Wednesday, September 12, 2007

Apexindo Raih Kontrak US$ 7 Juta

Jakarta, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) berhasil mendapatkan kepastian kontrak untuk pekerjaan pemboran darat senilai US$ 7 juta. Apexindo telah menandatangani kontrak pekerjaan jasa pengeboran darat untuk Rig 8 dengan EMP Kangean Limited di Blok Kangean, Jawa Timur selama tiga bulan dengan nilai kontrak US$ 2,1 juta.

Sedangkan untuk Rig 2, perseroan mendapatkan pekerjaan dari JOB Pertamina-Medco Simenggaris Pte Ltd senilai sekitar US$ 2,8 juta untuk periode empat bulan di Kalimantan Timur. Untuk Rig 14, Apexindo mendapatkan kontrak dari VICO Indonesia di Lapangan Mutiara, Kalimantan Timur senilai US$ 2,1 juta untuk jangka waktu enam bulan.

“Keberhasilan Perseroan mendapatkan kontrak-kontrak itu menunjukan bahwa Apexindo masih memimpin pasar pengeboran darat, walaupun persaingan di segmen tersebut masih ketat,” kata Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro dalam siaran persnya, Selasa (11/9).

Direktur Apexindo Agustinus B Lomboan menambahkan, segmen rig darat dapat memberikan kontribusi pendapatan yang cukup siginifikan terhadap pertumbuhan perseroan secara keseluruhan. Untuk mempertahankan prestasi itu, Apexindo terus mengincar kontrak-kontrak baru yang menarik seiring tingginya permintaan jasa penegboran rig darat. (jau)

Apexindo Dapatkan Kontrak Senilai 7 Juta Dollar AS

Kompas --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk mendapatkan kontrak pengeboran dengan menggunakan tiga rig senilai 7 juta dollar AS. Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro, dalam siaran pers, Selasa (11/9), menjelaskan, tiga rig yang disewakan adalah Rig 8 kepada EMP Kangean Limited untuk pengeboran darat di Blok Kangean senilai 2,1 juta dollar AS. Kedua, Rig 2 mendapatkan pekerjaan dari Medco Simenggaris Pty Ltd senilai 2,8 juta dollar AS. Ketiga, Rig 14 dikontrak oleh VICO Indonesia untuk pekerjaan di Lapangan Mutiara, Kalimantan Timur, senilai 2,1 juta dollar AS. (*/TAV)

Thursday, September 6, 2007

Saham ESOP Apexindo Dicatatkan

Jakarta, Bisnis Indonesia --- Saham baru PT Apexindo Pratama Duta Tbk hasil pelaksanaan employee stock option program (ESOP) dicatatkan di Bursa Efek Jakarta.

Berdasarkan keterbukaan informasi, kemarin, disebutkan jumlah saham hasil konversi ESOP itu mencapai 82.500 saham di mana pencatatan dan mulai diperdagangkan pada 6 September 2007.

Akibat pencatatan itu, jumlah saham Apexindo Pratama yang tercatat di BEJ seluruhnya mencapai 2,63 miliar saham, sedangkan ESOP yang belum dikonversi setara dengan 26,95 juta saham. (Bisnis/wiw)

Friday, August 31, 2007

Apexindo teken kontrak US$863.630

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Perusahaan pengeboran PT Apexindo Pratama Duta Tbk menandatangani letter of intent dengan PT Medco E&P Indonesia pada 27 Agustus 2007 dengan total estimasi nilai maksimum kontrak US$863.630 untuk pengeboran darat.

Dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Jakarta, pekan ini disebutkan Apexindo akan menggunakan rig 15 untuk mengebor sumur Tunas, Sumsel yang akan berakhir pada 27 Oktober 2007. (Bisnis/wiw)

Apexindo Dapat Kontrak Baru

JAKARTA, Koran Tempo -- PT Apexindo Pratama Duta Tbk. mendapatkan kontrak pekerjaan pengeboran darat dari PT Medco E&P Indonesia senilai US$ 863,63 juta.

Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R. Satari dalam penjelasannya kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan mengatakan penandatanganan letter of intent atas kontrak itu telah dilakukan pada 27 Agustus 2007.

Dalam perjanjian itu disebutkan perseroan akan melakukan pengeboran darat, yang akan dikerjakan Rig 15, di lokasi pengeboran Sumur Tunas, Provinsi Sumatera Selatan. Pekerjaan itu akan diselesaikan pada 27 Oktober 2007.

Dijelaskan juga transaksi tersebut tidak mengandung benturan kepentingan sehingga tidak memerlukan persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa.

Wednesday, August 15, 2007

Apexindo Bangun TKK PKK 96 Sindet

Kedaulatan Rakyat, Imogiri (KR) – Peningkatan taraf pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dari PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) dalam memaksimalkan aspek tanggung jawab social perusahaan. Diantaranya dengan membangun gedung sarana pendidikan seperti TK PKK 96 Sindet Wukirsari Imogiri.

Demikian disampaikan Dirut PT Apexindo, Hertriono Kartowisastro pada peresmian gedung TK PKK 9 Sindet, Selasa (14/8). Gedung TK PKK tersebut dibangun PT Apexindo setelah roboh akibat gempa bumi 27 Mei 2006 lalu. Hadir dalam acara itu Asistem II Bidang Fasilitasi dan Investasi Pemprop DIY Suhartuti Sutopo, pejabat Medco Group Yani Yuhani Panigoro, Wakil Bupati Bantul Drs H Sumarno PRS dan warga sekitar.

Kepedulian Apexindo bagi korban gempa di Bantul, telah dilakukan dengan pemberian berbagai bantuan sejak sekitar setahun silam. Seperti penyaluran bantuan logistik sehari pasca gempa, juga mendirikan Posko Apexindo Peduli Yogya. Sedangkan bantuan pembangunan gedung sekolah, selain di Sindet juga membangun gedung SDN Bendonsari Desa Canden Jetis.

Sementara itu H. Sumarno PRS dalam sambutannya mengakui bahwa bantuan yang diberikan oleh dunia usaha pada korban gempa, menunjukkan itikad baik dan mampu memberikan manfaat riil. Apalagi Pemkab Bantul tengah membangun dunia pendidikan, sehingga kepedulian para donatur termasuk PT Apexindo sejalan dengan program pembangunan Pemkab Bantul.

Apexindo dan Medco Resmikan TK

Bernas Yogya, Imogiri – Memaksimalkan penyelenggaraan aspek tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), PT Apexindo Pratama Duta Tbk bersama dengan Medco Foundation meresmikan Gedung Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) PKK 96 di Dusun Sindet, Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, Sleasa (14/8). Gedung TK tersebut rusak akibat gempa 27 Mei 2006.

“Pendidikan merupakan salah satu prioritas utama kami dengan menyediakan bangunan sekolah-sekolah,” tutur Direktur Utama Perseroan, Hertriono Kartowisastro bersama dengan Yani Yuhani Panigoro dari Medco group. Peresmian dihadiri Wakil Bupati Bantul H. Sumarno PRS, Suhartuti Soetopo perwakilan Gubernur DIY dan jajaran Muspida setempat.

“Melanjutkan komitmen membantu pendidikan saat ini Apexindo juga sedang menyusun program pembangunan gedung sekolah di Kalimantan Timur. Sebelumnya kita juga membangun gedung SD Bendosari di wilayah Canden, Jetis, Bantul yang juga mengalami kerusakan parah akibat gempa satu tahun yang lalu,” kata Hertriono lebih lanjut.

Hertriono menyebutkan sejak gempa melanda DIY dan sekitarnya, berbagai bentuk bantuan dilakukan Apexindo mulai dari penyaluran bantuan logistik sehari setelah gempa, hingga pembangunan sekolah dan lainnya. Manajemen Aoexindo langsung menyalurkan bantuan melalui Posko Jenggala sebuah organisasi sosial kemanusiaan milik Medco Group. Apexindo juga mendirikan Posko Apexindo Peduli Yogyakarta dengan basis di Sleman.

Yani Yuhani Panigoro dari Medco Group menambahkan bantuan untuk pembangunan TK mencapai Rp 165 juta juga mampu menggerakkan dukungan warga. “Medco Group sejak gempa juga membantu pembangunan SD Gondosuli, sebagai wujud kepedulian pendidikan bangsa. Kita akan terjun dan pantau terus sampai mandiri, sebab pendidikan tidak hanya untuk generasi saat ini juga generasi selanjutnya,” ucap Yani.

Sedangkan Wakil Bupati H. Sumarno PRS mewakili Bupati Bantul H. Idham Samawi menyatakan dukungan ini menyiratkan itikad aik dunia usaha untuk memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat. “Manfaat terasa nyata dalam program restrukturisasi daerah, kami berharap kerjasama Pemda dan dunia usaha seperti ini bisa terus berlanjut,” ujarnya.

Tuesday, August 14, 2007

Bantuan Apexindo Diserahkan

Bernas Yogya, Danurejan – Apexindo dan Medco Foundation sebagai salah satu donator bagi korban gempa di Bantul, Selasa (14/8) hari ini secara resmi menyerahkan bantuan. Menurut Vice President Compliance Corporate PT Apexindo, Ade R. Satari, bantuan yang akan diserahkan berupa gedung TK PKK 96 di wilayah Sindet, Wukirsari, Imogiri, Bantul.

Dipilihnya gedung TK di Sindet sebagai sasaran bantuan dikarenakan sektor pendidikan merupakan elemen dasar dan penting bagi pembangunan masyarakat. “Pendidikan merupakan elemen penting dan mendasar bagi masyarakat, maka pembangunan gedung TK ini menjadi salah satu bentuk perwujudannya, dan kita serahkan kepada pemerintah daerah,” kata Ade, Senin (13/8) di Hotel Melia.

Selain gedung TK di Sindet, Apexindo dan Medco, menurut Ade, juga membangun gedung SD Bendosari di wilayah Canden, Jetis, Bantul yang juga mengalami kerusakan parah akibat gempa 27 Mei 2006.

Bahkan sebagai wujud oerhatian terhadap pendidikan, Apexindo juga memberikan bantuan tidak hanya di lokasi bencana tetapi juga ke seluruh wilayah Indonesia. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran adalah Kalimantan Timur, tempat eksplorasi yang selama ini dilakukan Apexindo.

Friday, August 10, 2007

Kredit ke Sektor Migas Naik 516%

JAKARTA, Investor Daily --- Pembiayaan perbankan kepada industri minyak dan gas bertumbuh 516% selama periode 2004-Juni 2007 dari Rp 1,8 triliun menjadi Rp 11,3 triliun. Sektor ini membutuhkan pendanaan dari bank sebesar US$ 12 miliar per tahun. Sebagian besar dana itu dialokasikan untuk membiayai industri hulu.

“Perbankan bisa membiayai industri migas mulai dari yang kecil (UKM) hingga industri hulu yang besar-besar,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D Hadad saat membuka seminar Prospek dan Peluang Usaha Penunjang Migas di Gedung BI Jakarta, Kamis (9/8).

Meski prospektif, Muliaman mengingatkan perbankan untuk memperhitungkan risiko kreditnya, sebab dana yang dibutuhkan industri migas relatif besar. Rasio kredit bermasalah (non performing loan) industri ini turun dari Desember 2006 sebesar 9,4% menjadi 4,4% pada Juni 2007.

“Untuk mengurangi risiko kredit, bank-bank sebaiknya melakukan sindikasi untuk membiayai industri migas yang membutuhkan dana besar. Kalau yang UKM saya rasa tidak masalah,” ujar dia.

Melalui kredit sindikasi, perbankan nasional, lanjut Muliaman, dapat bersaing dengan bank-bank asing yang selama ini lebih banyak memenuhi kebutuhan industri tersebut. Dengan berbagi risiko, bunga yang diberikan bisa lebih rendah, sehingga pelaku industri akan memilih pembiayaan dari perbankan lokal.

Muliaman menambahkan, pembiayaan dari luar negeri lebih banyak dipilih oleh industri migas di sektor hulu. Sementara untuk industri penunjang atau hilir cenderung dibiayai perbankan lokal.

Di tempat yang sama, Dirjen Migas Lulu Sumiarso mengatakan, kebutuhan industri migas di sektor hulu sebanyak US$ 9 miliar, sedangkan sisanya untuk sektor hilir. Dia mengaku, selama ini pembiayaan terbesar lebih disokong pihak asing, sedangkan perbankan nasional masih memperhitungkan tingginya risiko kredit.

Sebelumnya, Direktur Korporasi PT Bank Mandiri Tbk Abdul Rahman mengaku kekurangan tenaga yang paham soal migas dan menilai risikonya cukup tinggi. “Kami belum familiar dengan oil and gas. Kalau dalam eksplorasi itu risikonya tinggi dan butuh biaya besar padahal kami belum punyakeahlian yang kuat di bidang ini,” kata Abdul Rahman.

Hingga saat ini, total kredit yang dikucurkan Bank Mandiri ke sektor migas sekitar Rp 800-900 miliar. Jumlah ini dinilai masih kecil dibandingkan minat bank-bank asing membiayai sektor migas.

Sementara itu, Direktur Korporasi PT Bank Central Asia Tbk Dhalia Ariotedjo mengatakan, pihaknya telah mengucurkan kredit ke beberapa perusahaan besar di industri migas seperti Pertamina dan Apexindo. Namun dia enggan menyebutkan plafon kredit tersebut.

Dhalia mengaku minimnya pembiayaan ke sektor migas dari perbankan lokal disebabkan kebutuhan dana cukup besar dan nilai tukar yang digunakan dalam dolar. Untuk memberikan kredit dalam dolar, pihaknya kesulitan mencari sumber pendanaan. “Kami mungkin hanya bisa membiayai sektor migas melalui sindikasi, sebab BCA masih sulit memberikan pinjaman yang besar dalam dolar,” kata dia. (c104)

Monday, August 6, 2007

Harga minyak & metal dongkrak emiten pertambangan

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Harga minyak dan komoditas metal yang melonjak pada semester I/2007 membantu sejumlah emiten pertambangan membukukan kinerja yang kinclong.

Sekarang ini tercatat ada 13 emiten pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Beberapa nama sudah lama bertengger dalam daftar itu, tiga merupakan pendatang baru (lihat tabel).

Satu baru saja masuk bursa pada Juli yakni PT Perdana Karya Perkasa Tbk, sedangkan dua lagi yakni PT ATPK Resources Tbk dan PT Cita Mineral Investindo Tbk berpindah bidang usaha ke pertambangan dari sebelumnya perusahaan tambak dan mebel.

Sebagian besar emiten tersebut telah memublikasikan laporan keuangan semester pertama. Dua BUMN yakni PT Timah Tbk, PT Aneka Tambang Tbk bersama dengan Perdana Karya dan PT Citatah Industri Tbk adalah empat di antaranya yang belum melaporkan kinerjanya ke publik.

Secara umum, pendapatan emiten dalam kurun waktu Januari-Juni 2007 mengalami peningkatan. Begitu pula dengan perolehan laba. Pengecualian terjadi pada PT Energi Mega Persada Tbk, di mana pada pos penjualan dan laba angkanya merosot. Penjualan anjlok 41,36% dari Rp832,33 miliar menjadi Rp488,05 miliar, sedangkan laba bersih tergerus hampir 70% menjadi Rp52,43 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp171,98 miliar.

Hampir senasib, PT Apexindo Pratama Duta Tbk meski membukukan kenaikan pendapatan 19,2% dari US$68,62 juta menjadi US$81,81 juta, perolehan laba bersih perseroan anjlok dari US$16,25 juta menjadi US$15,01 juta akibat penurunan laba nonkas atas transaksi swap.

Sebaliknya, PT Bumi Resources Tbk malah membukukan kenaikan laba yang luar biasa dari US$90,43 juta menjadi US$721,89 juta, atau melonjak hampir delapan kali lipat. Padahal penjualan batu bara perusahaan tambang itu hanya naik 33%.

Perusahaan sejenis yakni PT Pertambangan Batubara Bukit Asam Tbk, yang memang lebih banyak menjual produknya ke dalam negeri, hanya membukukan kenaikan laba sekitar 95%. Pada semester satu, BUMN ini mencatatkan laba sebesar Rp302,22 miliar dari sebelumnya Rp155,16 miliar.

Sedang tinggi

PT International Nickel Indonesia Tbk juga membukukan lonjakan laba sebesar 473% dari US$123,28 juta jadi US$707,01 juta. Penjualan perusahaan nikel dengan biaya produksi terendah di dunia ini bahkan tembus US$1,30 miliar.

Head of Research Recapital Securities Satrio Utomo menilai kinerja emiten pertambangan pada semester satu ini lebih banyak didorong oleh harga komoditas seperti nikel, timah, batu bara, dan minyak yang sedang tinggi.

Di sisi lain, kenaikan harga BBM diakuinya membayangi kinerja emiten khususnya yang bukan bergerak di pertambangan migas. "Perusahaan pertambangan itu rakus BBM, komponen dalam biaya produksi tinggi. Karena itu investor hendaknya cenderung memilih perusahaan yang bisa menghemat biaya, karena energinya bukan dari BBM," tuturnya, akhir pekan lalu.

Bagi perusahaan migas, kenaikan harga minyak dunia seharusnya mendongkrak penjualan. Namun, Energi Mega malah melempem, dan Medco hanya naik relatif tipis. Hal positif bagi Medco adalah imbas luapan lumpur di Sidoarjo, Jatim telah terdiskon semenjak perseroan menjual kepemilikannya di blok Brantas PSC. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari

Bisnis Indonesia