Jakarta, Kompas - Medco Energi Internasional akan melepaskan lagi anak perusahaannya, Medco Global. Sebelumnya Medco Energi juga melepaskan Apexindo Pratama Duta Tbk. Pelepasan Medco Global akan dilakukan dalam dua tahap, private placement dan penawaran saham kepada publik atau IPO.
Medco Global adalah perusahaan induk yang menaungi eksplorasi Medco Energi di luar negeri. "Kami menjual blok-blok itu karena menginginkan manajemen risiko yang lebih baik," kata Direktur Keuangan Medco Cyril Noerhadi di Jakarta, Jumat (9/11).
Walaupun Medco Global akan dijual, Medco Energi Internasional akan menjaga kepemilikan mayoritasnya. Selain itu, Medco Energi akan tetap menjadi operator, tidak hanya menjadi mitra pasif. Saat ini sudah ada beberapa pihak yang tertarik membeli saham Medco Global.
Private placement akan dilakukan pada tahun ini agar dana yang didapatkan besar. Cyril belum mau mengatakan berapa persen saham Medco Global yang akan dilepas pada calon mitra strategisnya.
"Pelepasan saham untuk private placement berkisar antara 1 persen hingga 48 persen," kata Cyril Noerhadi yang juga mantan Dirut Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Kisaran harga juga belum dapat disebutkan, "Tergantung berapa mitra pada private placement mau membelinya," kata Cyril.
Sebagian besar blok yang dikuasai Medco Global masih dalam tahap eksplorasi sehingga harus dilihat dahulu berapa besar sebenarnya kandungan minyak di dalamnya. Dia juga belum mengungkapkan di mana saham Medco Global akan dicatatkan.
Adapun proses pelepasan Apexindo Duta Pratama sudah sampai tahap uji tuntas (due diligence) dari para investornya.
"Pelepasan Apexindo masih tetap pada jadwal. Due diligence sudah berjalan. Akan tetapi, siapa saja penawarnya belum dapat diungkapkan sekarang," kata Cyril.
Apexindo adalah anak perusahaan Medco yang bergerak dalam jasa pengeboran minyak, sebagian besar mengerjakan proyek-proyek pengeboran minyak di luar negeri.
Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah tidak serta-merta meningkatkan pendapatan Medco karena biaya-biaya yang berkaitan dengan eksplorasi juga meningkat.
Manajemen Medco mengakui tidak dapat bersaing dengan kompetitor lain dalam bidang teknologi maupun permodalan. Sehingga Medco harus menekan biaya dan menjadi operator dengan biaya rendah.
Pada laporan kuartal III-2007, Medco Energi mencatat penurunan volume penjualan minyak dan gas sebesar 10,4 persen dibandingkan dengan sembilan bulan pertama tahun 2006.
Penurunan tersebut terjadi karena penurunan alami produksi minyak di Blok Rimau. "Rimau merupakan blok yang mature, produksinya lama-kelamaan akan menurun, sedangkan blok lainnya belum berproduksi, masih dalam dua atau tiga tahun lagi," ujar Cyril.
Rata-rata produksi Medco Energi sebesar 70.000 barrel per hari setara minyak. Jumlah ini terdiri atas 50.000 produksi minyak dan 20.000 produksi gas.
Jumlah produksi ini diperkirakan akan stagnan hingga dua tahun ke depan, sampai ada eksplorasi baru lainnya, seperti di blok minyak yang dimiliki Medco di Lematang, Senoro, dalam dua tahun ke depan (joe).
Saturday, November 10, 2007
Medco Global Akan Dijual
Labels: Divestasi Apexindo
Thursday, November 8, 2007
Apexindo dapat kontrak US$13,2 juta
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Perusahaan pengeboran PT Apexindo Pratama Duta Tbk mendapatkan kontrak proyek pengeboran darat di Kalimantan Timur senilai US$13,2 juta untuk satu tahun dari Vico Indonesia.
Dalam siaran pers dari Apexindo disebutkan proyek pengeboran itu akan dikerjakan oleh rig 5 setelah sebelumnya bekerja untuk Star Energi atau Magma Nusantara di Pengalengan, Jabar.
Pengeboran untuk Vico dijadwalkan mulai bulan ini dan rig tersebut sedang dipindahkan ke lokasi Vico di Badak, Kaltim.
"Kami bangga berhasil menunjukkan rekam jejak yang sangat baik, sehingga mendapat kepercayaan dari Vico Indonesia untuk tetap mendukung program pengeboran mereka selama lebih dari dua dekade," tutur Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro kemarin.
Keberhasilan memperoleh kontrak tanpa waktu tunggu yang panjang akan berpengaruh positif terhadap tingkat utilisasi rig darat perseroan yang mencapai 75% hingga triwulan III tahun ini, tingkat utilisasi tertinggi sejak 2002.
Selain itu, tingginya tingkat permintaan untuk rig darat secara langsung memengaruhi harga sewa harian.
Apexindo mendapat kenaikan harga sewa harian 10% pada kontrak dengan Vico ini, sehingga meningkatkan sumbangan pendapatan dari segmen rig darat.
Dengan efisiensi yang konsisten dan pertumbuhan yang meyakinkan dari segmen rig darat, profitabilitas Apexindo diharapkan meningkat secara signifikan tahun ini. (Bisnis/wiw)
Labels: Kontrak Pengeboran
Monday, November 5, 2007
Pendapatan Apexindo Naik 25,2%
Jakarta, Investor Daily --- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) membukukan peningkatan pendapatan sebesar 25,2% dari US$ 111,85 juta pada kuartal ketiga 2006 menjadi US$ 139,33 pada periode sama tahun 2007. Kenaikan tersebut turut mendongkrak EBITDA sebesar 43,8% menjadi US$ 68,6 juta dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 47,7 juta.
“Segmen lepas pantai tetap mengontribusi pendapatan terbesar, yakni 64,3% terhadap total pendapatan perseroan hingga akhir September 2007. Ini berarti, kontribusinya naik sebesar 25,5% dari tahun lalu,” kata Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R Satari dalam keterangan tertulisnya kepada otoritas pasar modal di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sedangkan segmen rig darat menyumbang senilai US$49,9 juta atau meningkat 30,3% dari US$ 39,3 juta tahun sebelumnya. Tingkat utilisasi rig darat mencapai level tertinggi sejak tahun 2002 sebesar 75%. Pencapaian ini dipicu perolehan kontrak-kontrak baru rig darat dengan kenaikan harga sewa harian dan periode kontrak yang lebih panjang.
Menurut dia, tingkat utilisasi rig lepas pantai turun dari 100% tahun lalu menjadi 83%. Penurunan tersebut dipicu dry clocking Jack up Raniworo dari Februari-Mei 2007 dan keterlambatan penyerahan rig Jack up Soehanah oleh shipyard. (c108)
Labels: Kinerja 2007
Essar Oil kemungkinan mundur dari divestasi Apexindo
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Satu per satu calon pembeli PT Apexindo Pratama Duta Tbk rontok. Setelah 3i Group Plc mundur, kini giliran Essar Oil India kemungkinan besar mengurungkan niatnya membeli 52% saham perusahaan pengeboran itu.
Kedua perusahaan itu berpendapat harga Rp2.700 per saham yang diminta penjual Apexindo yakni PT Medco Energi Internasional Tbk, perusahaan yang dikendalikan oleh Keluarga Panigoro, terlalu mahal.
"Essar Oil kemungkinan besar mengikuti langkah 3i yang mundur dari divestasi Apexindo. Harganya terlalu mahal," tutur sumber Bisnis, kemarin.
Seiring dengan mundurnya dua perusahaan itu, satu-satunya investor strategis yang masih tersisa adalah perusahaan kontraktor dan pengeboran PT Bormindo Nusantara. Akibat pengunduran diri tersebut, Apexindo memperpanjang jadwal memasukkan penawaran dari semula 8 November menjadi 13 November.
Essar merupakan salah satu calon pembeli saham perusahaan pengeboran yang telah ditetapkan masuk daftar pendek (shortlisted) bersama lima institusi lainnya yakni 3i Grup Plc, Texas Pacific Group, Bormindo, Abacus Capital, dan Recapital Investment Bank.
Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro ketika dikonfirmasi menolak menjelaskan secara rinci soal mundurnya kedua calon pembeli tersebut.
"Dalam proses divestasi selalu ada permintaan untuk menjaga kerahasiaan para pihak yang bertransaksi," ujarnya kemarin.
Hilmi mengaku tidak mengetahui soal perpanjangan waktu memasukkan penawaran. "Kalau ada yang minta pengunduran jadwal selama beberapa hari, saya pikir itu masih wajar karena bisa saja ada calon pembeli yang perlu melengkapi uji tuntasnya."
Harga saham Apexindo Jumat pekan lalu ditutup di level Rp2.475 per saham tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya. Mengacu pada harga saham tersebut, kapitalisasi pasar Apexindo saat ini Rp6,51 triliun.
Medco berencana menjual kepemilikannya di perusahaan pengeboran itu karena akan memfokuskan bisnisnya pada hulu minyak dan gas. (munir.haikal@bisnis. co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)
Oleh M. Munir Haikal & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Labels: Divestasi Apexindo
Thursday, November 1, 2007
Harga Minyak Untungkan Industri Pengeboran
JAKARTA, Investor Daily --- Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga mencapai di atas US$ 90 per barel, secara tidak langsung diharapkan menguntungkan industri pengeboran nasional. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengeboran Minyak Indonesia (APMI) Bambang Purwohadi, kenaikan harga minyak mentah tersebut memicu tingginya sewa anjungan (rig) sekitar 10-15%.
Pria kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 Januari 1951 yang menjabat direktur utama PT DJ Services Indonesia dan pernah menjadi direksi pada PT Medco Antareja itu menyebutkan, saat ini 85% rig di Indonesia sudah terkontrak, sedangkan 15% sisanya masih nganggur dan siap mengikuti tender pengeboran.
Seperti apa kondisi industri pengeboran nasional saat ini, berikut petikan wawancara wartawan Investor Daily Tri Listiyarini dengan Bambang Purwohadi di Jakarta, belum lama ini.
Adakah dampak positif untuk industri pengeboran nasional naiknya harga minyak hingga menembus level US$90 pe barel?
Tentu saja. Namun, imbasnya sangat kecil dan bersifat tidak langsung. Dampak kenaikan harga minyak bagi industri pengeboran baru terasa tiga bulan ke depan, sekitar Januari 2008. Sebab, sebagian besar rig-rig yang ada sudah terkontrak sejak enam bulan lalu, yang bisa menikmati hanya rig-rig yang belum terkontrak. Itu pun mereka harus mengikuti tender dulu untuk bisa menikmati keuntungan tingginya harga minyak.
Sebenarnya, berapa jumlah rig yang sudah terkontrak dan yang belum?
Secara umum, 85% rig-rig Indonesia sudah terkontrak, sisanya 15% itu yang masih ‘nganggur’ dan siap mengikuti tender pengeboran.
Untuk rig yang sudah terkontrak, apakah sang pemilik bisa menaikkan sewa seiring kenaikan harga minyak?
Kalau yang sudah terkontrak, sewa tetap mengacu pada harga ketika tender. Kenaikan sewa bisa dilakukan pemilik rig yang tengah mengikuti tender. Yang jelas, kenaikan sewa sangat dipengaruhi kenaikan harga minyak, kalau harga minyak naik sewa juga bisa naik, tapi kalau harga turun sewanya juga bisa turun. Saya perkirakan, kenaikan harga minyak saat ini hanya sementara saja, hingga akhir tahun rata-rata hanya US$ 70-72 per barel. Karena itu, kalau ada kenaikan sewa tidaklah terlalu besar.
Sampai berapa besar kenaikan sewanya?
Selain bergantung pada harga minyak, kekuatan rig bervariasi, demikian juga jenisnya, yakni jenis rig lepas pantai (off shore) atau darat (on shore), karena itu sewanya juga berbeda-beda. Namun demikian, rata-rata kenaikannya sekitar 10-15%. Misalnya, rig kecil jenis on shore dengan kekuatan 500-1.000 hp (horse power) sewanya naik menjadi US$ 10.000-20.000 per hari. Untuk jenis yang sama dengan ukuran lebih besar di atas itu, sewanya bisa naik menjadi US$ 60.000-80.000 per hari. Sementara itu, untuk rig raksasa (jack up) dengan kekuatan di atas 100.000 hp dan berjenis off shore, sewanya bisa di atas US$ 150.000 per hari.
Seberapa besar utilisasi rig nasional, baik di dalam maupun di luar negeri?
Sebanyak 80% dari jumlah rig nasional yang jumlahnya kurang dari 100 digunakan di dalam negeri, sisanya sebanyak 20% masih belum digunakan. Perlu diketahui, kemampuan rig nasional masih sedikit lebih rendah dibandingkan negara lain, karena itu penggunaannya mayoritas untuk pemenuhan dalam negeri. Memang ada beberapa yang bisa tembus ke luar negeri, seperti milik PT Apexindo Pratama Duta Tbk.
Apa penyebab kemampuan rig nasional kurang bisa bersaing dengan rig-rig dari luar negeri?
Sebenarnya, perbedaan rig nasional dengan di luar negeri tidak terlalu mencolok. Hanya saja, dari sisi teknologi kemampuan rig-rig di dalam negeri masih kurang. Rig-rig nasional masih belum mampu mengaplikasikan teknologi pengeboran laut dalam. Rig-rig yang mampu menembus laut dalam masih dikuasai negara-negara seperti Amerika Serikat dan Norwegia.
Upaya seperti apa yang bisa dilakukan perusahaan layanan pengeboran untuk bisa bersaing dengan perusahaan sejenis di luar negeri?
Tentunya berusaha membuat rig-rig yang mampu mengebor di laut dalam. Sebab, saat ini, pengeboran minyak di dunia sudah bergeser ke cekungan-cekungan yang berada di laut dalam yang cenderung ‘sulit’. Mereka bisa mengirimkan sumber daya manusia (SDM)-nya untuk studi banding, sekolah, atau kursus ke negara yang menguasai teknologi itu.***
Labels: Industri Pengeboran
Friday, October 26, 2007
3i mundur dari divestasi Apexindo
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Belum tuntas menjalankan uji tuntas (due diligence) lanjutan, perusahaan investasi pengelola portofolio (private equity firm) 3i kemungkinan besar mengundurkan diri dari proses pembelian 52% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk.
Penyebab utama mundurnya investor institusi itu karena Medco meminta harga jual Apexindo yang terlampau mahal.
"Meski harga saham Apexindo di pasar kemarin ditutup naik ke level Rp2.500, tetapi permintaan harga Apexindo Rp2.700 per saham sangat mahal, sedangkan 3i menawar Rp2.400 per saham," tutur satu eksekutif yang mengetahui transaksi itu kepada Bisnis, kemarin.
Padahal, 3i merupakan salah satu calon pembeli saham perusahaan pengeboran milik PT Medco Energi Internasional Tbk yang telah ditetapkan masuk daftar pendek (shortlisted) bersama lima institusi lainnya yakni Essar Oil India, Texas Pacific Group, PT Bormindo Nusantara, Abacus Capital, dan Recapital Investment Bank.
3i merupakan salah satu raksasa perusahaan investasi pengelola portofolio dan penyedia sumber pembiayaan untuk menghidupkan kembali suatu perseroan (venture capital).
Setiap tahun, 3i berinvestasi US$2 miliar di berbagai portofolio di Eropa, Asia, dan AS. Perusahaan itu juga berkomitmen bekerja sama dan bermitra dengan pemegang saham mayoritas.
3i baru saja membeli 6,6% kepemilikan saham produsen pipa minyak dan gas Welspun Gujarat Rohren Ltd senilai US$80 juta melalui penawaran kedua.
Ketika dikonfirmasi, Presdir Medco Energi Hilmi Panigoro tidak menjawab panggilan di telepon selulernya.
Bahkan, dia tidak merespons pesan singkat yang dikirimkan Bisnis.
Hilmi, seperti dikutip Bloomberg beberapa waktu lalu, mengatakan Apexindo kemungkinan membukukan laba bersih US$75 juta tahun depan dan seharusnya dinilai pada 12 kali laba ke depan. Nilai perusahaan itu mencapai US$900 juta atau 51% premium dari nilai pasar.
Dia berharap kandidat pembeli Apexindo sekaligus transaksi sudah dapat ditetapkan sebelum awal Desember. "Kalau sebelum akhir tahun, berarti paling tidak sebelum Natal."
Medco akan menerima siapa pun kandidat pembeli Apexindo, baik itu lembaga keuangan maupun perusahaan sejenis.
Harga saham Apexindo kemarin ditutup menguat ke level Rp2.500 dari penutupan sebelumnya Rp2.400 per saham.
Mengacu harga penutupan kemarin, rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) Apexindo mencapai 22,13 kali dan estimasi setahun ke depan 11,76 kali.
Dibandingkan dengan estimasi PER setahun ke depan Northern Offshore 4,14 kali, perusahaan pengeboran yang tercatat di bursa saham Norwegia, estimasi PER Apexindo sangat mahal.
Namun, dibandingkan dengan PER Seadrill Ltd, berkapitalisasi pasar US$9,47 miliar, yang kini mencapai 39,11 kali, PER Apexindo, yang mempunyai kapitalisasi pasar hanya US$688,59 juta, jauh lebih murah.
Ikhsan Binarto, analis saham PT Optima Investama, mengatakan dengan permintaan harga Rp2.700 per saham, seharusnya harga Apexindo ditarik ke atas mendekati level itu. (pudji.lestari@bisnis.co.id/wisnu. wijaya@bisnis.co.id)
Oleh Pudji Lestari & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Labels: Divestasi Apexindo
Friday, October 19, 2007
Six firms may bid for Medco's stake in unit
The Jakarta Post, Jakarta --- Six potential investors have been short-listed to bid for the 51.3 percent stake of oil and gas firm PT Medco Energi International in its subsidiary PT Apexindo Pratama Duta -- one of the country's top drilling contractors.
One of the six bidders is PT Bormindo Nusantara, also a drilling contractor, according to an online report.
"There are six companies that have been short-listed and we are one of them," M. Ramdani Basri, a Bormindo commissioner, told Detik.com news portal on Thursday.
When contacted by The Jakarta Post, Apexindo president director Hertriono Kartowisastro refused either to confirm or deny the report.
Ramdani said Bormindo is in the preliminary stages of a due diligence and will soon submit its price valuation.
Asked about the source of the funds, he said the company planned to seek loans from banks and other financial institutions.
"We are indeed seeking the funding, but most likely not from domestic sources," he said.
Medco, the country's largest publicly listed oil and gas company, wants to sell its stake in Apexindo so it can focus on its core business.
Acting as the divestment financial adviser is Credit Suisse Global.
Previously, Medco offered the stake to around 50 potential investors.
Established in 1984, Apexindo offers drilling services to oil, gas and geothermal companies. In July 2002, it became the first drilling contractor listed on the Jakarta Stock Exchange. (JP/Astrid Wibisono)
Labels: Divestasi Apexindo
Recapital dan Bormindo Incar Saham Apexindo
JAKARTA, Investor Daily --- Recapital Advisor Group dan PT Bormindo Nusantara bersaing ketat dengan sejumlah investor asing untuk membeli 51,39% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk milik PT Medco Energi Internasional Tbk melalui proses tender.
“Kami memang ikut dalam proses tender divestasi saham Apexindo. Saat ini Recapital sudah masuk seleksi tahap ketiga,” kata pendiri Recapital Advisor Sandiaga S Uno kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (18/10).
Namun, Sandiaga yang juga Ketua Umum Hipmi belum bersedia menyebutkan total dana yang disiapkan guna mengakuisisi Apexindo, termasuk alasan ekspansi ke bisnis energi. Pesaing lokal lainnya yakni PT Bormindo Nusantara. Sedangkan sisanya merupakan investor asing.
Bormindo dikabarkan tengah melakukan proses uji tuntas (due diligence) dan segera memasukan harga valuasi. Di sisi lain, perseroan menjajaki pinjaman bank lokal dan asing untuk mendanai rencana akuisisi tersebut.
Ketika dikonfirmasikan kepada Dirut Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro mengenai keterlibatan kedua perusahaan itu dalam seleksi tahap ketiga, ia enggan menjawabnya. “Peserta yang masuk cukup berimbang antara perusahaan lokal dan asing. Yang jelas saat ini calon pembeli tinggal enam,” kata Hilmi.
Dia mengatakan, proses seleksi peserta tender divestasi saham Apexindo itu melibatkan penasihat keuangan Credit Suisse. Hasil seleksi terakhir baru diumumkan pekan kedua November 2007.
Sejak awal proses tender digelar, terdapat sekitar 50 perusahaan peserta. Namun yang ikut dalam seleksi berikutnya tinggal 20. Seleksi berikutnya tinggal menyisahkan enam calon pembeli.
Medco Energi dikabarkan bersedia melepas 51,39% saham Apexindo seharga Rp 2.400 per lembar. Sedangkan pada perdagangan Kamis (18/10), harga saham Apexindo ditutup pada posisi Rp 2.475 per lembar.
Apexindo menyumbang sekitar 15% terhadap pendapatan Medco. Jumlah ini diperkirakan meningkat hingga 21% pada 2008. Laba bersih pada semester pertama 2007 mencapai sebesar US$ 15 juta atau turun 7,4% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya 16,2 juta. Hal itu disebabkan penurunan keuntungan nonkas yang dipicu transaksi share swap.
Sumbangan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) tercatat US$ 38,6 juta pada Juni 2007 atau naik 28,7% dari Juni 2006 US$ 30 juta.
Menurut dia, penjualan saham Apexindo tersebut berdampak terhadap penurunan jumlah aset tetap. Namun, bersamaan dengan itu, perseroan akan menerima uang tunai.
Hilmi mengatakan, divestasi saham ini berdampak terhadap rasio utang terhadap ekuitas. Soalnya, hasil divestasi akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, termasuk investasi pada usaha hulu minyak dan gas bumi.
Apexindo baru-baru ini memperoleh tiga kontrak kerja pemboran darat senilai US$ 7 juta. Kontrak pertama adalah onshore driling rigs service dengan EMP Kangean Limited senilai US$ 2,11 juta. (rad)
Labels: Divestasi Apexindo
Pembeli Apexindo mayoritas institusi keuangan
JAKARTA, Bisnis Indonesia: Empat lembaga keuangan asing dan lokal mendominasi calon pembeli 52% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk. Perusahaan pengeboran itu kini masih dikuasai oleh perusahaan yang dikendalikan Keluarga Panigoro PT Medco Energi Internasional Tbk
Empat institusi keuangan itu adalah perusahaan pengelola dana raksasa Texas Pacific Group (TPG), 3i Group, Abacus Capital, Recapital Investment Bank, sedangkan dua lainnya adalah perusahaan pengeboran yakni PT Bormindo Nusantara dan Essar Oil dari India.
Medco berencana menjual kepemilikannya di perusahaan pengeboran itu karena akan memfokuskan bisnisnya pada pengembangan hulu minyak dan gas. Untuk melakukan divestasi tersebut, Medco menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan.
"Valuasi saham yang ditawarkan oleh Medco cukup tinggi bisa mencapai enam kali nilai bukunya. Namun, sampai saat ini belum ada kesepakatan antara Medco dengan calon pembeli karena ini juga baru penawaran awal," ujar eksekutif yang mengetahui transaksi itu, kemarin.
Medco, katanya, ingin menjual saham Apexindo di posisi Rp2.400 per saham. Keinginan itu terlihat masuk akal, mengingat harga saham Apexindo kini berangsur melonjak ke posisi 2.400-an. Saham itu kemarin ditutup naik ke level Rp2.475 dari penutupan perdagangan sebelumnya Rp2.450.
Harga saham Medco kemarin justru ditutup melemah ke Rp4.900 dari penutupan hari sebelumnya Rp5.050 per saham.
Dengan harga Rp2.475, itu mencerminkan rasio harga saham terhadap laba bersih per saham Apexindo (price to earning ratio/PER) 22,79 kali dan estimasi setahun ke depan 12,14 kali.
Mengacu rasio itu, saham Apexindo jauh lebih murah dibandingkan dengan harga saham Seadrill Ltd, sebelumnya memiliki 32% saham perusahaan pengeboran itu, yang kini mencapai 40,98 kali. Namun, saham Apexindo jauh lebih mahal ketimbang saham perusahaan sejenis Nabors Industrial Ltd sebesar 8,09 kali yang sahamnya tercatat di bursa efek AS.
Presdir Medco Energi Hilmi Panigoro mengatakan daftar pendek calon pembeli terdiri dari enam perusahaan. Namun, dia menolak merincinya. "Saya mengetahui hal itu, tetapi saya tidak mau menyebutkan karena terkait kerahasiaan."
Sebelum Natal
Dia menjelaskan keenam calon pembeli kini berhak mendapatkan ulasan data dari manajemen Apexindo, yang merupakan tahap lanjutan dari uji tuntas. Dia berharap kandidat pembeli Apexindo sekaligus transaksi sudah dapat ditetapkan sebelum awal Desember. "Kalau sebelum akhir tahun, berarti paling tidak sebelum Natal."
Hilmi juga mengatakan akan menerima siapa pun kandidat pembeli Apexindo, baik itu lembaga keuangan maupun perusahaan sejenis.
Hilmi Panigoro, seperti dikutip Bloomberg beberapa waktu lalu, mengatakan Apexindo kemungkinan membukukan laba bersih US$75 juta tahun depan dan seharusnya dinilai pada 12 kali laba ke depan. Nilai perusahaan itu mencapai US$900 juta atau 51% premium dari nilai pasar.
Norico Gaman, Head of Research BNI Securities, menambahkan calon pembeli Apexindo lebih baik bergerak di bidang yang sama, mengingat hal itu menentukan kelanjutan usaha pengeboran.
"Kalau perusahaan sejenis, mereka tentu perhatikan pertumbuhan Apexindo. Tetapi, di sisi lain Medco juga menginginkan harga penjualan yang terbaik," tuturnya.
Sebagai jalan tengah, perusahaan sejenis yang kini berminat terhadap Apexindo dapat mengajukan harga penawaran yang lebih baik.
Jika pemenangnya institusi keuangan seperti TPG, mereka hanya menyertakan modal di Apexindo. "Tentu saja mereka dapat menjual lagi saham Apexindo kalau sudah untung."
Grup Essar kini juga mengincar saham PT Krakatau Steel dan akan membangun pabrik baja di Kalimantan. TPG sedang dalam proses akuisisi 71,61% saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional dari Recapital dan sedang membidik saham mayoritas di Garuda Indonesia. (Pudji Lestari) (arif.gunawan@bisnis.co.id/munir.haikal@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)
Oleh Arif Gunawan S., M. Munir Haikal & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
Labels: Divestasi Apexindo
Wednesday, October 17, 2007
Diumumkan Pertengahan November, Tinggal Enam Calon Pembeli Saham Apexindo
JAKARTA, Investor Daily --- PT Medco Energi Internasional Tbk sedang menyeleksi enam calon pembeli saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk guna mengikuti tahapan ketiga berikutnya. Proses seleksi tersebut akan melibatkan Credit Suisse sebagai penasihat keuangan.
“Hasilnya akan diumumkan pekan kedua November 2007. Kami sedang me-review enam perusahaan yang sudah lolos seleksi baru-baru ini,” kata Dirut Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (16/10).
Menurut Hilmi, keenam perusahaan itu terdiri atas investor lokal dan asing. Namun, dia bersedia menyebutkan identitas masing-masing investor.
Sejak proses tender dibuka, jumlah investor yang tertarik mengakuisisi saham anak usaha Medco itu mencapai 50 perusahaan. Seleksi tahap pertama menyisahkan 20 perusahaan dan kedua tinggal enam.
Mengenai nilai akuisisinya, kata dia, juga belum dapat diungkapkan karena terkait kesepakatan dan proses tender masih berlangsung. Dia belum bisa memaparkan kisaran dana yang ingin diraup Medco lewat hasil pelepasan Apexindo.
Sebelumnya, perseroan pernah dikabarkan bersedia melepas sekitar 51,39% sahamnya di Apexindo seharga Rp 2.400 per lembar. Sedangkan pada perdagangan Kamis (11/10), saham Apexindo ditutup pada posisi Rp 2.450.
Apexindo menyumbang sekitar 15% terhadap pendapatan Medco. Jumlah ini diperkirakan meningkat hingga 21% pada 2008. Laba bersih pada semester I-2007 mencapai sebesar US$ 15 juta atau turun 7,4% dibandingkan pada periode sama tahun sebelumnya US$ 16,2 juta. Penurunan keuntungan nonkas disebabkan transaksi swap share.
Sedangkan konstribusi laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (earning before interest, tax, depreciation, and amortization/EBITDA) senilai US$ 38,6 juta pada akhir Juni 2007, naik 28,7% dari Juni 2006 sebesar US$ 30 juta.
Menurut Hilmi, penjualan saham perseroan pada Apexindo berdampak terhadap penurunan jumlah aset tetap. Namun, bersamaan dengan itu, perseroan akan menerima uang tunai.
Lebih jauh dia mengatakan, divestasi saham Apexindo tersebut berdampak terhadap rasio utang ekuitas perseroan. Soalnya, hasilnya itu akan digunakan memperkuat keuangan perseroan termasuk rencana investasi pada usaha hulu minyak dan gas bumi.
Sebelumnya, Corporate Growth Director Apexindo Rashid I Mangunkusumo mengatakan, perseroan akan memproduksi secara komersial bioetanol dari kanji (strach) tepung singkong dan tebu pada kuartal pertama 2008. “Konstruksi kilang etanol pertama itu dibangun pada Oktober 2006 di Kotabumi, Lampung dan diharapkan selesai akhir tahun,” kata Rashid.
Terkait bisnis terbarukan tersebut, lanjut dia, pihaknya sudah memasukkannya dalam laporan keuangan laporan tahunan. Selanjutnya, kata dia, perseroan akan melakukan berbagai studi kelayakan dengan beberapa pihak di beberapa wilayah untuk proyek kilang etanol lainnya.
Proyek pertama etanol menelan investasi sebesar US$ 46 juta. Sebanyak 70% dana berasal dari pinjaman. (rad)
Labels: Divestasi Apexindo