Wednesday, April 5, 2006

Apexindo Dibayangi Proyek yang Belum Jadi

JAKARTA, investorindonesia.com --- PT Apexindo Pratama (APEX) dibayangi oleh belum adanya kontrak yang sudah jadi, demikian Analis Danareksa Bonny Setiawan, yang menambahkan bahwa pihaknya telah merekomedasikan hold (tunggu) terhadap saham ini.

"Kami memproyeksikan utilisasi pengeboran darat dan laut lepas akan mencapai 54 % dan 93 % dengan kemungkinan akan melebihi. Hitungan NAV TP06 di Rp1.310 yang merefleksikan harga pembelian pengeboran baru dibayangi oleh belum adanya kontrak yang sudah jadi," jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, laba operasional terpotong hampir 50 % karena adanya kerugian di transaksi swap, tetapi secara operasional perusahaan sesuai proyeksi.

"Dengan harga yang sekarang, Apexindo masuk dalam rekomendasi hold," jelasnya. (ant)



Rugi Bersih Apexindo Bengkak 18,07%, Rp 43,12 Miliar

JAKARTA, investorindonesia.com --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) pada tahun yang berakhir 31 Desember 2005 menderita rugi bersih Rp 43,12 miliar, membengkak 18,07 % dari rugi bersih tahun sebelumnya Rp 36,52 miliar, demikian laporan keuangan tahunan perseroan di Jakarta, Selasa.

Disebutkan, kerugian terjadi terutama akibat membengkaknya beban lain-lain bersih perseroan, karena penjualan bersihnya masih meningkat dari Rp 1,02 triliun pada 2004 menjadi Rp 1,13 triliun pada 2005.

Laba operasional perseroan juga bertambah dari sebelumnya Rp 163,17 miliar menjadi Rp 279,51 miliar, namun dalam waktu bersamaa jumlah beban lain-lain bersih perseroan lebih besar dan membengkak dari Rp 203,03 miliar menjadi Rp 337,88 miliar, sehingga mengalami rugi.

Rugi bersih per saham (EPS) perusahaan operator rig minyak ini, juga meningkat dari semula Rp 19,71 menjadi Rp 21,21. (ant)

Summary: PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) pada tahun yang berakhir 31 Desember 2005 menderita rugi bersih Rp 43,12 miliar, membengkak 18,07 % dari rugi bersih tahun sebelumnya Rp 36,52 miliar, demikian laporan keuangan tahunan perseroan di Jakarta, Selasa.

Tuesday, April 4, 2006

Sewa “Rig” Terus Meningkat

Asosiasi Pengeboran Minyak Indonesia (APMI) memperkirakan harga sewa anjungan pengeboran minyak (rig) lepas pantai akan terus bergerak naik pada waktu mendatang. Ketua Umum APMI Bambang Purwohadi di Jakarta pekan lalu mengatakan, kenaikan harga sewa rig itu terutama dipicu tingginya permintaan menyusul melonjaknya harga minyak dan kerusakan rig lepas pantai pascabadai Katrina di Teluk Meksiko beberapa waktu lalu. Ia mencontohkan, rig lepas pantai jenis jack up yang sebelumnya hanya 75.000 dollar AS per hari mengalami kenaikan sewa lebih dari dua kali lipat menjadi 150.000-200.000 dollar AS/hari. Padahal, tahun 1985 saat harga minyak 20 dollar per barrel, sewa rig hanya sekitar 12.000 dollar/hari. Kenaikan sewa rig akan terus berlanjut jika harga minyak masih berada di atas 50 dollar AS per barrel. (ANTARA)

Sewa rig offshore akan terus naik

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Asosiasi Pengeboran Minyak Indonesia (APMI) memperkirakan harga sewa rig lepas pantai (offshore) akan terus bergerak naik pada tahun-tahun mendatang.

Ketua Umum APMI Bambang Purwohadi mengatakan, kenaikan harga sewa rig tersebut terutama dipicu tingginya permintaan menyusul melonjaknya harga minyak dan kerusakan rig lepas pantai pascabadai Katrina di Teluk Meksiko beberapa waktu lalu.

Dia mencontohkan, rig lepas pantai jenis jack up yang sebelumnya hanya US$75.000 per hari mengalami kenaikan sewa lebih dari dua kali lipat menjadi US$150.000 hingga US$ 200.000 per hari.

Padahal, pada 1985 saat harga minyak US$20 per barel, sewa rig lepas pantai hanya sekitar US$12.000 per hari. Namun, kenaikan sewa rig tersebut tidak berlaku pada lapangan darat (onshore).

"Meski harga minyak naik, namun sewa rig darat tidak terlalu terpengaruh mengingat tingkat suplai rig darat yang cukup banyak sekarang ini," katanya.

Termasuk, lanjutnya, Blok Cepu yang berada di darat tidak akan menemui masalah dalam memperoleh rig.

Bambang melanjutkan, kenaikan harga sewa rig lepas pantai akan terus berlanjut jika harga minyak masih berada di atas US$50 per barel.

Dia juga mengatakan, sekarang ini, pusat permintaan rig lepas pantai bergerak ke Amerika Latin dan Afrika Barat menyusul banyaknya perusahaan migas berekspansi ke dua wilayah tersebut.

Penguatan Saham Apexindo Terbatas

JAKARTA, investorindonesia.com --- Penguatan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan terbatas. Secara teknis, posisi saham sudah jenuh beli (overbought) dan rawan koreksi. “Penguatan saham pertambangan itu lebih terdorong faktor fundamental,” kata analis PT Meridian Capital Indonesia M Habdi kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (29/3). Pada hari terakhir perdagangan Maret, APEX menguat Rp 130 ke posisi Rp 1.330. Saham perusahaan pertambangan itu ditransaksikan 520 kali, dengan volume transaksi sebanyak 12,58 juta saham senilai Rp 16,16 miliar.

Menurut Habdi, indikator Williams%R (W%R) menunjukkan saham Apexindo Pratama berpotensi terkoreksi dalam waktu dekat, karena posisinya overbought. Indikator teknis lain seperti relative strength index (RSI) turut menunjukkan pola serupa. “Jadi, ketika perdagangan pagi dibuka, APEX menguat dan menjelang penutupan cenderung terkoreksi,” jelasnya.

Meskipun secara fundamental APEX tetap menjanjikan, valuasi saham termasuk mahal dibanding saham sejenis, karena price to earning ratio (PER) sudah 665 kali dan price to book value (PBV) 2,32 kali. Sedangkan PER Aneka Tambang hanya 9,21 kali, dengan PBV 3,01 kali. “Tapi ketika kinerjanya membaik, PER-nya akan kembali murah, apalagi PBV masih cukup bagus,” jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, APEX diprediksi masih menguat karena ditunjang faktor fundamental yang bagus. Selain itu, dari sisi teknis, harga saham Apexindo berusaha menuju target di level Rp 1.550. “Bila membaca dari beberapa indikator yang ada, saham Apexindo akan kembali menguat sebelum mengalami koreksi,” ujarnya.

Analis dari sebuah perusahaan efek lokal menambahkan, pada awal Maret 2006, seiring positifnya prospek industri pertambangan, saham-saham di sektor ini menunjukkan tren bullish. Bahkan, dengan potensi kenaikan harga minyak dunia, kegiatan eksplorasi juga akan berkembang. “Kondisi tersebut akan memicu masuknya foreign direct investment (FDI),” kata dia.

Margin EBITDA

Sementara itu, manajemen Apexindo Pratama Duta menargetkan margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) 2006 sebesar 50%, naik dibanding 2005 yang mencapai 42%. Selain itu, perseroan memperkirakan dapat mengurangi biaya bunga sebesar US$ 4,5 juta menjadi US$ 6,5-7 juta pada 2006 dibanding 2005 US$ 11 juta. Demikian diungkapkan Direktur Keuangan Epexindo Agustinus B Lomboan kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Optimisme itu terkait kenaikan harga sewa harian atas perpanjangan kontrak dua rig jenis submersible swamp barge bernama Raisis dan Yani serta rig jack-up Ranirowo. Di sisi lain, permintaan rig jack-up di dunia saat ini cukup tinggi seiring meningkatnya eksplorasi dan produksi perusahaan-perusahaan energi.

"Kontribusi segmen lepas pantai diharapkan terus meningkat, sehingga menjadi faktor utama pendukung pertumbuhan pendapatan perseroan 2006,” kata dia. Dengan efisiensi biaya yang selalu dilakukan, Apexindo optimistis, tingkat profitabilitas bisa terus ditingkatkan.

Namun, Agustinus belum bersedia menyebutkan dampaknya terhadap perolehan laba bersih 2006. Hingga kuartal III 2005, pendapatan perseroan tercatat Rp 798,93 miliar atau naik 6% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 755,63 miliar. Selain kenaikan dayrate di sejumlah rig, posisi marjin EBITDA terangkat karena Apexindo telah merevisi sejumlah pos biaya pada tahun ini. Biaya-biaya itu antara lain, biaya angkutan, akuntan, dan kru pengeboran. Per 30 September 2005, EBITDA perseroan naik 27% menjadi Rp 324,53 miliar dari sebelumnya Rp 255,07 miliar. Kenaikan terbesar terjadi pada kuartal III dengan sumbangan EBITDA sebesar Rp 129,68 miliar.

“Sehingga posisi laba bersih 2006 kami perkirakan di atas US$ 10 juta,” ujar Agustinus. Beban bunga perseroan akan jauh berkurang sebagai akibat pengembalian hasil rights issue kepada perusahaan induk PT Medco Energi International Tbk. Total nilai pengembalian mencapai US$ 50 juta yang dicicil US$ 5 juta (11%) per tahun.

Rekomendasi

M Habdi merekomendasikan sell on strength APEX untuk investor jangka pendek. Namun, untuk jangka menengah maupun panjang dia menyarankan wait and see. “Support saham ini di level Rp 1.320 dan resistance pada posisi Rp 1.370,” ujarnya.

Sedangkan Mustafa juga merekomendasikan sell on strength pada saham yang berbisnis di industri minyak dan gas tersebut untuk pemodal yang bermain harian. Namun, untuk jangka menengah dan panjang, dia menyarankan buy on weakness, karena masih memiliki kinerja yang menjanjikan. “Support pertama APEX di posisi Rp 1.300 dan kedua Rp 1.275. Kemudian, resistance pertama Rp 1.420 dan kedua Rp 1.550,” jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: menguat dibayangi profit taking

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per September 2005, pendapatan Rp 798,93 miliar, naik 6% dibanding periode sama 2004 sebesar Rp 755,63 miliar

PER: 665 kali, PBV: 2,32 kali

Teknis

RSI: overbought

W%R: overbought

Rekomendasi

M Habdi:

Jangka pendek: sell on strength

Jangka menengah-panjang: wait and see

Support: Rp 1.320, resistance: Rp 1.370

Mustafa Kamil:

Jangka pendek: sell on strength

Jangka menengah-panjang: buy on weakness

Support: pertama Rp 1.300, kedua Rp 1.275

Resistance: pertama Rp 1.420, kedua Rp 1.550

Thursday, March 30, 2006

Apexindo Bangun Rig Seharga USD 137 Juta

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kontraktor pengeboran minyak PT Apexindo Pratama Duta Tbk. tengah membangun sebuah rig jackup baru senilai USD 137 juta. Rig yang akan dinamakan Soehanah itu sedang digarap di galangan kapal PTL Shipyard Sembawang, Singapura.

"PTL menjanjikan (selesai) awal Januari 2007," kata Sekretaris Perusahaan Apexindo, Ade Satari, ketika dihubungi Tempo di Jakarta kemarin sore. Pembiayaannya, 20 persen dari kas internal Apexindo sebagai uang muka pada awal 2005. Sisanya dibayar ketika PTL mengantarkan rig.

Apexindo masih mencari pihak yang ingin membiayai 80 persen biaya pembuatan rig. Beberapa calon investor dari dalam dan luar negeri tengah mendekati, tapi Ade merahasiakannya. "Lebih banyak dari luar negeri." Soehanah adalah rig jack up kedua Apexindo setelah rig Raniworo. Plus Soehanah, Apexindo memiliki total 15 rig.

Ibnu Rusydi

Wednesday, March 29, 2006

Laba Bersih PGN Melonjak

Jakarta, Kompas - PT Perusahaan Gas Negara Tbk membukukan lonjakan laba bersih setinggi 82 persen pada tahun buku 2005, dari Rp 388 miliar pada tahun 2004 menjadi Rp 862 miliar. Pendapatan PGN meningkat 22 persen atau Rp 076 miliar, menjadi Rp 5,4 triliun, diikuti peningkatan laba usaha sebanyak 56 persen menjadi Rp 1,6 triliun. Lonjakan laba bersih tersebut menghasilkan perubahan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) menjadi 60:40 dari posisi tahun sebelumnya yang 65:35.

Kepala Peneliti Ekuitas AAA Securities Arianto Reksoprodjo di Jakarta, Senin (27/3), mengatakan, lonjakan pendapatan dan laba bersih PGN tersebut sudah sewajarnya terjadi karena tahun lalu perusahaan telah dua kali menaikkan harga. Menurut Arianto Reksoprodjo, PGN ke depan masih prospektif karena saat ini sedang membangun beberapa infrastruktur baru yang akan menjadi pendorong pendapatan dia di masa depan.

"Pemakaian gas alam untuk pemenuhan kebutuhan energi juga tumbuh pesat, terutama setelah harga bahan bakar minyak naik tinggi per Oktober tahun lalu," katanya.

Menurut Direktur Keuangan PGN Djoko Pramono, dari peningkatan pendapatan sebesar Rp 976 miliar tersebut, sebanyak Rp 671 miliar berasal dari bisnis distribusi gas dan Rp 305 miliar berasal dari bisnis transmisi gas. Djoko mengakui, PGN memang mengalami kendala pasokan di wilayah Jawa Timur. Akan tetapi, volume penjualan distribusi meningkat tujuh persen, dari 288 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) jadi 308 MMSCFD.

Kenaikan tersebut berasal dari ekspansi jaringan distribusi di Batam dan Pekanbaru serta peningkatan volume penjualan baik di Jawa bagian barat maupun Sumatera. Adapun dari bisnis transmisi, volume gas yang diangkut juga meningkat sebesar 27 persen menjadi 602 MMSCFD. Kenaikan terbesar diperoleh dari jalur pipa transmisi Grissik- Singapura yang meningkat 92 persen, dari 92 MMSCFD menjadi 177 MMSCFD.

Perusahaan berhasil memperoleh pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp 2,175 triliun dan mencatatkan EBITDA marjin 40 persen.

Apexindo

Sementara itu, PT Apexindo Pratama Duta Tbk melaporkan telah menandatangani kontrak jasa pengeboran dengan Santos (Sampang) Pty Ltd untuk pekerjaan pengeboran jangka panjang di lepas pantai Madura. Pengeboran yang diperkirakan akan dimulai pada kuartal terakhir 2006 ini akan dikerjakan oleh anjungan pengeboran lepas pantai (rig) jenis jack up bernama Raniworo.

Pekerjaan akan dilakukan selama tiga tahun dan di dalamnya terdapat alternatif perpanjangan. Nilai kontrak ini mencapai sekitar 170 juta dollar AS. "Kami merasa gembira karena ini merupakan kontrak dengan nilai terbesar dalam sejarah perseroan. Pencapaian ini sejalan dengan strategi perseroan yang memfokuskan diri pada proyek-proyek pengembangan cadangan-cadangan besar berjangka panjang," kata Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisatro.

Saat ini kecenderungan permintaan jasa rig jenis jack up di dunia sangat tinggi, seiring dengan meningkatnya kegiatan eksplorasi dan produksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan minyak dan gas. Padahal, tingkat utilisasi armada rig jenis jack up dunia saat ini telah maksimum dan suplai dari produksi rig jack up baru sangat terbatas. Hal itu memicu kenaikan harga sewa harian rig jack up secara signifikan. (ANV)

Apexindo raih kontrak US$170 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk menandatangani kontrak jasa pengeboran senilai US$170 juta dengan Santos (Sampang) Pty Ltd untuk pekerjaan pengeboran jangka panjang di Laut Jawa, Madura, Indonesia yang akan dimulai kuartal terakhir 2006.

Pekerjaan pengeboran tersebut akan dikerjakan oleh rig jack up Apexindo, Raniworo dan akan berlangsung untuk periode tiga tahun, termasuk dengan opsi perpanjangan.

Dirut Apexindo Hertriono Kartowisatro mengungkapkan kontrak itu adalah kontrak terbesar dalam sejarah perusahaannya.

"Pencapaian ini sejalan dengan strategi perseroan yang memfokuskan diri pada proyek-proyek pengembangan cadangan-cadangan besar berjangka panjang" ujarnya dalam siaran pers yang diterima Bisnis, kemarin.

Dia menjelaskan tren permintaan rig jack up di dunia saat ini cukup tinggi, seiring dengan meningkatnya kegiatan eksplorasi dan produksi yang dilakukan oleh perusahaan migas.

Armada jack up dunia saat ini, katanya, telah berada pada tingkat utilisasi maksimum dan suplai dari produksi jack up baru sangat terbatas.

"Kondisi ini tentu memicu kenaikan harga sewa harian jack up dengan sangat signifikan," tambah Agustinus B. Lomboan, Direktur Keuangan PT Apexindo. (Bisnis/bdd)

Apexindo gets $170m contract

Jakarta, The Jakarta Post: Publicly listed PT Apexindo Pratama Duta, an oil, gas and geothermal contractor, announced Monday that it had secured a three-year drilling contract from Santos (Sampang) Pty Ltd worth US$170 million.

In a press statement, the company said the drilling roject located in the Java Sea, was expected to commence in the last quarter of this year. A Raniworo jack-up rig would be employed.

“We are delighted to have been able to obtain this contract. It is the largest contract in the company’s history,” said Hertriono Kartowisasatro, Apexindo’s president.

The Company said that the demand for jack-up rigs worlwide would continue to increase amid higher oil exploration and production in line with higher energy demand. – JP

Apexindo Dapat Kontrak Baru US$ 170 Juta

JAKARTA, Investor Daily Online --- Perusahaan pengeboran minyak PT Apexindo Pratama Duta Tbk. telah menandatangani Kontrak Jasa Pemboran dengan Santos (Sampang) Pty. Ltd. (Santos) untuk pekerjaan pemboran jangka panjang di Laut Jawa, Madura, Indonesia.

"Pekerjaan pemboran yang diperkirakan akan dimulai pada kwartal terakhir 2006 ini akan dikerjakan oleh rig jack up Apexindo, Raniworo, dan akan berlangsung untuk periode tiga tahun, termasuk dengan opsi perpanjangan. Kontrak Apexindo ini memiliki nilai sekitar US$ 170 juta," kata Dirut Apexindo, Hertriono Kartowosastro, di Jakarta, Selasa. "Kami merasa gembira mendapatkan kontrak dengan nilai kontrak terbesar dalam sejarah Perseroan. Terlebih mengingat jangka waktu kontrak ini yang cukup panjang, yaitu sekitar tiga tahun,” kata dia.

Ia menambahkan, pencapaian ini sejalan dengan strategi Perseroan yang memfokuskan diri pada proyek-proyek pengembangan cadangan-cadangan besar berjangka panjang. Tren permintaan akan rig jack up di dunia saat ini cukup tinggi, seiring dengan meningkatnya kegiatan eksplorasi dan produksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan minyak dan gas, katanya.

Armada jack up dunia saat ini telah berada pada tingkat utilisasi maksimum dan suplai dari produksi jack up baru sangat terbatas. Kondisi ini tentu memicu kenaikan harga sewa harian jack up dengan sangat signifikan, katanya menambahkan.

Sementara itu Direktur Keuangan Apexindo, Agustinus B. Lomboan, menjelaskan, penandatanganan kontrak ini merupakan suatu keberhasilan besar yang didapat Perseroan, untuk mendapatkan kontrak jangka panjang beserta harga sewa harian baru yang tinggi.

"Apabila dibandingkan dengan harga sewa harian Rig Raniworo pada kontrak-kontrak sebelumnya, Raniworo saat ini berada pada posisi keuangan yang sangat menguntungkan dan kami berharap bahwa kondisi ini akan membuat Pendapatan dan marjin keuntungan Perseroan meningkat signifikan, yang secara efektif akan dibukukan pada 2007," ujarnya. (ant)