Tuesday, September 18, 2007

Dampak divestasi positif bagi Apexindo

Bisnis Indonesia --- Beberapa waktu yang lalu informasi rencana di vestasi saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk oleh induknya PT Medco Energi Internasional Tbk bocor ke pasar.

Kemungkinan penjualan 52% saham itu muncul kembali setelah Presdir Medco Hilmi Panigoro menyatakan akan men jual kepemilikannya di Apexindo jika harganya sesuai.

Pihak yang disebut-sebut berminat adalah Aban Loyd Chiles, China Oilfield Services, dan perusahaan energi asal Norwegia SeaDrill yang telah memiliki 31,8% saham Apexindo.

Apexindo juga merampungkan studi perbandingan terhadap 14 perusahaan penyedia jasa terkait serupa dengannya, di mana valuasi terendah sebesar 1,7 kali P/BV (valuasi harga saham dibandingkan nilai buku per saham). Selain itu, sebanyak 50% dari perusahaan tersebut diperdagangkan dengan kisaran P/BV antara dua kali hingga tiga kali.

Analis CIMB-GK Securities Indonesia Robert Adair mengatakan dengan menerapkan P/BV sebesar 1,7 kali yang dikalikan revaluasi aset akan memberikan target harga yang konservatif sebesar Rp2.700 per saham, di atas valuasi Rp1.900 per saham saat Medco menolak calon pembeli anak usahanya itu tahun lalu.

Selama ini Apexindo menyumbang 15% pendapatan Medco. Adair memperkirakan kontribusi tersebut meningkat sebesar 21% pada 2008.

Kontribusi laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi ( earning before interest, tax, depreciation, and amortization/EBITDA) diharapkan juga lebih tinggi yakni sekitar 27% untuk tahun ini dan 2008.

Kelemahan Apexindo terhadap Medco adalah utang bersih konsolidasi. Padahal, Medco juga mempunyai program belanja modal yang relatif agresif untuk 2007-2009, dalam rangka menjaga produksi di Rimau PSC dan menemukan serta mengembangkan sumur eksplorasi di Libya, Senoro Toili PSC, Block A PSC, dan aset lainnya.

Pembelian jack-up ketiga yang di rencanakan oleh Apexindo diperkirakan bakal men dorong konsolidasi net gearingdi atas 100%, akan tetapi divestasi akan memangkas net gearing konsolidasi hingga separuh.

Kekecewaan Medco terhadap kegiatan eksplorasi dan produksi di Tanah Air akan tertutupi dengan EBITDA Apexindo yang solid. Ini akan mendukung valuasi saham perseroan di harga sekarang.

"Akan tetapi kami percaya keberhasilan eksplorasi di Area 47, Libya akan menyediakan dukungan penting lain bagi Medco, meningkatkan kemungkinan penjualan Apexindo. Kami melihat indikasi divestasi Medco akan berdampak positif bagi harga saham Apexindo," papar Adair dalam risetnya yang terbit 7 Agustus 2007.

Dia menegaskan rekomendasi outperform terhadap saham Apexindo. Dia juga menargetkan saham berkode APEX ini pada level Rp3.000. Pada perdagangan Jumat saham APEX stagnan di level Rp2.125. Sebelumnya dalam lima hari terakhir harga itu stagnan di posisi Rp2.000.

Namun, Adair juga mengatakan jika Medco memutuskan untuk mendivestasikan kepemilikannya di Apexindo maka valuasi untuk perusahaan pengeboran sejenis di kawasan terlihat berada pada level target harga Rp2.700.

Pendapatan naik

Dalam laporan kinerja semester I/2007, Apexindo membukukan pendapatan US$82 juta, atau naik 19% dibandingkan tahun sebelumnya dan naik 28% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Jumlah pendapatan itu sejalan dengan ekspektasi CIMB-GK, meski tidak begitu dengan perolehan laba bersih. Laba bersih perseroan yang sebesar US$15 juta berada 10% di bawah perkiraan akibat kenaikan biaya bunga dan pengeluaran lainnya.

Secara rinci untuk kinerja per Juni itu, rig (alat pengeboran migas) lepas pantai menyumbang 62% pendapatan perseroan meskipun tingkat utilisasi tidak penuh, hanya 75%. Di sisi lain, rig darat yang menyumbang 38% pendapatan mencapai tingkat utilisasi sebesar 69%, mendekati utilisasi maksimum dengan mempertimbangkan waktu istirahat (downtime) yang diperlukan bagi rig di antara pekerjaan.

Sementara itu, dalam kurun waktu enam bulan pertama tahun ini Apexindo tercatat memiliki kas setara dengan US$41 juta, utang US$201 juta, dan ekuitas pemegang saham sebesar US$218 juta.

Hal ini menjadikan net gearing perseroan berada di level 74%, meningkat dibandingkan per Maret 2007 yang sebesar 28%. Peningkatan ini mencerminkan beban biaya perseroan pasca penerimaan jack-up rigSoehanah.

Adair juga mengatakan pertumbuhan yang telah dicapai perseroan pada kuartal kedua memastikan pertumbuhan pendapatan lanjutan dapat diharapkan pada kuartal berikutnya di tahun ini.

Pertumbuhan tersebut terutama akan didongkrak oleh kontrak dari Total Indonesie yang didapatkan Soehanah dan juga dari kontrak baru dengan Santos (Sampang) Pte Ltd untuk jack-up rig Raniworo.

Kedua kontrak ini akan men jadi kontribusi penuh bagi pendapatan Apexindo pada kuartal ketiga. Sebagai catatan, tarif sewa harian yang dikantongi Raniworo sudah naik 100% dibandingkan kontrak sebelumnya yang didapat dari Cresent Petroleum.

"Kami percaya Apexindo berada di tahap awal siklus multitahunan untuk kenaikan tarif harian baik itu pada rig darat, swamp barges, dan jack-up rig. Kontrak multitahun yang didapat rig lepas pantai menunjukkan kuatnya visibilitas kenaikan tersebut hingga 2009," kata Adair.

Dia juga mengungkapkan keyakinannya atas rencana Apexindo membeli jack-up rig ketiga. Adair mengalkulasikan jika investasi senilai US$200 juta dilakukan pada Januari 2008, maka perseroan mengantongi biaya sewa US$165.000 per hari. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh PUDJI LESTARI
Wartawan Bisnis Indonesia

Monday, September 17, 2007

Harga minyak tak 'bakar' saham energi

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Kenaikan harga minyak mentah dunia, yang sempat mencapai US$80 per barel, belum sanggup menggerakkan harga saham emiten pertambangan dan energi maupun sektor terkait. Namun, harga minyak diperkirakan turun awal bulan depan.

Harga minyak mentah di pasar dunia meroket sejak 15 Juni 2007 ke level US$69 per barel. Harga sumber energi ini terus menanjak ke level rata-rata U$70 per barel dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, yaitu US$80 per barel, pada 12 September 2007, setelah badai Humberto memaksa penutupan tiga kilang minyak di Texas, AS.

Kontrak minyak mentah di New York Mercantile Exchange untuk Oktober tercatat US$80,09 per barel.

Kemudian, pada akhir pekan lalu harga kontrak minyak untuk pengiriman Oktober mulai turun tipis menjadi US$79,60 per barel. Harga melonjak 26% sepanjang tahun ini ketika harga pada awal tahun berada di level US$63,41 per barel.

Head of Research Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia telah mendorong harga saham sejumlah perusahaan minyak di bursa Wall Street, AS.

Tetapi dampak itu tidak terjadi di Indonesia. Harga saham emiten yang berbasis usaha penambangan migas, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), tidak mengalami pergerakan berarti.

Pada perdagangan Jumat pekan lalu, harga saham Medco naik Rp50 menjadi Rp3.900, sedangkan saham Energi naik Rp10 menjadi Rp850. Namun, menurut Felix, kenaikan itu lebih banyak disebabkan oleh sentimen individu saham.

"Untuk menggerakkan harga saham dibutuhkan penjelasan lain, kecuali kenaikan harga minyak mentah dunia. Di Indonesia memang unik, kenaikan harga tidak bisa dijadikan patokan," tuturnya.

Selain itu, lanjut Felix, kenaikan harga minyak mentah baru berkorelasi terhadap peningkatan kinerja emiten jika berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama, bukan temporer seperti sekarang.

Di saat yang sama, kenaikan harga minyak mentah diharapkan mendorong konsumen mendiversifikasi sumber energi ke gas dan batu bara. Namun, kenaikan yang signifikan juga belum terlihat pada saham perusahaan batu bara, seperti PT Bumi Resources Tbk dan PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk.

Sentimen individu

Harga saham Bumi Jumat pekan lalu naik Rp25 menjadi Rp2.975, Bukit Asam stagnan di level Rp6.000. Kenaikan harga ini juga didorong oleh sentimen, bukan sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak mentah di pasar dunia.

Menurut Felix, tingkat permintaan batu bara dari Jepang sekarang relatif stabil, sehingga pergerakan harga bahan tambang itu pun stabil.

Emiten lain yang menyediakan jasa terkait dengan energi, seperti PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) dan PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK), juga tidak bergerak banyak. Sementara itu, harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) naik Rp400 menjadi Rp10.850.

Maizar Rahman, Gubernur Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk Indonesia, mengatakan setelah penambahan kuota produksi anggotanya, sebesar 500.000 barel per hari dari sebelumnya 25,8 juta bph yang dimulai 1 November 2007, penurunan harga bakal terjadi awal Oktober 2007. Dengan catatan faktor lain seperti badai dan kegiatan spekulasi di pasar berjangka AS juga mereda.

Namun, OPEC tidak pernah menetapkan harga, karena harga ditentukan mekanisme pasar. OPEC hanya memasok 40% dari pasokan dunia.

"OPEC hanya dapat melakukan manajemen pasokan ketika harga melonjak atau terlalu rendah akibat kelebihan/kekurangan pasokan. Sementara itu, kalau penyebabnya faktor lain, seperti gangguan pada kilang minyak, pipa, cuaca, geopolitik, OPEC tidak dapat berbuat apa-apa," tutur Maizar kepada Bisnis. (Rahayuningsih) (pudji.lestari@bisnis.co.id/berliana.elisabeth@ bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari & Berliana Elisabeth S.
Bisnis Indonesia

Saturday, September 15, 2007

Medco Hires Credit Suisse to Sell Service Unit Stake

By Leony Aurora, Bloomberg, Jakarta, The Jakarta Post -- PT Medco Energi Internasional, Indonesia's biggest publicly traded oil company, said Credit Suisse will help sell its 52 percent stake in a drilling service unit. The unit’s shares surged as much as 11 percent.

PT Apexindo Pratama Duta may post net income of $75 million next year and should be valued at 12 times its future earnings, President Hilmi Panigoro said in a telephone interview Friday. That values the company at $900 million, or a 51 percent premium to Apexindo's market value as of Thursday.

Medco plans to sell the stake because rig rentals have peaked, Panigoro said on July 19. The rates have more than tripled since 2004 as explorers step up efforts to find oil and benefit from record crude prices. Medco in August last year scrapped talks to sell the stake with companies including India's Aban Offshore Ltd. and China Oilfield Services Ltd.

“Medco should sell Apexindo if it wants to focus on its exploration and production activities,” Ahmad Solihin, an analyst at PT Mandiri Sekuritas, said in Jakarta Friday. “It won’t have the capital to support Apexindo’s growth as the rig business is quite expensive.”

Apexindo jumped as much as Rp 225, its biggest intraday gain in four months, to Rp 2,350 on the Jakarta Stock Exchange Friday. It traded at Rp 2,250 at 2:21 p.m. Medco climbed 1.3 percent to Rp 3,900 on the bourse.

``At the right price, everything is for sale,'' Panigoro said. The company is trading at 9.9 times next year’s earnings, according to Bloomberg data.

Apexindo is valued at about Rp 2,500 a share based on its assets, according to Mandiri’s Sholihin, who has a “ buy”recommendation on the share. That’s an 18 percent premium to the company’s closing price Thursday.

Medco expects to complete the stake sale by the end of the first quarter of next year, Panigoro said.

Apexindo rose 2.4 percent to 2,175 rupiah at 10.a.m. on the Jakarta Stock Exchange today. The company is traded at 9.4 times next year's earnings, according to Bloomberg data.

The Bisnis Indonesia newspaper today reported that the stake in Apexindo has been offered to as many as 30 potential investors, including TPG Inc., a U.S. private equity firm, and Ashmore Group Plc.

``Credit Suisse is always in talks with TPG, as it's a client,'' Panigoro said. ``It's too early to say with whom we may be speaking to.''

Apexindo owns and operates nine onshore drilling rigs, and four swamp barges contracted by the Indonesian unit ot Total SA. Its also operates one jack-up rig in the Middle East for Norway Statoil ASA and another one in Total’s field in East Kalimantan.

Apexindo is 32-percent owned by SeaDrill Ltd., a company controlled by Norwegian billionaire John Fredriksen.

Friday, September 14, 2007

Medco Hires Credit Suisse to Sell Service Unit Stake (Update1)

By Leony Aurora

Sept. 14 (Bloomberg) -- PT Medco Energi Internasional, Indonesia's biggest publicly traded oil company, has appointed Credit Suisse to help sell its 52 percent stake in a drilling service unit, President Hilmi Panigoro said.

The unit, PT Apexindo Pratama Duta, may post net income of $75 million next year and should be valued at 12 times its future earnings, Panigoro said in a telephone interview today. That values the company at $900 million, or a 51 percent premium to Apexindo's market value as of yesterday.

Medco is ``open'' to offer the stake as rig rates have peaked, Panigoro said on July 19. Rig rates have more than tripled since 2004 as explorers step up efforts to find oil and benefit from record crude prices. Medco in August last year scrapped talks to sell the stake with companies including India's Aban Offshore Ltd. and China Oilfield Services Ltd.

``At the right price, everything is for sale,'' Panigoro said. Medco expects to complete the stake sale by the end of the first quarter of next year, Panigoro said.

Apexindo rose 2.4 percent to 2,175 rupiah at 10.a.m. on the Jakarta Stock Exchange today. The company is traded at 9.4 times next year's earnings, according to Bloomberg data.

The Bisnis Indonesia newspaper today reported that the stake in Apexindo has been offered to as many as 30 potential investors, including TPG Inc., a U.S. private equity firm, and Ashmore Group Plc.

``Credit Suisse is always in talks with TPG, as it's a client,'' Panigoro said. ``It's too early to say with whom we may be speaking to.''

Apexindo is 32-percent owned by SeaDrill Ltd., a company controlled by Norwegian billionaire John Fredriksen.

To contact the reporter on this story: Leony Aurora in Jakarta at laurora@bloomberg.net

Last Updated: September 13, 2007 23:10 EDT

Apexindo raih kontrak US$7 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) mendapatkan kontrak senilai US$7 juta untuk beberapa pekerjaan pengeboran darat dari tiga klien berbeda.

Apexindo mendapat kontrak untuk Rig 8 dari EMP Kangean Limited di Blok Kangean, Jawa Timur selama tiga bulan denan nilai US$2,1 juta. Dari Rig 2, Apexindo meneken kontrak empat bulan senilai US$2,8 juta dengan JOB Pertamina-Medco Simenggaris Pty. Ltd.

Sementara itu, Rig 14, Apexindo digandeng Vico Indonesia untuk mengebor di Lapangan Mutiara, Kaltim selama enam bulan dengan nilai US$2,1 juta. (Bisnis/raf)

Calon pemodal masukan surat minat dan indikasi harga hari ini, TPG & Ashmore ditawari saham Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Perusahaan yang dikendalikan keluarga Panigoro, PT Medco Energi Internasional Tbk, menawarkan 52% saham PT Apexindo Pratama Tbk kepada 20-30 pemodal strategis dari domestik maupun luar negeri.

Sejumlah perusahaan yang ditawari untuk membeli saham Apexindo di antaranya adalah perusahaan raksasa private equity Texas Pacific Group (TPG), Grup 3I, Ashmore, Recapital, dan sejumlah institusi keuangan luar negeri seperti di Timur Tengah. Dalam proses penjualan saham itu, Medco dibantu oleh bank investasi asing Credit Suisse sebagai penasihat.

Seorang eksekutif yang terlibat dalam transaksi ini mengatakan sebagian besar investor yang ditawari Medco untuk membeli Apexindo berasal dari luar negeri.

"Valuasi saham yang ditawarkan oleh Medco cukup tinggi bisa mencapai enam kali nilai bukunya. Namun, sampai saat ini belum ada kesepakatan antara Medco dan calon pembeli karena ini juga baru penawaran awal," ujarnya kemarin.

Calon pembeli diminta memasukkan surat minat terhadap Apexindo hari ini, sekaligus mencantumkan indikasi harga awal.

Medco, katanya, ingin menjual saham Apexindo di posisi Rp2.400 per saham, premium dari harga penutupan kemarin Rp2.125, naik dari penutupan sebelumnya Rp2.050.

Selain Medco, 32% saham Apexindo dipegang oleh SeaDrill Ltd yang dikendalikan oleh konglomerat Norwegia John Fredriksen.

Bisnis meminta konfirmasi kepada Direktur Utama Medco Hilmi Panigoro, tetapi yang bersangkutan tidak menjawab panggilan telepon selulernya. Bahkan, hingga berita ini diturunkan, Hilmi belum merespons pertanyaan yang disampaikan melalui layanan pesan singkat.

Pada Agustus tahun lalu, Medco menolak tawaran dari perusahaan asal India dan China untuk membeli 52% kepemilikannya di Apexindo. Saat itu, manajemen Medco beralasan jika penjualan dilakukan, Medco akan sulit untuk mengamankan rig di masa datang, tatkala persaingan menaikkan tingkat penyewaan alat pengeboran itu.

Dalam risetnya pada 7 Agustus, CIMB-GK Securities menyatakan Apexindo merampungkan studi perbandingan terhadap 14 perusahaan penyedia jasa terkait serupa dengannya, di mana valuasi terendah 1,7 kali price to book value (rasio harga saham dibandingkan nilai buku per saham/PBV). Selain itu, 50% dari perusahaan tersebut diperdagangkan dengan kisaran P/BV antara dua kali hingga tiga kali.

Analis CIMB-GK Securities Indonesia Robert Adair mengatakan dengan menerapkan P/BV 1,7 kali yang dikalikan revaluasi aset akan memberikan target harga Apexindo yang konservatif Rp2.700 per saham, di atas valuasi Rp1.900 per saham saat Medco menolak calon pembeli anak usahanya itu tahun lalu.

Kontribusi naik

Apexindo menyumbang 15% pendapatan Medco. Adair memperkirakan kontribusi itu naik 21% pada 2008. Sumbangan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earning before interest, tax, depreciation, and amortization/EBITDA) juga diharapkan juga lebih tinggi yakni 27% pada tahun ini dan 2008.

Apexindo membukukan laba bersih semester I/2007 US$15 juta, turun 7,4% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu US$16,2 juta, menyusul penurunan keuntungan nonkas akibat transaksi swap.

Selain itu, perseroan membukukan EBITDA US$38,6 juta, naik 28,7% dibandingkan US$30 juta pada triwulan II/2006. Dalam kurun enam bulan pertama tahun ini Apexindo tercatat memiliki kas setara dengan US$41 juta, utang US$201 juta, dan ekuitas pemegang saham US$218 juta.

Hal ini menjadikan net gearing perseroan berada di level 74%, meningkat dibandingkan per Maret 2007 yang sebesar 28%. Peningkatan ini mencerminkan beban biaya perseroan pascapenerimaan jack-up rig Soehanah. (munir.haikal@bisnis.co.id/wisnu. wijaya@bisnis.co.id)

Oleh M. Munir Haikal & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

Wednesday, September 12, 2007

Apexindo raih kontrak US$7 juta

oleh : Rudi Ariffianto

JAKARTA (Bisnis Indonesia Online): PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) meraih kontrak US$7 juta untuk pemboran darat dari tiga klien berbeda.

Apexindo mendapat kontrak untuk Rig 8 dari EMP Kangean Limited di Blok Kangean, Jatimm selama tiga bulan bernilai US$2,1 juta. Dari Rig 2, Apexindo meneken kontrak empat bulan senilai US$2,8 juta dengan JOB Pertamina-Medco Simenggaris Pty. Ltd. Sedangkan Rig 14, Apexindo digandeng Vico Indonesia untuk mengebor di Lapangan Mutiara, Kaltim, selama enam bulan bernilai US$2,1 juta.

"Walaupun harus bersaing ketat, Apexindo tetap dapat berpartisipasi. Saat ini, seluruh rig darat Apexindo sedang bekerja," kata Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro dalam siaran persnya.

Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan menambahkan pihaknya akan terus bersaing mendapatkan kontrak baru. Segmen rig darat berkontribusi pendapatan signifikan bagi pertumbuhan perusahaan. Apalagi, kata dia, permintaan rig darat saat ini terus meningkat.

"Dalam beberapa tahun terakhir, segmen rig darat memberikan kontribusi pendapatan yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan Apexindo secara keseluruhan. Hal ini juga didukung tingginya permintaan akan jasa pemboran rig darat belakangan ini," tuturnya. (tw)

Apexindo Raih Kontrak US$ 7 Juta

Jakarta, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) berhasil mendapatkan kepastian kontrak untuk pekerjaan pemboran darat senilai US$ 7 juta. Apexindo telah menandatangani kontrak pekerjaan jasa pengeboran darat untuk Rig 8 dengan EMP Kangean Limited di Blok Kangean, Jawa Timur selama tiga bulan dengan nilai kontrak US$ 2,1 juta.

Sedangkan untuk Rig 2, perseroan mendapatkan pekerjaan dari JOB Pertamina-Medco Simenggaris Pte Ltd senilai sekitar US$ 2,8 juta untuk periode empat bulan di Kalimantan Timur. Untuk Rig 14, Apexindo mendapatkan kontrak dari VICO Indonesia di Lapangan Mutiara, Kalimantan Timur senilai US$ 2,1 juta untuk jangka waktu enam bulan.

“Keberhasilan Perseroan mendapatkan kontrak-kontrak itu menunjukan bahwa Apexindo masih memimpin pasar pengeboran darat, walaupun persaingan di segmen tersebut masih ketat,” kata Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro dalam siaran persnya, Selasa (11/9).

Direktur Apexindo Agustinus B Lomboan menambahkan, segmen rig darat dapat memberikan kontribusi pendapatan yang cukup siginifikan terhadap pertumbuhan perseroan secara keseluruhan. Untuk mempertahankan prestasi itu, Apexindo terus mengincar kontrak-kontrak baru yang menarik seiring tingginya permintaan jasa penegboran rig darat. (jau)

Apexindo Dapatkan Kontrak Senilai 7 Juta Dollar AS

Kompas --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk mendapatkan kontrak pengeboran dengan menggunakan tiga rig senilai 7 juta dollar AS. Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro, dalam siaran pers, Selasa (11/9), menjelaskan, tiga rig yang disewakan adalah Rig 8 kepada EMP Kangean Limited untuk pengeboran darat di Blok Kangean senilai 2,1 juta dollar AS. Kedua, Rig 2 mendapatkan pekerjaan dari Medco Simenggaris Pty Ltd senilai 2,8 juta dollar AS. Ketiga, Rig 14 dikontrak oleh VICO Indonesia untuk pekerjaan di Lapangan Mutiara, Kalimantan Timur, senilai 2,1 juta dollar AS. (*/TAV)

Thursday, September 6, 2007

Saham ESOP Apexindo Dicatatkan

Jakarta, Bisnis Indonesia --- Saham baru PT Apexindo Pratama Duta Tbk hasil pelaksanaan employee stock option program (ESOP) dicatatkan di Bursa Efek Jakarta.

Berdasarkan keterbukaan informasi, kemarin, disebutkan jumlah saham hasil konversi ESOP itu mencapai 82.500 saham di mana pencatatan dan mulai diperdagangkan pada 6 September 2007.

Akibat pencatatan itu, jumlah saham Apexindo Pratama yang tercatat di BEJ seluruhnya mencapai 2,63 miliar saham, sedangkan ESOP yang belum dikonversi setara dengan 26,95 juta saham. (Bisnis/wiw)