Tuesday, July 1, 2008

PEMEGANG SAHAM SETUJUI AKUISISI APEXINDO, Mitra Rajasa Rights Issue Rp 690 M

JAKARTA, Investor Daily --- PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) akan menerbitkan saham baru (rights issue) senilai US$ 75 juta atau setara Rp 690 miliar tahun ini. Dananya untuk membayar sebagian utang menyusul akuisisi 80,57% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX).

Direktur Mitra Rajasa Inu Dewanto Koentjaraningrat mengatakan, rights issue akan dilakukan pada akhir 2008. “Selain membayar utang, kami juga akan menggunakannya untuk pengembangan bisnis perseroan,” kata dia, usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Jakarta, Senin (30/6).

Pada kesempatan itu, dia juga menyampaikan bahwa pemegang saham Mitra Rajasa telah menyetujui akuisisi Apexindo senilai Rp 5,19 triliun. Dengan demikian, aksi korporasi itu berjalan mulus, meskipun sempat diprotes keras oleh berbagai pihak.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) telah mengirimkan surat klarifikasi kepada PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan Encore International Pte Ltd selaku penjual 80,57% saham Apexindo. BUMN migas itu mempertanyakan keputusan Medco yang menolak penawarannya. Padahal, harga yang diajukan Pertamina sebesar Rp 2.625 per saham, lebih tinggi dari Mitra Rajasa Rp 2.450. Pertamina juga sanggup melunasi transaksi akuisisi senilai Rp 5,57 triliun secara tunai selama 60 hari.

Namun, melalui Dirut Medco Energi Darmoyo Doyoatmojo, Medco tetap memilih Mitra Rajasa karena alasan kemudahan dan kecepatan dalam pembayaran. Meski demikian, keputusan itu masih menunggu persetujuan pemegang saham yang akan diambil dalam RUPSLB Medco Energi pada Juli 2008.

Setelah persetujuan pemegang saham, Medco dan Mitra Rajasa akan merampungkan transaksi akuisisi Apexindo yang dijadwalkan pada Agustus tahun ini. Selain rights issue, Mitra Rajasa juga berencana menghimpun dana dari sejumlah bank asing dan lokal. Perseroan dibantu oleh Goldman Sachs Asia.

Analis PT Citi Pacific Securities Hendri Effendi menilai, rencana right issue Mitra Rajasa merupakan pilihan terbaik untuk membayar pinjaman bank. “Utang bank yang akan diterima Mitra Rajasa cukup besar, sehingga dapat membebani keuangan perusahaan,” ujar dia.

Menurut Hendri, Mitra Rajasa seharusnya memperbesar target dana hasil rights issue supaya berdampak positif terhadap kas perusahaan. Selain itu, Mitra Rajasa juga dapat mengoptimalkan pendapatan dari usaha barunya di bidang kontraktor pertambangan migas untuk memperkuat pembiayaan akuisisi Apexindo.

Obligasi US$ 112 Juta

Mitra Rajasa melalui anak usahanya di Singapura, Sabre System International Pte Ltd (SSI) juga berencana menerbitkan obligasi senilai US$ 112,4 juta untuk mengakuisisi Apexindo. Surat utang itu bertenor satu tahun. Bunganya mengacu London Interbank Offered Rate (LIBOR) + 6%. Obligasi tersebut akan diambil oleh Medco Energi senilai US$ 68,19 juta dan Encore International sebesar US$ 44,23 juta.

Komut Mitra Rajasa Tito Sulistio mengakui, perseroan saat ini masih menghimpun dana akuisisi dari berbagai sumber seperti kas internal, ekuitas, dan pinjaman. “Pelunasan akan dibayar dari hasil kinerja Apexindo,” kata dia.

Tito menegaskan, keputusan perseroan untuk menarik pinjaman bank akan dilakukan selama tidak memberatkan kinerja perusahaan. Namun, dia optimistis, utang tersebut tidak membebani keuangan karena aset SSI mencapai US$ 80-100 juta. Sedangkan total utang anak usahanya itu sebesar US$ 30 juta.

Oleh Syahid Latif

Medco: Dana Penjualan Apexindo untuk Pengembangan 7 Proyek

JAKARTA (SINDO) – PT Medco Energy International Tbk (MEDC) akan menggunakan dana hasil penjualan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) untuk pengembangan tujuh proyek minyak dan gas.

”Hasil penjualan APEX akan kami gunakan untuk pengembangan tujuh proyek kami,” ujar Komisaris Utama Medco Energy Hilmi Panigoro di Jakarta kemarin. Menurut Hilmi, perseroan tengah menggarap tujuh proyek besar senilai USD2 miliar dalam tiga tahun ke depan.

Proyek besar tersebut, antara lain proyek gas di Lapangan Singa, kemudian di lapangan Senoro, lapangan minyak di Libya, dan pengembangan pembangkit geotermal di Sarula dan proyek etanol di Lampung. Seperti diketahui, Medco sepakat menjual 1.287.045.106 lembar saham Apexindo kepada PT Mitra Rajasa Tbk dengan harga Rp2.450 per saham.

Dengan begitu, Medco meraup dana sekitar Rp3,153 triliun Sementara itu, hasil penjualan saham Apexindo yang dimiliki Encore International, menurut Direktur Utama Encore Yani Panigoro, akan digunakan untuk pengembangan energi alternatif.

Encore memiliki 830 juta saham Apexindo. Dengan harga jual Rp2.450 per saham, total dana yang diraup Encore berkisar Rp2,045 triliun. (juni triyanto)

Apexindo Raih Kontrak Baru US$2,8 juta

JAKARTA—Media Indonesia: Sebanyak delapan rig PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) mendapatkan kontrak baru pengerjaan 5 buah sumur pemboran atau selama kurang lebih 230 (dua ratus tiga puluh) hari dari VICO Indonesia (VICO) di Semberah Kalimantan Timur.

Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro menyatakan, kontrak baru tersebut bernilai sekitar US$2,8 juta. Dalam hal ini Rig 8 mendapatkan peningkatan harga sewa harian dibandingkan dengan kontrak sebelumnya.

Rig 8 adalah salah satu dari rig-rig darat Apexindo berkekuatan besar dengan tingkat daya kuda (horse power) mencapai 1.000 HP sehingga praktis dapat bekerja secara efisien dan cepat.

"kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan. Peningkatan aktivitas di bisnis pemboran darat di Indonesia menciptakan dampak yang positif bagi Apexindo. Dimana tingginya tingkat permintaan terhadap rig darat secara langsung mempengaruhi harga sewa harian," ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (1/7).

Pihaknya gembira melihat kinerja yang mengesankan di segmen darat melalui pencapaian kontrak baru tersebut. Pasalnya, meski kompetisi di pasar pemboran darat sangat ketat, Apexindo tetap dapat memposisikan diri sebagai yang terdepan di segmen pemboran darat di Indonesia.

Dalam sejarahnya, Apexindo telah memiliki hubungan jangka panjang yang sangat baik dengan VICO. Perseroan juga telah mendukung program pemboran VICO selama lebih dari dua dekade.

Apexindo merupakan kontraktor pemboran minyak, gas, dan panas bumi nasional dengan armada-armada terbesar. Apexindo menyediakan jasa pemboran darat maupun lepas pantai melalui 8 rig darat dan 6 rig lepas pantainya yang terdiri dari 4 rig submersible swamp barge: Maera, Raisis, Raissa and Yani. Serta dan dua rig jack ups Raniworo and Soehanah. Apexindo juga menjadi kontraktor pemboran pertama di bidang minyak, gas, dan panas bumi yang terdaftar dalam papan Bursa Efek Indonesia. (DW/OL-2)

Penulis : Dwi Tupani

Monday, June 30, 2008

MIRA Rights Issue USD75 Juta

JAKARTA (SINDO) – PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) berencana melakukan penawaran umum saham terbatas (rights issue) senilai USD75 juta (Rp693,75 miliar) akhir tahun ini.

Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan biaya akuisisi 80,22% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) serta ekspansi usaha. ”Paling lambat, (rights issue) akhir tahun ini,”ujar Direktur Keuangan MIRA Inu Dewanto Koentjaraningrat seusai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan di Jakarta kemarin.

Rapat kemarin menyepakati usulan perseroan mengambil alih 1.287.045.106 saham APEX dari induk usahanya, PT Medco Energi International Tbk (Medco), yang bergerak di sektor gas dan energi.MIRA juga mengakuisisi 835.000.000 saham APEX yang dikuasai Encore International Limited (Encore). Kesepakatan antara Medco dan MIRA telah dicapai pada 9 Juni 2008.Harga transaksi yang disetujui adalah Rp2.450 per lembar saham atau senilai total Rp5,2 triliun.

Pembayaran akan dilakukan dalam mata uang dolar Amerika dengan kurs USD1 setara Rp9.250 sehingga nilai transaksinya menjadi sekitar USD562 juta. Inu mengatakan, pembiayaan akuisisi perusahaan jasa pengeboran tersebut akan dikombinasikan dari kas internal,ekuitas,dan pinjaman bank. Pembagiannya antara 30–35% dari kas internal, termasuk ekuitas, dan sisanya perbankan.

Sejauh ini, MIRA telah menyebar 100 lebih infomemo kepada perbankan asing.Perseroan memilih perbankan asing lantaran, menurut mereka,lebih memadai dari sisi pemenuhan kebutuhan dana perseroan ketimbang bank nasional. Presiden Direktur MIRA Beni Prananto mengatakan, pihaknya akan mempertimbangkan segala sisi untuk menyeleksi seluruh bank-bank tersebut.

”Dari sisi tenor, bunga sampai bentuk penaltinya,” kata dia. Beni belum bersedia menyebutkan berapa bank yang akan ditunjuk karena masih diseleksi oleh Goldman Sach, penasihat finansial MIRA. Pinjaman bank ini yang nantinya akan dilunasi sebagian oleh dana hasil right issue. Selanjutnya, MIRA dan anak-anak perusahaannya akan melunasi sisa utang perbankan yang tidak tertutup oleh dana rights issue.

Perinciannya, MIRA akan berkontribusi sebesar USD75 juta (Rp693,75 miliar) dari kas internal,lalu anak usahanya, Sabre Systems International (SSI), membiayai USD85 juta (Rp786,25 miliar). Kemudian Bidco, anak usaha SSI, akan menyumbang USD205 juta (Rp1,8 triliun).

Bidco merupakan perusahaan baru yang didirikan SSI untuk melaksanakan transaksi pengambilalihan saham APEX.Adapun penyelesaiannya ditenggat akhir Agustus 2008 dengan asumsi Medco telah memperoleh persetujuan dari pemegang saham melalui mekanisme RUPSLB.

Pengamat pasar modal Hendry Effendi mengatakan, akuisisi APEX oleh MIRA justru bisa memberi sentimen negatif bila Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK) meminta transaksi dibatalkan. Kemungkinan ke arah ini bisa terjadi lantaran akhir pekan lalu Bapepam-LK mengatakan transaksi penjualan saham APEX kepada MIRA merugikan pemodal publik karena harga divestasi itu terlalu rendah.

”Kita tunggu saja keputusan Bapepam-LK,” kata dia saat dihubungi. Lebih jauh dia mengatakan, pasar tidak terlalu merespons hasil RUPSLB MIRA kemarin karena keberhasilannya mengakuisisi APEX sudah terefleksi di hari-hari sebelumnya. Saham MIRA kemarin ditutup di harga Rp730, turun Rp10 dibandingkan perdagangan Jumat (27/6).Adapun APEX stagnan pada harga Rp2.150, sedangkan Medco melemah Rp25 ke posisi Rp4.725. (meutia rahmi)

Saham APEX Laris Manis

INILAH.COM, Jakarta – Otoritas pengawas pasar modal menilai divestasi PT Apexindo Pratama Duta (APEX) terlalu murah dan itu merugikan pemodal publik. Di sisi lain, larisnya saham APEX membuat valuasinya tampak makin cantik.

Pada akhir pekan lalu, saham APEX bergerak positif dengan mencatatkan kenaikan 10,26% atau Rp 200 dan ditutup di level Rp 2.150, level tertingginya. APEX sebelumnya sempat melemaha ke posisi Rp 1.900 akibat anjloknya bursa Wall Street.

Meski begitu, karena banyaknya penawaran, saham migas ini mampu melesat menembus level psikologis di kisaran Rp 2.000. Transaksi saham APEX pada akhir pekan lalu tercatat 1.821 kali dengan nilai Rp 59,395 miliar dan volume 28,70 juta lembar saham.

Head of Research Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing dalam riset hariannya merekomendasi investor buy on weakness untuk saham APEX.

Harga minyak yang fluktuatif bahkan sempat menyentuh level terbaru di US$ 142 per barel dinilai menjadi indikasi positif yang menambah pesona APEX.

Samuel Sekuritas menyarankan investor untuk tetap mencermati pergerakan saham APEX. Dalam riset hariannya, Senin (30/6), mereka menempatkan APEX dalam kategori under review.

Hal ini terkait pernyataan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) yang mengingatkan transaksi penjualan saham APEX kepada PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) berpotensi merygikan investor publik karena harga divestasinya lebih rendah dari harga wajar saham.

Bapepam-LK mengaku masih menunggu laporan tertulis tentang divestasi anak perusahaan Medco itu. Pada 9 Juni 2008, Medco memenangkan MIRA dalam tender penjualan saham Apexindo.

Perusahaan yang dikendalikan keluarga Arifin Panigoro itu sepakat bertransaksi jual beli saham APEX pada harga Rp 2.450 per saham. Padahal, PT Pertamina menawar saham APEX Rp 2.625 per saham atau 7,14% lebih tinggi, bahkan menyanggupi membayar tunai akuisisi maksimal 60 hari setelah tanda tangan jual beli.

Oleh karena itu, Pertamina meminta Bapepam-LK mengulang proses tender offer saham APEX. Pasalnya, Pertamina tidak pernah merasa diajak berunding tentang penjualan saham APEX.

Di sisi lain, sesuai Peraturan Nomor IX H1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka dan Nomor IX F1 tentang Penawaran Tender, MIRA akan menggelar penawaran tender atas saham publik Apexindo.

Komisaris Utama Mitra Rajasa Tito Sulistio mengatakan, perseroan mematok harga penawaran tender pada level Rp 2.450 atau sama dengan harga pembelian 2,12 miliar saham Apexindo.

"Harga itu termasuk premium karena harga tertinggi di 90 hari terakhir sebelum pengumuman adalah Rp 1.930. Soal kami yang berhasil mengakuisisi Apexindo, seperti saya bilang, kami adalah yang terbaik bagi Medco," kata Tito.

Saham Apexindo yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 26 Juni lalu adalah 2,64 miliar. Setelah dikurangi 2,12 miliar saham Medco dan Encore Limited, saham publik yang bisa diserap melalui penawaran tender adalah 524 juta saham.

Mengacu pada patokan Rp 2.450 per saham, total kebutuhan dana guna menyerap seluruh saham publik dalam penawaran tender itu Rp 1,28 triliun.

Melalui Sabre Systems International Pte Ltd (SSI), APEX kemudian membentuk perusahaan induk yang disokong melalui pinjaman yang diatur Goldman Sach untuk mendanai penawaran tender.

SSI adalah anak perusahaan MIRA yang berkedudukan di Singapura. Mitra Rajasa ingin mendapat kepastian setelah empat bulan negosiasi dengan Medco untuk mengantongi kepemilikan mayoritas dalam perusahaan induk yang dibangun bersama Goldman Sachs dan mitra strategis untuk mengambilalih saham Apexindo itu.

Analis Sinarmas Sekuritas Alfiansyah berharap, Bapepam mempercepat penyelesaian pemeriksaan untuk menghindari risiko yang dihadapi investor publik. Penuntasan pemeriksaan akan mempengaruhi tren harga saham kedua perusahaan di bursa.

Harga saham MIRA akhir pekan lalu ditutup pada level Rp 740 atau naik 4,23% dibandingkan penutupan sebelumnya. Mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar MIRA adalah Rp 2,02 triliun.

Bagi MIRA, transaksi material atas pengambilalihan 2,12 miliar saham Apexindo itu tergolong transaksi material karena perbandingan dengan saldo ekuitas mencapai 966% dan terhadap pendapatan mencapai 3.060%.

Akuisisi Apexindo senilai US$ 562 juta atau Rp 5,19 triliun. Padahal, berdasarkan laporan keuangan konsolidasi tahun buku 2007 yang telah diaudit, saldo ekuitas Mitra Rajasa Rp 538,11 miliar dan pendapatan Rp 169,9 miliar. [E1/I3]

Asteria & Ibrahimsyah, Kontributor INILAH.COM

Harga jual Apexindo rugikan pemodal publik

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan pemodal publik kemungkinan besar dirugikan oleh transaksi penjualan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk kepada PT Mitra Rajasa Tbk karena harga divestasi itu terlalu rendah.

Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil Bapepam-LK Nur Haida mengatakan menerima penjelasan secara lisan dari manajemen PT Medco Energi Internasional Tbk atas divestasi anak perusahaan Medco, Apexindo.

Meski otoritas pasar modal masih menunggu laporan tertulis dari Medco, tetapi dia mengingatkan mekanisme akuisisi perusahaan terbuka seharusnya melalui lelang terbuka.

"Kami tetap menunggu laporan resmi secara tertulis. Kami akan menilai harga itu. Apabila di bawah harga wajar, kami akan mempertanyakan hal itu kepada Medco. Pada dasarnya harga akuisisi itu tidak boleh merugikan investor publik," tuturnya akhir pekan lalu.

Bapepam-LK hingga saat ini mengaku belum menerima laporan tertulis tentang divestasi anak perusahaan Medco tersebut, meski pada 9 Juni 2008 Medco telah memenangkan Mitra dalam tender penjualan saham Apexindo.

Perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga Panigoro itu sepakat dengan Mitra untuk bertransaksi jual beli saham Apexindo pada harga Rp2.450 per saham.

PT Pertamina menawar saham Apexindo dengan kisaran harga teratas Rp2.625 per saham atau 7,14% lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual Apexindo kepada Mitra Rajasa.

Harga saham emiten berkode APEX itu ditutup pada level Rp2.150 pada Jumat pekan lalu, melonjak 10,26% dibandingkan dengan harga penutupan saham sebelumnya.

Pada 28 Juni 2008, Mitra Rajasa mengumumkan bahwa berdasarkan Peraturan No. IX. H. 1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka dan No. IX. F. 1 tentang Penawaran Tender emiten berkode MIRA ini wajib menggelar penawaran tender atas saham publik Apexindo.

Patok harga

Komisaris Utama Mitra Rajasa Tito Sulistio mengatakan perseroan akan mematok harga penawaran tender pada level Rp2.450 atau sama dengan harga pembelian 2,12 miliar saham Apexindo.

"Harga itu termasuk premium karena harga tertinggi selama 90 hari terakhir sebelum pengumuman adalah Rp1.930. Soal kami yang berhasil mengakuisisi Apexindo, saya mau bilang apa, bagi Medco kami adalah yang terbaik."

Saham Apexindo yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 26 Juni lalu adalah 2,64 miliar. Setelah dikurangi 2,12 miliar saham Medco dan Encore Limited, saham publik yang dapat diserap melalui penawaran tender adalah 524 juta saham.

Apabila mengacu pada patokan Rp2.450 per saham, total kebutuhan dana guna menyerap seluruh saham publik dalam penawaran tender itu Rp1,28 triliun.

Perseroan, lanjutnya, melalui Sabre Systems International Pte Ltd (SSI) atau anak perusahaan yang dibentuk SSI, yaitu perusahaan induk yang akan disokong melalui pinjaman yang diatur oleh Goldman Sach untuk mendanai penawaran tender.

Harga saham Mitra Rajasa ditutup pada level Rp740 atau naik 4,23% dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Apabila mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar Mitra Rajasa mencapai Rp2,02 triliun. (sylviana.pravita@bisnis.co.id)

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.

Bisnis Indonesia

Thursday, June 26, 2008

Mitra Rajasa cari US$450 juta untuk membeli rig baru Apexindo, Pertamina merasa diperlakukan tak adil

JAKARTA, Bisnis Indonesia: BUMN migas terbesar di Indonesia PT Pertamina merasa diperlakukan tidak adil oleh PT Medco Energi Internasional Tbk dalam tender divestasi 80,6% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk.

Dirut Pertamina Ari H. Soemarno mengungkapkan keberatannya atas perlakukan itu seusai bertemu dengan Komisi VII DPR kemarin.

"Kami merasa diperlakukan tidak fair, padahal kami mengajukan surat penawaran kepada Medco, tetapi tidak memperoleh panggilan," ujarnya.

Menurut dia, Pertamina merasa harga penawarannya hanya menjadi pembanding dari penawaran yang diajukan oleh PT Mitra Rajasa Tbk. "Setelah tidak ada panggilan, tiba-tiba saja diputuskan pemenangnya."

Pertamina, tuturnya, siap mengikuti kembali tender divestasi saham Apexindo jika proses itu nantinya diulang, mengingat emiten pengeboran migas itu mempunyai nilai strategis untuk Pertamina.

Medco memenangkan Mitra dalam tender penjualan saham Apexindo. Perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga Panigoro itu sepakat dengan Mitra untuk bertransaksi jual beli saham Apexindo pada harga Rp2.450 per saham.

Pertamina menawar saham Apexindo dengan kisaran harga teratas Rp2.626 per saham, 7,14% lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual Apexindo kepada Mitra Rajasa.

Mitra berencana mencari pendanaan senilai US$450 juta atau setara dengan Rp4,18 triliun guna pembelian dua rig baru bagi Apexindo.

Menurut Komisaris Utama Mitra Tito Sulistio, perseroan optimistis dapat meraih pinjaman baru guna memenuhi kebutuhan pendanaan bagi pengembangan perusahaan yang diakuisisi Mitra Rajasa senilai Rp5,19 triliun itu.

"Kami memikirkan perkembangan perusahaan dan yakin bila kami memiliki visi pengembangan yang bagus, banyak yang tertarik untuk membiayai," ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Dia mengatakan perseroan meyakini Apexindo dapat tumbuh signifikan terkait dengan adanya kekuatan keahlian yang dimiliki Apexindo di bidang migas.

Maka, lanjutnya, pengendali perseroan yang baru berencana tidak mengubah susunan direksi di Apexindo.

Namun, Mitra Rajasa akan menempatkan tambahan direksi dan komisaris di Apexindo.

Harga saham emiten berkode APEX ini ditutup di level Rp1.930, menurun 1,03% dibandingkan dengan harga penutupan hari sebelumnya. Apabila mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar Apexindo mencapai Rp5,1 triliun. (diena.lestari @bisnis.co.id/sylviana.pravita@bisnis. co.id)

Oleh Sylviana Pravita R.K.N & Diena Lestari

Bisnis Indonesia

Pertamina Anggap Transaksi Apexindo tidak Fair

JAKARTA, Republika -- PT Pertamina (Persero) menilai transaksi pembelian saham atau akuisisi PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) terhadap PT Apexindo Pratama Duta Tbk tidak fair. Karena itu Pertamina masih menunggu penjelasan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam - LK) atas transaksi tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama Pertamina Ari Soemarno usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR-RI di Jakarta, Rabu (25/6). Menurut Ari perusahaannya sudah mengajukan penawaran namun tidak diajak berunding atas negosiasi pembelian Apexindo. ''Yang fair itu harusnya ada pembicaraan lisan. Apakah kita boleh menawar atau tidak. Kalau boleh, maka kita ajukan penawaran. Tapi begitu kita menawar tiba-tiba sudah diputuskan,'' papar dia.

Ari merasa, harga yang diajukan Pertamina hanya dijadikan pembanding saja. ''Kita minta Bapepam melihat ini. Karena ada masalah begini. Kita merasa diperlakukan tidak fair,'' tegasnya.

Saat ini Pertamina berharap, Bapepam-LK akan menetapkan supaya para pihak yang terlibat penjualan Apexindo untuk melakukan tender ulang. Ia menyatakan kalau sampai hal itu terjadi, maka Pertamina akan sangat tertarik untuk mengajukan penawaran lagi. ''Tapi terserah Bapepam, bukan otoritas kita. Kita tunggu saja jawaban dari Bapepam,'' tambahnya.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Pertamina Frederick Siahaan mengatakan Pertamina sama sekali tidak mendapat pemberitahuan dari Medco Energi terkait transaksi MIRA dan Apexindo. Padahal, Pertamina sangat berkeinginan membeli anak perusahaan Medco yang bergerak dalam bidang jasa pengeboran tersebut. Pasalnya, keberadaan Apexindo akan sangat mendukung bisnis Pertamina. dia

Pertamina Minta Penjualan Saham Apexindo Ditender Ulang

JAKARTA Investor Daily -- PT Pertamina meminta penjelasan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) soal akuisisi 80,57% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) senilai Rp 5,19 triliun oleh PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA). Pertamina juga meminta penjualan saham Apexindo ditender ulang.

Menurut Direktur Utama PT Pertamina Ari H Soemarno, pihaknya merasa keberatan sekaligus mempertanyakan transaksi tersebut. Soalnya, Pertamina sudah mengajukan penawaran namun tidak diajak berunding dalam negosiasi pembelian Apexindo.

"Seharusnya yang fair adalah melakukan pembicaraan lisan. Apakah kami boleh menawar atau tidak. Kalau boleh, kami ajukan penawaran. Tapi begitu kami menawar, tiba-tiba sudah diputuskan," kata Ari di Jakarta, Rabu (25/6).

Dia menambahkan, dengan kejadian tersebut, berarti harga yang diajukan Pertamina hanya dijadikan pembanding. "Kami minta Bapepam melihat ini. Kami merasa diperlakukan tidak fair," tandasnya.

Ikut Lagi Penawaran

Pertamina, menurut Ari Soemarno, juga berharap Bapepam-LK menetapkan pihak-pihak yang terlibat penjualan saham Apexindo menggelar tender ulang. Jika itu terjadi, Pertamina siap mengajukan lagi penawaran. "Tapi terserah Bapepam, bukan otoritas kami. Kami tunggu saja jawaban dari Bapepam," paparnya.

PT Pertamina mengajukan penawaran harga Apexindo milik PT Medco Energi International Tbk dan Encore International Pte Ltd hingga Rp 2.625 per lembar. Angka itu tertinggi dari semua peserta.

Dalam surat yang dikirim kepada Dirut Medco Energi Internasional Darmoyo Doyoatmojo pada 17 Juni 2008, Dirut Pertamina Ari Soemarno menjelaskan, Pertamina menghargai 100% saham Apexindo US$ 650-750 juta. Itu berarti, nilai pembelian 80,57% saham Apexindo mencapai US$ 604,28 juta atau setara Rp 5,58 triliun.

“Jika Pertamina terpilih sebagai pemenang, kami siap membayar tunai dalam 60 hari setelah jual beli ditandatangani,” kata Ari Soermarno dalam suratnya.

Selain Pertamina, Northern Offshore Drilling menghargai 100% saham Apexindo US$ 731 juta atau seharga Rp 2.600 per lembar. Kendati Pertamina dan Northern Offshore mengajukan penawaran lebih tinggi, pemegang saham Medco dan Encore International yang dimiliki keluarga Arifin Panigoro tetap memilih Mitra Rajasa sebagai pemenang.

Padahal, Mitra Rajasa menghargai Rp 5,19 triliun pada harga Rp 2.450 atau 20% dari nilai ekuitas perusahaan penyedia jasa rig tersebut. Kedua pihak meneken jual beli saham Apexindo pada 9 Juni 2008.

Menurut Dirut Medco Energi Internasional Darmoyo Doyoatmojo, keputusan perseroan melepas perusahaan jasa pertambangan minyak dan gas bumi itu sudah dipertimbangkan secara matang.

“Banyak yang mengajukan penawaran dengan harga dan persyaratan berbeda. Tapi kami memilih Mitra Rajasa karena tidak ada persyaratan, meskipun harga yang ditawarkan Rp 2.450 per lembar,” tutur Darmoyo kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Dia menegaskan, perseroan tidak semata-mata mempertimbangkan harga, melainkan kemudahan dan kecepatan dalam transaksi. “Kami sudah berpengalaman dalam proses tender tahun lalu. Saat itu, hampir semua peserta mengajukan penawar harga tertinggi, tapi ternyata dananya tidak siap,” ujarnya.

Oleh Happy Amanda Amalia

Pertamina Masih Inginkan Apexindo

Jurnal Nasional --- Pertamina merupakan penawar potensial yang memiliki minat tinggi mengakuisisi Apexindo. MEDCO Energi International sebagai induk perusahaan PT Apexindo Pratama Duta Tbk telah menandatangani kesepakatan jual beli 80,6 persen sahamnya kepada PT Mitra Rajasa Tbk. Meski demikian, PT Pertamina masih berharap dapat mengakuisisi Apexindo. "Kalau tender diulang kami siap mengajukan penawaran lagi," kata Direktur Utama (Dirut) Pertamina Ari Soemarno usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Rabu (25/6).

Pertamina telah melayangkan surat ke Medco yang mempertanyakan proses transaksi saham Apexindo tersebut pada 17 Juni lalu. Surat satu halaman itu juga ditembuskan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ahmad Fuad Rahmany dan Dirut PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah.

Menurutnya, langkah itu diambil karena Pertamina menawar saham Apexindo dengan harga lebih tinggi, yakni Rp2.625 per saham. Tapi tanpa diduga, Medco justru menjual ke Mitra yang menawar Rp2.450 per saham. Apalagi, Mitra tak pernah berkecimpung di sektor minyak bumi dan gas. Mitra selama ini bergerak di sektor transportasi. "Jadi surat dikirimkan karena kami merasa diperlakukan tidak fair ," kata Ari.

Dia menjelaskan, sebenarnya Pertamina sudah mengadakan pembicaraan lisan terlebih dahulu dengan Medco terkait kemungkinan membeli Apexindo. Karena diperbolehkan, Pertamina pun mengajukan penawaran. Pertamina sangat berminat mengakuisisi Apexindo karena anak perusahaan Medco ini fokus bergerak di bidang jasa pengeboran minyak (rig). Jika berhasil diakuisisi Pertamina, Apexindo berpotensi ikut mendulang bisnis perseroan. "Namun, jangankan dipilih. Dipanggil pun tidak. Seolah-oleh penawaran kami hanya sebagai pembanding," katanya.

Karena itu, dia berharap Bapepam dapat melihat kejanggalan dalam transaksi ini. Pertamina menyerahkan sepenuhnya apakah ada kesalahan prosedur. "Kami masih tunggu keputusan Bapepam," katanya.

Sebelumnya, kesiapan Pertamina mengakuisisi saham Apexindo tertuang dalam surat Dirut Pertamina Ari Soemarno, bernomor 841/C0000/2008-80 tertanggal 17 Juni 2008, kepada Dirut PT Medco Energi International Tbk Darmoyo Doyoatmojo.

Ari mengatakan, Pertamina merupakan penawar potensial yang memiliki minat tinggi mengakuisisi Apexindo. "Kami juga berasumsi bahwa Pertamina telah memberikan penawaran proposal secara komprehensif dan kompetitif," kata Ari dalam suratnya.

Pertamina berpendapat bahwa harga pembelian Apexindo berkisar antara US$650-750 juta untuk 100 persen saham. Ari juga menilai, nilai modal Apexindo seharusnya tidak berada di bawah US$700 juta untuk 100 persen saham. Demikian pula, harga per saham tidak boleh di bawah Rp2.459 dengan kurs Rp9.245 per dolar AS.

Hal lain yang tercantum dalam surat tersebut adalah kesanggupan Pertamina memenuhi pembayaran secara tunai atas akuisisi 80,6 persen saham Apexindo tersebut dalam jangka waktu 60 hari (dua bulan) setelah diserahkan secara eksklusif ke Pertamina. "Kami percaya bahwa penawaran di atas akan menguntungkan Anda (Medco) dan berharap dapat segera dimaterialkan dalam transaksi," katanya.

by : Adhitya Cahya Utama