By Leony Aurora, Bloomberg, Jakarta, The Jakarta Post -- PT Medco Energi Internasional, Indonesia's biggest publicly traded oil company, said Credit Suisse will help sell its 52 percent stake in a drilling service unit. The unit’s shares surged as much as 11 percent.
PT Apexindo Pratama Duta may post net income of $75 million next year and should be valued at 12 times its future earnings, President Hilmi Panigoro said in a telephone interview Friday. That values the company at $900 million, or a 51 percent premium to Apexindo's market value as of Thursday.
Medco plans to sell the stake because rig rentals have peaked, Panigoro said on July 19. The rates have more than tripled since 2004 as explorers step up efforts to find oil and benefit from record crude prices. Medco in August last year scrapped talks to sell the stake with companies including India's Aban Offshore Ltd. and China Oilfield Services Ltd.
“Medco should sell Apexindo if it wants to focus on its exploration and production activities,” Ahmad Solihin, an analyst at PT Mandiri Sekuritas, said in Jakarta Friday. “It won’t have the capital to support Apexindo’s growth as the rig business is quite expensive.”
Apexindo jumped as much as Rp 225, its biggest intraday gain in four months, to Rp 2,350 on the Jakarta Stock Exchange Friday. It traded at Rp 2,250 at 2:21 p.m. Medco climbed 1.3 percent to Rp 3,900 on the bourse.
``At the right price, everything is for sale,'' Panigoro said. The company is trading at 9.9 times next year’s earnings, according to Bloomberg data.
Apexindo is valued at about Rp 2,500 a share based on its assets, according to Mandiri’s Sholihin, who has a “ buy”recommendation on the share. That’s an 18 percent premium to the company’s closing price Thursday.
Medco expects to complete the stake sale by the end of the first quarter of next year, Panigoro said.
Apexindo rose 2.4 percent to 2,175 rupiah at 10.a.m. on the Jakarta Stock Exchange today. The company is traded at 9.4 times next year's earnings, according to Bloomberg data.
The Bisnis Indonesia newspaper today reported that the stake in Apexindo has been offered to as many as 30 potential investors, including TPG Inc., a U.S. private equity firm, and Ashmore Group Plc.
``Credit Suisse is always in talks with TPG, as it's a client,'' Panigoro said. ``It's too early to say with whom we may be speaking to.''
Apexindo owns and operates nine onshore drilling rigs, and four swamp barges contracted by the Indonesian unit ot Total SA. Its also operates one jack-up rig in the Middle East for Norway Statoil ASA and another one in Total’s field in East Kalimantan.
Apexindo is 32-percent owned by SeaDrill Ltd., a company controlled by Norwegian billionaire John Fredriksen.
Saturday, September 15, 2007
Medco Hires Credit Suisse to Sell Service Unit Stake
Labels: Divestasi Apexindo
Friday, September 14, 2007
Medco Hires Credit Suisse to Sell Service Unit Stake (Update1)
By Leony Aurora
Sept. 14 (Bloomberg) -- PT Medco Energi Internasional, Indonesia's biggest publicly traded oil company, has appointed Credit Suisse to help sell its 52 percent stake in a drilling service unit, President Hilmi Panigoro said.
The unit, PT Apexindo Pratama Duta, may post net income of $75 million next year and should be valued at 12 times its future earnings, Panigoro said in a telephone interview today. That values the company at $900 million, or a 51 percent premium to Apexindo's market value as of yesterday.
Medco is ``open'' to offer the stake as rig rates have peaked, Panigoro said on July 19. Rig rates have more than tripled since 2004 as explorers step up efforts to find oil and benefit from record crude prices. Medco in August last year scrapped talks to sell the stake with companies including India's Aban Offshore Ltd. and China Oilfield Services Ltd.
``At the right price, everything is for sale,'' Panigoro said. Medco expects to complete the stake sale by the end of the first quarter of next year, Panigoro said.
Apexindo rose 2.4 percent to 2,175 rupiah at 10.a.m. on the Jakarta Stock Exchange today. The company is traded at 9.4 times next year's earnings, according to Bloomberg data.
The Bisnis Indonesia newspaper today reported that the stake in Apexindo has been offered to as many as 30 potential investors, including TPG Inc., a U.S. private equity firm, and Ashmore Group Plc.
``Credit Suisse is always in talks with TPG, as it's a client,'' Panigoro said. ``It's too early to say with whom we may be speaking to.''
Apexindo is 32-percent owned by SeaDrill Ltd., a company controlled by Norwegian billionaire John Fredriksen.
To contact the reporter on this story: Leony Aurora in Jakarta at laurora@bloomberg.net
Last Updated: September 13, 2007 23:10 EDT
Labels: Divestasi Apexindo
Apexindo raih kontrak US$7 juta
JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) mendapatkan kontrak senilai US$7 juta untuk beberapa pekerjaan pengeboran darat dari tiga klien berbeda.
Apexindo mendapat kontrak untuk Rig 8 dari EMP Kangean Limited di Blok Kangean, Jawa Timur selama tiga bulan denan nilai US$2,1 juta. Dari Rig 2, Apexindo meneken kontrak empat bulan senilai US$2,8 juta dengan JOB Pertamina-Medco Simenggaris Pty. Ltd.
Sementara itu, Rig 14, Apexindo digandeng Vico Indonesia untuk mengebor di Lapangan Mutiara, Kaltim selama enam bulan dengan nilai US$2,1 juta. (Bisnis/raf)
Labels: Divestasi Apexindo
Calon pemodal masukan surat minat dan indikasi harga hari ini, TPG & Ashmore ditawari saham Apexindo
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Perusahaan yang dikendalikan keluarga Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk, menawarkan 52% saham PT Apexindo Pratama Tbk kepada 20-30 pemodal strategis dari domestik maupun luar negeri.
Sejumlah perusahaan yang ditawari untuk membeli saham Apexindo di antaranya adalah perusahaan raksasa private equity Texas Pacific Group (TPG), Grup 3I, Ashmore, Recapital, dan sejumlah institusi keuangan luar negeri seperti di Timur Tengah. Dalam proses penjualan saham itu, Medco dibantu oleh bank investasi asing Credit Suisse sebagai penasihat.
Seorang eksekutif yang terlibat dalam transaksi ini mengatakan sebagian besar investor yang ditawari Medco untuk membeli Apexindo berasal dari luar negeri.
"Valuasi saham yang ditawarkan oleh Medco cukup tinggi bisa mencapai enam kali nilai bukunya. Namun, sampai saat ini belum ada kesepakatan antara Medco dan calon pembeli karena ini juga baru penawaran awal," ujarnya kemarin.
Calon pembeli diminta memasukkan surat minat terhadap Apexindo hari ini, sekaligus mencantumkan indikasi harga awal.
Medco, katanya, ingin menjual saham Apexindo di posisi Rp2.400 per saham, premium dari harga penutupan kemarin Rp2.125, naik dari penutupan sebelumnya Rp2.050.
Selain Medco, 32% saham Apexindo dipegang oleh SeaDrill Ltd yang dikendalikan oleh konglomerat Norwegia John Fredriksen.
Bisnis meminta konfirmasi kepada Direktur Utama Medco Hilmi Panigoro, tetapi yang bersangkutan tidak menjawab panggilan telepon selulernya. Bahkan, hingga berita ini diturunkan, Hilmi belum merespons pertanyaan yang disampaikan melalui layanan pesan singkat.
Pada Agustus tahun lalu, Medco menolak tawaran dari perusahaan asal India dan China untuk membeli 52% kepemilikannya di Apexindo. Saat itu, manajemen Medco beralasan jika penjualan dilakukan, Medco akan sulit untuk mengamankan rig di masa datang, tatkala persaingan menaikkan tingkat penyewaan alat pengeboran itu.
Dalam risetnya pada 7 Agustus, CIMB-GK Securities menyatakan Apexindo merampungkan studi perbandingan terhadap 14 perusahaan penyedia jasa terkait serupa dengannya, di mana valuasi terendah 1,7 kali price to book value (rasio harga saham dibandingkan nilai buku per saham/PBV). Selain itu, 50% dari perusahaan tersebut diperdagangkan dengan kisaran P/BV antara dua kali hingga tiga kali.
Analis CIMB-GK Securities Indonesia Robert Adair mengatakan dengan menerapkan P/BV 1,7 kali yang dikalikan revaluasi aset akan memberikan target harga Apexindo yang konservatif Rp2.700 per saham, di atas valuasi Rp1.900 per saham saat Medco menolak calon pembeli anak usahanya itu tahun lalu.
Kontribusi naik
Apexindo menyumbang 15% pendapatan Medco. Adair memperkirakan kontribusi itu naik 21% pada 2008. Sumbangan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earning before interest, tax, depreciation, and amortization/EBITDA) juga diharapkan juga lebih tinggi yakni 27% pada tahun ini dan 2008.
Apexindo membukukan laba bersih semester I/2007 US$15 juta, turun 7,4% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu US$16,2 juta, menyusul penurunan keuntungan nonkas akibat transaksi swap.
Selain itu, perseroan membukukan EBITDA US$38,6 juta, naik 28,7% dibandingkan US$30 juta pada triwulan II/2006. Dalam kurun enam bulan pertama tahun ini Apexindo tercatat memiliki kas setara dengan US$41 juta, utang US$201 juta, dan ekuitas pemegang saham US$218 juta.
Hal ini menjadikan net gearing perseroan berada di level 74%, meningkat dibandingkan per Maret 2007 yang sebesar 28%. Peningkatan ini mencerminkan beban biaya perseroan pascapenerimaan jack-up rig Soehanah. (munir.haikal@bisnis.co.id/wisnu. wijaya@bisnis.co.id)
Oleh M. Munir Haikal & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Labels: Divestasi Apexindo
Wednesday, September 12, 2007
Apexindo raih kontrak US$7 juta
oleh : Rudi Ariffianto
JAKARTA (Bisnis Indonesia Online): PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) meraih kontrak US$7 juta untuk pemboran darat dari tiga klien berbeda.
Apexindo mendapat kontrak untuk Rig 8 dari EMP Kangean Limited di Blok Kangean, Jatimm selama tiga bulan bernilai US$2,1 juta. Dari Rig 2, Apexindo meneken kontrak empat bulan senilai US$2,8 juta dengan JOB Pertamina-Medco Simenggaris Pty. Ltd. Sedangkan Rig 14, Apexindo digandeng Vico Indonesia untuk mengebor di Lapangan Mutiara, Kaltim, selama enam bulan bernilai US$2,1 juta.
"Walaupun harus bersaing ketat, Apexindo tetap dapat berpartisipasi. Saat ini, seluruh rig darat Apexindo sedang bekerja," kata Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro dalam siaran persnya.
Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan menambahkan pihaknya akan terus bersaing mendapatkan kontrak baru. Segmen rig darat berkontribusi pendapatan signifikan bagi pertumbuhan perusahaan. Apalagi, kata dia, permintaan rig darat saat ini terus meningkat.
"Dalam beberapa tahun terakhir, segmen rig darat memberikan kontribusi pendapatan yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan Apexindo secara keseluruhan. Hal ini juga didukung tingginya permintaan akan jasa pemboran rig darat belakangan ini," tuturnya. (tw)
Labels: Kontrak Pengeboran
Apexindo Raih Kontrak US$ 7 Juta
Jakarta, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) berhasil mendapatkan kepastian kontrak untuk pekerjaan pemboran darat senilai US$ 7 juta. Apexindo telah menandatangani kontrak pekerjaan jasa pengeboran darat untuk Rig 8 dengan EMP Kangean Limited di Blok Kangean, Jawa Timur selama tiga bulan dengan nilai kontrak US$ 2,1 juta.
Sedangkan untuk Rig 2, perseroan mendapatkan pekerjaan dari JOB Pertamina-Medco Simenggaris Pte Ltd senilai sekitar US$ 2,8 juta untuk periode empat bulan di Kalimantan Timur. Untuk Rig 14, Apexindo mendapatkan kontrak dari VICO Indonesia di Lapangan Mutiara, Kalimantan Timur senilai US$ 2,1 juta untuk jangka waktu enam bulan.
“Keberhasilan Perseroan mendapatkan kontrak-kontrak itu menunjukan bahwa Apexindo masih memimpin pasar pengeboran darat, walaupun persaingan di segmen tersebut masih ketat,” kata Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro dalam siaran persnya, Selasa (11/9).
Direktur Apexindo Agustinus B Lomboan menambahkan, segmen rig darat dapat memberikan kontribusi pendapatan yang cukup siginifikan terhadap pertumbuhan perseroan secara keseluruhan. Untuk mempertahankan prestasi itu, Apexindo terus mengincar kontrak-kontrak baru yang menarik seiring tingginya permintaan jasa penegboran rig darat. (jau)
Labels: Kontrak Pengeboran
Apexindo Dapatkan Kontrak Senilai 7 Juta Dollar AS
Kompas --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk mendapatkan kontrak pengeboran dengan menggunakan tiga rig senilai 7 juta dollar AS. Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro, dalam siaran pers, Selasa (11/9), menjelaskan, tiga rig yang disewakan adalah Rig 8 kepada EMP Kangean Limited untuk pengeboran darat di Blok Kangean senilai 2,1 juta dollar AS. Kedua, Rig 2 mendapatkan pekerjaan dari Medco Simenggaris Pty Ltd senilai 2,8 juta dollar AS. Ketiga, Rig 14 dikontrak oleh VICO Indonesia untuk pekerjaan di Lapangan Mutiara, Kalimantan Timur, senilai 2,1 juta dollar AS. (*/TAV)
Labels: Kontrak Pengeboran
Thursday, September 6, 2007
Saham ESOP Apexindo Dicatatkan
Jakarta, Bisnis Indonesia --- Saham baru PT Apexindo Pratama Duta Tbk hasil pelaksanaan employee stock option program (ESOP) dicatatkan di Bursa Efek Jakarta.
Berdasarkan keterbukaan informasi, kemarin, disebutkan jumlah saham hasil konversi ESOP itu mencapai 82.500 saham di mana pencatatan dan mulai diperdagangkan pada 6 September 2007.
Akibat pencatatan itu, jumlah saham Apexindo Pratama yang tercatat di BEJ seluruhnya mencapai 2,63 miliar saham, sedangkan ESOP yang belum dikonversi setara dengan 26,95 juta saham. (Bisnis/wiw)
Labels: ESOP
Friday, August 31, 2007
Apexindo teken kontrak US$863.630
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Perusahaan pengeboran PT Apexindo Pratama Duta Tbk menandatangani letter of intent dengan PT Medco E&P Indonesia pada 27 Agustus 2007 dengan total estimasi nilai maksimum kontrak US$863.630 untuk pengeboran darat.
Dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Jakarta, pekan ini disebutkan Apexindo akan menggunakan rig 15 untuk mengebor sumur Tunas, Sumsel yang akan berakhir pada 27 Oktober 2007. (Bisnis/wiw)
Labels: Kontrak Pengeboran
Apexindo Dapat Kontrak Baru
JAKARTA, Koran Tempo -- PT Apexindo Pratama Duta Tbk. mendapatkan kontrak pekerjaan pengeboran darat dari PT Medco E&P Indonesia senilai US$ 863,63 juta.
Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R. Satari dalam penjelasannya kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan mengatakan penandatanganan letter of intent atas kontrak itu telah dilakukan pada 27 Agustus 2007.
Dalam perjanjian itu disebutkan perseroan akan melakukan pengeboran darat, yang akan dikerjakan Rig 15, di lokasi pengeboran Sumur Tunas, Provinsi Sumatera Selatan. Pekerjaan itu akan diselesaikan pada 27 Oktober 2007.
Dijelaskan juga transaksi tersebut tidak mengandung benturan kepentingan sehingga tidak memerlukan persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa.
Labels: Kontrak Pengeboran