Monday, June 16, 2008

Medco: MIRA Lebih Unggul

JAKARTA (SINDO) – PT Medco Energi Internasional Tbk menilai tawaran akuisisi PT Mitra Rajasa Tbk atas PT Apexindo Pratama Duta Tbk lebih menarik dibandingkan pesaingnya.

Tawaran Mitra Rajasa (MIRA) memiliki keunggulan dari segi harga, kecepatan, dan penyelesaian transaksi ketimbang penawar lain sehingga Medco kemudian memilihnya sebagai pihak yang berhak mendapatkan Apexindo (APEX). Investor Relation Medco Energi Internasional Nusky Suyono mengatakan, secara umum pemilihan pembeli Apexindo berdasarkan atas liabilitas kas calon pembeli, penyelesaian transaksi secepat mungkin, dan tidak memiliki prasyarat atau kondisikondisi yang nantinya dapat menyulitkan Medco.

”Yang penting penyelesaiannya cepat dan transparan,” ujarnya kepada SINDO di Jakarta kemarin. Dia menegaskan, meski ada penawar yang mengajukan harga lebih tinggi, tapi memerlukan waktu pembayaran yang lebih panjang, Medco tidak bisa memilihnya. Pasalnya, penjualan Apexindo sudah terlalu lama molor dari yang direncanakan.

”Meski harganya tinggi, tapi dicicil dan membutuhkan waktu lama, ya tidak bisa,” tandasnya. Nusky mengungkapkan hal tersebut untuk menjawab keberatan beberapa pihak terhadap penjualan Apexindo ke Mitra Rajasa,di antaranya dari Pertamina. Namun dia tidak mau berkomentar apakah memang Pertamina pernah menyatakan minatnya kepada Apexindo.

”Saya tidak mau bilang karena dapat melanggar confidential (rahasia),”elaknya. Pihak Pertamina kemarin menyatakan niatnya mengirimkan surat kepada Medco Energi serta Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) terkait pelepasan saham Apexindo kepada Mitra Rajasa.

”Kami akan melayangkan surat kepada Medco dengan cc ke Bapepam-LK,” ujar Direktur Keuangan Pertamina Frederick Siahaan di selasela rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Jakarta kemarin. Menurut dia, Pertamina tidak mendapat pemberitahuan dari Medco Energi terkait transaksi MIRA dan Apexindo.

Padahal, pihaknya sangat berminat membeli anak perusahaan Medco yang bergerak dalam bidang jasa pengeboran tersebut karena akan semakin mendukung bisnis Pertamina.Namun, dia enggan mengungkapkan harga penawaran yang diajukan Pertamina untuk mengakuisisi saham Apexindo. Seperti diketahui, Medco dan MIRA baru saja menandatangani kesepakatan jual beli saham Apexindo dengan harga Rp2.450 per lembar saham.

MIRA akan membeli 80,6% saham Apexindo dengan nilai total Rp5,16 triliun. Saham itu terdiri atas 1,28 miliar saham (48,87%) Apexindo milik Medco dan 835 juta saham (31,7%) milik Encore. Sementara itu, Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil Bapepam- LK Nurhaida mengatakan, sejauh ini Medco belum melaporkan transaksi penjualan anak usahanya tersebut.

”Medco belum menyerahkan dokumen transaksi materialnya ke Bapepam. Jadi, kami belum bisa memberi tanggapan atas kemungkinan mereka melakukan transaksi yang menyalahi aturan,” paparnya. Nurhaida mengatakan, Medco seharusnya segera menyerahkan dokumen transaksinya, terutama terkait besaran harga akuisisi, dan perubahan kegiatan usahanya pascaakuisisi.

Sesuai keputusan Ketua Bapepam-LK Kep-02/PM/2001 Nomor IXE2 tentang Transaksi Material, Medco wajib melaporkan transaksi materialnya.Terhitung sejak pelepasan 80,6% saham Apexindo pekan lalu, Medco masih memiliki waktu penyerahan dokumen transaksinya hingga dua pekan mendatang.

Di lain pihak, hingga kemarin Bapepam-LK masih menelaah dokumen transaksi Mitra Rajasa sebagai pengendali baru saham Apexindo.” Mitra Rajasa (MIRA) sudah menyampaikan dokumen mengenai transaksi materialnya dan masih kami telaah. Yang ditelaah termasuk besaran harga dan dana pinjaman yang digunakan untuk akuisisi,”tuturnya. (nunung a/ferial t/setiawan a)

Saturday, June 14, 2008

Menguji Kapital Mitra Rajasa

INILAH.COM, Jakarta – Penjualan PT Apexindo Pratama Duta Tbk oleh Grup Medco kepada PT Mitra Rajasa Tbk masih menuai persoalan. Mitra diminta mendukung pembelian rig baru senilai Rp 4,18 triliun. Padahal, kapitalisasi mereka hanya Rp 1,91 triliun.

Banyak hal yang membuat transaski penjualan ini terdengar sumir. Pertama, harga jualnya dinilai terlalu rendah. Bahkan, lebih rendah dibanding penawar lain. Kedua, kemampuan Mitra Rajasa sebagai pemilik baru juga masih diragukan.

Tak heran, jika transaksi ini, selain masih diteliti Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), juga dipantau Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Lembaga itu mulai mengumpulkan informasi awal terkait dugaan unsur persaingan tidak sehat.

Bapepam-LK mempersilakan pihak yang menilai transaksi pembelian Apexindo terlalu murah dapat melaporkan hal itu. “Bapepam-LK tidak ikut campur urusan operasional mereka. Kalau mereka anggap harganya kemurahan, mereka bisa saja menuntut atau melaporkan hak itu,” kata Ketua Bapepam-LK, Ahmad Fuad Rahmany.

Dia mengatakan Bapepam-LK akan lebih fokus pada penilaian laporan keuangan Mitra Rajasa dan Apexindo. Soal lain, mereka menyerahkan kepada pihak lain yang berkompeten.

Transaksi akuisisi saham Apexindo terjadi pada 9 Juni ketika Medco dan Mitra Rajasa menandatangani kesepakatan jual beli pada harga Rp 2.450 per saham. Mitra berkomitmen membeli 80,57% saham perusahaan pengeboran itu dengan total nilai saham Rp5,16 triliun. Harga divestasi Rp 2.450 per saham itu premium 11,36% dibandingkan dengan harga penutupan saham Apexindo pada 9 Juni Rp 2.200.

Namun, harga jual Apexindo itu hanya premium Rp 50 per saham atau 2,08% dibandingkan harga beli saham Apexindo oleh Encore dari dua pemegang saham sebelumnya Rp 2.400 per saham.

Di lantai bursa beredar kabar bahwa Northern Offshore Drilling, sebuah perusahaan milik konglomerat asal Norwegia, menawar saham Apexindo senilai Rp 2.600 per saham atau total US$ 731 juta melalui pembayaran tunai. PT Pertamina (Persero) juga dikabarkan menawar Apexindo pada kisaran harga yang sama.

Pada penutupan perdagangan saham 13 Juni, harga saham Mitra Rajasa ditutup pada level Rp 700 atau turun Rp 10 bila dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. Apabila mengacu harga saham itu, kapitalisasi pasar Mitra Rajasa mencapai Rp 1,91 triliun.

Dalam situasi seperti itulah, manajemen Apexindo meminta pemilik baru yang menguasai 80,57% saham Apexindo yaitu Mitra Rajasa mampu mendukung pengembangan perseroan melalui pembelian dua rig baru senilai US$ 450 juta atau setara dengan Rp 4,18 triliun.

Presiden Direktur Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan setelah Mitra Rajasa menguasai Apexindo, pengendali baru itu diharapkan bisa menopang pengembangan ke depan sesuai dengan rencana awal manajemen perusahaan pengeboran migas tersebut.

Hingga saat ini manajemen Apexindo belum menggelar rapat dengan Mitra Rajasa. Namun, pertemuan guna membahas langkah perseroan ke depan pascaakuisisi itu dijadwalkan pada pertengahan pekan ini.

Meski manajemen Apexindo tidak terlibat dalam pengambilalihan itu, Hertriono menilai PT Medco Energi Internasional Tbk dan Encore International Ltd semestinya memiliki pertimbangan tersendiri. Apexindo merupakan anak perusahaan Medco dan Encore.

“Medco dan Encore setuju melepas Apexindo ke Mitra Rajasa, itu tak lain karena saya perkirakan Mitra Rajasa merupakan pembeli yang paling serius. Bukan karena hal lain,” tuturnya. [I4]


Ibrahimsyah, Kontributor INILAH.COM

KPPU Dipersilahkan Periksa MIRA

JAKARTA, okezone.com - Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany mempersilahkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk memeriksa PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA).

"Kalau KPPU menganggap itu bermasalah silahkan diperiksa. Tapi Bapepam tidak mengurusi persoalan operasional, misalnya transaksi dilakukan di bawah harga, itu urusan pemegang saham," jelas Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany, di Jakarta.

Bapepam-LK, kata dia, tidak bisa terlibat lebih jauh dalam operasional perusahaan, pasalnya pihaknya tidak memiliki kemampuan untuk mengaudit persoalan operasional perusahaan terbuka, yang jumlahnya mencapai 380 perusahaan.

"Jika mereka salah membuat laporan keuangan akan kita tanya. Dan jika mereka tidak melaporkan transaksi, maka baru kita beri sanksi," ungkapnya.

Seperti diketahui, PT Medco Energi Internasional Tbk dan MIRA menandatangani kesepakatan jual beli Apexindo dengan harga Rp.2.450 per saham. MIRA akan membeli 80,6 persen saham Apexindo dengan nilai total Rp5,16 triliun. Saham itu terdiri dari 1,28 miliar saham (48,87 persen) Apexindo milik Medco dan 835 juta saham (31,7 persen) milik Encore. Proses akuisisi Apexindo oleh MIRA mulai dicermati oleh KPPU. (Setiawan Ananto/Sindo/rhs)

Bapepam Telaah Akuisisi Apexindo Oleh MIRA

JAKARTA, okezone.com - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mulai menelaah proses akuisisi PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) oleh PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA).

"Mitra Rajasa (MIRA) sudah menyampaikan dokumen mengenai transaksi materialnya, dan itu yang masih kita telaah," jelas Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK M Noor Rachman Jumat (13/6/2008) sore.

Sesuai aturan Bapepam Nomor IXE2 tentang transaksi material, maka MIRA harus menyediakan data tentang transaksi material dan menyampaikanya ke Bapepam-LK.

Seperti diketahui, PT Medco Energi Internasional Tbk dan MIRA menandatangani kesepakatan jual beli Apexindo dengan harga Rp.2.450 per saham. MIRA akan membeli 80,6 persen saham Apexindo dengan nilai total Rp5,16 triliun. Saham itu terdiri dari 1,28 miliar saham (48,87 persen) Apexindo milik Medco dan 835 juta saham (31,7 persen) milik Encore. Proses akuisisi Apexindo oleh MIRA mulai dicermati oleh KPPU. (Setiawan Ananto/Sindo/rhs)

Friday, June 13, 2008

KPPU ikut teliti jual beli saham Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mulai mengumpulkan informasi awal untuk terlibat dalam pemeriksaan transaksi akuisisi PT Apexindo Pratama Duta Tbk yang diduga mengandung unsur persaingan tidak sehat.

Di sisi lain, manajemen Apexindo meminta pemilik baru Apexindo yang menguasai 80,57% saham Apexindo, yaitu PT Mitra Rajasa Tbk mampu mendukung pengembangan perseroan melalui pembelian dua rig baru senilai US$450 juta atau setara dengan Rp4,18 triliun.

Menurut Anggota KPPU M. Iqbal, KPPU akan mengamati proses akuisisi tersebut dan tidak tertutup kemungkinan kajian itu dibawa ke rapat KPPU guna dibahas apakah akan dilakukan monitoring atau tidak.

"Ini baru sekadar kajian. Rapat Komisi yang akan memutuskan. Yang pasti, pemeriksaan itu memang bisa dari inisiatif kami dan bisa juga dari laporan pihak lain," ujar Iqbal kepada Bisnis, kemarin.

Dia mengatakan KPPU akan mengamati proses akuisisi itu dengan dasar pasal-pasal dalam UU No.5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat.

Selain KPPU, Bapepam-LK juga berencana memeriksa transaksi itu diawali dengan meminta keterangan PT Medco Energi Internasional Tbk dan PT Mitra Rajasa Tbk yang terlibat transaksi itu.

"Kami akan mengecek dan segera minta keterangan dari mereka," ujar Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK M. Noor Rachman.

Dia mengatakan perseroan akan memeriksa mengenai beberapa detail dari proses akuisisi tersebut. Namun dia tidak bersedia menjelaskan detail tersebut.

Meski demikian, masukan dari pasar juga menjadi perhatian Bapepam-LK terkait dengan akuisisi tersebut.

"Saya sudah menerima laporan dari Mitra Rajasa atas akuisisi tersebut. Kami akan mengecek," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil Bapepam-LK Nur Haida mengatakan hingga saat ini Medco belum menyerahkan laporan atas divestasi anak perusahaannya, yaitu Apexindo kepada Mitra Rajasa.

"Segera setelah laporan itu masuk, kami akan menilai wajar atau tidaknya transaksi ini. Karena, transaksi ini adalah transaksi material. Kami juga akan menilai soal kewajaran harga divestasi ini," ujarnya.

Transaksi akuisisi Apexindo terjadi pada 9 Juni ketika ditandatangani kesepakatan jual beli antara PT Medco Energi Internasional Tbk dan PT Mitra Rajasa Tbk pada harga Rp2.450 per saham.

Mitra berkomitmen untuk membeli 80,57% saham perusahaan pengeboran itu di level harga Rp2.450 per saham atau senilai total Rp5,16 triliun. Harga divestasi Rp2.450 per saham itu premium 11,36% dibandingkan dengan harga penutupan saham Apexindo pada 9 Juni Rp2.200.

Namun, harga jual Apexindo itu hanya premium Rp50 per saham atau 2,08% dibandingkan dengan harga beli saham Apexindo oleh Encore International Ltd dari dua pemegang saham sebelumnya Rp2.400 per saham.

Mitra paling serius

Sementara itu, Presiden Direktur Apexindo Hertriono Kartwisastro mengatakan meski pihaknya tidak terlibat dalam pengambilalihan Apexindo ke tangan Mitra Rajasa dari Medco, namun dia menilai Medco dan Encore semestinya memiliki pertimbangan tersendiri.

"Medco dan Encore setuju melepas Apexindo ke Mitra Rajasa, itu tak lain karena saya rasa Mitra Rajasa yang paling serius," tuturnya.

Ke depan, lanjutnya, manajemen Apexindo berharap pemilik baru Apexindo dapat melanjutkan pengembangan perusahaan seperti yang telah direncanakan manajemen Apexindo.

"Setidaknya, guna kebutuhan pengembangan perseroan dan menghindari pertumbuhan yang flat, kami membutuhkan pembelian dua rig baru senilai US$450 juta. Pendanaannya kami serahkan pada kebijakan pemilik baru," ungkapnya.

Hingga saat ini, lanjutnya, manajemen Apexindo belum menggelar rapat dengan Mitra Rajasa. Namun, pertemuan guna membahas langkah perseroan ke depan pascaakuisisi itu dijadwalkan digelar pada pertengahan pekan depan. (sylviana.pravita@bisnis.co.id)

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.

Bisnis Indonesia

TERKAIT AKUISISI APEXINDO, Mitra Rajasa Siap Diperiksa Bapepam

JAKARTA, Investor Daily --- PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) menyatakan kesiapannya diperiksa Bapepam-LK terkait akuisisi 80,57% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX). Pernyataan itu menyusul jual beli saham pada harga terendah sebesar Rp 2.450 per saham.

“Kalau Bapepam ingin menilai kembali, silakan, karena semua kewajiban kami sebagai emiten sudah kami penuhi,” kata Sekretaris Perusahaan Mitra Rajasa Imaculata TM Wattimena kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (12/6).

Menurut Ima, perseroan sudah mengumumkan rencana akuisisi Apexindo kepada publik. Mitra Rajasa juga telah melaporkannya ke Bapepam dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Mengenai suntikan dana sebesar US$ 275 juta dari Prajogo Pangestu dan Goldman Sachs, Ima mengaku tidak tahu karena perseroan tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, Ima menjelaskan, rencana transaksi akuisisi Apexindo telah dinilai oleh PT Zodiac Perintis, penilai independen yang terdaftar di Bapepam. Lembaga penilai itu menyebutkan, akuisisi Apexindo oleh Mitra Rajasa dinilai layak dan wajar untuk perseroan dan pemegang saham. Nilai pasar wajar Apexindo berkisar antara Rp 5,17-5,86 triliun dengan harga Rp 2.435-Rp 2.762 per saham.

Mitra Rajasa sudah menandatangani perjanjian jual beli dengan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan Encore International Pte Ltd selaku pemegang 80,57% saham Apexindo senilai Rp 5,19 triliun. Harga yang disepakati sebesar Rp 2.450 per saham.

Namun, sejumlah investor publik menyesalkan akuisisi itu karena ada penawar lain yang mengajukan harga lebih tinggi dengan pembayaran tunai. Northern Offshore Drilling milik konglomerat John Frederiksen pernah menawar pada harga Rp 2.600 per saham. Pertamina juga mengajukan harga lebih tinggi dari Mitra Rajasa. Namun, Mitra Rajasa keluar sebagai pemenang.

Dirut Encore International Yani Panigoro menegaskan, keputusan melepas Apexindo kepada Mitra Rajasa tidak semata-mata masalah harga. Namun, ada pertimbangan lain seperti kemudahan dan kecepatan transaksi yang ditawarkan Mitra Rajasa. Dengan demikian, penawar yang mengajukan harga lebih tinggi belum tentu menang.

“Jadi, persoalannya sudah jelas. Sebab, prosesnya tidak menyimpang dari ketentuan pengambilalihan perusahaan terbuka,” kata Yani yang juga direktur Medco Group.

Menurut dia, keputusan akuisisi Apexindo tetap ada di tangan pemegang saham dalam RUPSLB Medco Energi pada Juli 2008. Mengenai identitas penawar lain, Yani menolak berkomentar karena alasan kerahasiaan.

Menanggapi hal itu, Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil Bapepam-LK Nurhaida mengatakan, pihaknya belum dapat mengomentari rencana transaksi yang termasuk material itu.

“Medco belum menyampaikan secara resmi ke Bapepam terkait rencana corporate action tersebut. Jadi, saya belum bisa berkomentar apakah transaksi itu wajar atau tidak,” kata dia.

Ketua Bapepam-LK A Fuad Rahmany mengatakan, investor publik bisa saja meminta pertanggung jawaban manajemen Apexindo melalui komisaris independen. “Otoritas pasar modal hanya memastikan keterbukaan informasi transaksi berdasarkan peraturan pasar modal,” ujar dia melalui layanan pesan singkat.

Dia mengatakan, Bapepam akan mengambil tindakan terhadap segala pelanggaran peraturan pasar modal. Untuk itu, pihaknya akan memastikan apakah transaksi itu sudah sesuai ketentuan.

Wakil Ketua Umum Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (Misi) Edison Siahaan dan Pengamat Pasar Modal Alfiansyah mendesak Bapepam segera memeriksa transaksi akuisisi Apexindo oleh Mitra Rajasa. Hal itu demi melindungi investor publik. (hut)

Oleh Deviana Chuo dan Jauhari Mahardhika

Percepat Pemeriksaan Transaksi Penjualan Apexindo

JAKARTA, Republika -- Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) sebagai otoritas bursa saham diminta mempercepat penuntasan pemeriksaan transaksi akuisisi saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk oleh PT Mitra Rajasa Tbk. Hal ini untuk menghindari potensi risiko yang dihadapi investor publik pada transaksi perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan ini.

"Mempercepat penyelesaian pemeriksaan agar ada kepastian bahwa transaksi itu apakah memiliki benturan kepentingan atau tidak," kata analis Sinarmas Sekuritas Alfiansyah di Jakarta, Kamis (12/6).

Menurut Alfiansyah penuntasan pemeriksaan juga akan mempengaruhi tren atau perkembangan harga saham kedua perusahaan di bursa. Kesepakatan jual beli 80,6 persen saham Apexindo oleh PT Mitra Rajasa Tbk dilakukan pada akhir pekan lalu pada harga Rp 2.450 per saham atau senilai Rp 5,16 triliun.

Namun, harga divestasi Rp 2.450 per saham itu premium 11,36 persen dibandingkan dengan harga penutupan saham Apexindo pada 9 Mei 2008 Rp 2.200 per saham. Terkait transaksi tersebut mengundang pro kontra karena diduga tidak wajar. Adapun Bapepam menyatakan akan segera memeriksa transaksi akuisisi tersebut dengan terlebih dahulu meminta keterangan dari kedua pihak.

Menurut Alfiansyah, jual beli seperti yang dilakukan antara Apexindo dengan Mitra Rajasa tersebut merupakan transaksi yang wajar di pasar modal, namun Bapepam harus secepatnya menyikapinya kalau memang ada dugaan kejanggalan. "Pemeriksaan bisa saja terkait dengan kejanggalan sumber pendanaan akuisisi tersebut, atau hal lainnya sehingga ada unsur transparansi atau keterbukaan kepada publik," kata Alfiansyah.

Menurut seorang Antara, transaksi penjualan saham perusahaan pengeboran terkesan janggal dan patut dipertanyakan karena Mitra Rajasa sebagai pembeli bukanlah perusahaan yang bergerak di sektor migas. Dari sisi kemampuan finansial, katanya, rasanya Mitra Rajasa tidak mumpuni karena perusahaan tersebut hanya bergerak pada bidang penyediaan alat transportasi.

Padahal dua perusahaan yang berminta menawar saham Apexindo dengan harga lebih tinggi datang dari Northern Offshore Drilling, perusahaan asal Swedia dengan harga Rp 2.600 per saham, termasuk penawaran dari PT Pertamina yang bisnis intinya adalah minyak dan gas. "Karena itu, Bapepam harus melakukan investigasi menyeluruh mulai dari mencari tahu pihak yang berada di belakang Mitra Rajasa, dan mengapa mengabaikan penawaran yang lebih tinggi yang merugikan tidak saja pemegang saham publik maupun juga pemegang saham mayoritas," kata sumber itu.

Dia mengatakan yang harus diperiksa Bapepam adalah kemampuan finansial Mitra Rajasa dalam akuisisi itu. Karena, lanjutnya, ada kecurigaan Apexindo dimasukkan sebagai aset ke dalam necara sehingga menarik bagi Goldman Sachs untuk menjadi arranger dalam pendanaan itu."Apexindo sebagai janinan utang sangatm enarik bank asing karena sektor migas lagi booming." ant/fir

Thursday, June 12, 2008

Bapepam periksa transaksi akuisisi Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) akan memeriksa transaksi akuisisi PT Apexindo Pratama Duta Tbk yang diduga tidak wajar. Pemeriksaan itu diawali dengan meminta keterangan dari PT Medco Energi Internasional Tbk dan PT Mitra Rajasa Tbk yang terlibat transaksi itu.

"Kami akan mengecek dan segera minta keterangan dari mereka," ujar Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK M. Noor Rachman kepada Bisnis, kemarin.

Dia mengatakan perseroan akan memeriksa mengenai beberapa detail dari proses akuisisi tersebut. Namun, dia tidak bersedia menjelaskan detail tersebut.

Meski demikian, masukan dari pasar juga menjadi perhatian Bapepam-LK terkait dengan akuisisi tersebut. "Saya sudah menerima laporan dari Mitra Rajasa atas akuisisi tersebut. Kami akan mengecek."

Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil Bapepam-LK Nur Haida mengatakan hingga saat ini Medco belum menyerahkan laporan atas divestasi anak perusahaannya, yaitu Apexindo kepada Mitra Rajasa.

"Segera setelah laporan itu masuk, kami akan menilai wajar atau tidaknya transaksi ini. Karena, transaksi ini adalah transaksi material. Kami juga akan menilai soal kewajaran harga divestasi ini," ujarnya.

Transaksi akuisisi Apexindo terjadi pada akhir pekan lalu ketika ditandatangani kesepakatan jual beli antara PT Medco Energi Internasional Tbk dan PT Mitra Rajasa Tbk dengan harga Rp2.450 per saham.

Mitra berkomitmen untuk membeli 80,6% saham perusahaan pengeboran itu di level harga Rp2.450 per saham atau senilai total Rp5,16 triliun. Harga divestasi Rp2.450 per saham itu premium 11,36% dibandingkan dengan harga penutupan saham Apexindo pada 9 Mei yaitu Rp2.200.

Namun, harga jual Apexindo itu hanya premium Rp50 per saham atau 2,08% dibandingkan dengan harga beli saham Apexindo oleh Encore International Ltd dari dua pemegang saham sebelumnya Rp2.400 per saham.

Mengenai wajar atau tidaknya divestasi anak perusahaan Medco tersebut, Nur Haida mengatakan Bapepam-LK akan meminta penilai independen untuk menilai kewajaran transaksi tersebut.

Tak berkomentar

Terkait dengan rencana pemeriksaan, Tito belum bersedia memberi komentar. Sementara itu, Komisaris Utama Medco Hilmi Panigoro juga tidak menjawab ketika selulernya dihubungi.

Menurut sumber Bisnis, di belakang Mitra Rajasa ada konglomerat Prayogo Pangestu yang menyiapkan dana berkisar US$100 juta dan Goldman Sachs senilai US$175 juta.

"Keduanya diakomodasi oleh Komut Mitra Rajasa Tito Sulistio," ujar sumber Bisnis, kemarin.

Northern Offshore Drilling, sebuah perusahaan milik konglomerat asal Norwegia, menawar saham Apexindo senilai Rp2.600 per saham atau total US$731 juta melalui pembayaran tunai.

PT Pertamina (Persero) juga dikabarkan menawar Apexindo pada kisaran harga yang sama. "Lantas, kenapa manajemen Medco menjual Apexindo kepada pelaku usaha nonmigas dengan penawaran harga yang rendah?"

Harga saham Apexindo pada penutupan perdagangan kemarin berada pada level Rp2.175 atau naik 1,16% dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Apabila mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar Apexindo saat ini Rp5,74 triliun. (Abraham Runga) (sylviana. pravita@bisnis.co.id)

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.

Bisnis Indonesia

Suntik US$ 275 Juta, Prajogo dan Goldman Ikut Akuisisi Saham Apexindo

JAKARTA, Investor Daily --- Prajogo Pangestu dan Goldman Sachs diduga berada di belakang akuisisi 80,57% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) oleh PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA), belum lama ini.

“Pak Prajogo menyetor dana senilai US$ 100 juta atau setara Rp 920 miliar, sedangkan Goldman US$ 175 juta. Jadi, mereka turut mem-backup akuisisi saham Apexindo,” kata sumber Investor Daily di Jakarta, Rabu (11/6).

Menurut dia, bahkan kesepakatan jual beli saham Apexindo dengan Mitra Rajasa sudah diteken sebelum penutupan berakhir. Akibatnya, harga yang disepakati kedua pihak senilai Rp 2.450 atau 20% dari nilai ekuitas perseroan.

Investor Daily gagal menghubungi Prajogo guna mengonfirmasikan hal tersebut. Telepon genggamnya tidak diangkat, termasuk pesan singkat yang dikirimkan juga tidak dibalas.

Komisaris Utama Mitra Rajasa Tito Sulistio juga enggan menjawab keikutsertaan Prajogo dan Goldam Sachs. “Saya lagi meeting,” kata dia melalui layanan pesan singkat. Begitu juga dengan Presdir Mitra Rajasa Benny Prananto dan Direktur Mitra Rajasa Anton Natakoesoemah.

Pada Senin (9/6), Mitra Rajasa resmi mengambil alih 80,57% saham Apexindo dari PT Medco Energy Tbk (MEDC) dan Encore International Pte Ltd. Kedua perusahaan ini dimikili oleh keluarga Arifin Panigoro. Nilai transaksinya mencapai Rp 5,19 triliun.

Dirut Medco Energy Darmoyo Doyoatmojo pernah mengatakan, pihaknya akan menyelenggarakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 Juni mendatang terkait akuisisi saham anak perusahaan itu.

Mitra Rajasa berencana melunasi tunai secara bertahap kepada Medco sebesar Rp 2,5 triliun. Sedangkan sisanya dibayar melalui surat utang berjangka waktu satu tahun oleh anak usaha perseroan, Sabre Systems International Pte Ltd (SSI). Pola serupa bakal dilakukan kepada Encore, yakni membayar secara tunai Rp 1,62 triliun dan sisanya lewat surat utang SSI. Di samping itu, SSI akan memperoleh pinjaman dari mitra strategis senilai US$ 405 juta, sehingga total akuisisi yang disiapkan oleh Mitra Rajasa mencapai US$ 500 juta.

Lebih Tinggi

Lebih jauh sumber itu menjelaskan, sebenarnya Northern Offshore Drilling sudah mengajukan penawaran seharga Rp 2.600 atau senilai US$ 731 juta kepada pemegang saham Medco. Perusahaan yang berbasis di Housten milik konglomerat John Frederiksen dari Norwegia itu siap membayar tunai. Namun, tawaran itu kurang direspons positif oleh pemegang saham Apexindo.

“Pertamina juga menghargai saham Apexindo lebih tinggi dari Mitra Rajasa. Yang menjadi pertanyaan, kenapa Medco justu memilih perusahaan yang tidak berpengalaman dalam industri minyak sebagai pemenangnya,” tandas dia.

Sebelumnya, Reliance Power dari India juga mengikuti tender akuisisi saham Apexindo. Perusahaan lainnya adalah Abacus, TPG, Racapital Investment, dan PT Bormindo Nusantara

Ia mengimbau agar Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) segera memeriksa transaksi pembelian saham tersebut. Sebab, investor minoritas juga turut dirugikan dengan melepas harga lebih rendah. Padahal, ada sejumlah pihak yang menghargai lebih tinggi.

Mitra Rajasa juga akan menggelar penawaran tender (tender offer) 19,43% saham publik Apexindo pada Agustus 2008. Harga tender offer itu mencapai Rp 2.450 per unit. Perseroan telah menyiapkan dana Rp 1,25 triliun yang bersumber dari pinjaman bank.

Pada perdagangan kemarin, harga MIRA terkoreksi Rp 10 (1,3%%) ke level Rp 730. Nilai transaksi tercatat Rp 71,6 miliar. Sedangkan APEX ditutup menguat Rp 25 (1,1%) ke posisi Rp 2.175. Nilai transaksinya mencapai Rp 30,3 miliar.

Oleh Karidun Pardosi dan Jauhari Mahardhika

Bapepam Periksa Apexindo

INILAH.COM, Jakarta – Diduga ada yang tidak wajar dalam transaksi akuisisi PT Apexindo Pratama Duta Tbk. Karenanya, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) diminta segera memeriksa transaksi itu.

Renacananya, Bapepam akan memulai pemeriksaan dengan lebih dulu meminta keterangan PT Medco Energi Internasional Tbk dan PT Mitra Rajasa Tbk yang terlibat transaksi itu.

Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK M Noor Rachman mengungkapkan, Bapepam akan mengecek dan segera minta keterangan dari perusahaan-perusahaan terkait.

Rachman mengatakan, perseroan akan memeriksa beberapa detail dari proses akuisisi itu. Tapi, ia belum bersedia menjelaskan detail dimaksud.

Transaksi akuisisi Apexindo terjadi akhir pekan lalu, ketika ditandatangani kesepakatan jual beli antara PT Medco Energi Internasional Tbk dan PT Mitra Rajasa Tbk dengan harga Rp 2.450 per saham.

Mitra berkomitmen membeli 80,6% saham perusahaan pengeboran itu di level harga Rp 2.450 per saham atau senilai total Rp 5,16 triliun. Harga divestasi Rp 2.450 per saham itu premium 11,36% dibandingkan harga penutupan saham Apexindo pada 9 Mei yang tercatat Rp 2.200.

Harga jual Apexindo itu hanya premium Rp 50 per saham atau 2,08% dibandingkan harga beli saham Apexindo oleh Encore International Ltd dari dua pemegang saham sebelumnya, yakni Rp 2.400 per saham.

Inisiatif menugaskan Bapepam untuk melakukan pemerikasaan dipicu oleh laporan dari para pelaku bursa. Beredar kabar di lantai bursa bahwa di belakang Mitra Rajasa ada konglomerat Prayogo Pangestu yang menyiapkan dana US$ 100 juta dan Goldman Sachs US$ 175 juta. Keduanya diakomodasi oleh Komisaris Utama Mitra Rajasa Tito Sulistio.

Northern Offshore Drilling, sebuah perusahaan milik konglomerat asal Norwegia, menawar saham Apexindo Rp 2.600 per saham atau total US$ 731 juta dengan pembayaran tunai.

PT Pertamina (Persero) juga dikabarkan menawar Apexindo pada kisaran harga yang sama. Nah, kenapa manajemen Medco menjual Apexindo kepada pelaku usaha nonmigas dengan penawaran harga lebih?

Untuk menjawab pertanyaan itulah Bapepam diminta bertindak. Rachman mengaku aneh jika penawar harga lebih tinggi dengan mekanisme pembayaran lebih mudah justru tidak ditampik oleh Medco.

Rachman mengatakan, yang harus diperiksa Bapepam adalah kemampuan finansial Mitra Rajasa dalam akuisisi itu. Sebab, lanjutnya, ada kecurigaan Apexindo dimasukkan sebagai aset ke dalam necara sehingga menarik bagi Goldman Sachs untuk menjadi arranger dalam pendanaan itu.

Komisaris Utama Mitra Rajasa Tito Sulistio mengatakan, struktur pembiayaan akuisisi itu adalah pembelian saham Medco Rp 2,5 triliun secara tunai dan bertahap.

Selanjutnya, Rp 643,52 miliar dibayar melalui penerbitan surat utang bertenor satu tahun oleh Sabre Systems International, anak perusahaan Mitra Rajasa yang berkedudukan di Singapura. [I3]

Ibrahimsyah, Kontributor INILAH.COM