Showing posts with label Saham Apexindo. Show all posts
Showing posts with label Saham Apexindo. Show all posts

Monday, July 7, 2008

Saham Apexindo Menuju Rp 2.500

Investor Daily --- SALAH satu bank investasi asing akan memborong saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) di pasar sekunder hingga harga Rp 2.500. Soalnya, kata sumber Investor Daily, PT Pertamina menawarkan harga akuisisi Apexindo sebesar Rp 2.900 per saham kepada PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA). Tawaran itu lebih tinggi dari Mitra Rajasa sebesar Rp 2.450.

Pertamina sangat berambisi untuk mengambil alih Apexindo karena saham perusahaan jasa pertambangan migas itu sedang murah. Harga wajar Apexindo seharusnya Rp 3.600 apabila memakai benchmark perusahaan sejenis di regional. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, APEX menguat Rp 100 (4,7%) ke level Rp 2.200. Nilai transaksinya sebesar Rp 37,6 miliar. (jau)

Tuesday, April 22, 2008

Encore Beli Saham Apexindo

JAKARTA, Koran Tempo -- Encore International Limited membeli 31,7 persen saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk.

Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R. Satari, dalam penjelasan tertulis yang disampaikan kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) akhir pekan lalu, mengatakan perseroan telah menerima pemberitahuan resmi dari Encore pada 17 April 2008.

Menurut dia, dengan dibelinya saham Apexindo itu, pemegang saham Apexindo berubah menjadi PT Medco Energi International Tbk. sebesar 48,87 persen, Encore International Limited 31,7 persen, dan masyarakat 19,43 persen.

Sebelumnya, kepemilikan Apexindo dikuasai Medco Energi 48,87 persen, masyarakat 19,43 persen, Asia Investment Fund SPC 15,85 persen, dan Asian Opportunities Fund 15,85 persen.

Direktur Encore Yani Panigoro dalam lampiran penjelasan itu mengatakan Encore adalah pemegang saham tidak langsung Medco Energi sebesar 30,72 persen.

Meski begitu, kata dia, pembelian saham Apexindo oleh Encore ini tidak menyebabkan perubahan pemegang saham pengendali di Apexindo. Karena itu, Encore tidak diwajibkan melakukan penawaran tender seperti diatur dalam Peraturan Bapepam Nomor IX.H.1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka dan No. IX.F.2 tentang Penawaran Tender.

Encore beli saham Apexindo Rp2 triliun

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Perusahaan milik keluarga Panigoro membeli 32% saham perusahaan pengeboran yang masih terafiliasi yakni PT Apexindo Pratama Duta Tbk senilai Rp2 triliun.

Yani Panigoro, Direktur Encore International Ltd, seperti dikutip Bloomberg kemarin, mengatakan Encore membeli saham Apexindo dari dua perusahaan pengelola dana Asia sebesar Rp2.400 per saham. Encore merupakan perusahaan induk dari emiten migas PT Medco Energi Internasional Tbk.

Kedua penjualan saham Apexindo adalah Asia investment Funds SPC A/C Capital Income Fund II Segregated Portfolio 15,85% dan Asian Opportunities Fund I Segregated Portfolio 15,85%.

Akuisisi saham itu memberikan kendali pada keluarga Panigoro terhadap Apexindo yang pernah akan dijual oleh Medco untuk memperoleh keuntungan dari lonjakan sewa pengeboran.

Proses penjualan saham Apexindo dimulai oleh Medco dan dibantu penasihat keuangan Credit Suisse sejak tahun lalu. Namun, hingga kini penjualan itu tidak terwujud. Dengan penundaan penjualan itu, berarti Medco telah menunda dua kali divestasi anak perusahaan itu.

"Kami ingin menjual Apexindo sebagai satu paket yang bisa memberikan kendali terhadap saham perusahaan itu. Namun, jika harganya tidak tepat, kami tidak akan melepas saham itu," tutur Yani.

Harga saham emiten pengeboran itu jatuh 35% menjadi Rp1.670 per saham sejak Oktober tahun lalu setelah mencetak rekor Rp2.575. Harga saham Apexindo kemarin melemah ke posisi Rp1.610 dari penutupan sebelumnya Rp1.650 per saham, sedangkan harga saham Medco Energi naik ke Rp4.000 dari level Rp3.900 per saham.

Encore Intenational mempunyai 61% saham di Encore Energy Ltd, sedangkan Mitsubishi memiliki selebihnya. Encore Energy menguasai 51% saham Medco Energi. Dengan pembelian saham Apexindo tersebut, susunan pemegang saham Apexindo berubah menjadi Medco sebanyak 48,87%, Encore 32%, dan publik dengan kepemilikan kurang dari 5% total mencapai 19,43%.

Norico Gaman, Head of Re-search PT BNI Securities, mengatakan keluarga Panigoro sepertinya sayang terhadap Apexindo, apalagi harga minyak sedang meroket.

"Sumbangan Apexindo terhadap laba usaha Medco Energi cukup besar sekitar 20%," tuturnya.

Menurut dia, Medco kemungkinan melihat tidak ada harga yang cocok dari calon pembeli, sehingga saham Apexindo dibeli kembali.

Oleh Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia

Monday, April 21, 2008

Panigoro kuasai lagi Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Proses divestasi sebanyak 31,70% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk akhirnya dilego kepada Encore International Ltd, yang tak lain adalah pemilik tidak langsung PT Medco Energi Internasional Tbk.

Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R. Satari mengatakan perseroan menerima pemberitahuan resmi dari Encore perihal pembelian 31,7% saham Apexindo melalui surat ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 17 April 2008.

"Dengan pembelian saham Apexindo tersebut, maka susunan pemegang saham Apexindo berubah menjadi Medco sebanyak 48,87%, Encore (31,7%), dan publik dengan kepemilikan kurang dari 5% total mencapai 19,43%," katanya dalam laporannya kepada Bursa Efek Indonesia, kemarin.

Adapun pemilik 31,7% saham itu sebelumnya adalah Asia investment Funds SPC A/C Capital Income Fund II Segregated Portfolio 15,85% dan Asian Opportunities Fund I Segregated Portfolio 15,85%.

Dalam suratnya ke Bapepam-LK, Direktur Encore Yani Panigoro mengatakan telah membeli secara langsung sebanyak 835 juta saham Apexindo pada 26 Februari 2008.

"Encore menjadi pemegang saham langsung Apexindo pada penutupan perdagangan 2 April 2008," ujarnya.

Pengendali

Yani menilai pembelian saham Apexindo tidak menyebabkan perubahan pemegang saham pengendali di perusahaan jasa pengeboran sumber minyak dan gas itu. Pemegang saham pengendali tetap Medco sebesar 48,87%.

"Encore tidak diwajibkan melaksanakan penawaran tender sebagaimana diatur dalam Peraturan Bapepam No. IX.H.I tentang Pengalihan Perusahaan Terbuka dan No IX.F.2. tentang Penawaran Tender," paparnya.

Encore merupakan pemegang 60,6% saham Encore Energy. Encore Energy adalah pemilik dari 50,7% saham Medco, induk dari Apexindo.

Namun, pengumuman itu sama sekali tidak menjelaskan nilai jual saham Apexindo tersebut dan juga broker yang terlibat.

Berdasarkan data Bloomberg, pada 2 April terjadi transaksi tutup sendiri (crossing) terhadap sebanyak 149.500 saham Apexindo senilai Rp237,7 juta oleh Kim Eng Securities.

Dalam periode perdagangan yang lebih luas yakni 1-18 April, Kim Eng melakukan crossing terhadap sebanyak 1,18 juta saham berkode APEX itu dengan nilai transaksi Rp1,88 miliar.

Dalam kurun yang sama, lonjakan harga signifikan pada saham APEX hanya terjadi pada 10 April sebesar Rp170 atau 11,18% menjadi Rp1.690. Pada perdagangan Jumat, saham ini justru ditutup turun Rp10 menjadi Rp1.690.

Level harga tersebut sudah turun dari rekor Rp2.500 pada 25 Oktober 2007. Pada saat yang sama, saham Medco naik Rp25 menjadi Rp3.900. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari

Bisnis Indonesia

Friday, April 4, 2008

Asian Opportunities Lepas Kepemilikan di Apexindo

JAKARTA, Okezone - Asian Opportunities Fund I Segregated Portofolio telah menjual kepemilikan sahamnya di PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) sebanyak 417.500.000 lembar saham kepada publik melalui pasar tertutup.

Demikian disampaikan Direktur PT Kim Eng Securities Jusuf Santoso, yang bertindak sebagai broker jual, seperti dikutip dalam keterbukaan informasi di Bursa efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (4/4/2008).

Menurut Jusuf, klien tersebut telah melakukan transaksi tutup sendiri atas saham Apexindo sebanyak 417,5 juta saham pada harga Rp2.400 per saham yang dilakukan di BEI.

Adapun tanggal transaksi telah dilakukan pada 31 Maret, dan sahamnya telah dikirimkan ke kustodian Citibank Jakarta, pada 1 April lalu. (hsp)

Ade Hapsari Lestarini - Okezone

Thursday, March 27, 2008

2,5% Saham Apexindo dihargai Rp158 miliar

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Medco Energi Internasional Tbk meraup dana sebesar Rp158 miliar dari penjualan premium 2,5% saham anak usahanya PT Apexindo Pratama Duta Tbk.

Head of Investor Relation Medco Nusky Suyono mengatakan Medco telah menjual sebanyak 65,83 juta saham Apexindo pada harga Rp2.400 per saham, atau 40% di atas harga penutupan kemarin Rp1.710.

Harga saham berkode APEX itu secara mengejutkan naik Rp310 dari posisi hari sebelumnya Rp1.400 per saham, sehingga mendongkrak kapitalisasi pasarnya menjadi Rp4,50 triliun. Harga saham perusahaan jasa pengeboran sumur minyak dan gas itu pernah mencetak rekor Rp2.575 pada 5 Oktober 2007.

Nusky mengatakan tidak tahu alasan penjualan saham anak usaha dalam jumlah yang jauh dari rencana semula sebanyak 51,37%. "Kami tetap ingin menjual seluruhnya, yang berarti masih ada sisa 48,9% lagi. Penjualan ini juga dengan harga yang lumayan tinggi, bukan harga pasar," tuturnya saat dihubungi Bisnis, kemarin.

Namun, dia belum tahu kapan Medco akan kembali melego kepemilikannya di anak usahanya itu. Soal waktunya akan bergantung pada kondisi pasar. "Pokoknya, niat kami untuk jual seluruhnya."

Nusky tidak bersedia menjelaskan penggunaan dana hasil penjualan saham Apexindo. Menurut dia, nilai yang didapat ini masih terlalu kecil.

Broker terbesar

Namun, dia juga tidak tahu identitas pembeli dan broker yang terlibat dalam transaksi ini. Berdasarkan data Bloomberg, Kresna Securities tercatat sebagai broker dengan nilai transaksi bersih saham Apexindo terbesar.

Kemarin, sekuritas itu memperdagangkan total sebanyak 133,7 juta saham Apexindo bernilai total Rp319,4 miliar.

Mega Capital Indonesia menduduki posisi kedua dengan nilai transaksi sebesar Rp964,2 juta atas volume 604.500 saham.

Phillip Securities Indonesia di tempat berikutnya dengan volume transaksi sebanyak 255.000 saham bernilai Rp419,9 juta.

Berbeda dengan saham Apexindo yang bergerak naik, saham Medco justru turun Rp50 menjadi Rp3.325, kemarin.

Level harga tersebut menjadikan saham berkode MEDC itu berkapitalisasi pasar Rp11,08 triliun. Harga saham MEDC mencatat harga tertinggi Rp6.100 pada 9 November 2007.

Oleh Pudji Lestari

Bisnis Indonesia

Monday, September 17, 2007

Harga minyak tak 'bakar' saham energi

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Kenaikan harga minyak mentah dunia, yang sempat mencapai US$80 per barel, belum sanggup menggerakkan harga saham emiten pertambangan dan energi maupun sektor terkait. Namun, harga minyak diperkirakan turun awal bulan depan.

Harga minyak mentah di pasar dunia meroket sejak 15 Juni 2007 ke level US$69 per barel. Harga sumber energi ini terus menanjak ke level rata-rata U$70 per barel dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, yaitu US$80 per barel, pada 12 September 2007, setelah badai Humberto memaksa penutupan tiga kilang minyak di Texas, AS.

Kontrak minyak mentah di New York Mercantile Exchange untuk Oktober tercatat US$80,09 per barel.

Kemudian, pada akhir pekan lalu harga kontrak minyak untuk pengiriman Oktober mulai turun tipis menjadi US$79,60 per barel. Harga melonjak 26% sepanjang tahun ini ketika harga pada awal tahun berada di level US$63,41 per barel.

Head of Research Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia telah mendorong harga saham sejumlah perusahaan minyak di bursa Wall Street, AS.

Tetapi dampak itu tidak terjadi di Indonesia. Harga saham emiten yang berbasis usaha penambangan migas, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), tidak mengalami pergerakan berarti.

Pada perdagangan Jumat pekan lalu, harga saham Medco naik Rp50 menjadi Rp3.900, sedangkan saham Energi naik Rp10 menjadi Rp850. Namun, menurut Felix, kenaikan itu lebih banyak disebabkan oleh sentimen individu saham.

"Untuk menggerakkan harga saham dibutuhkan penjelasan lain, kecuali kenaikan harga minyak mentah dunia. Di Indonesia memang unik, kenaikan harga tidak bisa dijadikan patokan," tuturnya.

Selain itu, lanjut Felix, kenaikan harga minyak mentah baru berkorelasi terhadap peningkatan kinerja emiten jika berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama, bukan temporer seperti sekarang.

Di saat yang sama, kenaikan harga minyak mentah diharapkan mendorong konsumen mendiversifikasi sumber energi ke gas dan batu bara. Namun, kenaikan yang signifikan juga belum terlihat pada saham perusahaan batu bara, seperti PT Bumi Resources Tbk dan PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk.

Sentimen individu

Harga saham Bumi Jumat pekan lalu naik Rp25 menjadi Rp2.975, Bukit Asam stagnan di level Rp6.000. Kenaikan harga ini juga didorong oleh sentimen, bukan sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak mentah di pasar dunia.

Menurut Felix, tingkat permintaan batu bara dari Jepang sekarang relatif stabil, sehingga pergerakan harga bahan tambang itu pun stabil.

Emiten lain yang menyediakan jasa terkait dengan energi, seperti PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) dan PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK), juga tidak bergerak banyak. Sementara itu, harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) naik Rp400 menjadi Rp10.850.

Maizar Rahman, Gubernur Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk Indonesia, mengatakan setelah penambahan kuota produksi anggotanya, sebesar 500.000 barel per hari dari sebelumnya 25,8 juta bph yang dimulai 1 November 2007, penurunan harga bakal terjadi awal Oktober 2007. Dengan catatan faktor lain seperti badai dan kegiatan spekulasi di pasar berjangka AS juga mereda.

Namun, OPEC tidak pernah menetapkan harga, karena harga ditentukan mekanisme pasar. OPEC hanya memasok 40% dari pasokan dunia.

"OPEC hanya dapat melakukan manajemen pasokan ketika harga melonjak atau terlalu rendah akibat kelebihan/kekurangan pasokan. Sementara itu, kalau penyebabnya faktor lain, seperti gangguan pada kilang minyak, pipa, cuaca, geopolitik, OPEC tidak dapat berbuat apa-apa," tutur Maizar kepada Bisnis. (Rahayuningsih) (pudji.lestari@bisnis.co.id/berliana.elisabeth@ bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari & Berliana Elisabeth S.
Bisnis Indonesia

Monday, March 12, 2007

Saham Apexindo Menuju Rp 1.800

JAKARTA, Investor Daily - Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) berpeluang menguat untuk jangka pendek. Faktor teknis dan fundamental yang positif diperkirakan menjadi pemicu pergerakan APEX.

“Ekspektasi meningkatnya kinerja perseroan selama 2006 sepertinya akan mendorong APEX mendekati harga target Rp 1.800 dalam waktu dekat,” kata Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (9/3).

Pada perdagangan akhir pekan lalu, APEX stagnan di posisi Rp 1.710. Saham perusahaan pertambangan tersebut ditransaksikan hanya empat kali, dengan volume sebanyak 52.500 saham senilai Rp 89,78 juta.

Level tertinggi yang pernah dicapai APEX di posisi Rp 1.940 per saham. Saat ini, kapitalisasi pasar APEX mencapai Rp 2,98 triliun.

Menurut Felix, berdasarkan analisis teknis, saham Apexindo berpotensi menguat kembali untuk jangka pendek, setelah bergerak mendatar di kisaran Rp 1.700-1.750 dalam tiga bulan terakhir. Konfirmasi tersebut terbaca dari indikator stochastic oscillator yang menunjukkan APEX berpeluang berbalik arah menguat (technical rebound). “Indikator teknis lain seperti relative strength index (RSI) tujuh hari juga memperlihatkan arah rebound pada APEX dalam waktu dekat,” ujarnya.

Dia menambahkan, momentum keluarnya laporan keuangan perseroan untuk tahun buku 2006 yang diekspektasikan cukup menggembirakan turut mendorong aksi akumulasi untuk jangka pendek. “Tentunya, target harga di posisi Rp 1.800 akan mudah ditembus,” jelas Felix.

Lebih lanjut, Felix mengatakan, per 30 September 2006, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 289,22 juta atau meningkat 84,85% dari sebelumnya yang merugi Rp 156,47 juta. “Tahun ini, neraca keuangan perseroan sepertinya akan tetap positif, seiring berhasilnya Apexindo mengantungi beberapa kontrak baru dan meresmikan rig jack up terbaru,” ujarnya.

Felix melanjutkan, earning per share (EPS) Apexindo tahun ini juga diprediksi meningkat menjadi Rp 147 per saham, dibanding tahun sebelumnya minus Rp 17. “Valuasi APEX juga menarik dibanding saham sejenis seperti PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS),” jelas dia. Price to earning ratio (PER) Apexindo tercatat 11,63 kali dan price to book value (PBV) 2,44 kali. Sedangkan PER RUIS sudah 14,69 kali, dengan PBV 2,57 kali,” jelasnya.

Kepala Riset PT Financorpindo Nusa T Hendry Andrean juga mengungkapkan hal senada. Secara fundamental, APEX cukup menjanjikan untuk dikoleksi, karena kinerja perseroan untuk 2006 bakal meningkat. “Untuk 2007 diperkirakan tetap tumbuh. Apalagi bisnis utama perseroan berhubungan erat dengan minyak dan gas bumi yang trennya cenderung meningkat,” ujarnya.

Dia memperkirakan, untuk jangka pendek, APEX berpotensi menguat kembali. Secara teknis, potensi rebound pada APEX juga mulai terlihat. “Peluang penguatan APEX terbaca dari RSI sembilan hari dan moving average convergence divergence (MACD). Walaupun, kedua indikator tersebut masih menunjukkan pergerakan mendatar,” tegas Hendry.

Rig Jack Up Terbaru

Sementara itu, Apexindo Pratama Duta meresmikan rig jack up terbaru pada 10 Maret 2007 di Singapura. Rig jack up baru Soehanah tersebut termasuk salah satu rig jack up super premium yang dibangun berdasarkan desain yang dimiliki PPL Shipyard, Baker Marine Pacific Class 375.

Rig tersebut juga dilengkapi kemampuan untuk melakukan pemboran pada sumur yang bertekanan dan bersuhu tinggi pada kedalaman 30.000 kaki. “Rig ini termasuk rig canggih di dunia dengan deck load lebih besar dan memiliki tingkat kenyamanan yang tinggi,” Hertriono Kartowisastro, direktur utama Apexindo belum lama ini.

Hingga akhir kuartal III 2006, pendapatan perseroan mencapai Rp 1,03 triliun, naik 28,94% dibanding periode sama 2005 Rp 798,93 miliar.

Rekomendasi

Felix merekomendasikan buy APEX di level Rp 1.680 untuk investor yang bermain jangka pendek. Namun, untuk jangka menengah maupun panjang, pemodal boleh mengakumulasi pada posisi Rp 1.700. “Support Rp 1.680 dan resistance pada level Rp 1.800,” ujarnya. Sedangkan Hendry merekomendasikan wait and see saham minyak dan gas tersebut pada jangka pendek dan speculative buy pada jangka menengah maupun panjang. “Support di level Rp 1.680 dan resistance pada posisi Rp 1.730,” jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: berpeluang menguat

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per 30 September 2006, laba bersih Rp 289,22 miliar

PER: 11,63 kali, PBV: 2,44 kali

Teknis

MACD: berpeluang rebound

Stochastic: menguat kembali

RSI 7 dan 9 hari: berpotensi menguat

Rekomendasi

Felix Sindhunata:

Jangka pendek: buy

Menengah-panjang: buy

Support: Rp 1.680, resistance: Rp 1.800

T Hendry Andrean:

Jangka pendek: wait and see

Menengah-panjang: speculative buy

Support: Rp 1.680, resistance: Rp 1.730

Thursday, November 23, 2006

Penguatan Saham Apexindo Berlanjut

JAKARTA, Investor Daily --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan melanjutkan penguatan untuk perdagangan jangka pendek. Penguatan APEX akan tertopang faktor teknis maupun fundamental.

“Kabar penjualan saham APEX oleh perusahaan induk (Medco, red) ikut mendorong penguatan harganya,” kata analis PT Danasakti Securities Arief Budisatria kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (21/11).

Pada perdagangan kemarin, APEX menguat Rp 110 ke posisi Rp 1.870. Saham sektor pertambangan tersebut ditransaksikan 842 kali, dengan volume transaksi sebanyak 18,59 juta saham senilai Rp 33,85 miliar.

Menurut Arief, secara teknis, saham Apexindo berpotensi melanjutkan penguatan untuk jangka pendek. Konfirmasi tersebut terbaca dari indikator stochastic oscillator dan moving average convergence divergence (MACD) yang masih menunjukkan ruang bagi APEX untuk bergerak ke atas. “Jika level resistance Rp 1.940 tertembus dalam waktu dekat, kemungkinan besar APEX akan membentuk harga baru,” jelasnya.

Indikator teknis lain seperti relative strength index (RSI) 10 hari juga memperlihatkan arah menguat pada saham Apexindo dalam waktu dekat. Meski RSI lima hari menunjukkan peluang aksi ambil untung (profit taking), karena posisi saham mulai memasuki area jenuh beli (overbought). “Sepertinya konfirmasi itu bisa terpatahkan, karena volume transaksi yang cukup besar turut memicu penguatan harga sahamnya,” ujarnya.

Selain itu, kata Arief, faktor fundamental yang cukup menjanjikan turut mendukung penguatan APEX. Tahun ini, kinerja perseroan diperkirakan positif, setelah tahun sebelumnya mencatatkan rugi bersih. “Per September 2006 perseroan mengantungi laba bersih US$ 26 juta, sedangkan periode sama 2005 rugi bersih US$ 9,7 juta,” ujarnya.

Arief melanjutkan, pertumbuhan earning per share (EPS) Apexindo untuk tahun ini juga diprediksi mencapai Rp 146 per saham dibanding tahun sebelumnya minus Rp 17 (2005) dan Rp 16 pada 2004, terdorong perbaikan kinerja perseroan.

“Valuasi APEX pun termasuk murah dibanding saham sejenis seperti Antam, karena price to earning ratio (PER) Apexindo 12,8 kali dan price to book value (PBV) 2,74 kali. Sedangkan PER ANTM 13,98 kali, dengan PBV 4,44 kali,” jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Sarijaya Permana Sekuritas Muhammad Alfatih mengungkapkan, pada 2002, APEX mengalami tren naik dan sempat melemah antara Mei hingga Juni 2006, sebelum bergerak mendatar selama Agustus-November tahun ini di kisaran Rp 1.550-1.700.

“Kemarin (Senin, red) terjadi pengujian resistance yang ada, sehingga memungkinkan APEX bergerak kembali dengan target harga tertinggi sebelumnya di level Rp 1.940-1.980,” ujarnya.

Dia mengakui, jika saham Apexindo pada jangka pendek kembali menembus level resistance, harga APEX berpeluang bergerak menguat ke posisi resistance berikutnya Rp 2.225. “Potensi itu bisa terjadi, terutama bila sentimen positif masih menyertai pergerakan sahamnya,” tegas Alfatih.

Target Pendapatan

Sementara itu, pada 2006, Apexindo menargetkan pendapatan sebesar US$ 150 juta atau naik 29% dibanding akhir 2005 US$ 116,6 juta. Proyeksi tersebut dipicu oleh kenaikan harga sewa harian dan tingkat utilisasi rig milik perseroan. Manajemen Apexindo beberapa waktu lalu mengatakan, tingkat utilisasi rig lepas pantai ditargetkan mencapai 100% dan rig darat 70%.

Anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk tersebut juga memproyeksikan pendapatan sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 60-65 juta per 31 Desember 2006. Sedangkan marjin EBITDA diharapkan naik menjadi sekitar 45%, menyusul program efisiensi yang diterapkan secara konsisten.

Marjin EBITDA Apexindo saat ini tercatat sekitar 43% dan menempati posisi ke-8 dari 15 perusahaan sejenis di dunia. Marjin EBITDA tertinggi dimiliki oleh Diamond Offshore sebesar 56%, disusul oleh ENSCO (54%), dan Noble Corp (54%).

Hingga akhir kuartal III 2006, pendapatan perseroan mencapai US$ 111,8 juta, naik 34,2% dibandingkan periode sama 2005 sebesar US$ 83,4 juta. EBITDA tercatat tumbuh 45% menjadi US$ 47,7 juta dari sebelumnya US$ 32,9 juta.

Laba usaha per 30 September 2006 mencapai US$ 31,4 juta, naik signifikan 76% dari periode sama tahun lalu US$ 17,9 juta. Alhasil, Apexindo membukukan laba bersih sebesar US$ 26 juta dari sebelumnya merugi bersih US$ 9,7 juta.

Rekomendasi

Arief merekomendasikan trading buy APEX untuk investor jangka pendek. Namun, untuk jangka menengah maupun panjang, pemodal bisa hold APEX. “Support saham ini di level Rp 1.830 dan resistance Rp 1.940,” ujarnya. Sedangkan Alfatih merekomendasikan beli APEX pada jangka pendek, menengah dan panjang, karena masih memiliki kinerja yang menjanjikan. “Support pertama Rp 1.820 dan kedua Rp 1.700, dengan resistance di level Rp 1.940 dan Rp 2.225,” jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: berpeluang membuat harga baru

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per September 2006, laba bersih US$ 26 juta

PER: 12,8 kali, PBV: 2,74 kali

Teknis

MACD: ada ruang naik

Stochastic: menguat kembali

RSI 10 hari: berpotensi menguat

RSI 5 hari: rentan profit taking

Rekomendasi

Arief Budisatria:

Jangka pendek: trading buy

Menengah-panjang: hold

Support: Rp 1.830, resistance: Rp 1.940

M Alfatih:

Jangka pendek: beli

Menengah-panjang: beli

Support: Rp 1.820/1.700, resistance: Rp 1.940/2.225

Saturday, November 11, 2006

Penguatan Saham Apexindo Berlanjut

JAKARTA, Investor Daily --- Penguatan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan berlanjut untuk perdagangan jangka pendek. Potensi kenaikan harga APEX akan ditopang faktor teknis maupun fundamental yang positif.

“Jadi, pemodal bisa mengoleksi saham pertambangan ini, karena menjanjikan untuk investasi,” kata analis PT Meridian Capital Indonesia M Habdi kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (9/11).

Pada perdagangan kemarin, APEX menguat Rp 100 ke posisi Rp 1.690. Saham perusahaan pertambangan tersebut ditransaksikan 1.088 kali, dengan volume transaksi sebanyak 18,54 juta saham senilai Rp 31,21 miliar.

Menurut Habdi, saham Apexindo berpotensi menguat kembali untuk jangka pendek. Konfirmasi tersebut terlihat dari indikator Williams%R (W%R) yang masih mengindikasikan ruang bagi APEX untuk bergerak ke atas. “Indikator teknis lain, seperti relative strength index (RSI) tujuh hari juga memperlihatkan peluang serupa,” jelasnya.

Habdi menambahkan, selain sisi teknis yang positif, faktor fundamental turut mendukung APEX untuk menguat kembali dalam waktu dekat. Kinerja perusahaan tahun ini diperkirakan kembali positif dibanding tahun sebelumnya yang masih mencatatkan rugi bersih. “Per 30 September 2006, perseroan membukukan laba bersih US$ 26 juta, sedangkan periode sama 2005 rugi bersih US$ 9,7 juta,” ujarnya.

Dia mengatakan, earning per share (EPS) Apexindo tahun ini akan mencapai Rp 147 per saham, setelah tahun sebelumnya minus Rp 17 dan Rp 16 pada 2004. “Valuasi APEX termasuk murah dibanding saham sejenis seperti Aneka Tambang (ANTM), karena price to earning ratio (PER) Apexindo 11,5 kali dan price to book value (PBV) 2,4 kali. Sedangkan PER ANTM 12,74 kali, dengan PBV 3,38 kali,” jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Citi Pacific Securities Hendri Effendi berpendapat, APEX diprediksi menguat untuk jangka menengah, karena posisi saham berada di atas moving average (MA) 5 dan 10 hari. “Sedangkan penguatan hari ini (kemarin, red) terpicu volume perdagangan yang cukup besar,” ujarnya.

Dia mengakui, saham Apexindo untuk jangka pendek berpeluang bergerak konsolidasi. Sebelumnya, APEX sudah menguat signifikan. “Jadi, APEX akan menguat untuk jangka menengah, sedangkan jangka pendek konsolidasi dulu,” tegas dia.

Target Pendapatan

Sementara itu, pada akhir 2006, Apexindo menargetkan pendapatan sebesar US$ 150 juta atau naik 29% dibanding US$ 116,6 juta pada akhir 2005. Proyeksi tersebut akan dipicu kenaikan harga sewa harian dan kenaikan tingkat utilisasi rig milik perseroan.

Manajemen Apexindo di Jakarta, awal pekan ini menyatakan, tingkat utilisasi rig lepas pantai ditargetkan sebesar 100% dan rig darat 70%. Anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk tersebut juga memproyeksikan pendapatan sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 60-65 juta per 31 Desember 2006. Sedangkan marjin EBITDA diharapkan naik menjadi sekitar 45% atau lebih, menyusul program efisiensi yang diterapkan secara konsisten.

Marjin EBITDA Apexindo saat ini sekitar 43% dan menempati posisi ke-8 dari 15 perusahaan sejenis di dunia. Marjin EBITDA tertinggi dimiliki oleh Diamond Offshore sebesar 56%, disusul oleh ENSCO (54%), dan Noble Corp (54%).

Hingga kuartal III 2006, pendapatan perseroan mencapai US$ 111,8 juta, naik 34,2% dibanding periode sama 2005 US$ 83,4 juta. EBITDA tercatat tumbuh 45% menjadi US$ 47,7 juta dari sebelumnya US$ 32,9 juta.

Pendapatan dan EBITDA Apexindo mencatat tren kenaikan. Pendapatan dan EBITDA masing-masing mencapai US$ 31,6 juta dan US$ 13,5 juta pada kuartal I 2006. Selanjutnya pada kuartal II 2006, pendapatan dan EBITDA perseroan tercatat US$ 37 juta dan US$ 16,6 juta. Sedangkan pada kuartal III, pendapatan dan EBITDA masing-masing menjadi US$ 43,2 juta dan US$ 17,6 juta.

Laba usaha per 30 September 2006 mencapai US$ 31,4 juta, naik 76% dari periode sama tahun lalu sebesar US$ 17,9 juta. Apexindo pun membukukan laba bersih sebesar US$ 26 juta dari sebelumnya rugi bersih US$ 9,7 juta. Pada periode Januari-September 2006, rasio kewajiban terhadap ekuitas (DER) tercatat 0,4 kali dari sebelumnya 0,6 kali.

Rekomendasi

Habdi merekomendasikan hold APEX untuk investor jangka pendek. Namun, dalam jangka menengah maupun panjang, pemodal bisa melakukan pembelian. “Support saham ini di level Rp 1.650 dan resistance Rp 1.950,” ujarnya. Sedangkan Hendri merekomendasikan buy on weakness saham di industri minyak dan gas tersebut pada jangka pendek. Untuk jangka menengah dan panjang, dia menyarankan hold, karena masih memiliki kinerja yang menjanjikan. “Support pertama Rp 1.650 dan kedua Rp 1.610, dengan resistance di level Rp 1.710/1.750,” jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: menguat kembali

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per 30 September 2006, pendapatan US$ 111,8 juta

PER: 11,5 kali, PBV: 2,4 kali

Teknis

W%R: berpotensi naik

RSI: berpeluang menguat

Rekomendasi

M Habdi:

Jangka pendek: hold

Menengah-panjang: beli

Support: Rp 1.650, resistance: Rp 1.950

Hendri Effendi:

Jangka pendek: buy on weakness

Menengah-panjang: hold

Support: Rp 1.650/1.610, resistance: Rp 1.710/1.750

Tuesday, July 25, 2006

Harga Minyak Cenderung Melesat, Saham Medco Berpeluang Menguat Hingga 20%

JAKARTA, Investor Daily --- Trimegah Securities memperkirakan harga saham PT Medco Energi International Tbk berpeluang menguat hingga 20%% menyusul kenaikan harga minyak mentah dunia yang menembus US$ 75 per barel.

Analis Trimegah Securities Sebastian Tobing mengatakan, tingginya harga minyak mentah dunia belum tercermin di harga saham Medco saat ini. Fluktuasi harga minyak, lanjut dia, telah dimulai semenjak bulan Januari tahun ini di level US$ 70 per barel.

“Harga saham Medco belum naik banyak, padahal tingginya harga minyak mentah dunia mendukung potensi kenaikan harga hingga akhir tahun mencapai 20% di level Rp 4.500,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Pada perdagangan Senin (24/7), harga saham perusahaan pertambangan tersebut terkoreksi tipis Rp 25 menjadi Rp 3.525. Frekuensi transaksi sebanyak 127 kali dengan volume 1,65 juta saham bernilai Rp 5,79 miliar.

Menurut Sebastian, pelaku pasar saat ini masih mencermati sentimen negatif yang mengimbas Medco, dimana potensi ladang Jeruk yang dimiliki ternyata berada di bawah perkiraan perusahaan. Dia merekomendasikan investor untuk mencermati saham Medco sebagai investasi jangka panjang dengan rentang waktu 3-6 bulan.

Medco adalah perusahaan pertambangan yang memfokuskan usaha pada penambangan minyak. Sebastian mengemukakan, kenaikan harga minyak mentah dunia akan berdampak positif terhadap kinerja Medco mengingat besarnya permintaan minyak dunia.

Tim analis dari Credit Suisse mengemukakan, pendapatan dan laba bersih Medco tahun ini bisa mencapai masing-masing US$ 816,90 juta dan US$ 106,6 juta atau naik 23% dan 42% dibandingkan perolehan tahun 2005 sebesar US$ 659,1 juta dan US$ 74,7 juta. Pertumbuhan kinerja itu didukung oleh jalannya akuisisi untuk peningkatan produksi perusahaan.

Selain Medco, Sebastian juga menilai saham anak perusahaan Medco yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan minyak yakni PT Apexindo Pratama Tbk akan terimbas positif dari kenaikan harga minyak mentah dunia.

Dia menilai, tingginya harga minyak secara tidak langsung akan meningkatkan kebutuhan akan jasa pengeboran minyak dan gas. “Semakin banyak eksplorasi, akan semakin banyak pula kontrak pengeboran yang didapatkan perusahaan, “kata dia. (c87)

Thursday, April 6, 2006

Kinerja emiten tambang sesuai ekspektasi

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Analis menilai kinerja sebagian besar emiten pertambangan pada tahun lalu cukup sejalan dengan ekspektasi (inline), kecuali PT Bumi Resources Tbk.

Emiten pertambangan dan energi yang tersebut adalah PT Bumi Resources Tbk, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Apexindo Pratama Duta Tbk, PT Energi Mega Persada Tbk, PT Medco Energi International Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, PT International Nickel Indonesia Tbk (Inco), dan PT Timah Tbk.

Dua emiten pertambangan batu-batuan yakni PT Central Korporindo Internasional Tbk dan PT Citatah Industri Marmer Tbk tidak dilibatkan dalam evaluasi itu

Analis emiten pertambangan PT Danareksa Sekuritas Isnaputra Iskandar mengatakan kinerja perusahaan pertambangan cukup sejalan dengan ekspektasi sebelumnya. "Semuanya cukup inline, kecuali Bumi," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Dalam neraca per 31 Desember 2005, Bumi menyatakan laba bersih perseroan naik 13% menjadi Rp1,22 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,08 triliun.

Sementara itu, laba bersih Inco turun menjadi US$268,92 juta, dari US$284,43 juta pada 2004. Laba bersih Timah juga turun menjadi Rp107,49 miliar, dari semula Rp177,91 miliar.

Laba bersih Antam dan PTBA naik tipis masing-masing menjadi Rp841,94 miliar dan Rp467,06 miliar, dibandingkan perolehan 2004 yang sebesar Rp810,25 miliar dan Rp419,80 miliar.

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Wednesday, April 5, 2006

Apexindo Dibayangi Proyek yang Belum Jadi

JAKARTA, investorindonesia.com --- PT Apexindo Pratama (APEX) dibayangi oleh belum adanya kontrak yang sudah jadi, demikian Analis Danareksa Bonny Setiawan, yang menambahkan bahwa pihaknya telah merekomedasikan hold (tunggu) terhadap saham ini.

"Kami memproyeksikan utilisasi pengeboran darat dan laut lepas akan mencapai 54 % dan 93 % dengan kemungkinan akan melebihi. Hitungan NAV TP06 di Rp1.310 yang merefleksikan harga pembelian pengeboran baru dibayangi oleh belum adanya kontrak yang sudah jadi," jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, laba operasional terpotong hampir 50 % karena adanya kerugian di transaksi swap, tetapi secara operasional perusahaan sesuai proyeksi.

"Dengan harga yang sekarang, Apexindo masuk dalam rekomendasi hold," jelasnya. (ant)



Tuesday, April 4, 2006

Penguatan Saham Apexindo Terbatas

JAKARTA, investorindonesia.com --- Penguatan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan terbatas. Secara teknis, posisi saham sudah jenuh beli (overbought) dan rawan koreksi. “Penguatan saham pertambangan itu lebih terdorong faktor fundamental,” kata analis PT Meridian Capital Indonesia M Habdi kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (29/3). Pada hari terakhir perdagangan Maret, APEX menguat Rp 130 ke posisi Rp 1.330. Saham perusahaan pertambangan itu ditransaksikan 520 kali, dengan volume transaksi sebanyak 12,58 juta saham senilai Rp 16,16 miliar.

Menurut Habdi, indikator Williams%R (W%R) menunjukkan saham Apexindo Pratama berpotensi terkoreksi dalam waktu dekat, karena posisinya overbought. Indikator teknis lain seperti relative strength index (RSI) turut menunjukkan pola serupa. “Jadi, ketika perdagangan pagi dibuka, APEX menguat dan menjelang penutupan cenderung terkoreksi,” jelasnya.

Meskipun secara fundamental APEX tetap menjanjikan, valuasi saham termasuk mahal dibanding saham sejenis, karena price to earning ratio (PER) sudah 665 kali dan price to book value (PBV) 2,32 kali. Sedangkan PER Aneka Tambang hanya 9,21 kali, dengan PBV 3,01 kali. “Tapi ketika kinerjanya membaik, PER-nya akan kembali murah, apalagi PBV masih cukup bagus,” jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, APEX diprediksi masih menguat karena ditunjang faktor fundamental yang bagus. Selain itu, dari sisi teknis, harga saham Apexindo berusaha menuju target di level Rp 1.550. “Bila membaca dari beberapa indikator yang ada, saham Apexindo akan kembali menguat sebelum mengalami koreksi,” ujarnya.

Analis dari sebuah perusahaan efek lokal menambahkan, pada awal Maret 2006, seiring positifnya prospek industri pertambangan, saham-saham di sektor ini menunjukkan tren bullish. Bahkan, dengan potensi kenaikan harga minyak dunia, kegiatan eksplorasi juga akan berkembang. “Kondisi tersebut akan memicu masuknya foreign direct investment (FDI),” kata dia.

Margin EBITDA

Sementara itu, manajemen Apexindo Pratama Duta menargetkan margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) 2006 sebesar 50%, naik dibanding 2005 yang mencapai 42%. Selain itu, perseroan memperkirakan dapat mengurangi biaya bunga sebesar US$ 4,5 juta menjadi US$ 6,5-7 juta pada 2006 dibanding 2005 US$ 11 juta. Demikian diungkapkan Direktur Keuangan Epexindo Agustinus B Lomboan kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Optimisme itu terkait kenaikan harga sewa harian atas perpanjangan kontrak dua rig jenis submersible swamp barge bernama Raisis dan Yani serta rig jack-up Ranirowo. Di sisi lain, permintaan rig jack-up di dunia saat ini cukup tinggi seiring meningkatnya eksplorasi dan produksi perusahaan-perusahaan energi.

"Kontribusi segmen lepas pantai diharapkan terus meningkat, sehingga menjadi faktor utama pendukung pertumbuhan pendapatan perseroan 2006,” kata dia. Dengan efisiensi biaya yang selalu dilakukan, Apexindo optimistis, tingkat profitabilitas bisa terus ditingkatkan.

Namun, Agustinus belum bersedia menyebutkan dampaknya terhadap perolehan laba bersih 2006. Hingga kuartal III 2005, pendapatan perseroan tercatat Rp 798,93 miliar atau naik 6% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 755,63 miliar. Selain kenaikan dayrate di sejumlah rig, posisi marjin EBITDA terangkat karena Apexindo telah merevisi sejumlah pos biaya pada tahun ini. Biaya-biaya itu antara lain, biaya angkutan, akuntan, dan kru pengeboran. Per 30 September 2005, EBITDA perseroan naik 27% menjadi Rp 324,53 miliar dari sebelumnya Rp 255,07 miliar. Kenaikan terbesar terjadi pada kuartal III dengan sumbangan EBITDA sebesar Rp 129,68 miliar.

“Sehingga posisi laba bersih 2006 kami perkirakan di atas US$ 10 juta,” ujar Agustinus. Beban bunga perseroan akan jauh berkurang sebagai akibat pengembalian hasil rights issue kepada perusahaan induk PT Medco Energi International Tbk. Total nilai pengembalian mencapai US$ 50 juta yang dicicil US$ 5 juta (11%) per tahun.

Rekomendasi

M Habdi merekomendasikan sell on strength APEX untuk investor jangka pendek. Namun, untuk jangka menengah maupun panjang dia menyarankan wait and see. “Support saham ini di level Rp 1.320 dan resistance pada posisi Rp 1.370,” ujarnya.

Sedangkan Mustafa juga merekomendasikan sell on strength pada saham yang berbisnis di industri minyak dan gas tersebut untuk pemodal yang bermain harian. Namun, untuk jangka menengah dan panjang, dia menyarankan buy on weakness, karena masih memiliki kinerja yang menjanjikan. “Support pertama APEX di posisi Rp 1.300 dan kedua Rp 1.275. Kemudian, resistance pertama Rp 1.420 dan kedua Rp 1.550,” jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: menguat dibayangi profit taking

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per September 2005, pendapatan Rp 798,93 miliar, naik 6% dibanding periode sama 2004 sebesar Rp 755,63 miliar

PER: 665 kali, PBV: 2,32 kali

Teknis

RSI: overbought

W%R: overbought

Rekomendasi

M Habdi:

Jangka pendek: sell on strength

Jangka menengah-panjang: wait and see

Support: Rp 1.320, resistance: Rp 1.370

Mustafa Kamil:

Jangka pendek: sell on strength

Jangka menengah-panjang: buy on weakness

Support: pertama Rp 1.300, kedua Rp 1.275

Resistance: pertama Rp 1.420, kedua Rp 1.550

Thursday, December 29, 2005

Saham Apexindo Cenderung Sideways

Jakarta, Investor Daily --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan bergerak mendatar (sideways) pada perdagangan jangka pendek. Saham sektor pertambangan dan energi tersebut kurang likuid di pasar.

Selain kurang likuid, volume transaksi saham Apexindo cenderung sepi sejak awal Oktober 2005, kata analis PT Meridian Capital Indonesia M Habdi kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (27/12). Pada perdagangan kemarin tidak terjadi transaksi pada APEX, sehingga harga saham stagnan pada posisi Rp 720.

Menurut Habdi, secara teknis, indikator Williams%R (W%R) menunjukkan saham Apexindo Pratama mulai oversold, meskipun dari relative strength index (RSI) masih memperlihatkan pola sideways.

Kendati demikian, lanjut Habdi, secara fundamental APEX menjanjikan karena kinerja perusahaan diperkirakan kembali positif tahun ini, terutama setelah adanya restrukturisasi utang. Laba bersih 2004 terbukukan minus Rp 27,1 miliar, sedangkan tahun sebelumnya mencapai Rp 52,7 miliar. Akhir tahun ini, laba bersih bisa mencapai Rp 4,46 miliar, sebab per September 2005 sudah terbukukan Rp 3,3 miliar, ujarnya.

Dia menambahkan, pertumbuhan earning per share (EPS) Apexindo diperkirakan juga bergerak positif menjadi Rp 2-3 per lembar saham untuk tahun ini, setelah tahun sebelumnya minus Rp 16. Namun valuasinya sudah mahal dibanding saham sejenis, karena price to earning ratio (PER) mencapai 360 kali, dengan price to book value (PBV) 1,25 kali. Sedangkan PER ENRG (Energi Mega Persada) hanya 23,87 kali dan PBV 11,94 kali, jelasnya.

Analis PT Aneka Arthanusa Sekurindo Teguh Ramadani juga berpendapat, indikator relative strength index (RSI) memperlihatkan APEX akan melanjutkan pola mendatar. Sebab, posisinya masih di area netral, ujarnya.

Teguh menambahkan, selama ini, investor melirik saham Apexindo ketika saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat. Karena mereka berasumsi, kalau MEDC menguat biasanya APEX juga terangkat, kata dia.

Pendapatan US$ 120 Juta

Sementara itu, manajemen Apexindo Pratama Duta menargetkan pendapatan pada 2006 dapat mencapai sekitar US$ 120 juta. Angka tersebut melebihi target pendapatan perseroan akhir tahun ini sebesar US$ 110 juta.

Saya tidak bisa memberi angka pastinya, tapi diperkirakan di sekitar itu (US$ 120 juta), kata Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Menurut dia, kenaikan pendapatan itu terutama didorong oleh dua faktor. Pertama, dayrate dua dari empat rig jenis Submersible Swamp Barge Apexindo diperkirakan naik 15-20% pada tahun depan menyusul adanya kontrak baru.

Keduanya dikontrak oleh Total E&P Indonesie untuk pekerjaan pengeboran di Tunu, Kalimantan Timur pada kurun waktu Maret 2006 Maret 2009. Total nilai kedua kontrak itu mencapai US$ 98,9 juta. Terkait dua kontrak itu, saat ini kami masih menunggu keputusan BP Migas, imbuh Agus.

Kedua, rig Raniworo yang beroperasi di Teluk Persia akan memeroleh kontrak baru pada 2006. Perseroan berharap memperoleh harga sewa harian lebih tinggi dibanding harga sewa Statoil sebesar US$ 51 ribu. Perseroan tengah bernegosiasi dengan calon penyewa baru untuk memeroleh harga sewa sesuai harga pasar US$ 80 ribu.

Hingga kuartal III 2005, pendapatan perseroan tercatat Rp 798,93 miliar atau naik 6% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 755,63 miliar. Akibatnya, perseroan mematok margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortasi (EBITDA) tahun 2006 sebesar 44%. Persentase itu di atas target margin EBITDA akhir tahun ini 41%.

Selain kenaikan dayrate di sejumlah rig, posisi margin EBITDA terangkat karena Apexindo telah merevisi sejumlah pos biaya pada tahun depan. Biaya-biaya itu antara lain, biaya angkutan, akuntan, dan kru pengeboran.

Per 30 September tahun ini, EBITDA perseroan naik 27% menjadi Rp 324,53 miliar dari sebelumnya Rp 255,07 miliar. Kenaikan terbesar terjadi di kuartal III dengan sumbangan EBITDA sebesar Rp 129,68 miliar.

Sehingga posisi laba bersih tahun 2006 kami perkirakan di atas US$ 10 juta, ujar Agus. Beban bunga pada tahun depan akan jauh berkurang sebagai akibat pengembalian hasil rights issue perseroan kepada perusahaan induk Medco Energi Internasional.

Rekomendasi

M Habdi menyarankan investor untuk menghindari dulu APEX untuk jangka pendek. Sedangkan pada jangka menengah maupun panjang, dia menyarankan wait and see. Support saham ini di level Rp 700 dan resistance Rp 950, ujarnya. Sedangkan Teguh merekomendasikan hold APEX dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Support di level Rp 720 dan resistance Rp 740, jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: mendatar

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per September 2005, pendapatan naik 6% Rp 798,93 miliar

PER: 360 kali, PBV: 1,25 kali

Teknis

RSI: sideways

W%R: oversold

Rekomendasi

M Habdi:

Jangka pendek: hindari

Menengah-panjang: wait and see

Support: Rp 700, resistance: Rp 950

Teguh Ramadani:

Jangka pendek: hold

Menengah-panjang: hold

Support: Rp 720, resistance: Rp 740

Wednesday, December 7, 2005

Saham Apexindo Cenderung Mendatar

Jakarta, Bisnis Indonesia --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan bergerak mendatar (sideways) pada perdagangan jangka pendek. Arah mendatar saham Apex ditopang faktor teknis, meskipun secara fundamental masih menjanjikan.

”Beberapa indikator teknis menunjukan trend mendatar pada saham ini, kata Analysis PT Bapindo Bumi sekutaris Harry Kurniawan kepada Investor Daily di Jakarta Senin ( 5/12).

Pada perdagangan kemarin. Saham Apex ditutup terkoreksi Rp 30 ke level Rp 700 saham sektor minyak dan gas itu ditransaksikan hanya empat kali dengan volume transaksi sebanyak 37.500 unit saham senilai Rp 26, 4 juta .

Menurut Harry secara teknis indikator relative strength index (RSI) untuk lima dan sepuluh hari untuk menunjukan saham Apexindo Pratama bergerak dalam trend mendatar untuk jangka pendek. “Arah mendatar juga terbaca dari indikator lain, seperti moving evarage convergence divergence (MACD),“ kata Harry.

Dia mengakui, pergerakan yang cenderung sideways didalam saham APEX juga di dukung volume transaksi yang kecil sejak awal Oktober 2005, apalagi saham APEX juga tidak termasuk likuid setelah kepemilikian publik hanya 5% dari sebelumnya 11,5% akibat right isue. “Namun, kalau melihat trend jangka panjang, saham ini masih menguat, “ujarnya.

Kendati demikian lanjut Harry, secara fundamental saham Apexindo Pratama masih menjanjikan, karena kinerja perusahaan diperkirakan kembali positif tahun ini setelah retrukturisasi utang. Laba bersih perseroan tahun 2004 minus Rp 27,1 miliar, sedangkan tahun sebelumnya mencapai 52,7 miliar. “Hingga kuartal III 2005 laba bersih perseroan sudah terbukukan Rp 3,3 miliar ,“ ujarnya.

Dia menambahkan pertumbuhan earning per share ( EPS ) Apexindo diperkirakan juga bergerak positif mejadi Rp 4-5 per lembar saham untuk tahun ini setelah tahun sebelumnya minus Rp 16. Namun valuasi saham APEX cukup mahal jika di bandingkan dengan emiten sejenis karena price to earning ratio (PER) mencapai 350 kali, dengan price to book value ( PBV ) 1,22 kali. Sedangkan PER Medco Energi (MEDC) hanya 12,2 kali,” jelasnya.

Sedangkan analisis PT Sari Jaya Permana Sekutaris M Alfatih mengatakan sejak pertengahan tahun 2004 saham APEX mulai naik. Namun selama tahun 2005 pergerakannya bergerak fluktuatif antara 550 – 900. “Kalau jangka pendek, saham ini masih tertekan. Tapi untuk jangka panjang berpotensi menguat.” ujarnya.

Pendapatan US$ 120 juta

Sementara itu Manajemen PT Apexindo Pratama Duta menargetkan pendapatan sekitar US$ 120 juta pada tahun 2005. Jumlah tersebut melebihi target pendapatan perseroan akhir tahun ini sebesar US$ 110 juta .

“Saya tidak bisa memberikan yang pastinya, tapi diperkirakan sekitar itu (US$ 120 juta) , kata Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan kepada Investor di Jakarta belum lama ini.

Menurut dia kenaikan pendapatan ini ditopang oleh dua faktor, pertama, dayrate dari empat rig jenis submersible barge Apexindo diperkirakan naik 15% – 20% di tahun depan adanya kontrak baru. Keduanya dikontrak oleh Total E & P Indonesia untuk pengeboran di Tunu, Kalimantan Timur untuk jangka waktu Maret 2006 – Maret 2009. Total nilai kedua kontrak itu mencapai US$ 98,9 juta.“Terkait dua kontrak itu saat ini kami masih menunggu keputusan BP Migas,” imbuh Agus.

Kedua rig Rani Woro yang beroperasi di Teluk Persia akan memperolah kontrak baru pada tahun 2006. Perseroan berharap dapat memperoleh harga sewa harian lebih tinggi dibandingkan dengan harga sewa Statoil sebesar US$ 51 ribu. Perseroan sedang bernegosiasi dengan calon penyewa yang baru untuk memperoleh harga sewa sesuai harga pasar US$ 80 ribu.

Rig Raniworo dikontrak oleh Statoil sejak Desember 2003 senilai US$ 50 juta. Tapi Statoil belum lama ini memutuskan tidak memperpanjang kontraknya yang akan berakhir pada Januari 2006, karena itu Apexindo berkesempatan untuk mencari kontrak yang baru dengan harga sewa yang sesuai harga pasar yang terus meroket .

Hingga kuratal III 2005, pendapatan perseroan tercatat Rp 798,93 miliar atau naik 6% di banding periode sama tahun lalu sebesar Rp 755, 63 miliar .

Per 30 September tahun ini EBITDA perseroan naik 27% menjadi Rp 324,53 miliar dari sebelumnya Rp 255,07 miliar. Kenaikan terbesar terjadi pada kuartal III dengan sumbangan EBITDA sebesar Rp 129, 68 miliar .

“Sehingga posisi laba bersih tahun 2006 kami diperkirakan di atas US$ 10 juta,“ ujar Agus.

Rekomendasi

Harry merekomendasikan acumulate trading buy saham APEX untuk jangka pendek, namun pada jangka panjang, dia menyarankan hold. “Support saham in di level Rp 700 dan resistance Rp 750 ,” ujarnya .

Sedangkan Alfatih merekomendasikan wait end see saham sektor minyak gas tersebut dalam jangka pendek. Tapi untuk jangka menengah dan panjang dia menyarankan beli support pertama saham APEX di level Rp 700 dan kedua Rp 600. Sedangkan resistanse pertama pada Rp 750 dan kedua Rp 800,“ jelasnya. (asp)

Thursday, October 27, 2005

Saham Apexindo Bergerak Sideways

Jakarta, Investor Daily --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan bergerak mendatar (sideways) pada perdagangan jangka pendek. Arah mendatar pada saham sektor pertambangan tersebut terbaca dari sisi teknis.

Ini melanjutkan posisi serupa pada penutupan perdagangan kemarin (Selasa, 25/10) yang ditutup stagnan, kata analis PT Danasakti Securities Arief Budisatria kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (25/10).

Pada perdagangan kemarin, saham APEX ditutup stagnan di level Rp 730. Saham perusahaan di sektor minyak dan gas itu ditransaksikan hanya 4 kali, dengan volume transaksi sebanyak 75.000 unit saham senilai Rp 54,75 juta.

Menurut Arief, secara teknis saham Apexindo Pratama masih bergerak pada posisi yang sama untuk jangka pendek dan hal itu terjadi sejak 20 Oktober 2005. Arah mendatar itu terbaca dari indikator stochastic oscillator dan moving average convergence divergence (MACD) kata Arief.

Dia mengatakan, pergerakan sideways saham APEX juga didukung volume transaksi yang relatif kecil sejak awal Oktober. Jadi, hal itu pula yang menyebabkan para investor kesulitan untuk trading pada saham ini,” ujarnya.

Kendati demikian, kata Arief, secara fundamental saham Apexindo Pratama masih menjanjikan, karena kinerja perusahaan diperkirakan kembali positif tahun ini. Laba bersih perseroan selama 2004 tercatat minus Rp 27,1 miliar dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp 52,7 miliar. Tahun ini, laba bersih perseroan diprediksi mencapai Rp 3,06 miliar, karena pada semester pertama sudah terbukukan Rp 1,53 miliar, kata dia.

Arief menambahkan, pertumbuhan earning per share (EPS) saham APEX diperkirakan juga bergerak positif menjadi Rp 2 dari tahun sebelumnya yang minus Rp 15. Namun, valuasi saham APEX cukup mahal dibanding emiten sejenis, karena price to earning ratio (PER) mencapai 730 kali, dengan price to book value (PBV) 1,72 kali. Sedangkan PER MEDC (Medco Energi Internasional) hanya 12,6 kali dan PBV 2,35 kali, jelasnya.

Sedangkan analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil mengatakan, dari sisi teknis saham APEX berpeluang koreksi pada perdagangan jangka pendek. Sebab, indikator stochastic oscillator belum menunjukkan arah yang positif. Apalagi, saham ini kurang efektif di pasar, ujarnya.

Mustafa menambahkan, indikator teknis lain seperti relative strength index (RSI) untuk 21 hari juga menunjukkan saham Apexindo berpotensi terkoreksi. Market yang cenderung sepi transaksi turut menjadi sentimen negatif untuk saham ini, tambah dia.

Utang Berkurang

Sementara itu, manajemen Apexindo Pratama Duta mengatakan, utang perseroan semakin berkurang dari tahun ke tahun, seiring penerbitan obligasi (bond) dan pelaksanaan penawaran saham terbatas (rights issue).

Jadi, utang kita dari waktu ke waktu semakin mengecil, kata Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R Satari kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (26/10).

Menurut Ade, penerbitan obligasi syariah ijarah Apexindo I tahun 2005 pada awal tahun ini, yaitu obligasi dengan jangka waktu 5 tahun berjumlah sebanyak-banyaknya Rp 750 miliar, dan sebanyak-banyaknya Rp 150 miliar diterbitkan dalam bentuk obligasi syariah ijarah bertujuan untuk melunasi sejumlah utang perseroan. Begitu juga pelaksanaan rights issue I tahun 2005 yang berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 460,68 miliar. Itu kita gunakan pula untuk membayar utang, jelasnya.

Ade menjelaskan, saat ini sisa utang perseroan jasa pengeboran minyak dan gas tersebut tinggal sekitar US$ 99 juta yang statusnya sebagai utang berbunga. Jadi, sisanya itu adalah US$ 73 juta utang obligasi rupiah, US$ 15 juta fasilitas kredit dari BCA, dan US$ 11 juta pada Medco Energi Finance Overseas BV (MEFO), ujarnya.

Dia menegaskan, dengan neraca keuangan yang lebih sehat akan memberikan ruang bagi perseroan untuk mendapatkan sumber-sumber pendanaan baru guna mendukung rencana ekspansi perseroan ke depan. Di samping itu, penurunan utang perseroan yang signifikan akan mengurangi beban bunga yang harus dibayarkan, sehingga akan berdampak positif pada laba bersih perseroan, tambah Ade.

Rekomendasi

Arief merekomendasikan buy on support saham APEX bagi investor jangka pendek, menengah maupun panjang. Support saham ini pada level Rp 700 dan resistance Rp 840, ujarnya.

Sedangkan Mustafa merekomendasikan wait and see pada saham minyak dan gas tersebut dalam jangka pendek. Tapi untuk menengah dan panjang, dia menyarankan buy on weakness. Support-nya di level Rp 625 dan resistance pada Rp 750, jelasnya. (asp)

Thursday, September 22, 2005

Saham Apexindo Rawan Koreksi

Jakarta, Investor Daily --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan rawan koreksi pada perdagangan jangka pendek. Meskipun demikian, pada perdagangan Selasa (20/9), saham APEX ditutup menguat.

"Arah koreksi itu terbaca dari sisi teknis," kata analis PT Pacific Duaribu Group Felix Sindhunata kepada Investor Daily di Jakarta.

Pada perdagangan kemarin, saham APEX ditutup di level Rp 680 atau naik Rp 10 dari posisi Rp 670. Saham perusahaan minyak dan gas itu ditransaksikan hanya 55 kali, dengan volume transaksi sebanyak 950.500 unit saham senilai Rp 643,51 juta.

Menurut Felix, secara teknis saham Apexindo Pratama terlihat rawan koreksi untuk jangka pendek. "Hal itu terbaca dari indikator relative strength index (RSI) yang overbought," ujar Felix.

Dia mengatakan, arah pelemahan saham APEX terlihat pula dari indikator lain, seperti stochastic oscillator yang juga sudah overbought. "Jadi, saham ini berpeluang terkoreksi setelah menguat," imbuhnya.

Kendati demikian, lanjut Felix, secara fundamental saham Apexindo Pratama masih menjanjikan, karena kinerja perusahaan diperkirakan kembali positif tahun ini. Laba bersih perseroan pada 2005 diprediksi mencapai Rp 3,06 miliar.

Felix menambahkan, pertumbuhan earning per share (EPS) saham APEX diperkirakan juga bergerak positif menjadi Rp 2 dari tahun sebelumnya yang minus Rp 15. Namun, valuasi saham APEX cukup mahal dibanding emiten sejenis, karena price to earning ratio (PER) mencapai 350 kali, dengan price to book value (PBV) 1,9 kali. "Sedangkan PER ENRG (Energi Mega Persada, red) baru 31,74 kali dan PBV 14,04 kali," jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil juga mengatakan, dari sisi teknis saham APEX berpeluang terkoreksi pada perdagangan jangka pendek, karena indikator stochastic oscillator sudah overbought. "Saham ini berpeluang turun, meskipun volume transaksi dari hari ke hari terus naik," ujarnya.

Mustafa mengatakan, indikator teknis lain seperti RSI untuk 10 hari juga menunjukkan saham Apexindo berpotensi terkoreksi. "Naiknya saham ini kemarin diperkirakan terpicu aksi pemain yang rajin mengumpulkan saham APEX," tambah dia.

Rekomendasi

Felix merekomendasikan wait and see saham APEX bagi pemain yang mengambil jangka pendek, menengah maupun panjang. "Support saham ini di level Rp 680 dan resistance pada Rp 700," ujarnya.

Sedangkan Mustafa merekomendasikan sell on strength saham minyak dan gas tersebut dalam jangka pendek. Tapi untuk jangka menengah dan panjang, dia menyarankan buy on weakness. "Support saham di level Rp 670 dan resistance pada Rp 700," jelasnya. (asp)