Wednesday, September 19, 2007

Medco Energi Lepas Saham Apexindo

Jakarta, Investor Daily --- PT Medco Energi Internasional Tbk akan melepas (divestasi) sahamnya di PT Apexindo Pratama Duta Tbk kepada 50 calon pembeli strategis. Medco kini menguasai 51,39% saham Apexindo. “Saham Medco di Apexindo tersebut akan ditawarkan kepada kurang dari 50 calon pembeli strategis berbasis internasional,” kata Dirut Medco Energi Hilmi Panigoro dalam keterangan kepada Bursa Efek Jakarta, Selasa (18/9).

Dia menjelaskan, manajemen perseroan sedang memproses lagkah-langkah termasuk mempersiapkan dokumen yang akan digunakan terkait proses divestasi yang akan dilakukan. Bersamaan dengan itu perseroan memiliki sebuah strategi jangka panjang, yaitu mengembangkan bisnis hulu minyak dan gas.

Dalam proses divestasi saham Apexindo, tambah Hilmi, perseroan menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan. Divestasi saham tersebut akan menurunkan aset tetap. Namun, bersamaan dengan itu perseroan akan menerima tambahan uang tunai. Hasil divestasi tersebut akan digunakan untuk memperkuat keuangan perseroan termasuk investasi perseroan di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi. (rad)

Fokus Migas, Medco Lego Apexindo

JAKARTA, Jawa Pos - Ingin fokus pada pengembangan industri hulu minyak dan gas, PT Medco Energi Internasional Tbk berencana menjual kepemilikan sahamnya di PT Apexindo Pratama Duta Tbk. Rencananya, Medco bakal menawarkan Apexindo kepada 50 pembeli internasional.

"Divestasi dilakukan dengan menawarkan saham Apexindo kepada 50 calon pembeli strategis berbasis internasional," terang Dirut Medco Energi Hilmi Panigoro di Bursa Efek Jakarta (BEJ) kemarin. Untuk melakukan divestasi, perseroan menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan.

Hilmi melanjutkan, Medco memang berencana mendivestasi 51,3 persen sahamnya di Apexindo sebagai strategi jangka panjang. Divestasi tersebut diharapkan berdampak positif atas rasio utang terhadap ekuitas perseroan (aktiva tetap perseroan berkurang, tetapi menerima uang tunai).

"Dana hasil divestasi akan memperkuat neraca perseroan di samping digunakan untuk investasi di bisnis hulu migas," sebutnya. Medco juga sedang memproses dokumentasi sehubungan dengan rencana divestasi tersebut. Sayangnya, Hilmi tidak menjelaskan harga yang diajukan. Namun menurut sumber, Medco mengajukan harga yang cukup tinggi sekitar lima hingga enam kali nilai buku.

Pada Agustus 2006, Medco pernah menolak tawaran dari perusahaan asal India dan Tiongkok. Saat itu, manajemen beralasan jika saham Apexindo dilepas, Medco akan sulit untuk mengamankan rig di masa mendatang. Apexindo sendiri menyumbang 15 persen dari pendapatan Medco. Pada semester I 2007, perseroan membukukan laba bersih USD 15 juta, turun 7,4 persen dibandingkan posisi yang sama 2006 sebesar USD 16,2 juta. (aan)

50 Calon pembeli ditawari Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Medco Energi Internasional Tbk menawarkan saham Apexindo kepada 50 calon pembeli strategis berbasis internasional. Perseroan telah menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan.

Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro dalam keterbukaan informasi kepada BEJ menjelaskan strategi jangka panjang Medco Energi adalah fokus dalam pengembangan hulu minyak dan gas. Atas dasar itu perseroan berencana mendivestasi atas kepemilikan sahamnya di Apexindo.

"Divestasi ini akan dilakukan dengan menawarkan saham Apexindo kepada 50 calon pembeli strategis berbasis internasional," tuturnya.

Perseroan, lanjut dia, sedang memproses langkah yang akan dilakukan serta dokumentasi yang diperlukan sehubungan dengan divestasi ini. (Bisnis/rni)

Minyak Mahal, Rig Laris, Rig buatan Amerika dan China sama-sama menjadi favorit

Marga Raharja, posted by kontan on 09/19/07

JAKARTA, Harian Kontan Bisnis jasa penyewaan anjungan pengeboran minyak (rig) kembali marak. Banyaknya kegiatan eksplorasi menyebabkan harga sewa rig di dalam negeri meningkat. Salah satu yang memanfaatkan pasar rig yang booming ini adalah PT Medco Energi Tbk. Perusahaan yang dikendalikan Keluarga Panigoro itu menghidupkan kembali rencana penjualan 52% saham PTApexindo Pratama Duta Tbk.

"Skedulnya belum pasti. Tahap yang telah berlangsung adalah penunjukan advisor, yaitu Credit Suisse," kata Hilmi Panigoro, CEO Medgo Group. Credit Suisse ini yang akan mencari pembeli saham Apexindo.

Mengenai berapa harga yang diharapkan Medco, Hilmi tidak mau mengungkapkannya. "Yang pasti, saat harga sewa sedang bagus, tentu kami ingin harga jual premium," ujar Hilmi.

Pendapatan sewa yang bagus itu terlihat dalam laporan keuangan Apexindo. Pendapatan sewa rig darat per hari naik hampir tiga kali lipat dari US$ 7.396 per hari jadi US$ 19.791 per hari. Sementara, rig lepas pantai naik hampir dua kali lipat menjadi US$ 53.986 per hari dari US$ 24.862 per hari.

Rig China masuk

Para pelaku industri minyak mengakui harga sewa rig saat ini sedang tinggi-tingginya. Namun mereka menyebut saat ini tak sulit untuk mencari rig. Persediaan rig berlimpah karena perusahaan penyewaan asal China ikut menawarkan rig. Hanya, karena permintaan masih stabil tinggi, maka tarif sewa tetap tinggi.

Aris Riagung, senior drilling Bumi Parahyangan Ranhill, menuturkan pengalaman perusahaannya menyewa rig. Aris, yang baru saja terlibat dalam kegiatan eksplorasi di Jonggol, menuturkan perusahaannya sempat menyewa rig seharga US$ 18 per tenaga kuda atau horse power (hp) per hari. Namun, harga sewa untuk rig yang sama kini menjadi US$ 27 per hp per hari. Itu berarti, sewa rig berkapasitas 1.500 hp buatan China tersebut naik menjadi sekitar US$ 40.500 per hari dari hanya US$ 27.000. "Kisaran kenaikan seperti itu," ungkap Aris. Harga tersebut sudah meliputi kru maupun berbagai perlengkapannya termasuk pipa-pipa untuk pengeboran.

Menurut Aris, di saat biaya sewa rig buatan Amerika mahal, keberadaan rig buatan Cina sangat membantu perusahaan minyak. "Preferensinya memang rig buatan Amerika karena lebih kuat," jelas Aris.

Namun, dari sisi kantong, rig buatan China menjadi favorit. Maklumlah, biaya sewa rig China bisa separuh dari biaya sewa rig buatan Amerika.

Kun Kurnely, Presiden and CEO PTPertamina Eksplorasi dan Produksi, yang belakangan ini juga banyak melakukan kegiatan eksplorasi, membenarkan keterangan Aris. Namun, Kun mengaku, Pertamina tidak terlalu kesulitan dalam mencari rig. "Sebagai perusahaan minyak tertua di Indonesia, kami memiliki rig sendiri. Hanya sebagian saja yang disewa," jelas Kun.

Medco Lego Apexindo, Manajemen Ingini Bidang Usaha Sejenis

Hadi Suprapto - Okezone

JAKARTA, okezone.com - Manajemen perusahaan yang bergerak di sektor jasa pengeboran, PT Apexindo Pratama Duta Tbk, menginginkan calon pembeli 51,385 persen saham milik PT Medco Energy Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha sejenis. Pasalnya, langkah ini untuk mendukung kinerja perseroan.

Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Apexindo Pratama Duta Hertriono Kartowisastro, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (19/9/2007).

Menurut dia, saat ini perusahaan sedang dilirik oleh 50 investor. Ke-50 calon pembeli strategis itu merupakan pihak yang diundang oleh Medco untuk melihat kinerja Apexindo. "Saat ini mereka sudah memasuki seleksi tahap awal," kata dia.

Hertriono mengatakan, ke-50 calon pembeli strategis itu terdiri dari dua bidang. Yaitu perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dan institusi keuangan.

”Jadi, Apexindo bisa dibeli oleh perusahaan yang bergerak di bidang pengeboran atau dibeli oleh investment banking," tambah dia.

Lebih jauh dia menambahkan, jika perseroan dibeli oleh perusahaan sejenis, kemungkinan perseroan akan dilebur dengan usaha pembeli.

"Namun, jika dibeli oleh institusi keuangan, nanti kita lihat saja apa yang akan dilakukan terhadap Apexindo. Yang jelas, mudah-mudahan nanti Apexindo bisa berkembang," harap Hertriono.

Nilai perkiraan transaksi itu diharapkan tidak kurang dari kapitalisasi pasar Apexindo. Hari ini, saham dengan kode APEX ini ditutup pada Rp2.300 per saham. Dengan kapitalisasi sekira USD700 juta. (mbs)

Apexindo Lebih Bebas Jika Dilepas Medco

Ardian Wibisono - detikfinance

Jakarta, detik.com - Divestasi saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk oleh induknya PT Medco Energi Internasional Tbk diharapkan dapat berdampak positif pada perseroan.

Hal ini karena Apexindo akan lebih leluasa mencari sumber pendanaan dari luar selepas bebas dari Medco.

"Saat ini kondisi rise financing kita sangat mudah tapi kita tidak diizinkan mencari pinjaman karena kita dikonsolidasikan ke Medco jadi akan ikut membebani Medco," kata Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro, dalam acara buka puasa di Graha Niaga, Jakarta, Rabu (19/9/2007).

Dengan pendanaan dari luar memungkinkan Apexindo tumbuh dengan cara organik seperti membeli rig baru atau non organik dengan merger atau akuisisi.

Menurutnya, salah satu alasan Apexindo tidak jadi menambah rig karena tidak memungkinkannya menambah pinjaman lagi.

Hertriono juga memprediksi pendapatan perseroan semester II-2007 akan melonjak dibanding tahun lalu karena beroperasinya rig Soehanah.

Sampai semester I-2007 pendapatan perseroan tercatat US$ 81 juta dibanding akhir tahun 2006 sebesar US$ 156 juta.

Tahun depan pendapatan juga akan semakin meningkat karena pendapatan dari rig Raniworo akan meningkat dua kali lipat dari US$ 72 ribu menjadi US$ 146 ribu.

Tahun ini rig Raniwori akan dibawa dari Iran ke Jawa Timur untuk mengerjakan kontrak dari Santos.

Terkait dengan divestasi, Hertriono juga mengatakan dari 50 investor yang dikirim tawaran sebagian besar ke investment bank company.

Menurutnya, jika dibeli investment bank company kemungkinan manajmen Apexindo tetap akan dipertahankan karena mereka tidak punya keahlian. Sementara jika dibeli oleh driling company kemungkinan yang dipakai hanya staf saja.

Hertriono juga tidak menutup kemungkinan calon pembeli dari pihak domestik.
"Bisa saja dari pihak domestik tapi fund-nya masuk dari luar negeri," katanya.

Saat ini kapitalisasi pasar Apexindo sekitar US$ 700 juta.
(ir/ir)

Tuesday, September 18, 2007

Medco Tawarkan Apexindo ke 50 Investor

Ardian Wibisono - detikfinance
Jakarta, detik.com - PT Medco Energi Internasional Tbk akan menawarkan kepemilikan sahamnya di anak usahanya PT Apexindo Pratama Duta Tbk kepada sekitar 50 calon pembeli strategis Internasional.Demikian disampaikan Direktur Utama Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro dalam penjelasannya ke Bursa Efek Surabaya, Selasa (18/9/2007)."Untuk melakukan divestasi ini perseroan telah menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan," ujar Hilmi.Menurut Hilmi Medco memang telah berencana melakukan divestasi atas kepemilikan sahamnya di Apexindo yang sebesar 51,3 persen sebagai strategi jangka panjang perseroan ke pengembangan hulu migas.Hilmi juga yakin dampak divestasi Apexindo akan positif atas rasio utang terhadap ekuitas perseroan. Dana hasil divestasi juga akan memperkuat neraca perseroan disamping akan digunakan untuk investasi Medco di bisnis hulu migas."Saat ini perseroan sedang memproses langkah-langkah yang akan dilakukan serta dokumentasi yang diperlukan sehubungan dengan divestasi ini," ujarnya. (ard/ir)

Medco Energi akan Divestasi Apexindo

JAKARTA, Media Indonesia Online: Perusahaan minyak dan gas PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) berencana melakukan divestasi atas kepemilikan sahamnya di PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) karena dalam jangka panjang perseroan akan fokus dalam pengembangan hulu minyak dan gas.

"Divestasi ini rencananya akan dilakukan dengan menawarkan saham Apexindo kepada kurang dari 50 calon pembeli strategis berbasis internasional," kata Direktur Utama Medco Energi, Hilmi Panigoro dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Jakarta (BEJ) di Jakarta, Selasa.

Untuk melakukan divestasi tersebut, kata dia, perseroan telah menunjuk Credit Suisse sebagai penasehat keuangan.

"Saat ini perseroan sedang memproses langkah-langkah yang akan dilakukan serta dokumentasi yang diperlukan sehubungan dengan divestasi tersebut," tambahnya.

Menurutnya, dampak keuangan dari divestasi ini akan tergantung dari hasil divestasi tersebut. Meski demikian, dengan adanya divestasi ini aktiva tetap Medco Energi akan menurun, namun sebaliknya Medco Energi akan menerima uang tunai.

Manajemen Medco Energi yakin divestasi ini akan memberikan dampak positif terhadap rasio utang terhadap ekuitas perseroan, sedangkan pada saat yang sama hasil dari divestasi dapat dipergunakan untuk memperkuat neraca Medco Energi dan untuk investasi perseroan di bidang usaha hulu minyak dan gas, jelasnya.

Berdasarkan data BEJ, pemegang saham lima persen atau lebih Apexindo per 31 Agustus 2007, terdiri dari Medco Energi menguasai 51,39% dan Asian Opportunities Fund I Segregated P. menguasai 15,86%. (ant/OL-1)

Dampak divestasi positif bagi Apexindo

Bisnis Indonesia --- Beberapa waktu yang lalu informasi rencana di vestasi saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk oleh induknya PT Medco Energi Internasional Tbk bocor ke pasar.

Kemungkinan penjualan 52% saham itu muncul kembali setelah Presdir Medco Hilmi Panigoro menyatakan akan men jual kepemilikannya di Apexindo jika harganya sesuai.

Pihak yang disebut-sebut berminat adalah Aban Loyd Chiles, China Oilfield Services, dan perusahaan energi asal Norwegia SeaDrill yang telah memiliki 31,8% saham Apexindo.

Apexindo juga merampungkan studi perbandingan terhadap 14 perusahaan penyedia jasa terkait serupa dengannya, di mana valuasi terendah sebesar 1,7 kali P/BV (valuasi harga saham dibandingkan nilai buku per saham). Selain itu, sebanyak 50% dari perusahaan tersebut diperdagangkan dengan kisaran P/BV antara dua kali hingga tiga kali.

Analis CIMB-GK Securities Indonesia Robert Adair mengatakan dengan menerapkan P/BV sebesar 1,7 kali yang dikalikan revaluasi aset akan memberikan target harga yang konservatif sebesar Rp2.700 per saham, di atas valuasi Rp1.900 per saham saat Medco menolak calon pembeli anak usahanya itu tahun lalu.

Selama ini Apexindo menyumbang 15% pendapatan Medco. Adair memperkirakan kontribusi tersebut meningkat sebesar 21% pada 2008.

Kontribusi laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi ( earning before interest, tax, depreciation, and amortization/EBITDA) diharapkan juga lebih tinggi yakni sekitar 27% untuk tahun ini dan 2008.

Kelemahan Apexindo terhadap Medco adalah utang bersih konsolidasi. Padahal, Medco juga mempunyai program belanja modal yang relatif agresif untuk 2007-2009, dalam rangka menjaga produksi di Rimau PSC dan menemukan serta mengembangkan sumur eksplorasi di Libya, Senoro Toili PSC, Block A PSC, dan aset lainnya.

Pembelian jack-up ketiga yang di rencanakan oleh Apexindo diperkirakan bakal men dorong konsolidasi net gearingdi atas 100%, akan tetapi divestasi akan memangkas net gearing konsolidasi hingga separuh.

Kekecewaan Medco terhadap kegiatan eksplorasi dan produksi di Tanah Air akan tertutupi dengan EBITDA Apexindo yang solid. Ini akan mendukung valuasi saham perseroan di harga sekarang.

"Akan tetapi kami percaya keberhasilan eksplorasi di Area 47, Libya akan menyediakan dukungan penting lain bagi Medco, meningkatkan kemungkinan penjualan Apexindo. Kami melihat indikasi divestasi Medco akan berdampak positif bagi harga saham Apexindo," papar Adair dalam risetnya yang terbit 7 Agustus 2007.

Dia menegaskan rekomendasi outperform terhadap saham Apexindo. Dia juga menargetkan saham berkode APEX ini pada level Rp3.000. Pada perdagangan Jumat saham APEX stagnan di level Rp2.125. Sebelumnya dalam lima hari terakhir harga itu stagnan di posisi Rp2.000.

Namun, Adair juga mengatakan jika Medco memutuskan untuk mendivestasikan kepemilikannya di Apexindo maka valuasi untuk perusahaan pengeboran sejenis di kawasan terlihat berada pada level target harga Rp2.700.

Pendapatan naik

Dalam laporan kinerja semester I/2007, Apexindo membukukan pendapatan US$82 juta, atau naik 19% dibandingkan tahun sebelumnya dan naik 28% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Jumlah pendapatan itu sejalan dengan ekspektasi CIMB-GK, meski tidak begitu dengan perolehan laba bersih. Laba bersih perseroan yang sebesar US$15 juta berada 10% di bawah perkiraan akibat kenaikan biaya bunga dan pengeluaran lainnya.

Secara rinci untuk kinerja per Juni itu, rig (alat pengeboran migas) lepas pantai menyumbang 62% pendapatan perseroan meskipun tingkat utilisasi tidak penuh, hanya 75%. Di sisi lain, rig darat yang menyumbang 38% pendapatan mencapai tingkat utilisasi sebesar 69%, mendekati utilisasi maksimum dengan mempertimbangkan waktu istirahat (downtime) yang diperlukan bagi rig di antara pekerjaan.

Sementara itu, dalam kurun waktu enam bulan pertama tahun ini Apexindo tercatat memiliki kas setara dengan US$41 juta, utang US$201 juta, dan ekuitas pemegang saham sebesar US$218 juta.

Hal ini menjadikan net gearing perseroan berada di level 74%, meningkat dibandingkan per Maret 2007 yang sebesar 28%. Peningkatan ini mencerminkan beban biaya perseroan pasca penerimaan jack-up rigSoehanah.

Adair juga mengatakan pertumbuhan yang telah dicapai perseroan pada kuartal kedua memastikan pertumbuhan pendapatan lanjutan dapat diharapkan pada kuartal berikutnya di tahun ini.

Pertumbuhan tersebut terutama akan didongkrak oleh kontrak dari Total Indonesie yang didapatkan Soehanah dan juga dari kontrak baru dengan Santos (Sampang) Pte Ltd untuk jack-up rig Raniworo.

Kedua kontrak ini akan men jadi kontribusi penuh bagi pendapatan Apexindo pada kuartal ketiga. Sebagai catatan, tarif sewa harian yang dikantongi Raniworo sudah naik 100% dibandingkan kontrak sebelumnya yang didapat dari Cresent Petroleum.

"Kami percaya Apexindo berada di tahap awal siklus multitahunan untuk kenaikan tarif harian baik itu pada rig darat, swamp barges, dan jack-up rig. Kontrak multitahun yang didapat rig lepas pantai menunjukkan kuatnya visibilitas kenaikan tersebut hingga 2009," kata Adair.

Dia juga mengungkapkan keyakinannya atas rencana Apexindo membeli jack-up rig ketiga. Adair mengalkulasikan jika investasi senilai US$200 juta dilakukan pada Januari 2008, maka perseroan mengantongi biaya sewa US$165.000 per hari. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh PUDJI LESTARI
Wartawan Bisnis Indonesia

Monday, September 17, 2007

Harga minyak tak 'bakar' saham energi

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Kenaikan harga minyak mentah dunia, yang sempat mencapai US$80 per barel, belum sanggup menggerakkan harga saham emiten pertambangan dan energi maupun sektor terkait. Namun, harga minyak diperkirakan turun awal bulan depan.

Harga minyak mentah di pasar dunia meroket sejak 15 Juni 2007 ke level US$69 per barel. Harga sumber energi ini terus menanjak ke level rata-rata U$70 per barel dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, yaitu US$80 per barel, pada 12 September 2007, setelah badai Humberto memaksa penutupan tiga kilang minyak di Texas, AS.

Kontrak minyak mentah di New York Mercantile Exchange untuk Oktober tercatat US$80,09 per barel.

Kemudian, pada akhir pekan lalu harga kontrak minyak untuk pengiriman Oktober mulai turun tipis menjadi US$79,60 per barel. Harga melonjak 26% sepanjang tahun ini ketika harga pada awal tahun berada di level US$63,41 per barel.

Head of Research Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia telah mendorong harga saham sejumlah perusahaan minyak di bursa Wall Street, AS.

Tetapi dampak itu tidak terjadi di Indonesia. Harga saham emiten yang berbasis usaha penambangan migas, seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), tidak mengalami pergerakan berarti.

Pada perdagangan Jumat pekan lalu, harga saham Medco naik Rp50 menjadi Rp3.900, sedangkan saham Energi naik Rp10 menjadi Rp850. Namun, menurut Felix, kenaikan itu lebih banyak disebabkan oleh sentimen individu saham.

"Untuk menggerakkan harga saham dibutuhkan penjelasan lain, kecuali kenaikan harga minyak mentah dunia. Di Indonesia memang unik, kenaikan harga tidak bisa dijadikan patokan," tuturnya.

Selain itu, lanjut Felix, kenaikan harga minyak mentah baru berkorelasi terhadap peningkatan kinerja emiten jika berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama, bukan temporer seperti sekarang.

Di saat yang sama, kenaikan harga minyak mentah diharapkan mendorong konsumen mendiversifikasi sumber energi ke gas dan batu bara. Namun, kenaikan yang signifikan juga belum terlihat pada saham perusahaan batu bara, seperti PT Bumi Resources Tbk dan PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk.

Sentimen individu

Harga saham Bumi Jumat pekan lalu naik Rp25 menjadi Rp2.975, Bukit Asam stagnan di level Rp6.000. Kenaikan harga ini juga didorong oleh sentimen, bukan sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak mentah di pasar dunia.

Menurut Felix, tingkat permintaan batu bara dari Jepang sekarang relatif stabil, sehingga pergerakan harga bahan tambang itu pun stabil.

Emiten lain yang menyediakan jasa terkait dengan energi, seperti PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) dan PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK), juga tidak bergerak banyak. Sementara itu, harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) naik Rp400 menjadi Rp10.850.

Maizar Rahman, Gubernur Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk Indonesia, mengatakan setelah penambahan kuota produksi anggotanya, sebesar 500.000 barel per hari dari sebelumnya 25,8 juta bph yang dimulai 1 November 2007, penurunan harga bakal terjadi awal Oktober 2007. Dengan catatan faktor lain seperti badai dan kegiatan spekulasi di pasar berjangka AS juga mereda.

Namun, OPEC tidak pernah menetapkan harga, karena harga ditentukan mekanisme pasar. OPEC hanya memasok 40% dari pasokan dunia.

"OPEC hanya dapat melakukan manajemen pasokan ketika harga melonjak atau terlalu rendah akibat kelebihan/kekurangan pasokan. Sementara itu, kalau penyebabnya faktor lain, seperti gangguan pada kilang minyak, pipa, cuaca, geopolitik, OPEC tidak dapat berbuat apa-apa," tutur Maizar kepada Bisnis. (Rahayuningsih) (pudji.lestari@bisnis.co.id/berliana.elisabeth@ bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari & Berliana Elisabeth S.
Bisnis Indonesia