JAKARTA, Investor Daily --- [photo] KINERJA: Presiden Komisaris PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) Hilmi Panigoro (kanan) berbincang dengan Presdir APEX Hertriono Kartowisastro (kiri) disaksikan Direktur Bisnis Terence M Gott saat acara laporan operasional dan keuangan 2006 di Jakarta, Senin (30/4). APEX baru-baru ini menerima Letter of Proceed dari VICO untuk pemboran selama 6 bulan di lapangan Mutiara, Kalimantan Timur.
Wednesday, May 2, 2007
KINERJA
Labels: Kinerja 2006
Tuesday, May 1, 2007
LABA BERSIH
JAKARTA, Seputar Indonesia --- [photo] LABA BERSIH: Direktur Utama Apexindo Pratama Tbk Hertriono Kartowisastro (kiri) bersama Direktur Terence M Gott (tengah) dan Presiden Komisaris Hilmi Panigoro, berbincang sebelum RUPS di Jakarta, kemarin. Apexindo membukukan laba bersih sebesar Rp 380,8 miliar untuk tahun 2006.
Labels: Kinerja 2006
Pemilik Saham APEX Dapat 50 Persen Laba Bersih
JAKARTA, Koran Kontan. PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) lagi royal. Perusahaan penyedia jasa pemboran minyak dan gas itu akan membagikan 50% dari laba bersihnya tahun lalu sebagai dividen. Padahal, tahun 2006, Apexindo hanya membagikan 20% dari laba bersih.
Sekadar informasi, laba bersih Apexindo di pengujung 2006 lalu mencapai US$ 31,5 juta atau setara Rp 380,80 miliar. Menurut hitungan manajemen APEX, dividen yang akan dibagikan bulan depan mencapai Rp 57 per saham, untuk total 2,62 miliar unit saham. “Itu di luar dari hitungan dividen interim yang sudah kami bagikan November 2006,” kata Agustinus B. Lomboan, Direktur Keuangan Apexindo, kemarin (30/4).
Bila investor juga menhitung dividen interim, artinya total dividen yang dibagikan APEX mencapai Rp 73 per saham. Ini jauh lebih tinggi ketimbang dividen tahun sebelumnya yang hanya Rp 19 per saham.
Siapa saja yang menikmati dividen ini? Per 31 Maret 2007, pemegang saham APEX adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebanyak 51,48%, Asia Opportunities Fund 15,88%, CLSA Ltd 15,88%, dan sisanya publik 16,74.
Meskipun telah membagikan dividen segitu, Apexindo masih bisa mengantongi 50% dari laba bersih atau sekitar Rp 190 miliar sebagai laba ditahan. “Kami tidak punya rencana investasi besar tahun ini,” imbuh Agustinus. Alokasi belanja modal atau capital expediture (capex) Apexindo tahun ini hampir sama dengan nilai laba ditahannya, yaitu Rp 193 miliar.
Untuk tahun ini, Agustinus optimis pendapatan perusahaan bisa tumbuh sekitar 40% dari pendapatan 2006 yang US$ 156,3 juta atau setara Rp 1,43 triliun. APEX juga mematok target laba bersihnya naik sekitar 26%, dari US$ 31,5 juta menjadi US$ 40 juta.
Hingga triwulan pertama 2007, Apexindo sudah mencatat pendapatan US$ 36,1 juta. Angka ini naik 14,1% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu, yang sebesar US$ 31,6 juta. Tapi, laba bersihnya malah turun 35,3% dari US$ 9,1 juta menjadi US$ 5,9 juta. Penyebabnya Apexindo tidak bisa lagi menikmati berkah selisih pembayaran utang dollar ke rupiah (swap) di triwulan pertama tahun ini. Maklum, pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan menikmati swap US$ 15 juta.
Martha Dian Novita
Labels: Kinerja 2006
Pendapatan Apexindo US$ 36,1 Juta
JAKARTA, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk pada kuartal I 2007 membukukan pendapatan US$ 36,1 juta atau sekitar 19% dari target pendapatan sepanjang tahun ini sebesar US$ 190 juta. Pada periode sama, laba bersih perseroan mencapai US$ 5,9 juta.
“Pendapatan kuartal satu memang kecil karena kami masih mobilisasi. Kenaikan signifikan akan terjadi di kuartal kedua karena moving dari rig-8, rig-14 dan rig-15 yang mulai berjalan sekitar Mei tahun ini,” ujar Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan kepada Investor Daily usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Senin (30/4).
RUPS Apexindo memutuskan pembagian dividen 2006 sebesar Rp 151 miliar (Rp 57/saham) setelah dipotong ekuivalen dari dividen interim.
Saat ini perseroan mendapat kontrak baru dengan Maira untuk jangka lima tahun dan rig-9 serta rig-10 untuk kontrak dua tahun. “Dari kedua kontrak inilah diharapkan menjadi penopang terbesar dari pendapatan perseroan tahun ini,” jelas dia. (c100)
Labels: Kinerja 2006
Wednesday, April 18, 2007
Ditopang kontrak baru, prospek Apexindo tetap kinclong
Bisnis Indonesia --- Bukan suatu kekeliruan bagi keluarga Panigoro batal melego saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk. Pasalnya, setelah merugi dua tahun lalu, kinerja perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa penyewaan rig (anjungan pengeboran migas) langsung mengilap. Kontraktor pengeboran itu pun mampu menoreh keuntungan yang spektakuler.
Pada akhir tahun lalu, Apexindo membukukan laba bersih Rp380,8 miliar atau Rp146,07 per saham, meroket 982,95% dari rugi Rp43,13 miliar atau Rp21,21 per saham pada 2005. Perolehan laba ini juga merupakan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Di saat yang sama, emiten itu juga membukukan kenaikan penjualan 26,5% menjadi Rp1,4 triliun dari sebelumnya Rp1,1 triliun. Dengan kinerja yang demikian PT Danareksa Sekuritas pun mendongkrak target harga saham Apexindo menjadi Rp2.200 dari sebelumnya Rp2.100 dengan tetap merekomendasikan beli.
Namun, kurangnya katalis membuat harga saham berkode APEX ini tertinggal dari pasar. Namun, Danareksa masih yakin fundamental perseroan masih tangguh, terutama ditopang kontrak yang berhasil diraih dari pesaingnya, khususnya rig darat.
"Kami menyesuaikan prediksi kinerja yang mencerminkan angka hasil audit 2006. Berdasarkan valuasi, kami mendapatkan target harga 2007 sebesar Rp2.200," kata analis Danareksa Bonny Setiawan dalam risetnya terbitan 12 April.
Menurut dia, perubahan laba Apexindo menjadi positif terjadi berkat kenaikan tarif sewa rig yang terjadi menyusul kurangnya suplai, serta peningkatan utilisasi rig baik untuk segmen darat dan laut masing-masing sebesar 68% dan 100%.
Sementara itu, margin kotor naik menjadi 34%, sedikit lebih tinggi dari estimasi Danareksa yang sebesar 33%. Perseroan juga mampu mengendalikan biaya secara efektif karena pada sepanjang tahun lalu tidak terjadi gangguan mekanik.
"Di samping itu, dengan penyelesaian pelabuhan Bojonegara, perseroan mempunyai pengelolaan persediaan yang lebih baik yang menurut kami menjadi salah satu faktor penyumbang [kinerja perseroan]."
Selain pendapatan dan laba bersih yang bagus, beban bunga perseroan pada tahun lalu juga rendah. Menyusul pelunasan semua utang kepada bank pada tahun lalu, perseroan hanya mempunyai utang obligasi sebesar US$750 juta. Utang paling anyar baru disepakati pada awal tahun ini US$125 juta. "Hal tersebut menjelaskan rendahnya biaya bunga perseroan pada 2006," kata Bonny.
Di awal tahun, Apexindo langsung menendang dengan lima kontrak baru untuk rig darat di mana dua di antaranya yakni rig 9 dan 10 bernilai kontrak US$13,9 juta untuk masa kerja enam bulan.
Bonny berpendapat nilai kontrak itu dapat ditingkatkan jika masa kerja diperpanjang lagi. Dia yakin hal itu akan terjadi dengan alasan kedua rig tersebut digunakan oleh kontraktor yang sama dalam satu hingga dua tahun yakni perusahaan migas VICO.
Kalau pun diadakan tender ulang, Bonny yakin Apexindo bisa mengalahkan peserta lain karena perseroan mempunyai tarif yang lebih murah.
Tingkat utilisasi
Tiga kontrak lainnya meski nilainya kecil yaitu US$8,6 juta paling tidak bakal mengangkat tingkat utilisasi tahun ini. Bonny pun menggenjot estimasi tingkat utilisasi rig darat dari 58% menjadi 63% pada tahun ini.
Dengan kemungkinan masa kerja kontrak tiga bulan yang dikantongi tiga rig tersebut diperpanjang, serta tarif sewa baru lebih tinggi 8%-22% dibandingkan 2006 membuat Bonny menaikkan pendapatan dari rig segmen darat menjadi US$46 juta pada 2007, lebih tinggi dari prediksi sebelumnya US$44 juta.
Di sisi lain, keterlambatan pengiriman jack-up rig baru Soehanah dari Januari menjadi Mei memicu Bonny untuk memangkas prediksi pendapatan rig itu 33% menjadi hanya US$40 juta. Kendati demikian, prospek perseroan tetap cerah dengan adanya kontrak US$170 juta dari Total E&P Indonesie untuk 22 bulan masa kerja Soehanah.
Bonny juga memangkas estimasi pendapatan rig segmen laut 11% jadi US$144 juta pada 2007, menyusul penundaan kerja rig Raniworo selama dua bulan. Rig tersebut sedang dilabuhkan sebelum mengebor untuk Crescent dengan nilai kontrak US$5,2 juta.
Mengenai rencana penambahan jack-up rig karena biaya pembangunannya yang selangit, Bonny menilai kemungkinan Apexindo membeli jack-up rig bekas. (pudji.lestari@bisnis.co.id)
Oleh Pudji Lestari
Wartawan Bisnis Indonesia
Labels: Kinerja 2006
Wednesday, April 11, 2007
PT Apexindo Set to Chalk Up 30% Increase in Net Profit
Asia Pulse Pte Ltd, rigzone.com --- Publicly listed oil drilling company PT Apexindo Pratama Duta (JSX:APEX) has forecast a 30% increase in net profit to Rp495 billion (US$165 million) this year, compared with last year.
The subsidiary of the Medco Group reported Rp380.8 billion in net profit last year, as against a net loss of Rp43.1 billion in the previous year.
Apexindo chief commissioner Hilmi Panigoro said that demand for drilling services was strong, with the soaring price of oil encouraging producers to launch intensive exploration.
The company, which has a number of oil rigs, posted sales valued at Rp1.4 trillion last year, up from Rp1.1 trillion in the previous year.
Labels: Kinerja 2006
Tuesday, April 10, 2007
Medco Perkirakan Laba Naik 20 Persen
Jakarta, Kompas - PT Medco Energi International Tbk memperkirakan laba bersih yang diperoleh perseroan tahun 2006 akan mengalami peningkatan sampai 20 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kenaikan keuntungan terutama didorong harga minyak dunia yang tinggi. Presdir Medco Energi International Hilmi Panigoro, Senin (9/4) di Jakarta, mengemukakan, kenaikan laba itu belum dipotong penghapusbukuan Medco Brantas 60 juta dollar AS.
Pada kurun waktu Januari sampai September 2006, keuntungan kotor yang dicapai perseroan 270,4 juta dollar AS.
Pada periode yang sama tahun 2005, Medco Energi mencetak keuntungan kotor 247 juta dollar AS. Medco menaungi sejumlah anak usaha yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi migas, petrokimia, pembangkitan, dan jasa pengeboran.
"Dari sisi produksi, tahun 2006 memang tidak ada penambahan, tapi harga minyak sangat bagus," ujar Hilmi. Dari blok yang mereka miliki di dalam dan luar negeri, produksi minyak mentah Medco sekitar 70.000 barrel per hari dan gas sekitar 120 juta kaki kubik per hari.
Medco kini telah menyiapkan belanja modal 300 juta dollar AS untuk tahun 2007. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun 2006 sebesar 240 juta dollar AS.
Medco Energi pada 16 Maret 2007 melepas kepemilikannya di Blok Brantas. Dengan menjual Medco Brantas, perseroan terbebas dari kewajiban menanggung dampak semburan lumpur di sumur Banjar Panji 1.
Medco Global
Apexindo Pratama Duta, anak perusahaan Medco yang bergerak di bidang pengeboran, diproyeksikan bakal menyumbang keuntungan terbesar.
Pendapatan Apexindo tahun 2006 sebesar 156,3 juta dollar AS. "Keuntungan terbesar tetap berasal dari bidang pengeboran. Saat ini saja kontrak offshore rig yang diperoleh Apexindo sudah naik dua kali lipat," ujar Hilmi.
Terkait dengan rencana ekspansi ke luar negeri, Hilmi tetap yakin Medco Global—subholding untuk anak-anak perusahaan yang beroperasi di luar negeri— bisa dibentuk sebelum akhir tahun ini. Bank untuk membentuk subholding sudah bisa ditunjuk pertengahan April ini.
Setelah subholding terbentuk, Medco Global akan melakukan penawaran saham perdana kepada publik di Bursa London. Jumlah saham yang akan dilepas maksimal 49 persen.
Hilmi menjelaskan, Bursa London dipilih untuk memudahkan calon investor yang sebagian besar berada di Timur Tengah dan Afrika Utara. (DOT)
Labels: Kinerja 2006
Monday, April 9, 2007
Emiten tambang kinclong
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Harga komoditas dunia mendongkrak perolehan pendapatan dan laba bersih emiten pertambangan pada 2006, dan hal itu diperkirakan masih berlanjut tahun ini.
Dari 10 perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, semuanya mencatat pertumbuhan pendapatan, kecuali PT Energi Mega Persada Tbk yang mengalami penurunan penjualan sebesar 2%. (lihat tabel)
Pendapatan perusahaan pertambangan migas itu menyusut dari Rp1,68 triliun pada akhir 2005 menjadi Rp1,65 triliun tahun lalu, setelah volume penjualan perseroan turun.
PT Medco Energi Internasional Tbk hingga hari ini belum memublikasikan laporan keuangan akhir tahun 2006.
Dari sisi perolehan laba bersih, PT Citatah Industri Marmer Tbk menjadi satu-satunya emiten yang membukukan rugi bersih, meskipun pendapatannya naik 26,71% tahun lalu. Kerugian perusahaan tahun lalu turun menjadi Rp20,58 miliar dibandingkan sebelumnya yang sebesar Rp28,31 miliar.
PT Apexindo Pratama Duta Tbk yang pada 2005 membukukan rugi bersih sebesar Rp43,13 miliar mampu membalik posisi keuangannya menjadi untung Rp380,78 miliar, atau tumbuh 982,95% dari tahun lalu.
Dari 10 emiten itu, PT Central Korporindo International Tbk menjadi perusahaan yang mencatat pertumbuhan paling pesat dalam tempo setahun. Pendapatan dan laba bersih perseroan masing-masing tumbuh sebesar 323% dan 4.678%. Kendati demikian, belum ada analis yang menganalisis kinerja Cenko dan Citatah.
Analis emiten sumber daya mineral PT Trimegah Securities Tbk Sebastian Tobing mengatakan pendapatan dan laba bersih emiten pertambangan tahun lalu paling banyak terdongkrak oleh kenaikan harga komoditas dunia.
Meski terjadi peningkatan volume penjualan, sebagaimana dialami PT Bumi Resources Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk, hal itu kurang signifikan dibandingkan dengan lonjakan harga komoditas.
"Sebagai gambaran, harga nikel sekarang naik menjadi US$22 per pound dibandingkan dengan rata-rata US$10 per pound pada 2006. Harga timah juga sudah naik menjadi US$13.500 per pound, dari rata-rata harga tahun lalu sebesar US$8.800. Itu berarti terjadi kenaikan sekitar dua kali lipat," tuturnya kemarin.
Sebastian memperkirakan harga nikel turun pada paruh kedua 2007 menjadi rata-rata US$17 per pound. Harga minyak mentah dan batu bara bakal naik sekitar 10%. Harga minyak mentah diperkirakan rata-rata US$60 per barel.
Harga komoditas ini diperkirakan turun dari harga rata-rata tahun lalu yang mencapai US$68 per barel. Hal ini karena turunnya permintaan minyak mentah dunia.
Berlanjut
Secara terpisah, analis emiten pertambangan PT BNI Securities Norico Gaman menilai keuntungan yang diperoleh emiten dari kenaikan harga komoditas masih akan berlanjut tahun ini dan mencapai puncaknya pada 2008.
Ini karena secara historis siklus kenaikan harga komoditas berlangsung selama lima tahun, dan kenaikan itu terjadi sejak 2003.
Permintaan komoditas meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi China dan India.
Norico memperkirakan pendapatan industri pertambangan tumbuh 30% per tahun hingga 2010, sedangkan laba bersih tumbuh 58%.
Pertumbuhan ini terjadi karena di dalam negeri biaya produksi barang tambang dinilai relatif rendah dan menggunakan rupiah. Padahal, sebagian terbesar hasilnya diekspor dalam mata uang dolar AS. (puji.lestari@bisnis.co.id)
Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia
Labels: Kinerja 2006
Monday, April 2, 2007
Laba Bersih Apexindo Rp380,8 Miliar
JAKARTA, Media Indonesia Online: PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) pada 2006 membukukan laba bersih sebesar Rp380,8 miliar atau Rp146,07 per saham. Perolehan laba ini meningkat cukup siginifikan dibanding 2005 yang mengalami rugi bersih sebesar Rp43,1 miliar.
"Perolehan laba ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah yang dipicu oleh pertumbuhan pendapatan, kemampuan perseroan melakukan efisiensi dan keuntungan non-kas dari transaksi swap," kata Direktur Keuangan Apexindo, Agustinus B Lomboan dalam laporan tertulisnya kepada Bursa Efek Jakarta, Senin (2/4).
Agustinus mengatakan, pendapatan Apexindo meningkat 26,5% menjadi Rp1,4 triliun atau setara dengan US$156,3 juta dibandingkan dengan Rp1,1 triliun atau setara dengan US$116,6 juta di tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut, kata dia, disebabkan segmen rig darat yang memiliki prestasi mengesankan di tahun 2006. Pendapatan dari segmen rig darat tercatat Rp529,5 miliar atau naik sebesar 88,6% dari Rp280,8 miliar.
"Pertumbuhan yang signifikan pada segmen rig darat dipicu oleh perbaikan pada tingkat utilisasi segmen rig darat yang meningkat dari 51% menjadi 68% yang disebabkan oleh perolehan beberapa kontrak baru," jelasnya.
Kontrak-kontrak baru itu antara lain, kontrak baru untuk Rig 4 dan Rig 5 yang mendapatkan kontrak jangka panjang untuk pemboran panas bumi senilai masing-masing US$21,6 juta dan US$ 22,3 juta.
Sementara, tingkat utilisasi segmen rig laut berhasil dipertahankan di 100%. Pendapatan dari segmen rig laut meningkat sebesar 6,0% menjadi Rp906,4 miliar dibandingkan Rp854,7 miliar di tahun lalu. Peningkatan ini disebabkan oleh kontrak dari Jack up Raniworo dengan Crescent Petroleum Inc dan Indago Oman Ltd yang memiliki harga sewa harian 40% lebih tinggi dari kontrak sebelumnya. (Sdk/OL-06)
Labels: Kinerja 2006
Apexindo Cetak Rekor Laba Bersih
JAKARTA, Bisnis Indonesia --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk mencetak rekor laba bersih tertinggi sepanjang sejarah Rp 380,8 miliar atau Rp 146,07 per saham dari sebelumnya rugi Rp 43, 1 miliar atau Rp 21,21 per saham. Perseroan juga membukukan kenaikan penjualan 26,5% menjadi Rp 1,4 triliun dari sebelumnya Rp 1,1 triliun, setara dengan US$ 116,6 juta menjadi US$ 156,3 juta.
Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan mengatakan peningkatan pendapatan didorong oleh sumbangan dari segmen rig darat. Pendapatan dari segmen ini naik 88,6% menjadi Rp 529,5 miliar dari semula Rp 280,8 miliar. Di sisi lain, segemen rig laut menyumbang pendapatan Rp 906,4 miliar, naik 6% dari Rp 854,7 miliar. (Bisnis/PUL).
Labels: Kinerja 2006
Thursday, January 18, 2007
Laba Bersih Rp 400 M, Apexindo Lunasi Utang US$ 8 Juta
JAKARTA, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk akan melunasi utang senilai US$ 8 juta kepada Bank Central Asia (BCA) paling lambat pada Agustus 2007. Dana pelunasan utang bersumber dari kas internal perseroan.
“Prioritas utama adalah pelunasan utang kepada BCA tahun ini, sehingga beban utang perseroan menjadi nihil. Dengan pembayaran kewajiban, kinerja keuangan diharapkan lebih bagus ke depan,” ujar Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (16/1).
Agustinus mengatakan, Apexindo kini memiliki arus kas sebesar US$ 30 juta, sehingga pelunasan utang tidak sampai mengganggu operasional.
Perseroan bergerak di bidang jasa penyewaan rig lepas pantai dan darat untuk sektor minyak dan gas.
Menurut dia, kewajiban anak usaha PT Medco Energi International Tbk tersebut tinggal obligasi senilai Rp 750 miliar yang akan jatuh tempo pada 2010. “Tidak tertutup kemungkinan percepatan pelunasan surat utang dilakukan, bila arus kas memadai, sehingga beban perseroan tidak ada lagi,” tandas dia.
Mengenai kinerja keuangan akhir tahun 2006, lanjut Agustinus, lebih baik dibandingkan tahun 2005. Sebab, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung menguat tahun ini.
Perseroan masih merugi sebesar Rp 43,12 miliar tahun lalu. Penyebab utama kerugian adalah selisih kurs. Namun, pada semester pertama 2006 laba bersih meningkat drastis menjadi Rp 191,48 miliar. Sedangkan pada akhir kuartal ketiga 2006, laba bersih tercatat Rp 366 miliar. “Kami optimistis, laba bersih akhir tahun lalu bisa mencapai Rp 400 miliar,” ungkap dia.
Hingga kuartal ketiga 2006, pendapatan tercatat Rp 798,93 miliar atau naik 6% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 755,63 miliar.
Lebih jauh dia mengungkapkan, kinerja tahun ini diperkirakan lebih bagus di bandingkan pada 2006. Sebab, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS lebih membaik. Selain itu, harga sewa rig darat bisa meningkat sekitar 5-10%. Sedangkan harga sewa lepas pantai naik tajam.
Di samping itu, kata dia, permintaan penyewaan rig lepas pantai dan darat cenderung meningkat seiring banyaknya pengeboran ladang minyak baru tahun ini, termasuk proyek geothermal.
Agustinus memprediksi, pendapatan dapat tumbuh 30% tahun ini daripada tahun lalu. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari jasa penyewaan rig lepas pantai.
Sebagai antisipasi tingginya permintaan jasa rig lepas pantai, Apexindo segera mempercepat pembangunan Rig Soehana. “Mudah-mudahan bisa rampung akhir Maret 2007, sehingga bisa disewakan kepada sejumlah perusahaan minyak,” kata dia.
Pembangunan Rig Soehana yang dilakukan di Singapura itu menelan dana US$ 150 juta.
Perpanjang Kontrak
Guna meningkatkan kinerja keuangan, perseroan akan mengikuti sejumlah tender migas tahun ini dan memperpanjang kontrak kerja selama lima tahun. Nilai perpanjangan kontrak bisa mencapai US$ 160 juta. “Dengan adanya kontrak kerja selama lima tahun, pendapatan perseroan menjadi pasti. Karena selama ini kontrak kerja hanya berlangsung satu atau dua tahun,” ungkap dia.
Sampai akhir Desember 2006, pemegang saham terbesar Apexindo adalah Medco Energi (51,57%), CLSA Ltd (Client A/C) sebesar 15,92%, dan Asian Opportunities Fund Segregated 15,92%. Sedangkan sisanya dimiliki investor publik lainnya.
Sementara itu, Senior Equity Research PT Valbury Securities Danny Eugone mengatakan, usaha perseroan mendapat kontrak jangka panjang menjadi lima tahun menunjukkan kepercayaan semakin tinggi dari nasabah.
“Di Indonesia, Apexindo dikenal sebagai market leader dan memiliki produk berkualitas tinggi. Keberhasilan perusahaan juga ditunjukkan dengan memperlebar bisnis jasa penyewaan rig ke Timur Tengah belum lama ini,” jelasnya.
Dia mengatakan, perseroan berupaya meningkatkan performa peralatan yang disewakan. Pada Januari 2007, Apexindo memiliki rig berteknologi terbaru dan hanya dimiliki beberapa perusahaan penyewa rig terkemuka di dunia.
Namun, lanjut dia, perseroan kini dihantui penurunan harga minyak yang mencapai US$ 51 per barel. Akibatnya, perusahaan pertambangan yang selama ini menyewa jasa rig terpaksa menunda peningkatan produksi dan penjualan. “Otomatis penyewaan terhadap rig perseroan menjadi terhambat,” tandas dia. (rad)
Labels: Kinerja 2006
Friday, November 10, 2006
Target Laba Bersih Apexindo Sekitar 32 Juta Dollar AS
Jakarta, Kompas - Perusahaan kontraktor pengeboran minyak dan gas, PT Apexindo Pratama Duta Tbk, menargetkan bisa membukukan laba bersih sedikitnya 32 juta dollar AS (atau setara Rp 294,4 miliar dengan nilai tukar Rp 9.200 per dollar AS) sampai akhir tahun 2006. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2005 dengan kerugian bersih Rp 43,126 miliar (karena rugi kurs).
"Rata-rata laba bersih yang kami peroleh setiap triwulan pada tahun ini 8 juta dollar AS. Jika pada triwulan IV juga sebesar itu, akumulasinya hingga akhir tahun sebesar 32 juta dollar AS," kata Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan, dalam pemaparan kepada publik, Rabu (8/11) di Jakarta.
Adapun pendapatan hingga akhir tahun juga diprediksi naik sebesar 29 persen dibandingkan pendapatan tahun 2005, menjadi 150 juta dollar AS. Menurut Agustinus, kenaikan pendapatan tersebut terutama karena peningkatan sewa harian dan utilisasi alat pengeboran di darat milik perseroan.
Agustinus mengatakan, kontrak yang dimiliki saat ini akan memberikan pendapatan bagi perseroan hingga tahun 2010. "Pada tahun 2007 pendapatan perseroan tanpa adanya perpanjangan kontrak atau kontrak baru sebesar 186 juta dollar AS. Pada tahun 2008 sebesar 150 juta dollar AS, pada 2009 sebesar 120 juta dollar AS, dan pada 2010 sebesar 5 juta dollar AS," ujarnya.
Namun, Agustinus menyatakan, perseroan tetap mengupayakan perpanjangan kontrak dan kontak baru untuk peningkatan pendapatan perseroan.
"Dengan adanya perpanjangan kontrak, pendapatan perseroan pada tahun 2007 diperkirakan mencapai lebih dari 200 juta dollar AS," katanya.
Presiden Direktur Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan, untuk perpanjangan kontrak (rig 9 dan rig 10 yang dikontrak oleh VICO) tidak akan memberikan harga baru yang lebih mahal demi kelangsungan kontrak dalam waktu lama.
Hertriono menuturkan, Menteri Keuangan telah memberikan izin Apexindo membuat laporan keuangan yang menggunakan dollar AS. "Ini sangat baik sebab 100 persen pendapatan perseroan dalam dollar AS dan 60 persen pengeluaran dalam dollar AS juga," ujarnya. (TAV)
Labels: Kinerja 2006
Optimistis Bukukan Laba Bersih USD32 Juta
JAKARTA (SINDO) – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) menargetkan perolehan laba bersih mencapai USD32 juta tahun ini. Sementara pendapatan tahun depan dipatok sebesar USD186 juta atau meningkat sekitar 24% dari prediksi pendapatan tahun ini sebesar USD150 juta.
Hal itu diungkapkan Direktur Keuangan Apexindo Pratama Duta Agustinus Lomboan dalam paparan publik perseroan di Jakarta, kemarin. Manajemen optimistis target laba bersih itu tercapai dengan melihat tren rata-rata perolehan laba bersih kuartalan tahun ini.
Agus menjelaskan, laba bersih perseroan Maret 2006 sebesar USD9,074 juta, sedangkan per Juni 2006 sebesar USD7,173 juta. Sementara kuartal III tahun ini laba bersih perseroan mencapai USD9,704. Dari data tersebut tercermin laba bersih rata-rata sebesar USD8,650 juta per kuartal.
Mengenai belanja modal (capital expediture/capex), menurut Agus, sampai September 2006 perseroan telah menggunakan dana capex sebesar USD10,606 juta, dari total capex tahun ini sebesar USD23,483 juta.
Dia menambahkan, uang muka untuk membiayai pembangunan rig jack up Soehanah sebesar USD26,745 juta telah dibayarkan pada 2005. Karena itu, perseroan harus melunasi sisanya pada awal 2007.
Pelunasan tersebut dibiayai fasilitas pinjaman jangka panjang senilai USD125 juta, yang berasal dari sebuah konsorsium beranggotakan lima bank asing. Diantaranya Standard Chartered Bank, UOB Singapore, dan PMA Hongkong.
“Pinjaman tersebut berjangka waktu 10 tahun dengan tingkat bunga setara dengan LIBOR plus 215 basis poin,” papar dia.
Rencananya, tahun depan rig jack up Soehanah sudah bisa memberikan tambahan revenue bagi perseroan sekitar USD45 juta. Itu dihitung dari biaya sewa per hari (day rate) rig tersebut saat ini yang mencapai USD165.000. Rig itu akan beroperasi penuh April 2007.
Sementara itu, tahun depan perseroan menganggarkan capex sebesar USD12,43 juta, di antaranya untuk melunasi rig jack up Soehanah sebesar USD123,25 juta dan sisanya USD19,17 juta untuk capex tahunan perseroan.
Selain itu, dana capex juga digunakan untuk upgrading mesin-mesin berbagai rig darat dan memperbaiki katup-katup mesin pengeboran.
Analis Sarijaya Securities M Alfatih menilai kinerja Apexindo tahun ini cukup positif. Hal itu terlihat dari laba bersih kuartalan tahun ini, padahal tahun lalu Apexindo masih mengalami rugi bersih. “Saya lihat kinerjanya terus membaik, terlebih banyak kontrak baru yang mereka dapatkan tahun ini,” kata dia.
Dia optimistis target yang ditetapkan perseroan bisa tercapai. “Target tersebut masih wajar, malah saya lihat melebihi ekspetasi yang ditargetkan pada awal tahun,” tambah dia. Alfatih mengatakan, kinerja yang terus membaik tersebut berdampak pada aktivitas saham Apexindo di bursa. (rakhmat baihaqi)
Labels: Kinerja 2006
Laba Bersih Apexindo
Jakarta, Media Indonesia --- Perusahaan jasa pertambangan PT Apexindo Pratama Duta Tbk menargetkan perolehan laba bersih sepanjang 2006 sebesar US$32 juta. Itu berarti peningkatan signifikan dari rugi bersih yang diterima perseroan tahun lalu, sekitar Rp 43,13 miliar, ujar Dirut Apexindo Agustinus Lomboan. Sementara itu, sampai akhir 2006 perseroan menargetkan kenaikan pendapatan 24% dari US$150 juta menjadi US$9,07 juta dan per Juni 2006 US$7,17 juta. Sedangkan sampai kuartal ketiga laba bersih perseroan mencapai US$9,70 juta.
Sampai akhir tahun, utilisasi rig off shore (lepas pantai) ditargetkan terpakai semua atau 100%. Sedangkan utilisasi on shore mencapai 70% di akhir tahun. Untuk 2007, total pendapatan perseroan ditargetkan mencapai lebih dari US$200 juta. (Pia/E-s)
Labels: Kinerja 2006
Apexindo Proyeksikan Laba 32 juta dolar AS
JAKARTA, Republika – PT Apexindo Pratama Duta Tbk memperhitungkan perolehan laba bersih mencapai 32 juta dolar AS di akhir 2006. Untuk pendapatan tahun depan ditargetkan mencapai 186 juta juta dolar atau meningkat 24 persen dari prediksi pendapatan 2006 yang 150 juta dolar.
“Target laba bersih tersebut dihitung berdasarkan laba bersih rata-rata per kuartal perseroan selama Januari-September 2006,” kata Direktur Keuangan Apexindo, Agustinus Lomboan di Jakarta, Rabu (8/11).
Laba bersih perseroan pada kuartal I 2006 sebesar 9,074 juta dolar AS, sedangkan pada kuartal II 7,173 juta dolar AS. Sampai akhir September 2006, laba bersih perseroan mencapai 9,704 juta dolar AS. Dari data tersebut, Agustinus memperhitungkan laba bersih rata-rata kuartal sebesar 8,650 juta dolar AS.
Pada 2007, pengeboran rig jack up Soehanah diharapkan bisa memberikan tambahan pendapatan sekitar 45 juta dolar AS. Rig tersebut rencananya baru akan beroperasi penuh pada awal April 2007. una
Labels: Kinerja 2006
Apex Targetkan Revenue Naik 29 Persen
Jakarta, Rakyat Merdeka --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) menargetkan pendapatan naik sekitar 29 persen menjadi US$150 juta pada 2006, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Demikian Direksi Apex dalam paparan public kepada Bursa Efek Jakarta (BEJ), baru-baru ini. Direksi menjelaskan, pertumbuhan pendapatan sebesar itu dikarenakan adanya kenaikan harga sewa harian rig serta membaiknya tingkat utilisasi rig perseroan pada tahun ini.
Utilisasi rig lepas pantai pada 2006 ditargetkan tumbuh sebesar 100%, sementara tingkat utilitasasi rig darat 70%. Sementara kenaikan harga sewa harian rig dan perbaikan tingkat utilisasi rig tersebut juga diharapkan akan memicu peningkatan profiabilitas perseroan pada tahun ini.
Oleh karena itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earning before interest, tax, depreciation and amortization/EBITDA) perseroan tahun ini diestimasikan antara US$60-65 juta. Sementara langkah perseroan melaksanakan efisiensi yang konsisten juga diharapkan bisa meningkatkan marjin EBITDA menjadi sekitar 45% atau lebih pada 2006 ini. 027C
Labels: Kinerja 2006
Thursday, November 9, 2006
Apexindo's Net Profit Increased Two-Fold in 3Q06
Rigzone.com, PT Apexindo 11/9/2006 --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk in third quarter 2006 successfully booked Rp 289.2 billion in Net Profit or up by more than two-fold compared to Rp156.5 billion Net Loss in restated third quarter 2005 financial statement. The increase in Net Profit was caused by Revenue growth, which rose by 28.9% as well as effective and efficient operational performance. Apexindo was able to control the escalation of direct and indirect costs efficiently that Operating Profit surged significantly by 70.9% to Rp 304.1 billion from Rp 177.9 billion the year before. The condition boosted the Company's EBITDA by 41.0% to Rp 439.5 billion compared to Rp 311.8 billion last year. Apexindo's ability to reduce pressure from distortions such as interest expense and foreign exchange eventually increased the Company's Net Profit significantly. Agustinus B. Lomboan, the Company's Finance Director explains, "The improvement of the Company's financial performance in 9 months was supported by excellent operational performance in which the drilling equipment has been operating maximum and are in good quality. The upturn was also backed by the Company's continuous efficiency and the decrease of interest expense as well as favorable market condition".
The Company's Revenue for this period grew by 28.9% to Rp 1.0 trillion from Rp 798.9 billion last year. The increase in Revenue was mainly driven by the significant revenue increase from land rig segment by 86.7% to Rp 353.5 billion compared to Rp 189.3 billion the year before. This was caused by the improvement of utilization rate to 61% compared to 46% last year following effective new contracts, especially for geothermal drilling, and the increase in dayrates. On the other hand, revenue contribution from offshore segment also rose by 11.0% to Rp 676.6 billion on the back of Apexindo achievement to maintain 100% utilization rate following the low breakdown rate that the Company was able to generate maximum earnings. Maintained and controlled overall cost appropriately has made direct and indirect cost to merely increase by 16.9%, even though costs in drilling business tend to ascend as demand for rigs is in the rise. Apexindo is able to stabilize the costs so that they do not go linearly with the surging of operational activities, therefore giving more contributions to the Company's profitability level. This is reflected in the improvement of the Company's gross margin from 28.9% to 34.4% and the upsurge of operating margin to 29.5% from 22.3%. The condition ultimately supported the increase in EBITDA by 41.0% to Rp 439.5 billion and EBITDA margin from 39.0% to 42.7%.
The Company has been consistently reducing pressure from distortions to improve bottom line. In third quarter this year, Interest Expense was decreased by 58.5% to merely Rp 38.2 billion. This was in line with the diminishing interest bearing debts that declined by 20.6% year on year (YoY). As EBITDA improved, interest coverage ratio got better to 11.5x compared to last year's 3.4x. Further, with proper financial strategy and improving Rupiah exchange rate, Apexindo successfully booked Gain on Foreign Exchange of Rp 13.4 billion compared to last year's Rp 58.1 billion of Loss on Foreign Exchange. Moreover, Apexindo recorded Gain from Swap Transaction of Rp 120.9 billion driven by improved marked to market valuation on the Company's swap transaction. The Company has conservatively booked Loss from Swap Transaction last year with exchange rate assumption of approximately Rp 9.800,- per USD.
In the third quarter, the Company's balance sheet became healthier following improving performance and declining interest bearing debts. Debt to Equity ratio was booked at 0.4x or better than last year's 0.7x. Liquidity has also been maintained at outstanding level to 3.8x. Agustinus adds, "We are delightful with the achievement, which has exceeded our initial target. It is expected that Revenue in full year 2006, taking into account Rupiah appreciation, may grow at approximately 25% YoY or higher than previously projected at 10% YoY. Meanwhile, with excellent performance and consistent efficiency, EBITDA is expected to reach Rp 600 billion in which equivalent to US $65 million or up by approximately 30% compared to last year's number with the margin above 40%".
Labels: Kinerja 2006
Margin EBITDA Capai 43%, Apexindo Targetkan Pendapatan US$ 150 Juta
JAKARTA, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk menargetkan, pendapatan sebesar US$ 150 juta pada akhir 2006 atau naik 29% dibandingkan US$ 116,6 juta akhir 2005. Kenaikan tersebut dipicu oleh peningkatan harga sewa harian dan tingkat utilisasi rig perseroan.
Manajemen Apexindo menyampaikan hal tersebut dalam materi paparan publik yang disampaikan kepada otoritas bursa di Jakarta, awal pekan ini. "Tingkat utilisasi rig lepas pantai ditargetkan sebesar 100% dan rig darat 70%," kata manajemen perseroan.
Anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk tersebut juga memproyeksikan, pendapatan sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 60 juta hingga US$ 65 juta per 31 Desember 2006. Sedangkan margin EBITDA diharapkan meningkat menjadi 45%, menyusul program efisiensi yang diterapkan secara konsisten.
“Margin EBITDA Apexindo saat ini tercatat sekitar 43% dan menempati posisi ke-8 dari 15 perusahaan sejenis di dunia,” tandas laporan tersebut. Margin EBITDA tertinggi dimiliki Diamond Offshore sebesar 56%, disusul ENSCO (54%), dan Noble Corp (54%).
Hingga akhir kuartal ketiga 2006, pendapatan perseroan mencapai US$ 111,8 juta, naik 34,2% dibandingkan periode sama 2005 US$ 83,4 juta. EBITDA tumbuh 45% menjadi US$ 47,7 juta dari sebelumnya US$ 32,9 juta.
Bila ditilik per kuartal, pendapatan dan EBITDA Apexindo mencatat tren kenaikan. Pendapatan dan EBITDA mencapai masing-masing US$ 31,6 juta dan US$ 13,5 juta pada kuartal pertama 2006.
Pada kuartal kedua lalu, pendapatan dan EBITDA mencapai masing-masing US$ 37 juta dan US$ 16,6 juta. Pendapatan dan EBITDA terus tumbuh pada kuartal ketiga 2006 menjadi masing-masing US$ 43,2 juta dan US$ 17,6 juta.
Sedangkan laba usaha per 30 September 2006 mencapai US$ 31,4 juta, naik signifikan 76% dari periode sama tahun lalu US$ 17,9 juta. Alhasil, Apexindo membukukan laba bersih US$ 26 juta dari sebelumnya merugi US$ 9,7 juta.
Pada Januari-September 2006, perseroan membukukan rasio lancar 3,8 kali, lebih tinggi dari periode Januari-September 2005 sebesar 3,4 kali. Rasio kewajiban terhadap ekuitas (DER) tercatat 0,4 kali dari sebelumnya 0,6 kali.
Backlog Pendapatan
Pada 2007, Apexindo mengantungi backlog pendapatan sebesar US$ 186 juta. Jumlah tersebut turun menjadi US$ 150 juta pada 2008 dan menjadi US$ 120 juta dan US$ 5 juta pada dua tahun berikutnya.
Backlog dihitung dengan mengalikan harga sewa rig harian berdasarkan kontrak dengan periode kontrak. “Backlog pendapatan bersifat indikatif dari full contractual day rate, sehingga dapat berubah-ubah mengikuti rig downtime dan adanya kontrak baru,” papar manajemen Apexindo.
Sementara itu, pembangunan rig jack-up terbaru milik Apexindo bernama Soehanah telah mencapai 80% hingga September 2006 dan diharapkan rampung pada Januari 2007. Belanja modal yang dianggarkan untuk pembelian rig baru sekitar US$ 150 juta.
Uang muka sebesar US$ 26,7 juta telah dibayarkan pada 2005, sedangkan sisanya dipenuhi lewat fasilitas pembiayaan jangka panjang senilai US$ 125 juta.
Rig bertipe Baker Marine Design Pacific Class 375 tersebut telah memperoleh kontrak jangka panjang dari E&P Indonesie selama 22 bulan, ditambah periode perpanjangan sembilan bulan. Nilai kontrak mencapai sekitar US$ 170 juta. Baru-baru ini Soehanah sukses melakukan water launching test di PPL Shipyard Singapore, tempat rig jack-up dirakit. (gie)
Labels: Kinerja 2006
Akhir 2006, Apexindo Targetkan Laba Bersih US$ 32 Juta
Jakarta, detik.com - Perusahaan jasa tambang, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), menargetkan laba bersih sampai akhir tahun mencapai US$ 32 juta. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun 2005 yang mencatat rugi bersih Rp 43,126 miliar.
Pendapatan hingga akhir tahun juga diprediksi naik 29 persen menjadi US$ 150 juta.
"Kenaikan tersebut karena peningkatan sewa harian dan utilisasi on shore," kata Direktur Keuangan Apexindo, Agustinus Lomboan, dalam publik ekspose di Gedung BEJ, Rabu (8/11/2006).
Sampai akhir tahun ini, utilisasi rig of shore (lepas pantai) ditargetkan sebesar 100 persen atau terpakai semua. Sedangkan utilisasi rig on shore ditargetkan sebesar 70 persen.
Untuk tahun 2007, total pendapatan perseroan ditargetkan lebih dari US$ 200 juta. "Tahun depan dari kontrak yang ada tanpa kontrak baru pendapatan kita mencapai US$ 186 juta, tapi kita tentu akan mencari kontrak-kontrak baru," tutur Agustinus.
Namun demikian akibat melesetnya operasi rig Raniworo untuk kontrak Santos, yang diperkirakan terlambat tiga bulan, serta rig Soehanah untuk kontrak total E&P selama satu bulan, Apexindo berpotensi kehilangan pendapatan sebesar US$ 17 juta.
Tahun depan perseroan menganggarkan capex senilai US$ 142,3 juta. Sebesar US$ 123,2 juta akan digunakan membayar penyelesaian rig Soehanah. Sisanya untuk capex rutin.
(ir/ir)
Labels: Kinerja 2006
Margin EBITDA Capai 43%, Apexindo Targetkan Pendapatan US$ 150 Juta
JAKARTA, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk menargetkan, pendapatan sebesar US$ 150 juta pada akhir 2006 atau naik 29% dibandingkan US$ 116,6 juta akhir 2005. Kenaikan tersebut dipicu oleh peningkatan harga sewa harian dan tingkat utilisasi rig perseroan.
Manajemen Apexindo menyampaikan hal tersebut dalam materi paparan publik yang disampaikan kepada otoritas bursa di Jakarta, awal pekan ini. "Tingkat utilisasi rig lepas pantai ditargetkan sebesar 100% dan rig darat 70%," kata manajemen perseroan.
Anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk tersebut juga memproyeksikan, pendapatan sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 60 juta hingga US$ 65 juta per 31 Desember 2006. Sedangkan margin EBITDA diharapkan meningkat menjadi 45%, menyusul program efisiensi yang diterapkan secara konsisten.
“Margin EBITDA Apexindo saat ini tercatat sekitar 43% dan menempati posisi ke-8 dari 15 perusahaan sejenis di dunia,” tandas laporan tersebut. Margin EBITDA tertinggi dimiliki Diamond Offshore sebesar 56%, disusul ENSCO (54%), dan Noble Corp (54%).
Hingga akhir kuartal ketiga 2006, pendapatan perseroan mencapai US$ 111,8 juta, naik 34,2% dibandingkan periode sama 2005 US$ 83,4 juta. EBITDA tumbuh 45% menjadi US$ 47,7 juta dari sebelumnya US$ 32,9 juta.
Bila ditilik per kuartal, pendapatan dan EBITDA Apexindo mencatat tren kenaikan. Pendapatan dan EBITDA mencapai masing-masing US$ 31,6 juta dan US$ 13,5 juta pada kuartal pertama 2006.
Pada kuartal kedua lalu, pendapatan dan EBITDA mencapai masing-masing US$ 37 juta dan US$ 16,6 juta. Pendapatan dan EBITDA terus tumbuh pada kuartal ketiga 2006 menjadi masing-masing US$ 43,2 juta dan US$ 17,6 juta.
Sedangkan laba usaha per 30 September 2006 mencapai US$ 31,4 juta, naik signifikan 76% dari periode sama tahun lalu US$ 17,9 juta. Alhasil, Apexindo membukukan laba bersih US$ 26 juta dari sebelumnya merugi US$ 9,7 juta.
Pada Januari-September 2006, perseroan membukukan rasio lancar 3,8 kali, lebih tinggi dari periode Januari-September 2005 sebesar 3,4 kali. Rasio kewajiban terhadap ekuitas (DER) tercatat 0,4 kali dari sebelumnya 0,6 kali.
Backlog Pendapatan
Pada 2007, Apexindo mengantungi backlog pendapatan sebesar US$ 186 juta. Jumlah tersebut turun menjadi US$ 150 juta pada 2008 dan menjadi US$ 120 juta dan US$ 5 juta pada dua tahun berikutnya.
Backlog dihitung dengan mengalikan harga sewa rig harian berdasarkan kontrak dengan periode kontrak. “Backlog pendapatan bersifat indikatif dari full contractual day rate, sehingga dapat berubah-ubah mengikuti rig downtime dan adanya kontrak baru,” papar manajemen Apexindo.
Sementara itu, pembangunan rig jack-up terbaru milik Apexindo bernama Soehanah telah mencapai 80% hingga September 2006 dan diharapkan rampung pada Januari 2007. Belanja modal yang dianggarkan untuk pembelian rig baru sekitar US$ 150 juta.
Uang muka sebesar US$ 26,7 juta telah dibayarkan pada 2005, sedangkan sisanya dipenuhi lewat fasilitas pembiayaan jangka panjang senilai US$ 125 juta.
Rig bertipe Baker Marine Design Pacific Class 375 tersebut telah memperoleh kontrak jangka panjang dari E&P Indonesie selama 22 bulan, ditambah periode perpanjangan sembilan bulan. Nilai kontrak mencapai sekitar US$ 170 juta. Baru-baru ini Soehanah sukses melakukan water launching test di PPL Shipyard Singapore, tempat rig jack-up dirakit. (gie)
Labels: Kinerja 2006