melalui mekanisme penerbitan saham baru (rights issue).

Selain SeaDrill, Apexindo kini dimiliki oleh PT Medco Energi Internasional Tbk dengan kepemilikan 52,4% saham, berkurang dari posisi semula sekitar 77%, dan publik 15,3%.

SeaDrill merupakan perusahaan pemboran lepas pantai yang sedang berkembang pesat dengan kapitalisasi pasar saat ini pada bursa over-the-counter di Oslo sebesar sekitar US$1,7 milliar.

Dalam rights issue, Apexindo Pratama mengumpulkan dana sebesar Rp 460,68 miliar yang dimanfaatkan untuk melunasi sebagian utang kepada Medco Energi Finance Overseas BV terkait pembiayaan bersama dalam pembangunan rig Raissa dan Yani.

"Minat yang tinggi dari investor, khususnya investor asing, terhadap Apexindo membuktikan bahwa Apexindo dipercaya," ujar Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan. (Bisnis/wiw)

Right Issue Apexindo Capai Rp 460,68 Miliar

Jakarta, Investor Daily – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) mengumpulkan dana sebesar Rp 460,68 miliar dari hasil penawaran saham terbatas (right issue) I Tahun 2005.

Dalam pengumumannya kepada Bursa Efek Jakarta Rabu (5/10), Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan mengatakan, perseroan merasa puas karena keseluruhan proses penawaran saham terbatas Apexindo berjalan lancer dan tepat waktu.

“Proses yang sempat terhenti dan seharusnya selesai Juni 2005 telah dilanjutkan kembali dan berjalan sukses,” ujarnya.

Dana yang terkumpul telah digunakan perseroan untuk melunasi sebagian hutang Medco Energi Finance Overseas BV (MEFO) sehubungan dengan joint financing dalam rangka pembangunan rig Raissa dan Rig Yani.

Dengan demikian, total outstanding hutang berbunga Apexindo dalam rupiah turun drastic. Rasio hutang berbunga berbanding ekuitas diharapkan membaik cukup signifikan dari 1,31 kali per 30 Juni 2005 menjadi sekitar 0,61 kali. (c77)

Asing Borong Saham Baru Apexindo

Jakarta, Investor Daily -- Investor asing memborong sebagian besar saham baru (right issue) yang dijual PT Apexindo Pratama Duta Tbk. "Sepuluh institusi dan tiga investor perorangan asing memperoleh 96,6 persen atau sekitar 809,02 juta saham," kata Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R. Sartari dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Jakarta kemarin.

Investor domestik, terdiri atas 18 institusi dan 89 perorangan, hanya memperoleh 3,41 persen atau sekitar 28,55 juta saham. Apexindo melakukan penjualan saham baru sebanyak 837,6 juta lembar yang penjatahannya dilaksanakan pada 28 September lalu. Saham dengan nilai nominal Rp 500 itu ditawarkan pada harga Rp 550 per saham.

Dari penerbitan saham baru itu, Apexindo mengumpulkan dana Rp 460,68 miliar. Dana itu digunakan untuk melunasi utang ke Medco Finance Overseas BV. Utang itu terkait dengan pendanaan bersama dalam pembangunan rig Raissa dan rig Yanni, yang akan jatuh tempo pada 31 Desember 2008.

Pada kesempatan terpisah, direktur keuangan anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk. Agustinus B. Lomboan menambahkan, dengan pembayaran utang itu, total sisa (outstanding) utang berbunga Apexindo dalam rupiah turun drastis. "Kami harap rasio utang berbunga berbanding ekuitas perusahaan akan membaik, dari 1,31 kali per 30 Juni 2005 menjadi sekitar 0,61 kali," kata dia.

Agustinus mengatakan, neraca keuangan yang lebih sehat akan memberi kesempatan lebih besar untuk mendapatkan sumber-sumber pendanaan baru yang akan mendukung rencana ekspansi perseroan ke depan. Penurunan utang yang signifikan akan menurunkan beban bunga yang harus dibayar. "Hal ini akan berdampak positif pada laba bersih," ujarnya.

SeaDrill Ltd., melalui Abacus Capital International Ltd., menjadi salah satu pemegang saham terbesar Apexindo dengan menguasai 32,3 persen saham. PT Medco Energi Internasional Tbk. tetap menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 52,4 persen. Sisanya, sebesar 15,3 persen, berada di publik.

SeaDrill merupakan perusahaan pengeboran lepas pantai dengan kapitalisasi pasar saat ini pada bursa over the counter di Oslo sebesar sekitar US$ 1,7 miliar.

Sebelumnya, pada Juli 2005 telah disepakati kerja sama antara SeaDrill dan Apexindo untuk memasarkan dan mengoperasikan armada pengeboran lepas pantai SeaDrill.

PT Apexindo Pratama Duta Tbk. merupakan kontraktor pengeboran minyak dan gas bumi yang berdiri pada 20 Juni 1984. Apexindo kini memiliki sembilan anjungan pengeboran di daratan setelah bergabung dengan PT Medco Antareja pada Desember 2001.

Apexindo juga memiliki dan mengoperasikan empat submersible swamp barge rig (SSB), bernama Raisis, Maera, Raissa, dan Yani, yang dikontrak oleh Total E&P Indonesie dan satu jack-up rig Rani Woro di Timur Tengah. SULIYANTI PAKPAHAN

Thursday, October 6, 2005

Investasi Indosat Dibiayai Dana Internal

Jakarta, Kompas - Dalam lima tahun ke depan, PT Indosat Tbk tidak membutuhkan pinjaman dana dari luar untuk pengembangan investasi. Sesuai dengan pengelolaan keuangan perusahaan, mulai tahun depan Indosat akan memiliki kelonggaran dana internal sehingga dapat digunakan untuk membiayai investasi. Demikian dikemukakan Direktur Utama Indosat Hasnul Suhaimi di Jakarta, Selasa (4/10)

Saat ini total utang Indosat mencapai Rp 13 triliun. Pada April 2006, salah satu seri obligasi Indosat senilai Rp 1 triliun akan jatuh tempo. Namun, dari jumlah yang jatuh tempo tersebut, sebanyak Rp 48 miliar telah dibeli kembali pada harga 101 ketika harga obligasi sedang jeblok beberapa bulan lalu.

Setiap tahunnya, kami akan mulai melunasi utang sehingga ke depan Indosat akan semakin memiliki kelonggaran dari aliran dana internal, katanya.

Menurut Direktur Pemasaran untuk Korporasi Wahyu Wijayadi, tahun ini adalah puncak kegiatan investasi Indosat, di mana Indosat membangun sistem utama jaringan telekomunikasi, menambah stasiun transmisi, serta meningkatkan jangkauan dan kapasitas. Mulai tahun depan kami tinggal meningkatkan kapasitas jaringan. Kebutuhan investasinya semakin mengecil, katanya.

Apexindo

Secara terpisah, Direktur Keuangan PT Apexindo Pratama Duta Tbk Agustinus B Lomboan mengabarkan bahwa penerbitan saham baru terbatas (right issue) telah terlaksana dengan harga Rp 550 per saham. Dari kegiatan ini, Apexindo mengumpulkan dana sebesar Rp 460,680 miliar.

Dana hasil penerbitan saham tersebut telah digunakan untuk melunasi sebagian utang kepada Medco Energi Finance Overseas BV. Utang itu terkait dengan kerja sama pembiayaan dalam pembangunan anjungan pengeboran lepas pantai Raissa dan Yani.

Melalui proses penawaran saham baru secara terbatas tersebut, Sea Drill Ltd, melalui Abacus Capital International Ltd selaku pembeli siaga, telah membeli hak PT Medco Energi Internasional Tbk.

Abacus telah resmi menjadi pemegang saham terbesar kedua Apexindo dengan menguasai 32,3 persen saham. Medco masih menjadi pemegang saham mayoritas, dengan menguasai 52,4 persen. Sisanya dimiliki publik.

Petrosea

PT Petrosea Tbk bekerja sama dengan Renison Consolidated Mines NL melaporkan telah memulai pekerjaan tambang emas Tom̢۪s Gully di Australia. Rencananya, tambang tersebut sudah memproduksi emas pada Maret 2006. Tambang tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 45.000 ons emas setiap tahun dari 250.000 ton are yang diproses tiap tahunnya.

Presiden Direktur PT Petrosea John Sheridan mengatakan, ini merupakan kerja sama pertambangan pertama perseroan di luar Indonesia. (anv/TAV)

SeaDrill buys 32.3% stake in Apexindo

JAKARTA, The Jakarta Post: SeaDrill Ltd., an oil-rig owner controlled by Norwegian billionaire John Fredriksen, has officially acquired a 32.3 percent stake in oil drilling firm PT Apexindo Pratama Duta through a rights issue for Rp 460.7 billion (about US$45.9 million).

In a release on Tuesday, the publicly listed company, a subsidiary of the country's largest locally controlled oil and gas firm PT Medco Energi Internasional, said the proceeds would be used to repay part of its debts to Medco Energi Finance Overseas BV.

According to the company's website, Apexindo recorded a net income of Rp 1.5 billion in the year's second quarter, a jump from Rp 34.9 billion in net losses it booked in the corresponding period the previous year.

The acquisition mean's the company's parent company Medco still holds the majority of shares, with a 52.4 percent stake, while the public investors control the remaining 15.3 percent. -- JP

Wednesday, September 21, 2005

Fredriksen kuasai 30% saham Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: John Fredriksen, salah satu orang terkaya di dunia dan pemilik Seadrill Ltd, akhirnya menguasai 30% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk, anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk.

Pekan lalu, sang raja kapal tanker Fredriksen resmi masuk ke Apexindo melalui Abacus Capital Corp yang menjadi pembeli siaga dalam penerbitan saham baru (rights issue) perusahaan itu.

Presdir PT Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro membenarkan hal itu dan memastikan Medco masih memegang mayoritas saham perusahaan pengeboran lepas pantai itu.

"Masuknya John Fredriksen sudah disepakati pekan lalu dan mereka akan menguasai sekitar 30% saham Apexindo," ujarnya singkat akhir pekan lalu kepada Bisnis di sela-sela acara HUT ke-25 Medco .

Kini, Medco masih memiliki 77% saham Apexindo. Selain itu, 11% saham perusahaan pengeboran itu dimiliki publik dan selebihnya masih dipegang oleh perusahaan pendiri.

Sekretaris Perusahaan Medco Andy Karamoy menambahkan pasca masuknya Fredriksen, kepemilikan saham Medco di Apexindo akan merosot menjadi sekitar 52%.

Ade Satari, Sekretaris Perusahaan Apexindo, menjelaskan perseroan tidak mengetahui adanya kesepakatan itu karena proses tersebut terjadi di level pemegang saham.

"Kami hanya entitas yang akan melakukan rights issue dengan hak memesan efek terlebih dulu. Kalau ada kesepakatan, kami tidak mengetahui hal itu," ujarnya.

Pemegang saham Apexindo mempunyai waktu untuk menggunakan haknya dalam membeli saham baru yang akan diterbitkan 22-26 September.

Setelah itu, baru dapat diketahui jumlah pemegang saham yang memakai haknya dan yang tidak sehingga sisa saham baru yang tidak terserap bakal dibeli seluruhnya oleh Abacus Capital.

Perusahaan investasi itu nantinya mencari calon investor yang bersedia menanamkan dana di Apexindo melalui skema rights issue. Apexindo tidak mengetahui kesepakatan yang dibuat antara Seadrill dan Abacus.

"Apakah nanti nama Abacus atau lainnya yang muncul sebagai pemegang saham, kami belum mengetahui karena hal itu tergantung pada perjanjian antara Abacus dan Seadrill. Siapa saja investor yang masuk akan diketahui pada 29 September," tutur Ade.

Emiten pengeboran itu menetapkan harga penerbitan saham baru sebanyak 837,6 juta saham sebesar Rp550 per saham dengan rasio pemegang 25 saham lama berhak membeli12 saham baru. Dana yang bakal diperoleh Apexindo mencapai Rp460,68 miliar.

John Fredriksen adalah salah satu orang terkaya di dunia asal Norwegia yang mengoperasikan jaringan kapal tanker dari rumah mewah seharga 40 juta poundsterling di Chelsea, London.

Dia masuk dalam daftar orang terkaya dunia dengan nomor urut 66 tahun 2003 dan nilai kekayaannya saat itu lebih dari 1 miliar poundsterling.

Fredriksen meraih keberuntungan yang amat besar pada 1980-an ketika terjadi perang Iran-Irak karena armada kapal tankernya berani mengambil risiko tinggi mengangkut minyak dari kedua negara itu namun dengan keuntungan besar.

Pemilik Frontline

Menurut laporan Sunday Times, Fredriksen memiliki saham di Frontline, perusahaan perkapalan yang terdaftar di Bursa New York.

Frontline inilah yang membeli dua kapal tanker Pertamina seharga US$180 juta dalam suatu proses penjualan yang kontroversial tahun lalu.

Fredriksen juga tercatat sebagai Chairman Frontline, perusahaan berbasis di Bermuda yang ikut dihukum Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) awal tahun ini dalam pembelian dua tanker Pertamina tersebut.

Dalam transaksi Apexindo, Fredriksen menggunakan Abacus Ltd, sebuah perusahaan khusus untuk keperluan akuisisi saham Apexindo. Dalam operasinya, Fredriksen memakai Seadrill, perusahaan berbasis di Bermuda dengan kapitalisasi pasar US$1,2 miliar.

Menurut rencana, dana hasil penerbitan saham baru itu untuk melunasi utang ke Medco Finance Overseas BV terkait dengan pendanaan bersama dalam rangka pembangunan Rig Raissa dan Rig Yanni yang bakal jatuh tempo pada 31 Desember 2008. Total dana yang diraih Apexindo diperkirakan mencapai Rp461 miliar.

Hingga akhir 2004, Apexindo tercatat memiliki total aset senilai Rp2,619 triliun dan nilai ekuitas sebesar Rp1,15 triliun.

Tahun lalu, kendati nilai penjualan mencapai Rp1,02 triliun atau naik signifikan dari Rp823 miliar tahun sebelumnya, perusahaan itu mencatat kerugian Rp27 miliar, sedangkan tahun sebelumnya untung Rp52,69 miliar.

Harga saham Apexindo kemarin ditutup di Rp680 per saham, naik dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Sejak penutupan transaksi pada 12 September, harga saham emiten pengeboran itu terus menanjak ke posisi Rp640 per saham pada penutupan 14 September.

Titik tertinggi harga saham anak perusahaan Medco itu pernah mencapai Rp725 per saham pada penutupan perdagangan 27 Juli setelah pada sesi akhir transaksi pada 20 Juli, saham itu masih di kisaran Rp574 per saham.

Pemegang saham Apexindo menyetujui rencana rights issue dalam rapat umum pemegang saham luar biasa yang digelar 6 September.

Perseroan melakukan rights issue untuk meningkatkan ekuitas dan memperbaiki rasio antara utang dan modal. (yosef.ardi@bisnis.co.id/wisnu. wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Yosef Ardi & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

Wednesday, September 14, 2005

Apexindo Jajaki Penawaran Saham Kedua

Jakarta, Koran Tempo – PT Medco Energi Internasional Tbk ingin agar anak usahanya, yaitu PT Apexindo Pratama Duta Tbk., melepas tambahan saham ke publik. Saham Apexindo akan dijual lewat penawaran saham kedua (secondary offering).

Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro mengungkapkan, pola penjualan saham Apexindo kepada publik mirip dengan penjualan saham Medco kepada publik belum lama ini. “Jumlah saham yang akan dijual masih kami kaji,” kata Hilmi kepada pers di Jakarta belum lama ini.

Pada Agustus, Medco menjual sekitar 31 persen saham dalam bentuk global depository share (GDS) – setara dengan 50 lembar saham biasa – di bursa efek Luksemburg. Dengan aksi korporasi itu, selain diperdagangkan di Luksemburg dan Bursa Efek Jakarta, saham Medco bisa diperdagangkan di bursa efek London dan bursa efek Nasdaq di New York.

Mayoritas saham Apexindo dikuasai Medco Energi sebanyak 77,53 persen. Sekitar 10,8 persen dimiliki perusahaan lain, dan publik 11,54 persen.

Jumlah saham yang dimiliki Medco akan berkurang 32-37 persen, karena Apexindo menerbitkan saham baru (right issue) senilai Rp 460 miliar. Perusahaan pengeboran berbasis di Bermuda, yaitu SeaDrill Ltd., akan membeli saham baru Apexindo itu.

Direktur Keuangan Apexindo Agustinus Lomboan mengatakan, penjualan kedua saham Apexindo di luar negeri masih menjadi wacana. “Idealnya sih kami bisa seperti Medco,” kata Agustinus.

Menurut dia, Apexindo masih kesulitan menawarkan saham di luar negeri. Sebab, dari segi ukuran perusahaan, Apexindo sangat kecil dibandingkan Medco Energi. Kapitalisasi saham Apexindo hanya US$ 120-130 juta. Sedangkan kapitalisasi Medco mencapai US$ 1 miliar. “Apexindo harus meningkatkan ukuran perusahaan dan memperluas basis investor strategis terlebih dulu.”

Analis saham Sinarmas Sekuritas, Alfiansyah, menilai bahwa langkah Medco menjual saham Apexindo ke publik, termasuk menjual di luar negeri, tidak akan serta-merta memberi dukungan positif bagi kinerja saham Apexindo di pasar modal Jakarta. “Keuntungan yang ada hanya meningkatkan likuiditas perdagangan saham Apexindo,” kata dia, “Selain hanya mempermudah perusahaan mencari dana asing di luar negeri.”

padjar iswara/muchtar (PDAT)

Saturday, September 10, 2005

Rights issue Apexindo disetujui

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Pemegang saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk menyetujui rencana penawaran umum terbatas I dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue).

Persetujuan itu merupakan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa yang digelar 6 September.

Emiten itu akan menerbitkan 837.600.000 saham biasa yang ditawarkan dengan harga Rp550 per saham sehingga seluruhnya berjumlah Rp460,68 miliar (bukan Rp4,61 miliar seperti dalam berita rights issue Apexindo di harga Rp550 edisi 7 September).

Apexindo bakal memanfaatkan dana hasil penerbitan saham baru itu untuk melunasi utang ke Medco Finance Overseas BV terkait dengan pendanaan bersama dalam rangka pembangunan Rig Raissa dan Rig Yani yang bakal jatuh tempo pada 31 Desember 2008.

"Perseroan melakukan rights issue untuk meningkatkan ekuitas dan memperbaiki leverage utang. Kami yakin dengan modal yang kuat, Apexindo berpeluang untuk ekspansi usaha lebih besar," katanya dalam siaran pers. (Bisnis/wiw)

Apexindo Akan Right Issue

Jakarta, Investor Daily – Pemegang saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk menyetujui rencana perseroan untuk menerbitkan saham baru (right issue) sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Apexindo, 6 September 2005.

Corporate Secretary Apexindo Pratama Duta Ade R Satari mengatakan, perseroan akan menerbitkan saham biasa atas nama sebanyak 837.600.000 lembar dengan harga Rp 550 per saham. Keseluruhan saham itu berjumlah Rp 460,68 miliar.

“Dana hasil right issue akan digunakan untuk melunasi utang perseroan kepada Medco Finance Overseas BV sehubungan dana pendanaan bersama untuk pembangunan Rig Raisa dan Rig Yani yang jatuh tempo 31 Desember 2008,” ujarnya dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Jakarta, Rabu (8/9). (c87).

Thursday, September 8, 2005

Harga Right Issue Saham Apexindo Rp550

Jakarta, Bisnis Indonesia – PT Apexindo Pratama Duta Tbk menetapkan harga penerbitan saham baru (right issue) sebanyak 837,6 juta saham sebesar Rp550 per saham dengan rasio pemegang 25 saham lama berhak membeli 12 saham baru.

Dana segar yang diperoleh dari hasil penerbitan saham ini diperkirakan mencapai Rp4,61 miliat dan akan dipergunakan untukmembayar utang afiliasi kepada PT Medco Energi Overseas B.V senilai lebih dari US$35 juta.

“Kami alokasikan 100% dari dana hasil penerbitan saham baru ini untuk membayar utang afiliasi karena untuk membangun rig baru, kami akan gunakan sumber dana lain,” kata Direktur Keuangan Apexindo, Agustinus B Lomboan, kepada Bisnis, kemarin.

Semula, hasil dari penerbitan saham baru itu nantinya untuk membangun rig ketiga ini. Namun, rencana itu dibatalkan karena perseroan belum memberikan penjelasan soal dana hasil right issue kepada Badan Pengawas Pasar Modal.

Dia mengatakan sejauh ini perseroan belum menentukan jumlah belanja modal yang akan dimanfaatkan untuk membangun rig. Dana untuk biaya pembangunan proyek ini berkisar antara US$145 juta sampai dengan US$150 juta.

Manajemen Apexindo berencana membagikan deviden pada akhir tahun ini sebesar 30% dari laba setelah pajak. Saldo laba bersih perseroan diprediksi meningkat pada semester II tahun ini. Hingga Juni 2005, laba bersih perseroan telah mencapai Rp1,2 miliar.

“Saat ini penghematan bunga perseroan mencapai US$4,9 juta setiap tahun,” kata Agus.

Terkait rencana penerbitan saham baru itu, Abacus Capital Corp bertindak sebagai pembeli siaga. Sejauh ini belum ada kepastian rencana pembelian 32% sampai dengan 37% saham baru Apexindo oleh SeaDrill Ltd.

Mengenai pembangunan rig lepas pantai jenis jack up yang ketiga, Agus menjelaskan bahwa pembangunan dimulai pada Januari tahun depan seraya menunggu rig lepas pantai jenis jack up kedua di Singapura yang akan selesai pada Desember 2006.

Sekretaris Perusahaan Apexindo, Ade R. Satari, mengatakan Apexindo memutuskan akan menempuh penerbitan saham baru karena tren harga saham perusahaan pengeboran di dunia mengalami peningkatan seiring peningkatan permintaan bahan baker.

Apexindo adalah anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk yang bergerak di bisnis kontraktor pengeboran minyak, gas dan panas bumi dengan jumlah armada rig terbesar.

Kini emiten itu mengadakan perjanjian kerja sama dengan SeaDrill untuk memasarkan dan mengoperasikan armada rig lepas pantai yang dimiliki SeaDrill di Timur Tengah dan Asia dengan focus utama pasar Indonesia.

Tahun lalu, Apexindo membukukan kenaikan laba usaha 2004 sebesar 51,8% menjadi Rp160,2 miliar dari periode yang sama sebelumnya Rp105,5 miliar. Kenaikan itu karena penerapan strategi efisiensi.

Marjin laba usaha perseroan meningkat 15,7% tahun lalu dari 2003 yang hanya mencapai 12,8%.

Apexindo tahun lalu memperoleh kenaikan pendapatan usaha sebesar 24% menjadi Rp 1 triliun dari periode yang sama sebelumnya Rp823,2 miliar. Pendapatan 2004, merupakan pendapatan tertinggi yang pernah dicapai perseroan.

Kenaikan pendapatan usaha itu, ditopang oleh peningkatan pendapatan jasa pengeboran lepas pantai yang signifikan sebesar 34,4% menjadi Rp729,5 miliar 2004 dari periode yang sama 2003 yang hanya mencapai Rp542,7 miliar. (04) (redaksi@bisnis.co.id)

Friday, July 22, 2005

SeaDrill Acquires Stake in PT Apexindo

Rigzone.com, SeaDrill 7/22/2005 --- SeaDrill Limited has entered into agreements with an investment company to purchase between 32% and 37% of the enlarged share capital of PT Apexindo Pratama Duta Tbk for a maximum investment amount of US $65 million, pursuant to the latter's upcoming rights issue plan. SeaDrill will, as part of the agreement, take over and subscribe for a majority of the rights in the rights issue. Apexindo will issue 837,600,000 shares in the rights issue resulting in 2,582,600,000 shares outstanding post rights. In addition, SeaDrill and Apexindo have signed a Memorandum of Understanding to enter into an agreement enabling SeaDrill to use Apexindo's services to market and operate SeaDrill's offshore rigs in the Middle East and Asia, with main focus on the Indonesian market. SeaDrill has accumulated a substantial fleet of high spec jack-up drilling rigs including a total of four jack-up rigs presently under construction in Singapore. Apexindo has a 20-year track record of operating rigs safely and efficiently for international oil companies.

SeaDrill Chairman John Fredriksen says: ``We are very pleased with this investment which gives us a strategic position in an well established drilling contractor in the Far East. With one new build high spec jack-up rig presently under construction in Singapore, another high spec jack-up rig presently employed with Statoil, four advanced spec swamp barges working for TotalFina Elf and 11 land rigs, we feel that the investment includes instant value as well as significant upside. The strategic partnership which gives SeaDrill access to Apexindo's strong marketing and operational management further enhances the quality of this deal. Experienced management and a high quality operation will be increasingly important as the drilling industry is running at full utilization.''

SeaDrill is a Bermuda-based company established in 2005 with an offshore drilling fleet consisting of three jack-ups rigs, two FPSOs, four new build jack-up rigs and one new build semi-submersibles. The Company has further options for one new build jack-up rig as well as one more new build semi-submersible. SeaDrill also holds a 25% ownership of Ocean Rig, an offshore drilling Company listed in Oslo. Ocean Drill owns two of the most advanced harsh environment deepwater semi-submersible drilling rigs in the world. SeaDrill trades on the over-the-counter exchange in Oslo and is expected to list its shares on the Oslo Stock Exchange in the second half of 2005. The market capitalization of SeaDrill, as of 22nd July 2005, is approximately US $1.2 billion.

PT Apexindo Pratama Duta Tbk is the largest national onshore & offshore drilling company in Indonesia with a 20-year track record of providing safe and reliable drilling services to international super-major oil companies, domestically as well as internationally. Apexindo's fleet consists of four swamp barges operating for Total Indonesie in Indonesia, one jack-up rig operating for StatOil in the Middle-East, one new build jack-up rig to be delivered in December 2006, and 11 land rigs operating in Indonesia for various oil companies including Unocal, Vico-Indonesia, Petrochina and Medco E&P. Apexindo has one of the top safety records in the industry and is listed on the Jakarta Stock Exchange.