Saturday, July 21, 2007

Medco ingin jual Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Setelah setahun berlalu, PT Medco Energi International Tbk membuka kembali kemungkinan menjual porsi kepemilikan sahamnya di unit usaha pengadaan jasa pengeboran migas PT Apexindo Pratama Duta ketika tarif rig memuncak.

"Kalau ada penawaran yang cocok, saya akan mempertimbangkan untuk menjual saham Apexindo. Terakhir, belum ada calon investor yang uji tuntas. Dulu penjualannya ditunda karena harganya belum cocok," tutur Presdir Medco Energi Hilmi Panigoro ketika dihubungi Bisnis, kemarin.

Dia menjelaskan Medco sedang berdiskusi secara internal tentang rasionalisasi aset, sehingga ada kemungkinan ditambah atau dikurangi. Namun, saat ini emiten itu belum dapat menjelaskan secara detail. Akibat kemungkinan divestasi Apexindo, harga saham Medco kemarin langsung melesat Rp350 ke level Rp4.100 per saham, sedangkan saham Apexindo naik Rp50 ke Rp2.350.

Pada Agustus tahun lalu, Medco menolak tawaran dari perusahaan asal India dan China untuk membeli 52% kepemilikannya di Apexindo. Saat itu, manajemen Medco beralasan jika penjualan dilakukan perusahaan akan sulit untuk mengamankan rig di masa datang, tatkala persaingan menaikkan tingkat penyewaan alat pengeboran itu.

Sejak adanya pembicaraan dengan calon pembeli Apexindo seperti Aban Loyd Chiles Offshore Ltd dari India dan China Oilfield Services Ltd berakhir, harga saham Apexindo langsung melesat 50,6%. Kenaikan harga itu mendongkrak kapitalisasi pasar Apexindo Rp1,9 triliun menjadi Rp6,19 triliun. Adapun kapitalisasi pasar Medco per kemarin Rp13,66 triliun.

Dalam riset Medco dari Credit Suisse yang dirilis kemarin disebutkan saham Medco didongkrak menjadi outperform dengan target harga Rp4.550, potensi kenaikan 25%

Hilmi, seperti dikutip Bloomberg, mengatakan tarif rig yang sudah naik tiga kali lipat sejak 2004, bisa anjlok karena ada 50 rig jack-up baru yang dibangun di Asia dalam empat tahun mendatang. Jack-up adalah rig berkaki tiga, yang lazim digunakan untuk mengebor sumber migas yang ada di lepas pantai.

Menurut GlobalSantaFe Corp, indeks skor rig di Asia turun 6% menjadi 119,79 pada Juni. Indeks ini mengukur biaya harian untuk menyewa rig sebagai persentase dalam memperkirakan kebutuhan pembangunan rig baru. Hilmi juga mengatakan laba bersih Apexindo bisa naik 50% tahun ini dan naik dua kali lipat tahun depan. Tahun lalu, perusahaan penyedia jasa pengeboran itu membukukan laba bersih US$41 juta, setara dengan Rp369 miliar (kurs US$1=Rp9.000).

Selain Medco, 32% saham Apexindo dipegang oleh SeaDrill Ltd yang dikendalikan oleh konglomerat Norwegia John Fredriksen. (pudji.lestari@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari & Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia

Medco says it’s open to selling stake in Apexindo

Leony Aurora, Bloomberg/Jakarta, The Jakarta Post --- PT Medco Energi Internasional, Indonesia’s biggest non-state oil company, said it is “open” to selling its stake in a drilling service unit as rig rates peak, a year after scrapping a sale plan.

“For the right price, I will consider selling the stake in PT Apexindo Pratama Duta, Medco President Hilmi Panigoro said in an interview in Jakarta Thursday.

Medco in August rejected offers by Indian and Chinese companies to buy its 52 percent stake, saying the sale would make it hard to secure rigs as competition bosted rentals.

Apexindo’s stock has risen 51 percent since talks ended with companies including India’s Aban Loyd Chiles Offshore Ltd. and China Oilfield Service Ltd., boosting its market value by 2.08 trillion rupiah ($229 million).

Rig rates, which have more than tripled since 2004, may fall as about 50 new jack-up rigs are built in Asia in the next four years, Panigoro said.

“It’s a pretty good time for them to sell,” said Todd Showalter, an analyst at PT Samuel Sekuritas Indonesia in Jakarta. “Medco needs the funds to finance their exploration and production activities.”

Medco’s shares surged 9.3 percent, the biggest gain since Jan. 19, to close at Rp 4.100 on the Jakarta Stock Exchange Friday. The stock was the most actively traded by value. Apexindo’s shares gained 2.2 percent to 2,350.

Shares of Medco have risen 15 percent since Aug. 10, when the company said that it had ended talks to sell Apexindo.

Apexindo’s nett income may rise 50 percent this year and double next year as the company booked higher rates for its rigs, Panigoro said.

The unit, 32-percent owned by SeaDrill Ltd., a company controlled by Norwegian billionaire John Fredriksen, posted a $41 million profit last year, according to data compiled by Bloomberg.

Apexindo owns and operates nine onshore drilling rigs, four swamp barges and two jack-up rigs. The company’s average daily rate for onshore rigs more than doubled to $19,791 last year compared with $8,689 in 2005.

Wednesday, June 27, 2007

Salamander Takes Stake in Simenggaris Block in East Kalimantan

Salamander Energy, rigzone.com --- Salamander Energy has agreed to acquire a 21% interest in the Simenggaris block located in the Tarakan Basin, East Kalimantan from Medco Simenggaris Pty. Ltd., a wholly owned subsidiary of PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi).

This transaction would provide Salamander with an increased presence in core area of East Kalimantan and access to a targeted proven but under-explored basin. This transaction also provides for the addition of a low-moderate risk appraisal and exploration opportunity which complements and builds on Salamander's current East Kalimantan deltaic positions in the Bontang PSC and SC41 concession.

Appraisal drilling is imminent on the South Sembakung gas-condensate discovery with a two well program due to start in July 2007. The Apexindo-2 rig is currently being mobilized to the well location. The operator estimates South Sembakung resources to be in the region of 125 Bcf and 3 million barrels of condensate.

The Simenggaris block contains more than 20 identified leads and prospects.

There is a robust local gas market that is critically short of supply.

The transaction is subject to approval by the Indonesian regulatory body, BPMigas.

Commenting on the deal, James Menzies, Chief Executive of Salamander Energy stated:

"We are pleased to announce the acquisition of a stake in the Simenggaris block. This is a proven, productive basin and provides Salamander with an exciting, near term appraisal opportunity. We look forward to the commencement of the drilling program in July."

Simenggaris Block

The acreage comprises 1,351 square km and is located onshore in the Tarakan Basin, East Kalimantan. Oil and gas production is well established in the Tarakan basin, with between 400 – 500 million barrels of oil equivalent being found in the shelf area. Recent significant oil discoveries have been made in the deepwater fold belt outboard of the Bangkadulis half-graben, east of the Simenggaris block location.

Within the original license area some 20 exploration wells have been drilled resulting in seven discoveries and two commercial oil fields. Other nearby oil and gas production includes the Tarakan and Bunyu Island fields.

The block contains numerous gas, condensate and oil prospects and leads, seen as structural traps with Middle Miocene sandstone reservoirs. A significant gas and condensate discovery, South Sembakung, is scheduled for imminent appraisal through a two well program. These wells represent the final commitment on the block.

The Simenggaris PSC is operated by a Joint Operating Body (JOB) between Medco Simenggaris Pty Ltd as representative of the Contractor and PT PERTAMINA (PERSERO), Salamander Energy will become a party to the Simenggaris PSC on completion of this transaction.

South Sembakung Discovery

South Sembakung was originally discovered by Arco in 1977. The SS-1 well tested 12.7 mmscfd and 115 barrels of condensate per day from sandstones of the Miocene Meliat formation between 7,308 and 7,352 ft sub-sea. Gas indications were also seen in the shallower Tabul formation at 4,085 ft – 4,096 ft and in a deeper zone between 9,042 ft – 9,102 ft.

A second well (SS-2) was drilled on the structure last year, which terminated in the upper Meliat formation at circa 6,950 ft sub-sea. The well saw indications of gas within the Tabul formation, but did not reach the deeper zone, which tested gas in SS-1. A third well location has been selected at the crest of the structure. The forward work program includes a deepening of the SS-2 well to 9,000 ft into the lower Meliat formation and the drilling of new well SS-3.

The Medco-Pertamina JOB carries a resource estimate of 125 Bcf and 3 mmbc of liquids for the feature.

Local Gas Market

The main gas market is the Bunyu methanol plant, which started production in 1983. Production has been falling consistently over the past four years as natural gas feedstock is in short supply.

Tuesday, June 26, 2007

Ketika Ekspansi Melambung, Valuasi Membubung

A. Emiten Papan Utama Terbaik

PT Apexindo Pratama Duta Tbk

Bisnis Indonesia -- Anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk ini termasuk perusahaan kontraktor pengeboran yang terbesar di Tanah Air.

Apexindo masuk dalam nominee emiten papan utama terbaik karena memiliki keunggulan penilaian dari segi tingkat pengembalian atas modal (return on equity) yang telah tumbuh positif pada 2006 dibandingkan dengan posisi minus pada 2005.

Saham Perusahaan hingga akhir tahun lalu dipegang oleh Medco Energi International (51,48%), Asian Opportunities Fund I Segregated (15,89%), CLSA Ltd (18,56%), dan publik sebesar 14,07%.

Berpengalaman Dalam Mengebor

Bisnis Indonesia - Setelah menjadi sarjana dari Jurusan Mesin Institut Teknologi Bandung pada 1974, Hertriono Kartowisastro aktif sebagai salah satu pendiri Kelompok Usaha Medco sejak 1975 dan menjadi salah satu pendiri Apexindo pada 1984.

Jabatan sebagai presiden direktur di berbagai perusahaan disandang oleh pria kelahiran 1946 ini. Selain menjadi Presdir Apexindo sejak 2001, dia juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Dutatech Persada, PT Hertech Karisma, dan PT Antareja Hertrindo Kharisma. Saat ini juga masih menjabat sebagai Komisaris Utama PT Antareja Jasatama dan Komisaris PT Meta Epsi Duta Corporation.

Dengan pengalaman ekstensif di bidang pengeboran darat dan lepas pantai dengan menjabat sebagai Direktur Utama PT Meta Epsi Antareja Drilling Co.selama 15 tahun, 1983-1998. Selanjutnya, pada 1984-2000 dia ditunjuk sebagai Komisaris Andrawina Praja Sarana.

Pada 1994-1998, Hertriono menjadi Presdir di Medco Group, dan pada periode selanjutnya (1998-2001), dia ditunjuk menjadi Presiden Komisaris PT Medco Energi Internasional Tbk.

Pada periode 2000, Hertriono menjadi Presiden Direktur PT Medco Antareja. Sedangkan sebagai presdir Apexindo Pratama Duta Tbk dia pegang pada 2001.

Sebagai Direktur Utama, Hertriono diantaranya bertanggung jawab untuk menyusun strategi dan rancangan kerja Perseroan; mengelola dan memastikan penerapan kebijakan sumber daya manusia, serta prosedur internal dan eksternal.

Apexindo sendiri merupakan satu perusahaan kontraktor pengeboran pantai dan leps pantai nasional terbesar yang memiliki klien baik dari perusahaan lokal maupun internasional.

Didirikan pada Juni 1984, perusahaan itu menjadi perusahaan terbuka pada 2002 dengan saham dipegang oleh PT Medco Energi Internasional Tbk (51,48%), Asian Opportunities Fund I Segregated (15,89%), CLSA Ltd (18,56%), dan masyarakat sebesar 14,07%.

PT Medco Energi Internasional Tbk sempat diberitakan akan menjual 52% saham Apexindo, namun akhirnya dibatalkan. Padahal, Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (ALCO) dari India menawar saham Medco US$550 juta dan China Oilfield Services Limited (COSL), juga menyatakan minatnya seiring dengan China National Offshore Oil Corporation Limited (CNOOC).

Monday, May 21, 2007

Apexindo Perpanjang Kontrak Rig Maera

JAKARTA, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) mendapat perpanjangan kontrak Rig Maera, rig lepas pantai dengan tipe submersible swampbarge untuk kegiatan eksplorasi gas yang dilakukan PT Total E&P Indonesie di Tunu, Kalimantan Timur.

Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro dalam siaran pers yang diterima Investor Daily, baru-baru ini, menyatakan, perpanjangan kontrak rig senilai US$146 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun tersebut untuk periode lima tahunke depan. Rig Maera telah dioperasikan bagi kepentingan eksplorasi gas Total E&P Indonesie sejak 1992. (pya)

Tuesday, May 15, 2007

Kontrak Apexindo diperpanjang

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk menerima perpanjangan kontrak dari Total E&P Indonesie (Total) atas rig lepas pantai Maera senilai US$146 juta.

Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan menyebutkan perpanjangan kontrak untuk periode lima tahun ini sejalan dengan strategi perseroan untuk fokus pada kontrak-kontrak jangka panjang dan klien dengan cadangan besar.

"Apexindo selalu memanfaatkan tingginya permintaan rig lepas pantai seperti pencapaian kontrak ini, di mana Apexindo mendapat penyesuaian harga sewa harian yang signifikan lebih dari 75%," tuturnya dalam siaran pers, kemarin.

Harga sewa harian baru itu akan berlaku mulai September 2007 dan memberikan kontribusi besar pada triwulan terakhir tahun ini. (Bisnis/ags)

PERMINYAKAN

Jakarta, Seputar Indonesia: PERMINYAKAN [photo] Dua model sedang berdiri di salah satu stan peserta konferensi dan pameran Asosiasi Perminyakan Indonesia (IPA) di Jakarta, kemarin. Konferensi dan pameran yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut berlangsung hingga 16 Mei 2007 dan diikuti berbagai perusahaan perminyakan.

Monday, May 14, 2007

PT Apexindo Wins Contract Extension from Total

rigzone.com, AFX News Limited --Rig operator PT Apexindo Pratama Duta said it has secured a five-year rig contract extension worth US$146 million from Total E&P Indonesie for its Maera submersible swampbarge offshore rig.

The rig is one of Apexindo's four swampbarge rigs contracted by Total for exploration and production activities in Tunu, East Kalimantan.

(US$1 = 8,826 rupiah)

SLIPPERY BUSINESS

Jakarta, The Jakarta Post: SLIPPERY BUSINESS: [photo] A worker positions a poster for oil-rig company Soehanah, which is participating in the 31st Annual Indonesian Petroleum Convention and Exhibition 2007. The expo, which President Susilo Bambang Yudhoyono will officially open this Monday, runs until May 16. It will showcase the latest developments in the country’s oil and gas sectors, aiming to boost invesment in the industry.