Thursday, May 10, 2007

Lundin Spuds Tengis-1 in Indonesia

rigzone.com, Lundin Petroleum AB --- Lundin Petroleum AB reported Thursday that the drilling of the Tengis-1 exploration well on Blora, Central Java, Indonesia has commenced. The plan is to drill the well to a depth of 2,700 meters.

The Tengis – 1 well is targeting the Oligocene sandstone interval with gross unrisked potential of 50 million barrels of oil equivalent (mmboe). The rig contracted to carry out the drilling is the ApexIndo Rig No. 8 and drilling is expected to take up to 2 month.

Lundin Petroleum is the operator of the Blora PSC holding a 43.3 percent working interest. Partners are Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC) (40%) and China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) (16.7%).

Wednesday, May 2, 2007

KINERJA

JAKARTA, Investor Daily --- [photo] KINERJA: Presiden Komisaris PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) Hilmi Panigoro (kanan) berbincang dengan Presdir APEX Hertriono Kartowisastro (kiri) disaksikan Direktur Bisnis Terence M Gott saat acara laporan operasional dan keuangan 2006 di Jakarta, Senin (30/4). APEX baru-baru ini menerima Letter of Proceed dari VICO untuk pemboran selama 6 bulan di lapangan Mutiara, Kalimantan Timur.

Tuesday, May 1, 2007

LABA BERSIH

JAKARTA, Seputar Indonesia --- [photo] LABA BERSIH: Direktur Utama Apexindo Pratama Tbk Hertriono Kartowisastro (kiri) bersama Direktur Terence M Gott (tengah) dan Presiden Komisaris Hilmi Panigoro, berbincang sebelum RUPS di Jakarta, kemarin. Apexindo membukukan laba bersih sebesar Rp 380,8 miliar untuk tahun 2006.

Pemilik Saham APEX Dapat 50 Persen Laba Bersih

JAKARTA, Koran Kontan. PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) lagi royal. Perusahaan penyedia jasa pemboran minyak dan gas itu akan membagikan 50% dari laba bersihnya tahun lalu sebagai dividen. Padahal, tahun 2006, Apexindo hanya membagikan 20% dari laba bersih.

Sekadar informasi, laba bersih Apexindo di pengujung 2006 lalu mencapai US$ 31,5 juta atau setara Rp 380,80 miliar. Menurut hitungan manajemen APEX, dividen yang akan dibagikan bulan depan mencapai Rp 57 per saham, untuk total 2,62 miliar unit saham. “Itu di luar dari hitungan dividen interim yang sudah kami bagikan November 2006,” kata Agustinus B. Lomboan, Direktur Keuangan Apexindo, kemarin (30/4).

Bila investor juga menhitung dividen interim, artinya total dividen yang dibagikan APEX mencapai Rp 73 per saham. Ini jauh lebih tinggi ketimbang dividen tahun sebelumnya yang hanya Rp 19 per saham.

Siapa saja yang menikmati dividen ini? Per 31 Maret 2007, pemegang saham APEX adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebanyak 51,48%, Asia Opportunities Fund 15,88%, CLSA Ltd 15,88%, dan sisanya publik 16,74.

Meskipun telah membagikan dividen segitu, Apexindo masih bisa mengantongi 50% dari laba bersih atau sekitar Rp 190 miliar sebagai laba ditahan. “Kami tidak punya rencana investasi besar tahun ini,” imbuh Agustinus. Alokasi belanja modal atau capital expediture (capex) Apexindo tahun ini hampir sama dengan nilai laba ditahannya, yaitu Rp 193 miliar.

Untuk tahun ini, Agustinus optimis pendapatan perusahaan bisa tumbuh sekitar 40% dari pendapatan 2006 yang US$ 156,3 juta atau setara Rp 1,43 triliun. APEX juga mematok target laba bersihnya naik sekitar 26%, dari US$ 31,5 juta menjadi US$ 40 juta.

Hingga triwulan pertama 2007, Apexindo sudah mencatat pendapatan US$ 36,1 juta. Angka ini naik 14,1% dibanding dengan periode yang sama tahun lalu, yang sebesar US$ 31,6 juta. Tapi, laba bersihnya malah turun 35,3% dari US$ 9,1 juta menjadi US$ 5,9 juta. Penyebabnya Apexindo tidak bisa lagi menikmati berkah selisih pembayaran utang dollar ke rupiah (swap) di triwulan pertama tahun ini. Maklum, pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan menikmati swap US$ 15 juta.

Martha Dian Novita

Pendapatan Apexindo US$ 36,1 Juta

JAKARTA, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk pada kuartal I 2007 membukukan pendapatan US$ 36,1 juta atau sekitar 19% dari target pendapatan sepanjang tahun ini sebesar US$ 190 juta. Pada periode sama, laba bersih perseroan mencapai US$ 5,9 juta.

“Pendapatan kuartal satu memang kecil karena kami masih mobilisasi. Kenaikan signifikan akan terjadi di kuartal kedua karena moving dari rig-8, rig-14 dan rig-15 yang mulai berjalan sekitar Mei tahun ini,” ujar Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan kepada Investor Daily usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Senin (30/4).

RUPS Apexindo memutuskan pembagian dividen 2006 sebesar Rp 151 miliar (Rp 57/saham) setelah dipotong ekuivalen dari dividen interim.

Saat ini perseroan mendapat kontrak baru dengan Maira untuk jangka lima tahun dan rig-9 serta rig-10 untuk kontrak dua tahun. “Dari kedua kontrak inilah diharapkan menjadi penopang terbesar dari pendapatan perseroan tahun ini,” jelas dia. (c100)

Friday, April 27, 2007

Apexindo Wins New Drilling Contract

JAKARTA, The Jakarta Post --- PT Apexindo Pratama Duta, a unit of the country’s largest publicly traded oil company, won a contract to drill in a block operated by a joint venture of BP Plc. and Eni SpA.

The onshore rig will drill in Vico Indonesia’s block in East Kalimantan province over a period of six months, Apexindo said in a statement to the Jakarta Stock Exchange on Thursday.

“We are currently moving the rig and other equipment from Madura to the field,” Agustinus Lomboan, the company’s finance director, said by telephone Thursday. “We expect to start work in the second week of May.”

Apexindo, a unit of PT Medco Energi Internasional, own and operates nine onshore drilling rigs and four swamp barges contracted by the Indonesian unit of Total SA. It also operates one jack-up rig in the Middle East for Norway’s Statoil ASA, and recently completed another, which will be use in Total’s fields in East Kalimantan.

Sea Drill Ltd., an oil rig owner controlled by Norwegian billionaire John Fredriksen, owns a stake in Apexindo. --- Bloomberg

Wednesday, April 18, 2007

Ditopang kontrak baru, prospek Apexindo tetap kinclong

Bisnis Indonesia --- Bukan suatu kekeliruan bagi keluarga Panigoro batal melego saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk. Pasalnya, setelah merugi dua tahun lalu, kinerja perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa penyewaan rig (anjungan pengeboran migas) langsung mengilap. Kontraktor pengeboran itu pun mampu menoreh keuntungan yang spektakuler.

Pada akhir tahun lalu, Apexindo membukukan laba bersih Rp380,8 miliar atau Rp146,07 per saham, meroket 982,95% dari rugi Rp43,13 miliar atau Rp21,21 per saham pada 2005. Perolehan laba ini juga merupakan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Di saat yang sama, emiten itu juga membukukan kenaikan penjualan 26,5% menjadi Rp1,4 triliun dari sebelumnya Rp1,1 triliun. Dengan kinerja yang demikian PT Danareksa Sekuritas pun mendongkrak target harga saham Apexindo menjadi Rp2.200 dari sebelumnya Rp2.100 dengan tetap merekomendasikan beli.

Namun, kurangnya katalis membuat harga saham berkode APEX ini tertinggal dari pasar. Namun, Danareksa masih yakin fundamental perseroan masih tangguh, terutama ditopang kontrak yang berhasil diraih dari pesaingnya, khususnya rig darat.

"Kami menyesuaikan prediksi kinerja yang mencerminkan angka hasil audit 2006. Berdasarkan valuasi, kami mendapatkan target harga 2007 sebesar Rp2.200," kata analis Danareksa Bonny Setiawan dalam risetnya terbitan 12 April.

Menurut dia, perubahan laba Apexindo menjadi positif terjadi berkat kenaikan tarif sewa rig yang terjadi menyusul kurangnya suplai, serta peningkatan utilisasi rig baik untuk segmen darat dan laut masing-masing sebesar 68% dan 100%.

Sementara itu, margin kotor naik menjadi 34%, sedikit lebih tinggi dari estimasi Danareksa yang sebesar 33%. Perseroan juga mampu mengendalikan biaya secara efektif karena pada sepanjang tahun lalu tidak terjadi gangguan mekanik.

"Di samping itu, dengan penyelesaian pelabuhan Bojonegara, perseroan mempunyai pengelolaan persediaan yang lebih baik yang menurut kami menjadi salah satu faktor penyumbang [kinerja perseroan]."

Selain pendapatan dan laba bersih yang bagus, beban bunga perseroan pada tahun lalu juga rendah. Menyusul pelunasan semua utang kepada bank pada tahun lalu, perseroan hanya mempunyai utang obligasi sebesar US$750 juta. Utang paling anyar baru disepakati pada awal tahun ini US$125 juta. "Hal tersebut menjelaskan rendahnya biaya bunga perseroan pada 2006," kata Bonny.

Di awal tahun, Apexindo langsung menendang dengan lima kontrak baru untuk rig darat di mana dua di antaranya yakni rig 9 dan 10 bernilai kontrak US$13,9 juta untuk masa kerja enam bulan.

Bonny berpendapat nilai kontrak itu dapat ditingkatkan jika masa kerja diperpanjang lagi. Dia yakin hal itu akan terjadi dengan alasan kedua rig tersebut digunakan oleh kontraktor yang sama dalam satu hingga dua tahun yakni perusahaan migas VICO.

Kalau pun diadakan tender ulang, Bonny yakin Apexindo bisa mengalahkan peserta lain karena perseroan mempunyai tarif yang lebih murah.

Tingkat utilisasi

Tiga kontrak lainnya meski nilainya kecil yaitu US$8,6 juta paling tidak bakal mengangkat tingkat utilisasi tahun ini. Bonny pun menggenjot estimasi tingkat utilisasi rig darat dari 58% menjadi 63% pada tahun ini.

Dengan kemungkinan masa kerja kontrak tiga bulan yang dikantongi tiga rig tersebut diperpanjang, serta tarif sewa baru lebih tinggi 8%-22% dibandingkan 2006 membuat Bonny menaikkan pendapatan dari rig segmen darat menjadi US$46 juta pada 2007, lebih tinggi dari prediksi sebelumnya US$44 juta.

Di sisi lain, keterlambatan pengiriman jack-up rig baru Soehanah dari Januari menjadi Mei memicu Bonny untuk memangkas prediksi pendapatan rig itu 33% menjadi hanya US$40 juta. Kendati demikian, prospek perseroan tetap cerah dengan adanya kontrak US$170 juta dari Total E&P Indonesie untuk 22 bulan masa kerja Soehanah.

Bonny juga memangkas estimasi pendapatan rig segmen laut 11% jadi US$144 juta pada 2007, menyusul penundaan kerja rig Raniworo selama dua bulan. Rig tersebut sedang dilabuhkan sebelum mengebor untuk Crescent dengan nilai kontrak US$5,2 juta.

Mengenai rencana penambahan jack-up rig karena biaya pembangunannya yang selangit, Bonny menilai kemungkinan Apexindo membeli jack-up rig bekas. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari

Wartawan Bisnis Indonesia

Wednesday, April 11, 2007

PT Apexindo Set to Chalk Up 30% Increase in Net Profit

Asia Pulse Pte Ltd, rigzone.com --- Publicly listed oil drilling company PT Apexindo Pratama Duta (JSX:APEX) has forecast a 30% increase in net profit to Rp495 billion (US$165 million) this year, compared with last year.

The subsidiary of the Medco Group reported Rp380.8 billion in net profit last year, as against a net loss of Rp43.1 billion in the previous year.

Apexindo chief commissioner Hilmi Panigoro said that demand for drilling services was strong, with the soaring price of oil encouraging producers to launch intensive exploration.

The company, which has a number of oil rigs, posted sales valued at Rp1.4 trillion last year, up from Rp1.1 trillion in the previous year.

Tuesday, April 10, 2007

Medco Perkirakan Laba Naik 20 Persen

Jakarta, Kompas - PT Medco Energi International Tbk memperkirakan laba bersih yang diperoleh perseroan tahun 2006 akan mengalami peningkatan sampai 20 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kenaikan keuntungan terutama didorong harga minyak dunia yang tinggi. Presdir Medco Energi International Hilmi Panigoro, Senin (9/4) di Jakarta, mengemukakan, kenaikan laba itu belum dipotong penghapusbukuan Medco Brantas 60 juta dollar AS.

Pada kurun waktu Januari sampai September 2006, keuntungan kotor yang dicapai perseroan 270,4 juta dollar AS.

Pada periode yang sama tahun 2005, Medco Energi mencetak keuntungan kotor 247 juta dollar AS. Medco menaungi sejumlah anak usaha yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi migas, petrokimia, pembangkitan, dan jasa pengeboran.

"Dari sisi produksi, tahun 2006 memang tidak ada penambahan, tapi harga minyak sangat bagus," ujar Hilmi. Dari blok yang mereka miliki di dalam dan luar negeri, produksi minyak mentah Medco sekitar 70.000 barrel per hari dan gas sekitar 120 juta kaki kubik per hari.

Medco kini telah menyiapkan belanja modal 300 juta dollar AS untuk tahun 2007. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun 2006 sebesar 240 juta dollar AS.

Medco Energi pada 16 Maret 2007 melepas kepemilikannya di Blok Brantas. Dengan menjual Medco Brantas, perseroan terbebas dari kewajiban menanggung dampak semburan lumpur di sumur Banjar Panji 1.

Medco Global

Apexindo Pratama Duta, anak perusahaan Medco yang bergerak di bidang pengeboran, diproyeksikan bakal menyumbang keuntungan terbesar.

Pendapatan Apexindo tahun 2006 sebesar 156,3 juta dollar AS. "Keuntungan terbesar tetap berasal dari bidang pengeboran. Saat ini saja kontrak offshore rig yang diperoleh Apexindo sudah naik dua kali lipat," ujar Hilmi.

Terkait dengan rencana ekspansi ke luar negeri, Hilmi tetap yakin Medco Global—subholding untuk anak-anak perusahaan yang beroperasi di luar negeri— bisa dibentuk sebelum akhir tahun ini. Bank untuk membentuk subholding sudah bisa ditunjuk pertengahan April ini.

Setelah subholding terbentuk, Medco Global akan melakukan penawaran saham perdana kepada publik di Bursa London. Jumlah saham yang akan dilepas maksimal 49 persen.

Hilmi menjelaskan, Bursa London dipilih untuk memudahkan calon investor yang sebagian besar berada di Timur Tengah dan Afrika Utara. (DOT)

Laba 2007 Apexindo diprediksi naik 30%

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk akhir tahun ini diperkirakan membukukan kenaikan laba bersih minimum 30%, atau menjadi Rp495 miliar.

Per Desember 2006, anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk yang bergerak di bidang pengeboran ini membukukan laba bersih Rp380,8 miliar atau Rp146,07 per saham, dari posisi 2005 rugi Rp43,1 miliar atau Rp21,21 per saham.

Komisaris Utama Apexindo Hilmi Panigoro mengatakan proyeksi kenaikan laba bersih itu didorong masih besarnya permintaan jasa pengeboran, di tengah kecenderungan proyek eksplorasi minyak dan gas yang stagnan.

"Produksi gas dan minyak pada 2007 akan flat, tetapi permintaan jasa drilling akan naik lagi, sehingga setidaknya laba bersih Apexindo akan naik 30%," tuturnya kepada pers, kemarin.

Tren peningkatan permintaan jasa pengeboran, lanjut dia, tercermin dari kinerja Apexindo tahun lalu yang membukukan kenaikan penjualan 26,5% menjadi Rp1,4 triliun dari sebelumnya Rp1,1 triliun.

Peningkatan pendapatan itu didorong segmen anjungan pengeboran (rig) darat yang naik 88,6% menjadi Rp529,5 miliar dari semula Rp280,8 miliar. Di sisi lain, segmen rig laut menyumbang pendapatan Rp906,4 miliar, atau naik hanya 6% dari Rp854,7 miliar.

Menurut catatan Bisnis, Apexindo kini mengantongi empat kontrak pengeboran baru dan perpanjangan kontrak lama dengan total nilai proyek US$22,5 juta. Perseroan mendapat perpanjangan kontrak US$13,9 juta untuk pengeboran selama enam bulan di Kalimantan Timur dari VICO untuk Rig 9 dan Rig 10.

Perseroan juga mendapat konfirmasi kontrak untuk rig 15 dari Pearoil (Tungkal) Limited senilai US$2,6 juta, kontrak rig 8 sebesar US$2,5 juta dari Lundin Blora BV, dan rig 2 dari joint operation body Pertamina-Medco Tomori senilai US$3,5 juta.

"Perseroan akan terus aktif mengikuti tender pengeboran darat maupun laut, memantapkan posisi Apexindo sebagai kontraktor pengeboran terkemuka, tidak hanya untuk segmen pengeboran lepas pantai tapi juga untuk pengeboran darat baik di Indonesia maupun Asia Tenggara," kata Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro (Bisnis, 14 Maret).

Belanja modal

Sementara itu, Hilmi menjelaskan Medco sendiri akan membelanjakan sebagian besar dari US$200 juta belanja modal untuk membiayai proyek pengeboran di dalam maupun luar negeri.

Medco sedang merampungkan proyek pengeboran sumur eksplorasi ketiga di Libya yang diperkirakan menyimpan 150 juta barel minyak dan menghasilkan 50.000 barel per hari.

Sebastian Tobing, analis riset emiten pertambangan PT Trimegah Securities Tbk, menilai proyeksi laba tersebut terhitung masih realistis, mengingat aktivitas pengeboran sumur minyak di seluruh dunia masih meningkat. Dia memperkirakan pengeboran lepas pantai masih menjadi pasar besar untuk Apexindo.

"Pengeboran sumur minyak baru sekarang banyak di daerah yang terpencil, dan terutama di lepas pantai. Permintaan di sini masih besar," tuturnya.

Banyaknya kontrak pengeboran yang diraih perusahaan-perusahaan minyak dan gas di Indonesia tahun ini akan berbanding lurus dengan pencapaian perusahaan pengeboran. Di Indonesia, pengeboran itu nanti terhadang pada tantangan adanya kontrak eksplorasi yang baru dari pemerintah.

Khusus untuk Apexindo, lanjut dia, kinerja mereka akan sangat terbantu dengan mulai beroperasinya sumur rig Soehanah secara penuh pada tahun ini.

Pada perdagangan kemarin, harga saham Apexindo (APEX) ditutup menguat Rp10 ke posisi Rp1.770. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.

Bisnis Indonesia