Thursday, December 6, 2007

Salamander temukan gas alam

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Salamander Energy Inggris berhasil menemukan cadangan gas alam di Blok Simenggaris masing-masing SS-2 dan SS-3, Sembakung Selatan, Kalimantan Timur.

Menurut siaran pers yang dirilis Salamander, kedua lapangan yang dibor oleh rig Apexindo-2 dan telah berhasil ditemukan itu segera diajukan plan of development ke BP Migas kuartal pertama 2008.

"Dengan permintaan dan harga gas yang cenderung naik, penemuan di lapangan Sembakung Selatan tentunya sangat menarik. Tidak itu saja, dengan risiko yang rendah tapi menghasilkan sesuatu yang bernilai," kata Chief Executive Salamander James Menzies dalam siaran persnya yang dikutip dari website perusahaan itu, kemarin. (Bisnis/fh)

Tuesday, December 4, 2007

Medco tunda lagi RUPSLB divestasi

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Medco Energi Internasional Tbk menunda rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) dari semula 31 Desember hingga waktu yang belum ditentukan karena kesepakatan perjanjian jual beli antara perseroan dan calon pembeli belum juga tercapai.

"Dengan sangat menyesal, kami menyampaikan bahwa perseroan belum dapat menyelenggarakan RUPSLB pada 31 Desember," ujar Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia.

Dia berjanji akan melaporkan lebih lanjut, jika perjanjian jual beli tersebut sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak. (Bisnis/rni)

Divestasi Apexindo Terhambat

JAKARTA, Investor Daily --- Negosiasi penjualan 51,39% saham PT Medco Energi Internasional Tbk di PT Apexindo Pratama Duta Tbk terhambat. Soalnya, Medco dan calon pembeli, Abacus Capital dan Bormindo Nusantara, gagal mencapai kesepakatan.

Medco semula akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 31 Desember 2007.

“Dengan sangat menyesal, kami belum dapat menyelenggarakannya, karena kesepakatan perjanjian jual belinya dengan calon investor belum tercapai,” kata Presiden Direktur Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro dalam laporan tertulisnya ke Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin (3/12).

Menurut dia, Medco segera melaporkan lebih lanjut perkembangannya bila perjanjian jual beli saham Apexindo sudah ditandatangani dengan pemenangnya. Sebelumnya, Hilmi juga mengakui Medco kesulitan melego saham Apexindo, karena tidak ingin membuat kesalahan dalam mengambil keputusan final.

Dia memastikan, peserta divestasi saham Apexindo tinggal dua, Abacus Capital dan Bormindo Nusantara. Sebab, dua peserta lainnya, yaitu Texas Pacific Group (TPG) dan Recapital Investment Bank, sudah tersingkir.

Abacus merupakan peserta yang mengajukan penawaran tertinggi sebesar Rp 2.450, meskipun masih jauh dari permintaan Medco Rp 2.700 per saham. Jika Abacus terpilih, Medco akan meraup dana sebesar Rp 3,31 triliun. Sedangkan Bormindo menawarkan harga lebih rendah Rp 25 dari Abacus, yakni Rp 2.425. Kalau Bormindo terpilih, Medco bakal memperoleh dana Rp 3,28 triliun.

Namun, tegas dia, perbedaan harga tersebut tidak serta merta Bormindo gugur dan pemenangnya Abacus. Soalnya, Medco memiliki perhitungan sendiri. “Perhitungan kami tidak hanya menyangkut harga, karena dalam sales purchase agreement (SPA) ada faktor lain yang harus dipertimbangkan misalnya komitmen dan garansi investor baru terhadap kelangsungan bisnis Apexindo,” tegas dia.

Tekanan Jual
Pengamat pasar modal Pardomuan Sihombing menilai, terhambatnya jual beli saham Apexindo dapat menyebabkan keraguan bagi investor untuk saham Medco. “Hari ini (Senin) sudah ada tekanan jual untuk saham perseroan,” ujar dia.

Pada perdagangan kemarin, saham Medco ditutup melemah Rp 100 (1,88%) dari Rp 5.400 menjadi Rp 5.300. Saham Apexindo turun Rp 50 (2,2%) dari Rp 2.300 ke posisi Rp 2.250. Aksi jual ini diperkirakan terus berlangsung bila jual beli 51,39% saham Apexindo tidak jelas. Pasalnya, pelaku pasar bertanya-tanya apakah benar isu divestasi Apexindo tersebut hanya untuk mengerek saham Medco.

Menurut dia, ketidakjelasan jual beli saham mulai tercium bagi pelaku pasar, ketika Medco berkukuh dengan harga Rp 2.700 per saham. Padahal, kata Pardomuan, harga tersebut terlalu mahal. Medco seharusnya memberikan diskon, karena jumlah saham yang dijual sangat besar. “Kalau tidak, jual beli bisa gagal lagi,” tegas dia.

Hal sama juga diungkapkan analis Optima Investama Ikhsan Binarto. Penundaan RUPSLB perseroan disebabkan belum adanya kesepakatan jual beli, sehingga secara otomatis memberikan sentimen negatif bagi pergerakan saham. Jika Medco semakin cepat menjual sahamnya pada Apexindo, dananya dapat digunakan untuk keperluan ekspansi. “Sebaliknya, bila terus tertunda, tidak hanya berpengaruh terhadap pergerakan saham, tapi juga kinerja keuangan,” ujar dia.

Ikhsan memperkirakan, harga saham Medco bisa terkoreksi dalam beberapa waktu ke depan hingga ada kepastian pelaksanaan RUPSLB. Artinya, semakin lama ditunda, saham Medco semakin terkoreksi dalam.

Oleh Jauhari Mahardhika & Deviana Chuo

Monday, December 3, 2007

Medco Sulit Putuskan Pemenang Divestasi Apexindo

Jakarta, Investor Daily --- PT Medco Energi Internasional Tbk kesulitan memutuskan pemenang divestasi 51,39% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk milik perseroan. Akibatnya, Medco menunda keputusan yang seharusnya akhir pekan lalu hingga bats waktu yang belum ditentukan.

“Penjualan saham ini sulit, karena kami tidak ingin membuat kesalahan dalam mengambil keputusan final. Mudah-mudahan kalau lancar, bisa ditentukan pekan ini,” kata Dirut Medco Energi Hilmi Panigoro kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hilmi memastikan, peserta divestasi saham Apexindo kini tinggal dua, yakni Abacus Capital dan Bormindo Nusantara. Dua peserta lainnya, Texas Pacific Group (TPG) dan Recapital Investment Bank, sudah tersingkir.

Abacus mengajukan penawaran tertinggi sebesar Rp 2.450 per lembar saham, jauh dari pemintaan Medco Rp 2.700. Jika Abacus terpilih, Medco akan meraup dana senilai Rp 3,31 triliun. Sedangkan Bormindo menawar lebih rendah Rp 25 dari Abacus, yakni Rp 2.425. Bila Bormindo terpilih, Medco bakal memperoleh dana Rp 3,28 triliun.

Namun perbedaan harga ini tidak serta-merta membuat Bormindo gugur dan pemenangnya Abacus. Sebab, Medco memiliki perhitungan khusus. “Perhitungan kami tidak hanya menyangkut masalah harga, karena dalam sales purchase agreement (SPA) ada faktor lain yang harus dipertimbangkan, misalnya, komitmen dan garansi dari investor baru terhadap kelangsungan usaha Apexindo,” kata Hilmi.

Sementara itu, Presiden Direktur Apexindo Hertriono Kartowisastro berharap, kucuran dana segar dari pemenang divestasi Apexindo. Dana tersebut akan digunakan mengembangkan bisnis. Ia juga mengakui, proses divestasi saham ini cukup berbelit, sehingga sulit diputuskan dengan cepat. (jau/c108)

Friday, November 30, 2007

Bormindo berpeluang kuasai Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Bormindo Nusantara berpeluang menang dalam tender penjualan 51,4% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk milik PT Medco Energi Internasional Tbk meskipun memberikan harga penawaran Rp2.425 per saham.

Harga penawaran ini lebih kecil dibandingkan penawaran Abacus Capital Rp2.450 per saham yang diajukan kepada pemilik 51,4%. Penutupan transaksi penjualan 51,4% saham Apexindo direncanakan selesai pada awal tahun depan.

Presiden Direktur Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan harga bukan satu-satunya pertimbangan dalam penentuan pemenang.

"Dalam proses negosiasi penjualan saham Apexindo, harga merupakan faktor penting, tetapi poin-poin persyaratan pembelian [sale and purchase agreement/SPA] tentu harus dipertimbangkan. Kalau harganya tinggi, tetapi uangnya baru diterima dua tahun kemudian, siapa yang mau apalagi persyaratannya bukan main," ujarnya kemarin.

Dia menuturkan perusahaan migas yang dikendalikan oleh Keluarga Panigoro itu menyatakan keinginannya untuk menerima pembayaran secara tunai dalam transaksi penjualan saham perusahaan? pengeboran. Harga saham Apexindo kemarin ditutup stagnan pada level Rp2.325 per saham.

Dengan nilai Rp2.325 per saham berarti kapitalisasi pasar Apexindo mencapai Rp6,12 triliun.

Tidak lolos

Hertriono menjelaskan dua pemodal lain yaitu Recapital Investment Bank dan Texas Pacific Group (TPG) sudah dipastikan tidak lolos dalam proses finalisasi pemenang. "Dari awal dalam proses uji teknis, mereka sudah tidak masuk."

Dia menjelaskan Medco menginginkan penyelesaian transaksi penjualan saham itu dilaksanakan secepatnya. "Hilmi Panigoro [Dirut Medco] sudah mengatakan supaya proses ini selesai secepatnya. Mudah-mudahan saja pekan ini bisa terwujud."

Sumber Bisnis menambahkan apabila Bormindo berhasil membeli Apexindo, perusahaan itu kemungkinan dibeli oleh PT Nusantara Infrastructure Tbk.

Beberapa waktu lalu, Komut Bormindo dan Dirut Nusantara dipegang oleh eksekutif yang sama yakni M. Ramdani Basri. Namun, kemungkinan itu dibantah oleh Ramdani.

"Tak ada hubungan antara Nusantara Infrastructure dan Bomindo Nusantara. Saya dulu kebetulan pernah dipercaya menjadi Komisaris Utama Bormindo," tuturnya.

Nusantara Infrastructure tetap fokus untuk mengembangkan proyek semen, pengolahan air, dan pembangkit listrik. Bahkan, emiten itu juga berencana melebarkan ke bisnis pengeboran minyak.

Sementara itu, Medco menunda pelaksanaan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) disebabkan oleh belum tercapainya kesepakatan antara perseroan dengan calon pembeli Apexindo.

Semula perseroan ingin menggelar RUPSLB pada 27 Desember dengan agenda meminta persetujuan pemegang saham atas rencana perseroan melakukan divestasi 51,4% saham perseroan di Apexindo. Perseroan mengubah pelaksanaan RUPSLB menjadi 31 Desember.

Sebelum persaingan mengerucut pada Abacus dan Bormindo, empat calon pembeli telah memasukkan harga sekaligus dokumen penawaran untuk membeli Apexindo, sedangkan dua calon pembeli lainnya yakni Essar Oil dari India dan 3i Group Plc mengundurkan diri dari proses divestasi karena harga yang diminta Medco Energi, Rp2.700 per saham, terlampau mahal.

Dia juga menuturkan pemegang saham baru Apexindo diharapkan menyuntik dana segar untuk tambahan belanja modal perseroan.

Perusahaan pengeboran itu memperkirakan pendapatan perseroan tahun ini diperkirakan US$200 juta.

Estimasi pendapatan itu berdasarkan pertimbangan perpanjangan proyek baru dengan kenaikan tarif.

Apexindo diperkirakan membukukan laba bersih US$75 juta tahun depan.

Harga saham Medco pada perdagangan kemarin ditutup melemah 3,64% menjadi Rp5.300 per saham dibandingkan dengan harga penutupan hari sebelumnya Rp5.500. Harga saham tertinggi Medco diraih pada 11 September 2007 yaitu Rp6.100. (munir.haikal@bisnis.co.id/ wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Oleh M. Munir Haikal & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

Thursday, November 29, 2007

Divestasi Apexindo belum jelas, Medco tunda RUPSLB

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Medco Energi Internasional Tbk menunda pelaksanaan rapat umum pemegang saham luar biasa, karena belum tercapai kesepakatan antara perseroan dan calon pembeli PT Apexindo Pratama Duta.

Rencananya perseroan akan menggelar RUPSLB pada 27 Desember dengan agenda meminta persetujuan pemegang saham atas rencana perseroan melakukan divestasi 51,4% saham perseroan di Apexindo.

Namun, Medco mengubah jadwal pelaksanaan rapat umum pemegang saham luar biasa menjadi 31 Desember.

"Penundaan ini terpaksa kami lakukan, mengingat saat ini belum tercapai kesepakatan antara perseroan dan calon pembeli," ujar Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Jakarta kemarin.

Hilmi tidak bersedia memberi penjelasan lebih jauh mengapa kesepakatan antara Apexindo dan calon pembeli itu tidak tercapai. "Maaf, saya lagi meeting," ujarnya kepada Bisnis.

Harga saham perseroan pada perdagangan kemarin ditutup stagnan Rp5.500 per saham dibandingkan dengan harga penutupan sebelumnya. Sementara itu, harga saham tertinggi diraih pada 11 September 2007 yaitu Rp6.100.

Abacus & Bormindo bersaing

Dua calon pembeli yakni Abacus Capital dan PT Bormindo Nusantara kini berebut saham Apexindo, sedangkan Texas Pacific Group dan PT Recapital Investment Bank dikabarkan tak lolos ke babak akhir tender divestasi perusahaan pengeboran itu.

Medco bersikeras meminta harga penjualan Apexindo Rp2.700 per saham yang dinilai banyak analis terlalu mahal. Itu membuat dua calon institusi lainnya yakni 3i Group Plc dan Essar Oil mundur dari divestasi tersebut.

Emiten migas yang dikendalikan oleh Keluarga Panigoro tersebut pernah tiba-tiba membatalkan penjualan Apexindo dengan alasan bisnis pengeboran sedang bagus. Padahal, waktu itu calon pembeli seperti Aban Loyd Chiles, China Oilfield Services Limited, dan SeaDrill Ltd menyatakan minatnya membeli Apexindo.

Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro, seperti dikutip Bloomberg beberapa waktu lalu, mengatakan Apexindo kemungkinan membukukan laba bersih US$75 juta tahun depan dan seharusnya dinilai pada 12 kali laba ke depan.

Nilai perusahaan itu mencapai US$900 juta atau 51% premium dari nilai pasar. (Abraham Runga) (rahayuningsih@bisnis.co.id)

Oleh Rahayuningsih
Bisnis Indonesia

Wednesday, November 28, 2007

Pilih Abacus, Bormindo, atau Apexindo batal dijual?

Pilih Abacus, Bormindo, atau Apexindo batal dijual?

Bisnis Indonesia --- Menjelang babak akhir penentuan pemenang divestasi 51,4% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk, Texas Pacific Group dan Recapital Investment Bank justru tak lolos. Persaingan antara Abacus Capital dan PT Bormindo Nusantara pun semakin mengerucut.

Siapakah yang akhirnya berhasil mengakuisisi Apexindo Abacus atau Bormindo Keputusan akhir tentu berada di tangan Keluarga Panigoro sebagai pengendali PT Medco Energi Internasional Tbk sekaligus pemilik perusahaan pengeboran itu.

Kalau harga tak cocok, bisa-bisa Keluarga Panigoro batal lagi melepas Apexindo seperti tempo dulu dengan alasan bisnis pengeboran sedang bagus.

Abacus menjadi calon pembeli penawar satu-satunya yang berani memasukkan harga penawaran Rp2.450, berarti Rp250 lebih rendah dari permintaan Medco Rp2.700 per saham.

Permintaan harga Rp2.700 dinilai terlalu mahal, tetapi angka itu sudah jauh di atas valuasi Rp1.900 ketika Medco menolak calon pembeli Apexindo yakni Aban Loyd Chiles, China Oilfield Services, dan perusahaan energi asal Norwegia SeaDrill Ltd.

Gara-gara dianggap terlalu mahal, dua calon pembeli potensial Apexindo yakni 3i Group dan Essar Oil mundur teratur dari divestasi itu.

Bila melihat harga minyak dunia yang kini masih bertengger di level US$98 per barel, sewa rig menjadi semakin mahal. Dengan harga minyak yang hingga akhir tahun ini diprediksi bisa melampaui US$100 per barel dari level tertinggi 21 November di posisi US$99,29, tingginya sewa rig memberikan pendapatan yang signifikan bagi Apexindo.

Apalagi, emiten itu memperbarui beberapa kontrak sewa rig, sehingga pendapatan perseroan tahun ini diprediksi menyentuh US$200 juta. Tentu saja sumbangan itu berdampak positif terhadap Medco.

Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro, seperti dikutip Bloomberg beberapa waktu lalu, mengatakan Apexindo kemungkinan membukukan laba bersih US$75 juta tahun depan dan seharusnya dinilai pada 12 kali laba ke depan. Nilai perusahaan itu mencapai US$900 juta atau 51% premium dari nilai pasar.

Medco ingin berkonsentrasi pada bisnis hulu minyak dan gas, sehingga muncul rencana menjual saham Apexindo. Dengan potensi kinerja Apexindo yang kinclong tahun depan, apakah keluarga Panigoro tetap melanjutkan divestasi itu.

Padahal, emiten migas itu juga sudah menyiapkan rapat umum pemegang saham luar biasa pada 27 Desember dengan agenda tunggal yakni meminta restu dari pemegang saham atas rencana penjualan 51,4% saham Apexindo.

Harga saham Apexindo kemarin ditutup turun ke level Rp2.325 dari penutupan sebelumnya Rp2.400.

Spekulasi

Sumber Bisnis menjelaskan Abacus mewakili manajemen Apexindo. Bila divestasi itu dimenangkan Abacus, berarti terjadi management buyout, sehingga tidak ada investor strategis yang masuk.

Bila Bormindo yang memenangkan pembelian Apexindo, cerita bakal berubah. Sumber itu menambahkan PT Nusantara Infrastructure Tbk kemungkinan mengambil alih Bormindo setelah berhasil membeli Apexindo.

Namun, kemungkinan itu dibantah oleh Dirut Nusantara Infrastructure M. Ramdani Basri. "Tak ada hubungan antara Nusantara Infrastructure dan Bormindo Nusantara. Saya dulu kebetulan pernah dipercaya menjadi Komisaris Utama Bormindo," tuturnya.

Nusantara Infrastructure tetap fokus untuk mengembangkan proyek semen, pengolahan air, dan pembangkit listrik. Bahkan, emiten itu juga berencana melebarkan ke bisnis pengeboran minyak.

Berdasarkan laporan Nusantara per September 2007, pemegang saham utama emiten itu adalah PT Bosowa Trading International 59,42% dan Mensa Capital Pte Ltd sebanyak 19,75% saham.

Kepala Riset PT Erdikha Elit Lanang Trihardian menjelaskan Nusantara Infrastructure mempunyai dua bisnis utama yakni jalan tol dan distribusi semen.

"Jalan tol menyumbang pendapatan terbesar Nusantara, sehingga berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan," katanya yang beberapa waktu lalu mengunjungi Nusantara (company visit) beberapa waktu lalu.

PER tinggi

Dia mengakui PER saham Nusantara tergolong tinggi karena harga sahamnya naik beberapa waktu lalu.

Harga saham Nusantara kemarin stagnan di level Rp275. Harga saham emiten itu pernah mencapai posisi tertinggi Rp345 per saham. Berdasarkan Bloomberg, rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) Nusantara kini mencapai 61,31 kali. Level itu tergolong mahal dibandingkan dengan PER grup perusahaan sejenisnya yang masih mencapai 55,93 kali.

Menurut Lanang, Nusantara mempunyai beberapa rencana yang dikembangkan ke depan seperti memasuki bisnis pengolahan air di Batam, pengeboran minyak, dan menjajaki peluang menggabungkan Semen Bosowa ke Nusantara.

"Semuanya masih rencana. Kalau rencana itu berjalan, bisa bagus. Namun, saat ini sumbangan pendapatan terbesar masih berasal dari jalan tol dan sahamnya sudah agak mahal," katanya.

Nusantara juga tengah menjajaki pinjaman bank dari Singapura dan Hong Kong senilai Rp600 miliar-Rp700 miliar yang akan digunakan untuk mengakuisisi perusahaan semen senilai Rp1,8 triliun yang dijadwalkan rampung tahun ini.

"Perusahaan itu [semen] tengah bernegosiasi dengan bank mengenai utangnya karena dengan akuisisi, maka Nusantara akan mengambil alih segala kewajiban yang ditanggung oleh perusahaan semen asal Sulawesi tersebut," ujar Ramdani. (Bisnis, 1 Oktober 2007)

Lanang menambahkan Nusantara mengincar perusahaan pengeboran minyak.

Meski tidak bersedia menyebutkan nama perusahaan pengeboran yang akan dibeli, katanya, Nusantara berencana mengakuisisi perusahaan pengeboran di bawah level Apexindo.

Terkait Semen Bosowa, dia menjelaskan informasi yang diperoleh dari Nusantara menyebutkan prosesnya masih dalam tahap uji tuntas.

Nusantara juga menjajaki kepemilikan 51% saham pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan baku batu bara di luar Jawa bernilai investasi total US$200 juta. Pembangkit listrik tenaga batu bara itu berkapasitas 2x100 MW.

Pendapatan Nusantara hingga akhir tahun ini diperkirakan mencapai Rp200 miliar. Hingga per September 2007, pendapatan Nusantara mencapai Rp136,09 miliar dan laba bersih Rp16,45 miliar. (wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Wisnu Wijaya
Wartawan Bisnis Indonesia

Tuesday, November 27, 2007

Pekan Ini, Medco Putuskan Pemenang Tender Apexindo

Jakarta, Investor Daily --- PT Medco Energi Internasional Tbk akan memutuskan pemenang tender penjualan 51,39% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk milik perseroan pada pekan ini. Soalnya, negosiasi Medco dengan peserta tender sudah masuk tahap akhir. “Negosiasi tidak hanya menyangkut harga, tapi juga hak dan kewajiban pemegang saham baru Apexindo. Mudah-mudahan bisa selesai dalam pekan ini,” kata Dirut Medco Hilmi Panigoro kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (26/11).

Hilmi belum bisa mengungkapkan harga yang diinginkan Medco. Ketika ditanya apakah harga Rp 2.700 per lembar saham akan diturunkan, dia juga menolak berkomentar.”Yang pasti, kami masih bernegosiasi,” ujar dia.

Komisaris Bormindo Nusantara Ramdani Basri membenarkan bahwa proses tender saham Apexindo masih berlangsung. “Belum ada perkembangan yang berarti, jelas dia. Namun, kata Ramdani, empat peserta yang ikut tender tidak satu pun yang mengajukan harga Rp 2.700 per saham, seperti yang diinginkan Medco.

Bormindo merupakan salah satu peserta tender. Bormindo mengajukan penawaran Rp 2.425 per saham. Penawaran itu lebih rendah Rp 25 dari Abacus Capital selaku bidder yang mengajukan harga tertinggi sebesar Rp 2.450.

Bormindo kini tengah bersaing ketat dengan Abacus. Bormindo menempati posisi kedua, sedangkan Abacus teratas. Jika Abacus terpilih, Medco akan meraup dana sebesar Rp 3,31 triliun. Namun, jika Bormindo terpilih Medco bakal memperoleh dana Rp 3,28 triliun.

Selain Bormindo dan Abacus, posisi selanjutnya ditempati Recapital Investment Bank dan Texas Pacific Group (TPG). Ketika dikonfirmasi, Presiden Direktur Recapital Rosan Roeslani enggan berkomentar. “Saya lagi meeting,” ucap dia singkat. (jau)

Medco Perpanjang Masa Divestasi Apexindo, Tinggal tersisa tiga penawar

JAKARTA, Koran Tempo -- PT Medco Energi Internasional Tbk. memperpanjang masa negosiasi penjualan 51,39 persen saham di PT Apexindo Pratama Duta Tbk. hingga minggu depan. Awalnya, pengumuman pemenang pembeli perusahaan minyak dan gas tersebut diumumkan kemarin. "Waktu negosiasi ditambah karena ternyata butuh waktu lebih dari yang kami perkirakan," kata Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro kepada Tempo di Jakarta kemarin.

Menurut dia, perpanjangan waktu negosiasi bukan karena alotnya pembahasan harga penjualan saham Apexindo. "Hak dan kewajiban penjual-pembeli butuh pembahasan panjang," ujarnya.

Ia mengungkapkan saat ini tinggal tersisa tiga calon pembeli saham Apexindo, yaitu Abacus Capital, Recapital Investment Bank, dan perusahaan pengeboran, PT Bormindo Nusantara.

Namun, dia menolak menyebutkan harga penawaran atas saham Apexindo yang sudah masuk. Dia juga membantah kabar transaksi bakal batal karena harga penawaran yang masuk lebih rendah dari target Rp 2.700 per lembar. "Soal harga itu confidential (rahasia). Kalau kabar batal itu hanya rumor," ujarnya.

Menurut sumber Tempo, dalam divestasi saham Apexindo tersebut, Abacus memberikan penawaran tertinggi sebesar Rp 2.450 per lembar. Urutan penawar berikutnya adalah Bormindo, selanjutnya Recapital.

Dua calon pembeli lainnya, Essar Oil dari India dan 3i Group Plc. mundur karena menganggap harga permintaan Medco Energi Rp 2.700 per saham terlalu mahal. Adapun Texas Pacific Group (TPG) mengundurkan diri.

Komisaris Bormindo M. Ramdani Basri membenarkan pihaknya berada pada urutan penawar kedua. "Tapi kami tidak bisa berbicara banyak karena sudah terikat perjanjian kerahasiaan," ujarnya saat dihubungi kemarin di Jakarta.

Direktur Utama Recapital Advisors Rosan Perkasa Roeslani belum dapat memberikan tanggapan karena mengaku sedang rapat.

Dalam divestasi ini, Medco Energi menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan. Dari sekitar 50 investor yang diundang membeli saham Apexindo milik keluarga Panigoro ini, hanya 19 calon investor yang mengembalikan formulir pernyataan minat.

Medco Energi berniat menjual kepemilikan sahamnya di Apexindo karena akan memfokuskan bisnisnya pada pengembangan minyak dan gas di sektor hulu.

Medco Energi menguasai 52,4 persen saham Apexindo. Pemegang saham Apexindo lainnya adalah Seadrill Ltd, melalui Abacus Capital International Ltd. sebanyak 32.3 persen, dan publik 15,3 persen. Wahyudin Fahmi

Monday, November 26, 2007

Terkait Penjualan Saham Apexindo, Bormindo dan Abacus Bersaing Ketat

JAKARTA, Investor Daily --- PT Bormindo Nusantara bersaing ketat dengan Abacus Capital dalam memenangi penjualan 51,39% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk milik PT Medco Energi Internasional Tbk. Bormindo mengajukan penawaran sebesar Rp 2.425 per lembar, sedangkan Abacus Rp 2.450 atau penawaran tertinggi di antara peserta lainnya.

“Kami sudah mengajukan proposal investor strategis dengan harga lebih rendah Rp 25 dari penawaran Abacus. Kalau terpilih sebagai pemenang, kami siap menyuntikkan dana segar kepada Apexindo,” kata Komisaris Bormindo Nusantara Ramdani Basri kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia menegaskan, tak satu pun peserta tender yang mengajukan penawaran seharga Rp 2.700. Pada perdagangan akhir pekan lalu, harga saham Apexindo ditutup menguat Rp 25 menjadi Rp 2.400. Nilai transaksi mencapai Rp 281,66 juta. Sedangkan harga saham Medco ditutup menguat Rp 250 menjadi Rp 5.400. Nilai transaksi tercatat Rp 126,98 miliar.

Ramdani juga saat ini menjabat dirut PT Nusantara Infrastructure Tbk. Salah satu pemegang saham terbesar Nusantara adalah Bosowa Trading sebesar 47,42%. Peserta lainnya adalah Texas Pacific Group (TPG) dan Recapital Investment Bank.

Jika Abacus terpilih sebagai pemenang, Medco akan mengantungi dana segar Rp 3,31 triliun. Sebaliknya kalau Bormindo terpilih, perusahaan ini menerima senilai Rp 3,28 triliun. “Kami berharap terpilih sebagai pemenang dan tetap berkomitmen tinggi untuk memajukan usaha Apexindo,” tandas dia.

Abacus merupakan sebuah grup pengelola aset dan penasihat keuangan yang berbasis di Asia. Perusahaan ini fokus dalam mengelola aset

Sementara itu, Dirut Medco Hilmi Panigoro mengaku, pihaknya sudah bernegosiasi dengan dua calon pembeli pada Sabtu (24/11) dan dua calon lainnya pada hari ini.

Dia menjelaskan, perseroan belum dapat memastikan pengumuman pemenang tender penjualan saham Apexindo. Sebab, banyak hal perlu dipertimbangkan. Pertimbangan tersebut bukan semata-mata menyangkut harga penawaran, tetapi juga memperhatikan kepastian kelangsungan bisnis Apexindo pada masa mendatang.

Hilmi tidak bersedia menyebutkan nama kedua peserta tender tersebut, termasuk identitas kedua peserta lainnya. “ Yang jelas, peserta ada dari dalam negeri dan luar negeri. Itu sangat confidential ,” tandas dia.

Sebelumnya, dia mengatakan, pemenang tender siap diumumkan pada 26 November 2007.

Dirut Recapital Investment Bank Rosan Roeslani mengaku, pihaknya belum bernegosiasi dengan Medco hingga akhir pekan lalu. “Kami belum bertemu Medco. Saya masih berada di Singapura, sehingga belum tahu perkembangannya,” kata dia kepada Investor Daily.

Sejak awal proses tender dibuka, 50 calon pembeli berminat membeli saham Apexindo. Namun dalam seleksi berikutnya, peserta turun menjadi 20. Sedangkan seleksi terakhir hanya diikuti enam calon pembeli. Tapi dua perusahaan mundur, sehingga tinggal empat calon.

Pemain Global

Mengomentari penjualan Apexindo, Kepala Riset Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata mengatakan, hal itu akan berdampak positif kepada Apexindo dan Medco. Sebab, Medco meraup dana segar untuk keperluan ekspansi. Sebaliknya, manajemen Apexindo akan lebih bagus dengan masuknya investor baru. “Akan lebih baik kalau yang terpilih investor asing, karena kesempatan Apexindo menjadi pemain global lebih besar dibandingkan perusahaan lokal,”

Menurut Hilmi, pelepasan saham dilakukan agar Medco lebih fokus pada pengembangan industri hulu minyak dan gas. Untuk itu, perseroan telah menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan untuk proses divestasi ini.

Apexindo menyumbangkan sekitar 15% terhadap pendapatan Medco selama ini. Tapi jumlah ini diperkirakan meningkat hingga 21% pada 2008. Apexindo mencetak laba bersih pada semester-I 2007 sebesar US$ 15 juta, turun 7,4% dari periode sama tahun sebelumnya US$ 16,2 juta.

Sedangkan sumbangan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) mencapai US$ 38,6 juta pada akhir Juni 2007, naik 28,7% dari tahun sebelumnya US$ 30 juta.

Dia mengaku, penjualan saham Apexindo tersebut akan berdampak terhadap penurunan jumlah aset tetap. Namun, perseroan akan menerima dalam bentuk uang tunai. Divestasi ini juga berdampak terhadap rasio utang. ***

Oleh Eva Fitriani dan Jauhari Mahardhika