
Wednesday, June 28, 2006
Tuesday, June 27, 2006
Pendapatan Apexindo diprediksi naik
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Pendapatan PT Apexindo Pratama Duta Tbk diperkirakan meningkat, menyusul penandatanganan kontrak baru senilai US$22,3 juta yang berasal dari Star Energy Holdings Pte Ltd dan Magma Nusantara Limited.
Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan kontrak kerja Apexindo yang berlokasi di Pengalengan, Jawa Barat akan dimulai pada Agustus 2006. Melalui perjanjian tersebut, emiten pengeboran itu bekerja mendukung pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Wayang Windu.
"Kontrak yang didapatkan tersebut akan meningkatkan utilisasi rig darat perseroan dan tentunya akan mendukung peningkatan pendapatan, terlebih lagi harga sewa harian yang didapatkan dari perjanjian ini lebih baik dibandingkan sebelumnya," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Bisnis kemarin.
Menurut dia, kontrak baru itu akan membantu perseroan untuk meningkatkan pendapatan dan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.
Rig lima Apexindo, kata dia, akan mengerjakan proyek pengeboran untuk jangka waktu minimal selama satu tahun dengan opsi perpanjangan.
Rig lima saat ini masih bekerja untuk joint operating body Pertamina-Amerada Hess Jambi Merang di Jambi dan segera setelah menyelesaikan kegiatan pemboran tersebut, rig tersebut akan dimobilisasi untuk memulai proyek pemboran panas bumi di Jawa Barat.
Apexindo melihat potensi panas bumi sebagai salah satu alternatif sumber energi yang saat ini terus dikembangkan. Bisnis pengeboran panas bumi merupakan kesempatan yang baik bagi manajemen untuk mengembangkan usaha, mengingat kompetensi perusahaan di bidang pengeboran, dan kemampuan memenuhi standar kualitas dan keselamatan internasional.
Sebelumnya, Apexindo juga telah memiliki pengalaman mengerjakan pengeboran panas bumi untuk Unocal Geothermal Indonesia, Karaha Bodas Co., PLN Geothermal Flores, dan terakhir untuk PLTP Gunung Salak yang dikelola oleh Chevron Geothermal Ltd. dengan menggunakan armada Rig 4 milik perseroan.
Namun demikian, kata dia, perseroan tetap selektif dalam memilih proyek-proyek panas bumi yang ada. Apexindo memprioritaskan bekerjasama dengan klien-klien potensial yang sudah memiliki reputasi baik di bidang eksplorasi panas bumi.
"Perseroan selalu berupaya mendapatkan proyek besar dari para pemilik konsensi dan komitmen jangka panjang. Di lain pihak, Apexindo juga selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada para pelanggan kami dan mengutamakan tingkat pengoperasian yang aman dan sangat baik," tutur Hertriono.
Oleh Rahayuningsih
Bisnis Indonesia
Labels: Kontrak Pengeboran
Apexindo Raih Kontrak USD22,3 Juta
Jakarta, Seputar Indonesia – PT Apexindo Pratama Duta Tbk mendapatkan kontrak baru senilai USD22,3 juta dari Star Energy Holdings Pte Ltd dan Magma Nusantara Limited, yang merupakan pengembang utama energi panas bumi di Indonesia. Demikian dipublikasikan perseroan, kemarin.
Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan, kontrak kerja Apexindo itu akan dimulai sekitar Agustus 2006 yang berlokasi di Pangalengan, Jawa Barat. Rig 5 Apexindo akan mengerjakan proyek pengeboran ini untuk jangka waktu minimal selama satu tahun dengan opsi perpanjangan.
Kontrak geothermal ini membuat Rig 5 Apexindo bekerja maksimal pada tahun ini. Saat ini, Rig 5 masih bekerja untuk JOB Pertamina-Amerada Hess Jambi Merang di Jambi. Setelah menyelesaikan kegiatan pengeboran tersebut, Rig 5 segera dimobilisasi untuk memulai proyek penegboran panas bumi di Jawa Barat. (rakhmat)
Labels: Kontrak Pengeboran
Thursday, June 8, 2006
Ketika India Menggoda Panigoro
Kontan --- ALCO, perusahaan pengeboran minyak asal India, mengajukan penawaran untuk membeli 51,97% saham PT Apexindo, yang dimiliki PT Medco Energi. Hingga kini Medco belum menyikapi penawaran itu.
PT Medco Energi Internasional Tbk (ENRG) akan melego PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX). Akhir Mei lalu, kabar itu tiba-tiba menyeruak di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Kaget? Tentu saja. Sebab sebagai anak perusahaan Medco, selama ini Apexindo memberikan sumbangan keuntungan lumayan. Sampai dengan akhir triwulan I 2006, misalnya, Apexindo telah membukukan keuntungan Rp 149,4 miliar (lihat tabel). Selain itu, saat ini bisnis penyewaan rig yang digeluti Apexindo juga tengah berkembang pesat.
Tapi kabar itu bukannya mengada-ada lho. Pasalnya, seperti dirilis situs www.rigzone.com (18 Mei 2006), sebuah perusahaan minyak asal India bernama Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (ALCO) memang mengaku mengajukan penawaran untuk membeli 1,35 miliar atau 51,97% saham Apexindo yang sekarang dikuasai Medco. Tujuan akusisi ini adalah sebagai sarana investasi jangka panjang (strategic investment) bagi ALCO.
Berita ini klop dengan pernyataan yang disampaikan manajemen Medco, Hilmi Panigoro, Direktur Utama Medco, mengakui pihaknya memang telah menerima penawaran dari ALCO. “Sebagai perusahaan publik, kalau menerima tawaran itu hal yang biasa. Ini artinya minat investor di bidang minyak sangat tinggi, “ ujar Hilmi. Tapi kata Hilmi, Medco saat ini belum memutuskan untuk menerima atau menolak tawaran ALCO tersebut. “Kita belum berencana menjualnya. Kita sedang melakukan evaluasi sekarang,” imbuh Hilmi.
Nilainya bisa mencapai Rp 1,9 triliun
Meskipun rencana akuisisi itu masih belum pasti, para analis dan investor saham sudah mulai sibuk menghitung dampak akuisisi itu terhadap saham Apexindo. Ancang-ancang ini bukan tanpa alasan. “Sepertinya Medco ingin lebih fokus ke eksplorasi minyak, bukan penyewaan rig,” kata Ryan Ariadi Suwarno, analis Dongsuh Kolibindo. Eksplorasi minyak selama ini dikenal sebagai bisnis yang sangat padat modal. Apalagi Medco saat ini mengincar beberapa ladang minyak di Timur Tengah.
Jika Medco menjual saham Apexindo, tentu ia bakal mengantongi dana segar yang lumayan besar. Menurut hitungan KONTAN, berpatokan pada harga saham APEX saat ini (5/6) yang sekitar Rp 1.370 per saham, total duit yang bakal dikantongi bisa mencapai sekitar Rp 1,9 triliun.
Memang sih, jika akusisi benar-benar terjadi, prosesnya bakal membutuhkan waktu lumayan lama. “Biasanya tahap ini butuh waktu satu hingga tiga bulan,” ujar Andrey Wijaya, analis Kim Eng Securities. Tapi seperti biasa, investor dan analis memang selalu ingin bergerak mendahului peristiwa yang sebenarnya.
Nah menurut para analis, masuknya ALCO sebagai pemegang saham akan banyak membawa dampak positif bagi Apexindo. Soalnya selama ini ALCO mempunyai banyak proyek pengeboran minyak di negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. APEX tentu bisa kecipratan rezeki dari proyek-proyek itu. Bahkan kedua perusahaan ini dan saling tukar teknologi rig baik itu yang ada di lepas pantai (offshore) maupun di darat (onshore).
Bakal ada tender offer
Yang menarik, jika akuisisi itu benar-benar terjadi, ALCO otomatis juga bakal membeli sisa saham Apexindo di pasar melalui mekanisme tender (tender offer). Soalnya, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) mewajibkan setiap perusahaan yang membeli saham di atas 25% untuk melakukan tender offer di pasar.
Berapa harga tender offernya? Berpatokan harga tertinggi dalam tiga bulan terakhir, Andrey menghitung harga tender offer itu bisa mencapai Rp 1.850 per saham. Harga segitu jelas menggiurkan, mengingat belakangan ini harga saham APEX cenderung merosot. Terakhir (5/6), ia diperdagangkan di kisaran harga Rp 1.370 per saham.
Melihat prospek itu, jangan heran jika N. Jaganathan, Kepala Analis Eficorp Securities, menyarankan agar investor yang telah memiliki saham APEX tetap mengempitnya (hold). Rekomendasi yang sama juga disampaikan oleh Mustafa Kamil, analis Philips Securities. Ya, hitung-hitung sambil menunggu kepastian soal rencana masuknya ALCO tadi.
Sementara itu, investor yang belum memilikinya masih bisa mengoleksi saham APEX ini. Mumpung ada berita yang bisa mendongkrak harganya. Andrey menghitung, harga saham APEX masih memiliki peluang untuk menguat sampai sekitar Rp 1.750 per saham.
Cuma, sedikit catatan, saham APEX ini dikenal kurang likuid. Pasalnya, jumlah saham yang beredar sangat terbatas, yakni Cuma 7,9%. Jadi, untuk membelinya, investor harus berusaha ekstra keras. Selain itu, jika telah memilikinya, sebaiknya investor juga hanya menyimpannya sampai masa tender offer saja – tentu saja jika proses akuisisi benar-benar terjadi. Pasalnya, pasca tender offer bisa dipastikan bahwa jumlah saham APEX yang ada di pasar akan semakin kering. Ujung-ujungnya, saham APEX hanya akan menjadi saham tidur dan membuat duit investor terjebak di dalamnya.
Kinerja PT Apexindo Pratama Duta Tbk
(dalam miliar rupiah)
| | Triwulan I (2005) | Triwulan II (2006) |
| Penjualan Bersih | 273,8 | 300,1 |
| Laba Usaha | (8,3) | 204,2 |
| Laba Bersih | (4,6) | 149,4 |
Sumber: Riset KONTAN
Labels: Divestasi Apexindo
Tuesday, June 6, 2006
Apexindo akan catatkan saham ESOP
JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk akan mencatatkan sebanyak 27.500 saham baru hasil konversi employee stock ownership plan (ESOP) di BEJ pada hari ini.
Berdasarkan surat dari Biro Administrasi Efek PT Datindo Entrycom kepada otoritas BEJ pada 2 Juni lalu, emiten penyewaan rig untuk pengeboran migas tersebut telah melaksanakan ESOP sebanyak 27.500 sahamnya.
Kadiv Pencatatan Sektor Riil BEJ Yose Rizal dan Kadiv Perdagangan Supandi menyatakan dengan ESOP tersebut maka saham Apexindo yang tercatat di BEJ seluruhnya berjumlah 2.610.312.500 saham.
Sedangkan ESOP Apexindo yang belum dikonversi jumlahnya setara dengan 49.537.500 saham. (Bisnis/pul)
Labels: ESOP
Wednesday, May 31, 2006
ALCO negosiasi beli saham Apexindo
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (ALCO) telah memulai negosiasi dengan Asian Opportunities Fund I dan CLSA Ltd, sebagai pemegang saham penjual, pada 26 Mei untuk membeli 835 juta saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Jakarta disebutkan jumlah saham itu sekitar 32,152% dari jumlah seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh Apexindo. Pembelian saham Apexindo itu adalah investasi strategis.
ALCO, yang dibantu penasihat PT HSBC Securities Indonesia, adalah suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum negara India dan bergerak di bisnis offshore drilling rigs dan jasa pengeboran. Saham ALCO juga tercatat di bursa efek India. (Bisnis/wiw)
Labels: Divestasi Apexindo
Tuesday, May 23, 2006
Negosiasi Pemilik Baru Apexindo
JAKARTA, Koran Tempo - PT Apexindo Duta Pratama Tbk. melaporkan negosiasi PT Medco Energi Internasional Tbk. dengan Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (India), investor yang berminat membeli 51,97 persen saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk., tengah berlangsung.
Presiden Direktur Apexindo Duta Pratama Hertriono Kartowisastro dalam suratnya kepada Bursa Efek Jakarta menjelaskan pihaknya telah menerima surat tertulis dari Medco, sebagai pemegang saham pengendali, tentang proses negosiasi tersebut. Menurut dia, perusahaan pengeboran minyak lepas pantai asal India itu berminat mengambil alih seluruh saham Medco di perseroan.
Seperti dilansir Reuters, Aban menyatakan kesiapan membeli saham perusahaan milik pengusaha Arifin Panigoro itu. Rencana Medco untuk melepas Apexindo sejatinya telah tersiar sejak April lalu. Ketika itu, Presiden Direktur Medco Hilmi Panigoro mengatakan perseroan siap melepas kepemilikan saham Apexindo karena bidang usaha Apexindo bukan merupakan bisnis inti Medco. "Tentunya pelepasan itu akan dilakukan jika ada tawaran yang menarik," katanya. Setri
Labels: Divestasi Apexindo
Monday, May 22, 2006
Medco Belum Bahas Tawaran Peminat Apexindo
Jakarta, Koran Tempo --- PT Medco Energi Internasional Tbk. mengaku sudah menerima tawaran Aban Loyd Chiles Offshore Ltd., yang berencana mengakuisisi 51,97 persen saham unit usahanya, PT Apexindo Pratama Duta Tbk.
JAKARTA -- PT Medco Energi Internasional Tbk. mengaku sudah menerima tawaran Aban Loyd Chiles Offshore Ltd., yang berencana mengakuisisi 51,97 persen saham unit usahanya, PT Apexindo Pratama Duta Tbk.
Namun, menurut Sekretaris Perusahaan Medco Energi Andy Karamoy, tawaran itu hingga saat ini belum menghasilkan kesepakatan apa-apa. Pasalnya, penawaran yang diberikan perusahaan asal India itu dinilai kurang menarik.
"(Penawarannya) kurang menarik, jadi nggak diapa-apain," kata Andy kepada Tempo sambil menolak menjelaskan nilai penawaran yang disampaikan Aban Loyd.
Seperti dilansir Reuters akhir pekan lalu, eksekutif perusahaan pengeboran lepas pantai India itu menyampaikan kesiapannya mengambil mayoritas saham unit usaha perusahaan milik pengusaha Arifin Panigoro yang bergerak di bidang pengeboran minyak lepas pantai tersebut.
Sebenarnya kabar Medco akan melepas Apexindo telah berembus sejak April lalu. Saat itu Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro mengatakan perseroan akan menjual sahamnya di anak perusahaan yang bergerak di kontraktor pengeboran itu. Walau sewa peralatan pengeboran sedang bagus, kata Hilmi, jenis usaha Apexindo bukanlah core business perseroan. "Jika harganya bagus, bisa saja melepas saham di Apexindo. Tapi sampai saat ini belum ada pembicaraan formal," kata Hilmi.
Maret lalu, Apexindo membangun sebuah rig jack up baru senilai US$ 137 juta di galangan kapal PTL Ship Yard Sembawang, Singapura. Pembiayaan pembuatan rig baru itu 20 persennya diambil dari kas internal. "Sudah dibayarkan awal 2005 sebagai uang muka," kata Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade Satari. Sisanya akan dibayarkan saat PTL mengantarkan rig itu.
Apexindo berencana menggaet investor-investor itu untuk membentuk konsorsium pendanaan, yang totalnya mencapai US$ 120 juta. Kontrak untuk rig yang akan bernama Soehanah itu bahkan sudah ditawarkan di beberapa tempat. Rig Soehanah adalah rig jack up kedua Apexindo setelah Raniworo. Suliyanti Pakpahan
Labels: Divestasi Apexindo
Thursday, May 18, 2006
Aban Loyd Chiles to Buy Stake in PT Apexindo
Rigzone.com, Aban Loyd Chiles 5/18/2006 --- Aban Loyd Chiles Offshore Ltd has commenced negotiations to acquire 1,352,873,106 (one billion three hundred and fifty two million eight hundred and seventy three thousand one hundred and six) issued and paid up shares (the "Shares") in PT Apexindo Pratama Duta Tbk. (the "Target Company") from PT Medco Energi Internasional Tbk. ("Medco"). The Shares constitute approximately 51.97% of the issued and paid up shares of the Target Company.
ALCO is a company incorporated in India and having its registered office at Janpriya Crest, 113, Pantheon Road, Egmore, Chennai 600 008, India. ALCO is engaged in the business of owning offshore drilling rigs and providing offshore drilling services. ALCO's equity shares are listed on the stock exchanges in India.
The purpose of the proposed acquisition is for strategic investment.
Negotiation will be done pursuant to advice from our financial advisor. Matters to be discussed during the negotiation will cover the terms and conditions of the acquisition, including the price, the rights and obligations of the parties, and the procedures for completion of the acquisition.
Labels: Divestasi Apexindo
Wednesday, May 10, 2006
S&P Revisi “Outlook” PT Medco Energi Internasional
Jakarta, Kompas --- Lembaga pemeringkat Strandard & Poor’s merevisi outlook untuk PT Medco Energi Internasional dari negatif menjadi stabil. Peringkat kredit perusahaan masih B plus. Sementara untuk obligasi 170 juta dollar AS yang hendak diterbitkan Medco CB Finance BV, S&P memberikan peringkat B plus. Adapun perusahaan minyak lainnya, PT Apexindo Pratama Duta yan juga anak perusahaan Medco, memperoleh kontrak jasa pengeboran darat dengan total nilai maksimum 1,874 juta dollar AS. Demikian, dikatakan Ade R Satari, Corporate Secretary Apexindo, di Jakarta, Selasa (9/5). (JOE)
Labels: Kontrak Pengeboran