Saturday, October 8, 2005

Apexindo Kerja Sama Dengan Petrogas

Jakarta, Investor Daily – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU) dengan PT Petrogas Wira Jatim (Petrogas) untuk pengembangan dan pengeboran sumur minyak di wilayah pertambangan Jawa Timur (Jatim). Petrogas adalah perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Jatim yang bergerak di bidang minyak dan gas (migas).

“Kerja sama ini akan memberikan peluang yang besar bagi Apexindo untuk meningkatkan utilisasi rig, terutama rig darat. Provinsi Jatim merupakan penghasil migas terbesar ketiga di Indonesia, dengan cadangan sangat besar seperti di Blok Cepu, Blok Jeruk, dan lain-lain,” jelas Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro dalam siaran pers yang diterima Investor Daily, Kamis (6/10). (ari)

Friday, October 7, 2005

SeaDrill kuasai 32,3% saham Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: SeaDrill Ltd melalui Abacus Capital International Ltd telah resmi menjadi pemegang 32,3% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk melalui mekanisme penerbitan saham baru (rights issue).

Selain SeaDrill, Apexindo kini dimiliki oleh PT Medco Energi Internasional Tbk dengan kepemilikan 52,4% saham, berkurang dari posisi semula sekitar 77%, dan publik 15,3%.

SeaDrill merupakan perusahaan pemboran lepas pantai yang sedang berkembang pesat dengan kapitalisasi pasar saat ini pada bursa over-the-counter di Oslo sebesar sekitar US$1,7 milliar.

Dalam rights issue, Apexindo Pratama mengumpulkan dana sebesar Rp 460,68 miliar yang dimanfaatkan untuk melunasi sebagian utang kepada Medco Energi Finance Overseas BV terkait pembiayaan bersama dalam pembangunan rig Raissa dan Yani.

"Minat yang tinggi dari investor, khususnya investor asing, terhadap Apexindo membuktikan bahwa Apexindo dipercaya," ujar Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan. (Bisnis/wiw)

Right Issue Apexindo Capai Rp 460,68 Miliar

Jakarta, Investor Daily – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) mengumpulkan dana sebesar Rp 460,68 miliar dari hasil penawaran saham terbatas (right issue) I Tahun 2005.

Dalam pengumumannya kepada Bursa Efek Jakarta Rabu (5/10), Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan mengatakan, perseroan merasa puas karena keseluruhan proses penawaran saham terbatas Apexindo berjalan lancer dan tepat waktu.

“Proses yang sempat terhenti dan seharusnya selesai Juni 2005 telah dilanjutkan kembali dan berjalan sukses,” ujarnya.

Dana yang terkumpul telah digunakan perseroan untuk melunasi sebagian hutang Medco Energi Finance Overseas BV (MEFO) sehubungan dengan joint financing dalam rangka pembangunan rig Raissa dan Rig Yani.

Dengan demikian, total outstanding hutang berbunga Apexindo dalam rupiah turun drastic. Rasio hutang berbunga berbanding ekuitas diharapkan membaik cukup signifikan dari 1,31 kali per 30 Juni 2005 menjadi sekitar 0,61 kali. (c77)

Asing Borong Saham Baru Apexindo

Jakarta, Investor Daily -- Investor asing memborong sebagian besar saham baru (right issue) yang dijual PT Apexindo Pratama Duta Tbk. "Sepuluh institusi dan tiga investor perorangan asing memperoleh 96,6 persen atau sekitar 809,02 juta saham," kata Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R. Sartari dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Jakarta kemarin.

Investor domestik, terdiri atas 18 institusi dan 89 perorangan, hanya memperoleh 3,41 persen atau sekitar 28,55 juta saham. Apexindo melakukan penjualan saham baru sebanyak 837,6 juta lembar yang penjatahannya dilaksanakan pada 28 September lalu. Saham dengan nilai nominal Rp 500 itu ditawarkan pada harga Rp 550 per saham.

Dari penerbitan saham baru itu, Apexindo mengumpulkan dana Rp 460,68 miliar. Dana itu digunakan untuk melunasi utang ke Medco Finance Overseas BV. Utang itu terkait dengan pendanaan bersama dalam pembangunan rig Raissa dan rig Yanni, yang akan jatuh tempo pada 31 Desember 2008.

Pada kesempatan terpisah, direktur keuangan anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk. Agustinus B. Lomboan menambahkan, dengan pembayaran utang itu, total sisa (outstanding) utang berbunga Apexindo dalam rupiah turun drastis. "Kami harap rasio utang berbunga berbanding ekuitas perusahaan akan membaik, dari 1,31 kali per 30 Juni 2005 menjadi sekitar 0,61 kali," kata dia.

Agustinus mengatakan, neraca keuangan yang lebih sehat akan memberi kesempatan lebih besar untuk mendapatkan sumber-sumber pendanaan baru yang akan mendukung rencana ekspansi perseroan ke depan. Penurunan utang yang signifikan akan menurunkan beban bunga yang harus dibayar. "Hal ini akan berdampak positif pada laba bersih," ujarnya.

SeaDrill Ltd., melalui Abacus Capital International Ltd., menjadi salah satu pemegang saham terbesar Apexindo dengan menguasai 32,3 persen saham. PT Medco Energi Internasional Tbk. tetap menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 52,4 persen. Sisanya, sebesar 15,3 persen, berada di publik.

SeaDrill merupakan perusahaan pengeboran lepas pantai dengan kapitalisasi pasar saat ini pada bursa over the counter di Oslo sebesar sekitar US$ 1,7 miliar.

Sebelumnya, pada Juli 2005 telah disepakati kerja sama antara SeaDrill dan Apexindo untuk memasarkan dan mengoperasikan armada pengeboran lepas pantai SeaDrill.

PT Apexindo Pratama Duta Tbk. merupakan kontraktor pengeboran minyak dan gas bumi yang berdiri pada 20 Juni 1984. Apexindo kini memiliki sembilan anjungan pengeboran di daratan setelah bergabung dengan PT Medco Antareja pada Desember 2001.

Apexindo juga memiliki dan mengoperasikan empat submersible swamp barge rig (SSB), bernama Raisis, Maera, Raissa, dan Yani, yang dikontrak oleh Total E&P Indonesie dan satu jack-up rig Rani Woro di Timur Tengah. SULIYANTI PAKPAHAN

Thursday, October 6, 2005

Investasi Indosat Dibiayai Dana Internal

Jakarta, Kompas - Dalam lima tahun ke depan, PT Indosat Tbk tidak membutuhkan pinjaman dana dari luar untuk pengembangan investasi. Sesuai dengan pengelolaan keuangan perusahaan, mulai tahun depan Indosat akan memiliki kelonggaran dana internal sehingga dapat digunakan untuk membiayai investasi. Demikian dikemukakan Direktur Utama Indosat Hasnul Suhaimi di Jakarta, Selasa (4/10)

Saat ini total utang Indosat mencapai Rp 13 triliun. Pada April 2006, salah satu seri obligasi Indosat senilai Rp 1 triliun akan jatuh tempo. Namun, dari jumlah yang jatuh tempo tersebut, sebanyak Rp 48 miliar telah dibeli kembali pada harga 101 ketika harga obligasi sedang jeblok beberapa bulan lalu.

Setiap tahunnya, kami akan mulai melunasi utang sehingga ke depan Indosat akan semakin memiliki kelonggaran dari aliran dana internal, katanya.

Menurut Direktur Pemasaran untuk Korporasi Wahyu Wijayadi, tahun ini adalah puncak kegiatan investasi Indosat, di mana Indosat membangun sistem utama jaringan telekomunikasi, menambah stasiun transmisi, serta meningkatkan jangkauan dan kapasitas. Mulai tahun depan kami tinggal meningkatkan kapasitas jaringan. Kebutuhan investasinya semakin mengecil, katanya.

Apexindo

Secara terpisah, Direktur Keuangan PT Apexindo Pratama Duta Tbk Agustinus B Lomboan mengabarkan bahwa penerbitan saham baru terbatas (right issue) telah terlaksana dengan harga Rp 550 per saham. Dari kegiatan ini, Apexindo mengumpulkan dana sebesar Rp 460,680 miliar.

Dana hasil penerbitan saham tersebut telah digunakan untuk melunasi sebagian utang kepada Medco Energi Finance Overseas BV. Utang itu terkait dengan kerja sama pembiayaan dalam pembangunan anjungan pengeboran lepas pantai Raissa dan Yani.

Melalui proses penawaran saham baru secara terbatas tersebut, Sea Drill Ltd, melalui Abacus Capital International Ltd selaku pembeli siaga, telah membeli hak PT Medco Energi Internasional Tbk.

Abacus telah resmi menjadi pemegang saham terbesar kedua Apexindo dengan menguasai 32,3 persen saham. Medco masih menjadi pemegang saham mayoritas, dengan menguasai 52,4 persen. Sisanya dimiliki publik.

Petrosea

PT Petrosea Tbk bekerja sama dengan Renison Consolidated Mines NL melaporkan telah memulai pekerjaan tambang emas Tom̢۪s Gully di Australia. Rencananya, tambang tersebut sudah memproduksi emas pada Maret 2006. Tambang tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 45.000 ons emas setiap tahun dari 250.000 ton are yang diproses tiap tahunnya.

Presiden Direktur PT Petrosea John Sheridan mengatakan, ini merupakan kerja sama pertambangan pertama perseroan di luar Indonesia. (anv/TAV)

SeaDrill buys 32.3% stake in Apexindo

JAKARTA, The Jakarta Post: SeaDrill Ltd., an oil-rig owner controlled by Norwegian billionaire John Fredriksen, has officially acquired a 32.3 percent stake in oil drilling firm PT Apexindo Pratama Duta through a rights issue for Rp 460.7 billion (about US$45.9 million).

In a release on Tuesday, the publicly listed company, a subsidiary of the country's largest locally controlled oil and gas firm PT Medco Energi Internasional, said the proceeds would be used to repay part of its debts to Medco Energi Finance Overseas BV.

According to the company's website, Apexindo recorded a net income of Rp 1.5 billion in the year's second quarter, a jump from Rp 34.9 billion in net losses it booked in the corresponding period the previous year.

The acquisition mean's the company's parent company Medco still holds the majority of shares, with a 52.4 percent stake, while the public investors control the remaining 15.3 percent. -- JP

Thursday, September 29, 2005

Koreksi mengenai jumlah saham Apexindo

Sehubungan dengan artikel tentang HMETD Apexindo 2,43 juta saham yang dimuat Bisnis Indonesia dua hari lalu, terdapat kekeliruan yang menurut kami perlu diperbaiki.

Jumlah saham Apexindo saat ini 1.745.000.000 saham dan jumlah HMETD yang dikeluarkan adalah 837.600.000 saham biasa atas nama.

Dengan demikian, total saham Apexindo setelah HMETD adalah 2.582.600.000.

Frieda Salvantina
Media & Government Relations
PT Apexindo Pratama Duta Tbk
Medco Building lantai 2-3

Jl. Ampera Raya No.20, Jakarta.

*) Berita itu mengacu pada pengumuman BEJ No. PENG-186/BEJ-PSR/09-2005 tertanggal 23 September 2005 mengenai PT Apexindo Pratama Duta Tbk.

Tuesday, September 27, 2005

HMETD Apexindo 2, 43 juta saham

Jakarta, Bisnis Indonesia – PT Apexindo Pratama Duta Tbk telah melaksanakan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dari hasil penawaran saham terbatas I menjadi 2.436.600 saham.

Berdaskan laporan keterbukaan informasi, saham HMETD itu akan dicatatkan di Bursa Efek Jakarta pada 26 September 2005. Setelah pelaksanaan HMETD ini, saham Apexindo yang tercatat di BEJ seluruhnya menjadi 1.747.436.600 lembar saham.

Sedangkan sisa saham HMETD perseroan yang masih tercatat di BEJ mencapai 835.163.400 HMETD. (Bisnis/SHM)

Thursday, September 22, 2005

Saham Apexindo Rawan Koreksi

Jakarta, Investor Daily --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan rawan koreksi pada perdagangan jangka pendek. Meskipun demikian, pada perdagangan Selasa (20/9), saham APEX ditutup menguat.

"Arah koreksi itu terbaca dari sisi teknis," kata analis PT Pacific Duaribu Group Felix Sindhunata kepada Investor Daily di Jakarta.

Pada perdagangan kemarin, saham APEX ditutup di level Rp 680 atau naik Rp 10 dari posisi Rp 670. Saham perusahaan minyak dan gas itu ditransaksikan hanya 55 kali, dengan volume transaksi sebanyak 950.500 unit saham senilai Rp 643,51 juta.

Menurut Felix, secara teknis saham Apexindo Pratama terlihat rawan koreksi untuk jangka pendek. "Hal itu terbaca dari indikator relative strength index (RSI) yang overbought," ujar Felix.

Dia mengatakan, arah pelemahan saham APEX terlihat pula dari indikator lain, seperti stochastic oscillator yang juga sudah overbought. "Jadi, saham ini berpeluang terkoreksi setelah menguat," imbuhnya.

Kendati demikian, lanjut Felix, secara fundamental saham Apexindo Pratama masih menjanjikan, karena kinerja perusahaan diperkirakan kembali positif tahun ini. Laba bersih perseroan pada 2005 diprediksi mencapai Rp 3,06 miliar.

Felix menambahkan, pertumbuhan earning per share (EPS) saham APEX diperkirakan juga bergerak positif menjadi Rp 2 dari tahun sebelumnya yang minus Rp 15. Namun, valuasi saham APEX cukup mahal dibanding emiten sejenis, karena price to earning ratio (PER) mencapai 350 kali, dengan price to book value (PBV) 1,9 kali. "Sedangkan PER ENRG (Energi Mega Persada, red) baru 31,74 kali dan PBV 14,04 kali," jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil juga mengatakan, dari sisi teknis saham APEX berpeluang terkoreksi pada perdagangan jangka pendek, karena indikator stochastic oscillator sudah overbought. "Saham ini berpeluang turun, meskipun volume transaksi dari hari ke hari terus naik," ujarnya.

Mustafa mengatakan, indikator teknis lain seperti RSI untuk 10 hari juga menunjukkan saham Apexindo berpotensi terkoreksi. "Naiknya saham ini kemarin diperkirakan terpicu aksi pemain yang rajin mengumpulkan saham APEX," tambah dia.

Rekomendasi

Felix merekomendasikan wait and see saham APEX bagi pemain yang mengambil jangka pendek, menengah maupun panjang. "Support saham ini di level Rp 680 dan resistance pada Rp 700," ujarnya.

Sedangkan Mustafa merekomendasikan sell on strength saham minyak dan gas tersebut dalam jangka pendek. Tapi untuk jangka menengah dan panjang, dia menyarankan buy on weakness. "Support saham di level Rp 670 dan resistance pada Rp 700," jelasnya. (asp)

Wednesday, September 21, 2005

Fredriksen kuasai 30% saham Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: John Fredriksen, salah satu orang terkaya di dunia dan pemilik Seadrill Ltd, akhirnya menguasai 30% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk, anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk.

Pekan lalu, sang raja kapal tanker Fredriksen resmi masuk ke Apexindo melalui Abacus Capital Corp yang menjadi pembeli siaga dalam penerbitan saham baru (rights issue) perusahaan itu.

Presdir PT Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro membenarkan hal itu dan memastikan Medco masih memegang mayoritas saham perusahaan pengeboran lepas pantai itu.

"Masuknya John Fredriksen sudah disepakati pekan lalu dan mereka akan menguasai sekitar 30% saham Apexindo," ujarnya singkat akhir pekan lalu kepada Bisnis di sela-sela acara HUT ke-25 Medco .

Kini, Medco masih memiliki 77% saham Apexindo. Selain itu, 11% saham perusahaan pengeboran itu dimiliki publik dan selebihnya masih dipegang oleh perusahaan pendiri.

Sekretaris Perusahaan Medco Andy Karamoy menambahkan pasca masuknya Fredriksen, kepemilikan saham Medco di Apexindo akan merosot menjadi sekitar 52%.

Ade Satari, Sekretaris Perusahaan Apexindo, menjelaskan perseroan tidak mengetahui adanya kesepakatan itu karena proses tersebut terjadi di level pemegang saham.

"Kami hanya entitas yang akan melakukan rights issue dengan hak memesan efek terlebih dulu. Kalau ada kesepakatan, kami tidak mengetahui hal itu," ujarnya.

Pemegang saham Apexindo mempunyai waktu untuk menggunakan haknya dalam membeli saham baru yang akan diterbitkan 22-26 September.

Setelah itu, baru dapat diketahui jumlah pemegang saham yang memakai haknya dan yang tidak sehingga sisa saham baru yang tidak terserap bakal dibeli seluruhnya oleh Abacus Capital.

Perusahaan investasi itu nantinya mencari calon investor yang bersedia menanamkan dana di Apexindo melalui skema rights issue. Apexindo tidak mengetahui kesepakatan yang dibuat antara Seadrill dan Abacus.

"Apakah nanti nama Abacus atau lainnya yang muncul sebagai pemegang saham, kami belum mengetahui karena hal itu tergantung pada perjanjian antara Abacus dan Seadrill. Siapa saja investor yang masuk akan diketahui pada 29 September," tutur Ade.

Emiten pengeboran itu menetapkan harga penerbitan saham baru sebanyak 837,6 juta saham sebesar Rp550 per saham dengan rasio pemegang 25 saham lama berhak membeli12 saham baru. Dana yang bakal diperoleh Apexindo mencapai Rp460,68 miliar.

John Fredriksen adalah salah satu orang terkaya di dunia asal Norwegia yang mengoperasikan jaringan kapal tanker dari rumah mewah seharga 40 juta poundsterling di Chelsea, London.

Dia masuk dalam daftar orang terkaya dunia dengan nomor urut 66 tahun 2003 dan nilai kekayaannya saat itu lebih dari 1 miliar poundsterling.

Fredriksen meraih keberuntungan yang amat besar pada 1980-an ketika terjadi perang Iran-Irak karena armada kapal tankernya berani mengambil risiko tinggi mengangkut minyak dari kedua negara itu namun dengan keuntungan besar.

Pemilik Frontline

Menurut laporan Sunday Times, Fredriksen memiliki saham di Frontline, perusahaan perkapalan yang terdaftar di Bursa New York.

Frontline inilah yang membeli dua kapal tanker Pertamina seharga US$180 juta dalam suatu proses penjualan yang kontroversial tahun lalu.

Fredriksen juga tercatat sebagai Chairman Frontline, perusahaan berbasis di Bermuda yang ikut dihukum Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) awal tahun ini dalam pembelian dua tanker Pertamina tersebut.

Dalam transaksi Apexindo, Fredriksen menggunakan Abacus Ltd, sebuah perusahaan khusus untuk keperluan akuisisi saham Apexindo. Dalam operasinya, Fredriksen memakai Seadrill, perusahaan berbasis di Bermuda dengan kapitalisasi pasar US$1,2 miliar.

Menurut rencana, dana hasil penerbitan saham baru itu untuk melunasi utang ke Medco Finance Overseas BV terkait dengan pendanaan bersama dalam rangka pembangunan Rig Raissa dan Rig Yanni yang bakal jatuh tempo pada 31 Desember 2008. Total dana yang diraih Apexindo diperkirakan mencapai Rp461 miliar.

Hingga akhir 2004, Apexindo tercatat memiliki total aset senilai Rp2,619 triliun dan nilai ekuitas sebesar Rp1,15 triliun.

Tahun lalu, kendati nilai penjualan mencapai Rp1,02 triliun atau naik signifikan dari Rp823 miliar tahun sebelumnya, perusahaan itu mencatat kerugian Rp27 miliar, sedangkan tahun sebelumnya untung Rp52,69 miliar.

Harga saham Apexindo kemarin ditutup di Rp680 per saham, naik dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Sejak penutupan transaksi pada 12 September, harga saham emiten pengeboran itu terus menanjak ke posisi Rp640 per saham pada penutupan 14 September.

Titik tertinggi harga saham anak perusahaan Medco itu pernah mencapai Rp725 per saham pada penutupan perdagangan 27 Juli setelah pada sesi akhir transaksi pada 20 Juli, saham itu masih di kisaran Rp574 per saham.

Pemegang saham Apexindo menyetujui rencana rights issue dalam rapat umum pemegang saham luar biasa yang digelar 6 September.

Perseroan melakukan rights issue untuk meningkatkan ekuitas dan memperbaiki rasio antara utang dan modal. (yosef.ardi@bisnis.co.id/wisnu. wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Yosef Ardi & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia