Tuesday, August 1, 2006

Laba Bersih Gudang Garam Turun

Jakarta, Kompas - Laba bersih PT Gudang Garam Tbk pada semester I tahun ini turun sekitar 50 persen dari Rp 1,070 triliun pada semester I tahun 2005 menjadi Rp 545 miliar.

Anjloknya laba akibat peningkatan biaya pokok penjualan. "Biaya pokok penjualan timbul akibat meningkatnya beban cukai dan pajak pertambahan nilai akibat kenaikan cukai bulan Juli 2005 dan April 2006," kata Direktur yang juga Sekretaris Perusahaan Gudang Garam Heru Budiman, dalam pemaparan kepada publik di Indonesia Investor Forum, Senin (31/7) di Jakarta.

Secara keseluruhan produksi industri rokok keretek pada paruh pertama tahun 2006 ini mengalami penurunan 12 persen. Ini seiring dengan penurunan penjualan akibat berkurangnya daya beli yang dipicu kenaikan harga jual eceran serta harga bahan bakar minyak.

Pada semester I tahun 2005 volume produksi rokok keretek baik tangan maupun mesin sebesar 108,3 miliar batang. Sementara pada semester I tahun 2006, produksi menjadi 94,8 miliar batang.

"Untuk enam bulan ke depan, kondisi penjualan rokok keretek masih akan sangat bergantung pada membaiknya daya beli masyarakat. Saya harap tidak akan turun sebesar 12 persen lagi. Setidaknya bisa sama dengan angka 2005 sebesar 207 miliar batang," ungkap Heru Budiman.

Menurut Heru, hampir semua produsen rokok mengalami penurunan volume penjualan pada semester pertama ini, kecuali untuk PT HM Sampoerna Tbk.

Semua pangsa pasar perusahaan pada semester I 2006 memang mengalami penurunan, kecuali Sampoerna. Gudang Garam mengalami penurunan pangsa pasar dari 31 persen di semester I 2005 menjadi 29,5 persen pada semester I 2006.

Pangsa pasar Djarum menurun dari 18,7 persen pada semester I 2005 menjadi 17,4 persen pada semester ini. Merek rokok lain turun dari 21,6 persen pada tahun lalu menjadi 21,2 persen. Hanya Sampoerna yang mengalami peningkatan dari 16 persen pada tahun lalu menjadi 18,9 persen.

Sementara itu PT Apexindo Pratama Duta Tbk pada semester I tahun 2006 berhasil membukukan laba bersih yang meningkat 364,1 persen, dari rugi bersih Rp 72,5 miliar pada semester I 2005, menjadi laba bersih Rp 191,5 miliar.

"Peningkatan laba bersih ini terutama dipicu oleh pertumbuhan pendapatan yang meyakinkan, ditunjang dengan kemampuan Apexindo untuk terus melakukan efisiensi biaya serta keberhasilan menekan distorsi pada laporan laba rugi," kata Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan.

Pendapatan perseroan pada semester I tahun ini naik dari Rp 490,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 634,3 miliar.

Kontribusi pendapatan dari segmen rig darat naik 85,5 persen menjadi Rp 193,9 miliar dibandingkan Rp 104,5 miliar pada tahun sebelumnya.

Peningkatan pendapatan tersebut , ujar Agustinus, dipicu oleh keberhasilan Apexindo dalam mendapatkan beberapa kontrak baru dengan peningkatan harga sewa harian. (TAV/OIN/DAY)

Apexindo optimistis raih laba US$20 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk optimistis dapat mencapai laba bersih US$20 juta hingga akhir tahun ini dengan kenaikan pendapatan sebesar 20% dibandingkan tahun lalu.

Pertumbuhan kinerja Apexindo itu akan berlanjut karena beberapa rig seperti rig lima, delapan, dan dua akan memberikan tambahan pendapatan pada semester kedua.

"Pendapatan Apexindo tahun ini diperkirakan mencapai US$125 juta-US$130 juta dibandingkan tahun lalu US$116 juta," tutur Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan, kemarin.

Pada semester pertama tahun ini, laba bersih Apexindo mencapai Rp191,48 miliar dibandingkan dengan rugi bersih Rp72,51 miliar.

Tanpa menyertakan adanya transaksi swap, katanya, laba bersih dari operasi Apexindo mencapai sekitar Rp121 miliar. "Kalau angka itu disetahunkan, paling tidak kami membukukan laba bersih Rp242 miliar tahun ini."

Pada semester satu 2006, anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk itu membukukan kenaikan pendapatan 29,4% menjadi Rp634,25 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp490,32 miliar.

Kenaikan itu disebabkan peningkatan sumbangan pendapatan dari segmen rig darat sebesar 85,5% menjadi Rp193,9 miliar dibandingkan Rp104,5 miliar.

Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi emiten pengeboran itu juga meningkat 42,8% menjadi Rp278,28 miliar pada semester pertama 2006 dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp194,85 miliar.

Laba usaha Apexindo meroket 78,4% menjadi Rp190,55 miliar pada semester pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp106,83 miliar.

Tahun ini, tutur Agustinus, Apexindo menganggarkan belanja modal US$142 juta di mana US$22 juta untuk pemeliharaan rig dan selebihnya untuk membayar pembangunan rig Soehanah yang sebagian sudah dilunasi sebesar US$30 juta.

Pinjaman sindikasi

Apexindo mendapatkan pinjaman sindikasi US$120 juta dari Natexis, Standard Chartered Bank, UOB Singapura, Goldman Sachs, dan PMA, manager investasi Hong Kong.

"Mudah-mudahan kesepakatan pinjaman itu dapat ditandatangani bulan ini sehingga Januari tahun depan dapat digunakan oleh Apexindo," tuturnya.

Rasio utang berbunga bersih dibandingkan ekuitas Apexindo menurun menjadi 0,3 kali. Perusahaan itu dapat meningkatkan likuiditas seiring dengan peningkatan kas dan setara kas secara signifikan sebesar 134,6% menjadi Rp292,4 miliar karena kenaikan kinerja.

Kemampuan Apexindo dapat membayar bunga juga meningkat yang tercermin pada interest coverage menjadi 10,8 kali.

Oleh Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia

Saturday, July 29, 2006

ALCO pastikan beli Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (ALCO) memasuki tahap lanjutan untuk membeli 32,152% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk senilai US$550 juta kendati PT Medco Energi International Tbk, pemegang saham mayoritas Apexindo, masih membuka kesempatan kepada pihak lain untuk berkompetisi dalam transaksi tersebut.

Koran Times of India melaporkan ALCO, perusahaan pengeboran minyak asal India, memastikan rencana pembelian saham Apexindo dengan harga perkiraan US$550 juta atau sekitar Rp5 triliun, tulis Bloomberg.

Koran itu melaporkan ALCO berencana menjual sebagian saham miliknya yang ada di unit Singapura untuk mendanai akuisisi tersebut. ALCO berniat mengumpulkan dana US$200 juta melalui opsi menjual saham unit usahanya tersebut atau menerbitkan obligasi dalam denominasi mata uang asing.

Pada 18 Mei, ALCO melaporkan rencana pembelian saham perusahaan pengeboran Indonesia kepada National Stock Exchange India. Dalam pengumuman terpisah ke Bursa Efek Jakarta pada 31 Mei, ALCO menyatakan akan membeli 32,152% saham Apexindo.

Pernyataan ALCO ini berbeda dari niat Medco sebelumnya yang akan melepas seluruh sahamnya di Apexindo sebanyak 51,78%.

Isu masuknya ALCO mengerek saham Apexindo hingga menyentuh rekor Rp1.760 pada penutupan perdagangan Kamis lalu. Namun harga saham itu kemarin terkoreksi Rp40 menjadi Rp1.720.

Transaksi saham Apexindo sempat naik tajam pada Kamis dengan volume 22,63 juta lembar. Tetapi kemarin volume transaksi saham perusahaan penyewa rig (alat pengebor migas) ini turun menjadi 2,16 juta lembar.

Kinerja dan prediksi kinerja PT Apexindo Pratama Duta Tbk

2005 2006* 2007*

Pendapatan (Rp miliar) 1.135,6 1.247,1 2.236,5

Pertumbuhan pendapatan (%) 11,2 9,8 79,3

EBITDA (Rp miliar) 459,9 495,5 908,3

Pertumbuhan EBITDA (%) 38,4 7,7 83,3

Laba bersih (Rp miliar) (43,1) 133,2 321,5

Earning per share (Rp) (16,7) 51,6 124,5

Sumber: Danareksa Sekuritas

* = perkiraan

Dirut Medco Energi International Tbk (Medco) Hilmi Panigoro mengatakan Medco sudah menerima penawaran itu. "Tapi kami belum mengambil keputusan karena harus mempelajari lebih lanjut," ujarnya kepada Bisnis.

Dia mengakui dalam penawaran yang diterima, ALCO belum menyebutkan berapa harga yang disanggupi oleh pembeli tersebut. "Boleh saja mereka sebagai pembeli menyebut angka itu. Tapi kami belum mengambil keputusan."

Berkompetisi

Helmi melanjutkan kendati ALCO sangat serius untuk membeli saham Apexindo, Medco akan tetap memberi kesempatan kepada pihak lain berkompetisi dalam transaksi tersebut untuk mencari penawaran terbaik.

Namun, Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade. R. Satari mengaku tidak mengetahui rencana pembelian saham Apexindo itu. "Waktu itu pernah disebutkan bahwa Aban Loyd sebagai pihak yang berminat membeli, tetapi kelanjutannya kami tidak tahu."

Hingga Kamis, katanya, belum ada informasi apa pun terkait pelaksanaan transaksi tersebut.

Sekretaris Perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk Andy Karamoy juga mengaku belum mendapat informasi apapun mengenai pembelian saham Apexindo.

Medco, yang bergerak dalam bidang pengeboran minyak dan gas, menguasai 51,78% saham Apexindo. Pemegang saham Apexindo lainnya per 30 Juni 2006 adalah Asian Opportunities Fund I Segregated 15,8%, dan CLSA Ltd yang mewakili kliennya memegang 15,8%.

Menurut Sebastian Tobing, analis pertambangan dari Trimegah Securities, pembelian US$550 juta itu akan setara dengan Rp1.950 per saham. Diharapkan transaksi itu akan berdampak positif bagi pemegang saham Medco.

Medco akan berpeluang membeli ladang migas baru atau mengembangkan ladang yang ada setelah transaksi itu.

"Rumor penjualan saham Apexindo ini sudah cukup lama. Kalau hal itu terjadi, tujuan Medco lebih fokus ke bisnis pengeboran minyak akan tercapai."

Sedangkan analis Danareksa Sekuritas Bonny Setiawan memperkirakan akuisisi 53% saham Apexindo akan selesai pada akhir bulan ini dengan harga premium.

Dengan akuisisi itu, Apexindo akan mempunyai sinergi teknis meski bukan dalam dukungan finansial. "Apexindo membutuhkan tambahan dana jika mereka memutuskan menambah jack-up rig lagi pada 2008, dan tambahan pinjaman ini tampaknya akan datang dari ALCO."

Menurut Kepala Divisi Pencatatan Sektor Riil BEJ Yose Rizal, bursa menunggu kabar lebih lanjut tentang realisasi transaksi itu. Jika transaksi terjadi, ALCO diperkirakan wajib melakukan penawaran tender. (Pudji.Lestari@Bisnis.co.id & abraham.runga@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari & Abraham Runga

Bisnis Indonesia

Tuesday, July 25, 2006

Harga Minyak Cenderung Melesat, Saham Medco Berpeluang Menguat Hingga 20%

JAKARTA, Investor Daily --- Trimegah Securities memperkirakan harga saham PT Medco Energi International Tbk berpeluang menguat hingga 20%% menyusul kenaikan harga minyak mentah dunia yang menembus US$ 75 per barel.

Analis Trimegah Securities Sebastian Tobing mengatakan, tingginya harga minyak mentah dunia belum tercermin di harga saham Medco saat ini. Fluktuasi harga minyak, lanjut dia, telah dimulai semenjak bulan Januari tahun ini di level US$ 70 per barel.

“Harga saham Medco belum naik banyak, padahal tingginya harga minyak mentah dunia mendukung potensi kenaikan harga hingga akhir tahun mencapai 20% di level Rp 4.500,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Pada perdagangan Senin (24/7), harga saham perusahaan pertambangan tersebut terkoreksi tipis Rp 25 menjadi Rp 3.525. Frekuensi transaksi sebanyak 127 kali dengan volume 1,65 juta saham bernilai Rp 5,79 miliar.

Menurut Sebastian, pelaku pasar saat ini masih mencermati sentimen negatif yang mengimbas Medco, dimana potensi ladang Jeruk yang dimiliki ternyata berada di bawah perkiraan perusahaan. Dia merekomendasikan investor untuk mencermati saham Medco sebagai investasi jangka panjang dengan rentang waktu 3-6 bulan.

Medco adalah perusahaan pertambangan yang memfokuskan usaha pada penambangan minyak. Sebastian mengemukakan, kenaikan harga minyak mentah dunia akan berdampak positif terhadap kinerja Medco mengingat besarnya permintaan minyak dunia.

Tim analis dari Credit Suisse mengemukakan, pendapatan dan laba bersih Medco tahun ini bisa mencapai masing-masing US$ 816,90 juta dan US$ 106,6 juta atau naik 23% dan 42% dibandingkan perolehan tahun 2005 sebesar US$ 659,1 juta dan US$ 74,7 juta. Pertumbuhan kinerja itu didukung oleh jalannya akuisisi untuk peningkatan produksi perusahaan.

Selain Medco, Sebastian juga menilai saham anak perusahaan Medco yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan minyak yakni PT Apexindo Pratama Tbk akan terimbas positif dari kenaikan harga minyak mentah dunia.

Dia menilai, tingginya harga minyak secara tidak langsung akan meningkatkan kebutuhan akan jasa pengeboran minyak dan gas. “Semakin banyak eksplorasi, akan semakin banyak pula kontrak pengeboran yang didapatkan perusahaan, “kata dia. (c87)

Wednesday, July 19, 2006

Apexindo Garap Blok Kangean

Jakarta, Republika --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) mendapatkan Kontrak Jasa Pemboran Darat dari EMP Kangean Ltd untuk proyek pemboran di Blok Kangean, Jawa Timur. Nilai pekerjaan yang didapatkan oleh rig 8 Apexindo ini adalah sekitar 2, 9 juta dolar AS untuk periode tujuh bulan dan akan dimulai di bulan Juli 2006.

Direktur Utama Apexindo, Hertriono Kartowisastro, mengatakan rig 8 berada dalam status idle cukup lama karena perseroan belum berhasil mendapatkan kontrak yang sesuai untuk rig 8. Rig 8 akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dari EMP untuk membantu proyek pemboran di Blok Kangean.

“Keberhasilan ini akan berpengaruh positif terhadap tingkat utilisasi rig darat kami,” kata Hertriono di Jakarta, kemarin (18/7).

Menurutnya, keberhasilan perseroan mendapatkan kontrak untuk rig 8 menunjukan bahwa walaupun persaingan pasar pemboran darat ketat tetapi Apexindo tetap dapat berpartisipasi. erd

Tuesday, July 18, 2006

Medco Kerjakan Anjungan Migas di East Cameron

Jakarta, Investor Daily --- PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) melalui anak usaha, MedcoEnergi US LLC (MedcoEnergi US), telah mendirikan anjungan lepas pantai dan fasilitas produksi baru di Teluk Mexico.

Platform baru ini terletak di Blok East Cameron 318, sekitar 105 miles SSW dari Intracoastal City Louisiana, dengan berat lebih dari 1800 ton dan berdiri di laut dengan kedalaman 229.

Direktur Utama MedcoEnergi Hilmi Panigoro mengatakan, setelah pembangunan selesai, produksi dari proyek di East Cameron diharapkan dapat menggandakan produksi bersih dari MedcoEnergi US menjadi lebih dari 30 mmcfd. Medco Energi US memiliki 75% partisipasi modal dan mengoperasikan proyek pengembangan East Cameron 318.

“Tambahan pendapatan tersebut akan memberikan kontribusi yang visibel bagi kelangsungan operasi dan perkembangan MedcoEnergi, serta memberikan hasil yang nyata dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan peran MedcoEnergi US sebagai perusahaan energi ukuran menengah yang aktif di Teluk Mexico,” papar Hilmi, Senin (17/7).

Menurut Hilmi, kombinasi dari fasilitas pengeboran dan produksi ini mempunyai 6 titik pengeboran, fasilitas pemrosesan berkapasitas 50 mmcfd, 1400 HP gas kompresor dan sarana tinggal untuk 10 operator. Sarana tinggal ini akan menjadi fasilitas pelayanan bagi Group MedcoEnergi dan pihak ketiga lainnya di area tersebut.

Apexindo Dapat Kontrak

Sementara, anak usaha MedcoEnergi lainnya, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) berhasil mendapatkan Kontrak Jasa Pemboran Darat dari EMP Kangean Ltd. untuk proyek pemboran di Blok Kangean Jawa Timur. Nilai pekerjaa yang didapatkan dari rig 8 itu senilai US$ 2,9 juta untuk periode tujuh bulan dan akan dimulai Juli 2006.

Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan, rig 8 berada dalam status idle cukup lama karena perseroan belum berhasil mendapatkan kontrak yang sesuai untuk rig 8. (ari)

Apexindo Garap Blok Kangean

Jakarta, detik.com - PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) mendapatkan kontrak jasa pemboran darat untuk Rig 8 dari EMP Kangean Ltd untuk pemboran di Blok Kangean, Jawa Timur.

"Nilai pekerjaan yang didapatkan oleh Rig 8 Apexindo ini adalah sekitar US$ 2,9 juta untuk periode 7 bulan yang akan dimulai bulan Juli 2006," kata Sekretaris Perusahaan Apexindo Ace R Satari dalam pengumumannya ke Bursa Efek Jakarta (BEJ), Selasa (18/7/2006).

Saat ini rig 8 masih dalam proses mobilisasi ke lokasi pemboran. Rig 8, menurut Satari, telah berada dalam status idle yang cukup lama karena tidak ada kontrak yang sesuai.

Hingga saat ini pendapatan Apexindo masih lebih banyak dikontribusi dari segmen pemboran lepas pantai.

Namun dengan kontrak yang didapat Apexindo untuk rig 2, rig 15 dan rig 8, menurut Satari, membuktikan potensi pemboran darat masih potensial.(ir)

Apexindo dapat kontrak US$2,9 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Rig 8 PT Apexindo Pratama Duta Tbk mendapatkan kontrak pengeboran darat senilai US$2,9 juta dari EMP Kangean Ltd. untuk proyek pengeboran di Blok Kangean, Jawa Timur.

Dalam siaran pers dari Apexindo disebutkan proyek itu mempunyai periode tujuh bulan dan akan dimulai pada Juli tahun ini. Rig 8 berada dalam status menganggur cukup lama karena Apexindo belum mendapatkan kontrak yang sesuai dengan rig tersebut.

"Kami gembira karena rig 8 akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dari EMP untuk membantu proyek pemboran di Blok Kangean. Apexindo juga berhasil mendapat kontrak untuk rig 2 dan rig 15," tutur Hertriono Kartowisastro, Direktur Utama Apexindo. (Bisnis/wiw)

Apexindo Dapat Kontrak Pemboran Blok Kangean US$ 2,9 Juta

JAKARTA, investorindonesia.com --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) mendapatkan Kontrak Jasa Pemboran Darat dari EMP Kangean Ltd untuk proyek pemboran di Blok Kangean, Jawa Timur. Nilai pekerjaan yang didapatkan Rig 8 Apexindo tersebut sekitar US$ 2,9 juta untuk periode 7 (tujuh) bulan dan akan dimulai di Juli 2006.

Menurut Direktur Utama Apexindo, Hertriono Kartowisastro di Jakarta, Selasa, Rig 8 berada dalam status idle cukup lama karena Perseroan belum berhasil mendapatkan kontrak yang sesuai untuk Rig 8. Rig 8 akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dari EMP untuk membantu proyek pemboran di Blok Kangean.

"Keberhasilan ini tentunya akan berpengaruh positif terhadap tingkat utilisasi rig darat kami," kata Hertriono.

Menurut dia, keberhasilan perseroan mendapatkan kontrak untuk Rig 8 menunjukkan bahwa walaupun persaingan pada pasar pemboran darat semakin ketat tetapi Apexindo tetap dapat berpartisipasi pada segmen tersebut.

"Saat ini, Rig 8 masih dalam proses mobilisasi ke lokasi pemboran yang ditunjuk dan diharapkan dapat segera mulai beroperasi," tambahnya.

"Hingga saat ini kontribusi Pendapatan Apexindo lebih banyak diberikan oleh segmen pemboran lepas pantai. Dengan keberhasilan Perseroan mendapatkan kontrak ini membuktikan bahwa potensi pasar pemboran darat masih cukup menjanjikan," jelasnya.

Sementara itu Agustinus B Lomboan, Direktur Keuangan Apexindo menegaskan, perseroan akan terus secara aktif mengikuti tender pemboran darat maupun laut, memantapkan posisi Apexindo sebagai kontraktor pemboran terkemuka, tidak hanya untuk segmen pemboran lepas pantai tapi juga untuk pemboran darat, di Indonesia serta wilayah Asia Tenggara. (ant)

PT Apexindo Lands Contract from EMP Kangean for Rig 8

Rigzone.com --- PT Apexindo 7/18/2006 --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk has successfully obtained an onshore drilling contract from EMP Kangean Ltd. for a project at Kangean Block, East Java. The contract is valued at US $2.9 million for a seven month period which will commence on July 2006.

Rig 8 has been idle for a period of time since the company has not been able to obtain a suitable contract for this particular rig. "We are glad that Rig 8 has finally found a suitable project from EMP to support their drilling project at Kangean Block. As we mentioned in our previous release, Apexindo also succeeded to achieve contracts for Rig 2 and Rig 15. These continuous success will give a positive impact on our onshore utilization rate", explains Hertriono Kartowisastro, Apexindo's President Director.

Apexindo's success in obtaining contract for Rig 8 demonstrates that even though the competition on land drilling market is very tight, Apexindo is still competing in this particular segment. Currently, Rig 8 is still in the mobilization process to the designated drilling location and is expected to operate immediately.

Up to today, the Company's largest revenue contribution comes from the offshore rig segment. The Company's success to get the new contract proves that land drilling market is still promising. Agustinus B. Lomboan, Apexindo's Finance Director explains, "We will always be actively participating in land and offshore drilling tenders, to ensure Apexindo's position as the leading drilling contractor, not only in the offshore drilling segment but also in the land drilling segment, in Indonesia and South East Asia Region."