Wednesday, July 2, 2008

Danareksa bantu rights issue Mitra Rajasa

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Mitra Rajasa Tbk mengisyaratkan menunjuk PT Danareksa Sekuritas sebagai penjamin emisi (underwriter) penawaran umum terbatas (rights issue) untuk meraup dana segar US$75 juta atau Rp693,75 miliar.

Hasil dari penjualan saham baru itu nantinya digunakan oleh Mitra Rajasa untuk melunasi utang kepada Goldman Sachs yang sebelumnya dipakai untuk membiayai akuisisi 80,6% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk.

Direktur Utama Mitra Rajasa Beni Prananto mengatakan rights issue itu kemungkinan besar dilaksanakan pada tahun depan.

"Kami akan bertemu dengan Danareksa dalam waktu dekat. Mereka menyatakan berminat dan yang pasti kami welcome terhadap Danareksa," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Beni mengatakan Mitra Rajasa lebih mengutamakan penjamin emisi lokal meskipun terdapat lima calon yang tengah diseleksi.

Seleksi itu, lanjutnya, tidak hanya dilakukan oleh Mitra Rajasa, tetapi juga oleh Goldman Sachs sebagai lead arranger. "Keputusan pemilihan penjamin emisi lainnya berada di tangan Goldman Sachs."

Marciano Herman, Head of Investment Banking Danareksa Sekuritas, mengakui adanya pembicaraan dengan manajemen Mitra Rajasa. "Kami belum bisa berkomentar lebih jauh."

Berdasarkan riset Mitra Rajasa yang dirilis oleh PT Optima Securities pada 25 Juni disebutkan emiten berkode MIRA itu menandatangani perjanjian akuisisi saham Apexindo senilai US$565 juta atau setara dengan Rp5,19 triliun pada 9 Juni 2008. Mitra Rajasa akan membeli 49% saham Apexindo milik Medco Energi dan 32% saham Apexindo milik Encore International Ltd. Akuisisi itu dibiayai dengan tunai sebesar 80% dan selebihnya dari penerbitan surat utang berjaminan yang akan diterbitkan oleh Sabre System International Pte Ltd dengan jaminan saham Apexindo.

Mayoritas pembiayaan akuisisi itu berupa pinjaman yang berasal dari bank investasi asing Goldman Sachs. Penyelesaian transaksi pengambilalihan saham itu akan dilakukan selambat-lambatnya akhir Agustus 2008.

Obligasi konversi

Dalam enam hingga 18 bulan, manajemen MIRA ingin membiayai kembali biaya US$565 juta sekaligus surat utang yang akan diterbitkan Sabre System. "Di level MIRA [sebagai perusahaan induk], kami memperkirakan perusahaan itu akan menerbitkan obligasi tukar senilai US$50 juta-US$75 juta yang akan dikonversi menjadi saham Mitra Rajasa pada akhir tahun ini," ungkap riset itu.

Riset itu juga menjelaskan rasio rights issue Mitra Rajasa 3:4 di mana tiga saham baru untuk pemegang empat saham lama.

Sekuritas itu memprediksi Mitra Rajasa bisa mencapai laba bersih yang kuat dengan tingkat pertumbuhan rata-rata campuran 32% pada tiga tahun ke depan (2008-2011). Optima mengestimasi laba konsolidasi Apexindo sepanjang Agustus-Desember tahun ini akan mendorong 10 kali lipat pertumbuhan laba bersih Mitra Rajasa.

"Kami memprediksi kondisi itu akan berlanjut pada 2009 dan ke depan di mana MIRA mulai mengonsolidasikan laba bersih Apexindo secara penuh," ungkap riset tersebut.

Setelah konsolidasi, pendapatan MIRA akan membesar. Sebanyak 82% dari pendapatan berasal dari jasa pengeboran Apexindo sekaligus menjadi motor penggerak laba bersih.

Harga saham Mitra Rajasa kemarin ditutup ke level Rp740 atau naik 1,37% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 30 Juni 2008. Apabila mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasarnya Rp2,02 triliun. (sylviana.pravita@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia

Tuesday, July 1, 2008

Apexindo raih kontrak dari VICO

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Anjungan pengeboran Rig 8 milik PT Apexindo Pratama Duta Tbk meraih kontrak baru dari VICO Indonesia di Semberah, Kalimantan Timur senilai US$2,8 juta untuk mengebor lima sumur lebih dari 230 hari.

Dalam siaran pers dari Apexindo kemarin disebutkan Rig 8 akan memperoleh kenaikan harga sewa harian dibandingkan dengan harga sewa sebelumnya.

"Peningkatan aktivitas di bisnis pengeboran darat di Indonesia menciptakan dampak positif untuk Apexindo. Permintaan yang tinggi akan rig darat secara langsung memengaruhi harga sewa harian," tutur Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro, kemarin. (Bisnis/wiw)

Apexindo Raih Kontrak US$ 2,8 Juta

JAKARTA, Koran Tempo -- PT Apexindo Pratama Duta Tbk meraih kontrak baru dari Vico Indonesia senilai US$ 2,8 juta (sekitar Rp 26 miliar). Melalui kontrak itu, perseroan akan menggunakan rig 8 untuk mengerjakan lima sumur pengeboran di Semberah, Kalimantan Timur, selama 230 hari.

Peningkatan aktivitas bisnis pengeboran darat di Indonesia, kata Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro dalam siaran persnya kemarin, berdampak positif bagi Apexindo. "Permintaan rig darat meningkat dan secara langsung mempengaruhi harga sewa harian," ujar dia. SORTA TOBING

Apexindo Raih Kontrak Baru VICO

JAKARTA,SELASA, Kompas Cyber Media - Rig 8 milik PT Apexindo Pratama Duta Tbk mendapatkan kontrak baru dari VICO Indonesia di Semberah, Kalimantan Timur untuk pengerjaan 5 buah sumur pemboran atau selama kurang lebih 230 (dua ratus tiga puluh) hari.

Kontrak itu, bernilai sekitar 2,8 juta dollar AS dimana Rig 8 mendapatkan peningkatan harga sewa harian dibandingkan dengan kontrak sebelumnya. "Peningkatan aktivitas di bisnis pemboran darat di Indonesia menciptakan dampak yang positif bagi Apexindo dimana tingginya tingkat permintaan terhadap rig darat secara langsung mempengaruhi harga sewa harian," ujar Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro dalam menurut siaran pers yang diterima Kompas.com.

Rig 8 adalah salah satu dari rig-rig darat Apexindo berkekuatan besar dengan tingkat daya kuda mencapai 1.000 HP sehingga praktis dapat bekerja secara efisien dan cepat. “Keuntungan kompetitif kami dengan memiliki rig-rig darat bertenaga kuda besar didukung oleh catatan kerja yang luar biasa memungkinkan kami untuk mendapatkan proyek-proyek menarik bagi segmen darat," tambah Direktur Keuangan Perseroan Agustinus Lomboan.

Menurutnya, pencapaian kontrak untuk Rig 8 sejalan dengan strategi Perseroan untuk fokus pada klien-klien yang memiliki sumber daya besar sehingga akan juga menciptakan dampak positif bagi utilisasi rig darat Apexindo. "Lebih jauh, didorong oleh kedisiplinan untuk menerapkan efisiensi dan konsistensi kami untuk menyokong pertumbuhan tidak hanya dari segmen lepas pantai namun juga dari segmen darat, tingkat keuntungan yang lebih tinggi akan segera dapat diraih di masa depan. Karenanya, hal ini sejalan dengan tujuan kami yaitu untuk memberikan pengembalian setinggi mungkin bagi para pemegang saham," jelasnya.

Apexindo yang merupakan kontraktor pemboran minyak, gas, dan panas bumi nasional, telah mendukung program pemboran VICO selama lebih dari dua dekade.

EDJ

PEMEGANG SAHAM SETUJUI AKUISISI APEXINDO, Mitra Rajasa Rights Issue Rp 690 M

JAKARTA, Investor Daily --- PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) akan menerbitkan saham baru (rights issue) senilai US$ 75 juta atau setara Rp 690 miliar tahun ini. Dananya untuk membayar sebagian utang menyusul akuisisi 80,57% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX).

Direktur Mitra Rajasa Inu Dewanto Koentjaraningrat mengatakan, rights issue akan dilakukan pada akhir 2008. “Selain membayar utang, kami juga akan menggunakannya untuk pengembangan bisnis perseroan,” kata dia, usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Jakarta, Senin (30/6).

Pada kesempatan itu, dia juga menyampaikan bahwa pemegang saham Mitra Rajasa telah menyetujui akuisisi Apexindo senilai Rp 5,19 triliun. Dengan demikian, aksi korporasi itu berjalan mulus, meskipun sempat diprotes keras oleh berbagai pihak.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) telah mengirimkan surat klarifikasi kepada PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan Encore International Pte Ltd selaku penjual 80,57% saham Apexindo. BUMN migas itu mempertanyakan keputusan Medco yang menolak penawarannya. Padahal, harga yang diajukan Pertamina sebesar Rp 2.625 per saham, lebih tinggi dari Mitra Rajasa Rp 2.450. Pertamina juga sanggup melunasi transaksi akuisisi senilai Rp 5,57 triliun secara tunai selama 60 hari.

Namun, melalui Dirut Medco Energi Darmoyo Doyoatmojo, Medco tetap memilih Mitra Rajasa karena alasan kemudahan dan kecepatan dalam pembayaran. Meski demikian, keputusan itu masih menunggu persetujuan pemegang saham yang akan diambil dalam RUPSLB Medco Energi pada Juli 2008.

Setelah persetujuan pemegang saham, Medco dan Mitra Rajasa akan merampungkan transaksi akuisisi Apexindo yang dijadwalkan pada Agustus tahun ini. Selain rights issue, Mitra Rajasa juga berencana menghimpun dana dari sejumlah bank asing dan lokal. Perseroan dibantu oleh Goldman Sachs Asia.

Analis PT Citi Pacific Securities Hendri Effendi menilai, rencana right issue Mitra Rajasa merupakan pilihan terbaik untuk membayar pinjaman bank. “Utang bank yang akan diterima Mitra Rajasa cukup besar, sehingga dapat membebani keuangan perusahaan,” ujar dia.

Menurut Hendri, Mitra Rajasa seharusnya memperbesar target dana hasil rights issue supaya berdampak positif terhadap kas perusahaan. Selain itu, Mitra Rajasa juga dapat mengoptimalkan pendapatan dari usaha barunya di bidang kontraktor pertambangan migas untuk memperkuat pembiayaan akuisisi Apexindo.

Obligasi US$ 112 Juta

Mitra Rajasa melalui anak usahanya di Singapura, Sabre System International Pte Ltd (SSI) juga berencana menerbitkan obligasi senilai US$ 112,4 juta untuk mengakuisisi Apexindo. Surat utang itu bertenor satu tahun. Bunganya mengacu London Interbank Offered Rate (LIBOR) + 6%. Obligasi tersebut akan diambil oleh Medco Energi senilai US$ 68,19 juta dan Encore International sebesar US$ 44,23 juta.

Komut Mitra Rajasa Tito Sulistio mengakui, perseroan saat ini masih menghimpun dana akuisisi dari berbagai sumber seperti kas internal, ekuitas, dan pinjaman. “Pelunasan akan dibayar dari hasil kinerja Apexindo,” kata dia.

Tito menegaskan, keputusan perseroan untuk menarik pinjaman bank akan dilakukan selama tidak memberatkan kinerja perusahaan. Namun, dia optimistis, utang tersebut tidak membebani keuangan karena aset SSI mencapai US$ 80-100 juta. Sedangkan total utang anak usahanya itu sebesar US$ 30 juta.

Oleh Syahid Latif

Medco: Dana Penjualan Apexindo untuk Pengembangan 7 Proyek

JAKARTA (SINDO) – PT Medco Energy International Tbk (MEDC) akan menggunakan dana hasil penjualan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) untuk pengembangan tujuh proyek minyak dan gas.

”Hasil penjualan APEX akan kami gunakan untuk pengembangan tujuh proyek kami,” ujar Komisaris Utama Medco Energy Hilmi Panigoro di Jakarta kemarin. Menurut Hilmi, perseroan tengah menggarap tujuh proyek besar senilai USD2 miliar dalam tiga tahun ke depan.

Proyek besar tersebut, antara lain proyek gas di Lapangan Singa, kemudian di lapangan Senoro, lapangan minyak di Libya, dan pengembangan pembangkit geotermal di Sarula dan proyek etanol di Lampung. Seperti diketahui, Medco sepakat menjual 1.287.045.106 lembar saham Apexindo kepada PT Mitra Rajasa Tbk dengan harga Rp2.450 per saham.

Dengan begitu, Medco meraup dana sekitar Rp3,153 triliun Sementara itu, hasil penjualan saham Apexindo yang dimiliki Encore International, menurut Direktur Utama Encore Yani Panigoro, akan digunakan untuk pengembangan energi alternatif.

Encore memiliki 830 juta saham Apexindo. Dengan harga jual Rp2.450 per saham, total dana yang diraup Encore berkisar Rp2,045 triliun. (juni triyanto)

Apexindo Raih Kontrak Baru US$2,8 juta

JAKARTA—Media Indonesia: Sebanyak delapan rig PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) mendapatkan kontrak baru pengerjaan 5 buah sumur pemboran atau selama kurang lebih 230 (dua ratus tiga puluh) hari dari VICO Indonesia (VICO) di Semberah Kalimantan Timur.

Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro menyatakan, kontrak baru tersebut bernilai sekitar US$2,8 juta. Dalam hal ini Rig 8 mendapatkan peningkatan harga sewa harian dibandingkan dengan kontrak sebelumnya.

Rig 8 adalah salah satu dari rig-rig darat Apexindo berkekuatan besar dengan tingkat daya kuda (horse power) mencapai 1.000 HP sehingga praktis dapat bekerja secara efisien dan cepat.

"kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan. Peningkatan aktivitas di bisnis pemboran darat di Indonesia menciptakan dampak yang positif bagi Apexindo. Dimana tingginya tingkat permintaan terhadap rig darat secara langsung mempengaruhi harga sewa harian," ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (1/7).

Pihaknya gembira melihat kinerja yang mengesankan di segmen darat melalui pencapaian kontrak baru tersebut. Pasalnya, meski kompetisi di pasar pemboran darat sangat ketat, Apexindo tetap dapat memposisikan diri sebagai yang terdepan di segmen pemboran darat di Indonesia.

Dalam sejarahnya, Apexindo telah memiliki hubungan jangka panjang yang sangat baik dengan VICO. Perseroan juga telah mendukung program pemboran VICO selama lebih dari dua dekade.

Apexindo merupakan kontraktor pemboran minyak, gas, dan panas bumi nasional dengan armada-armada terbesar. Apexindo menyediakan jasa pemboran darat maupun lepas pantai melalui 8 rig darat dan 6 rig lepas pantainya yang terdiri dari 4 rig submersible swamp barge: Maera, Raisis, Raissa and Yani. Serta dan dua rig jack ups Raniworo and Soehanah. Apexindo juga menjadi kontraktor pemboran pertama di bidang minyak, gas, dan panas bumi yang terdaftar dalam papan Bursa Efek Indonesia. (DW/OL-2)

Penulis : Dwi Tupani

Monday, June 30, 2008

MIRA Rights Issue USD75 Juta

JAKARTA (SINDO) – PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) berencana melakukan penawaran umum saham terbatas (rights issue) senilai USD75 juta (Rp693,75 miliar) akhir tahun ini.

Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan biaya akuisisi 80,22% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) serta ekspansi usaha. ”Paling lambat, (rights issue) akhir tahun ini,”ujar Direktur Keuangan MIRA Inu Dewanto Koentjaraningrat seusai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan di Jakarta kemarin.

Rapat kemarin menyepakati usulan perseroan mengambil alih 1.287.045.106 saham APEX dari induk usahanya, PT Medco Energi International Tbk (Medco), yang bergerak di sektor gas dan energi.MIRA juga mengakuisisi 835.000.000 saham APEX yang dikuasai Encore International Limited (Encore). Kesepakatan antara Medco dan MIRA telah dicapai pada 9 Juni 2008.Harga transaksi yang disetujui adalah Rp2.450 per lembar saham atau senilai total Rp5,2 triliun.

Pembayaran akan dilakukan dalam mata uang dolar Amerika dengan kurs USD1 setara Rp9.250 sehingga nilai transaksinya menjadi sekitar USD562 juta. Inu mengatakan, pembiayaan akuisisi perusahaan jasa pengeboran tersebut akan dikombinasikan dari kas internal,ekuitas,dan pinjaman bank. Pembagiannya antara 30–35% dari kas internal, termasuk ekuitas, dan sisanya perbankan.

Sejauh ini, MIRA telah menyebar 100 lebih infomemo kepada perbankan asing.Perseroan memilih perbankan asing lantaran, menurut mereka,lebih memadai dari sisi pemenuhan kebutuhan dana perseroan ketimbang bank nasional. Presiden Direktur MIRA Beni Prananto mengatakan, pihaknya akan mempertimbangkan segala sisi untuk menyeleksi seluruh bank-bank tersebut.

”Dari sisi tenor, bunga sampai bentuk penaltinya,” kata dia. Beni belum bersedia menyebutkan berapa bank yang akan ditunjuk karena masih diseleksi oleh Goldman Sach, penasihat finansial MIRA. Pinjaman bank ini yang nantinya akan dilunasi sebagian oleh dana hasil right issue. Selanjutnya, MIRA dan anak-anak perusahaannya akan melunasi sisa utang perbankan yang tidak tertutup oleh dana rights issue.

Perinciannya, MIRA akan berkontribusi sebesar USD75 juta (Rp693,75 miliar) dari kas internal,lalu anak usahanya, Sabre Systems International (SSI), membiayai USD85 juta (Rp786,25 miliar). Kemudian Bidco, anak usaha SSI, akan menyumbang USD205 juta (Rp1,8 triliun).

Bidco merupakan perusahaan baru yang didirikan SSI untuk melaksanakan transaksi pengambilalihan saham APEX.Adapun penyelesaiannya ditenggat akhir Agustus 2008 dengan asumsi Medco telah memperoleh persetujuan dari pemegang saham melalui mekanisme RUPSLB.

Pengamat pasar modal Hendry Effendi mengatakan, akuisisi APEX oleh MIRA justru bisa memberi sentimen negatif bila Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK) meminta transaksi dibatalkan. Kemungkinan ke arah ini bisa terjadi lantaran akhir pekan lalu Bapepam-LK mengatakan transaksi penjualan saham APEX kepada MIRA merugikan pemodal publik karena harga divestasi itu terlalu rendah.

”Kita tunggu saja keputusan Bapepam-LK,” kata dia saat dihubungi. Lebih jauh dia mengatakan, pasar tidak terlalu merespons hasil RUPSLB MIRA kemarin karena keberhasilannya mengakuisisi APEX sudah terefleksi di hari-hari sebelumnya. Saham MIRA kemarin ditutup di harga Rp730, turun Rp10 dibandingkan perdagangan Jumat (27/6).Adapun APEX stagnan pada harga Rp2.150, sedangkan Medco melemah Rp25 ke posisi Rp4.725. (meutia rahmi)

Saham APEX Laris Manis

INILAH.COM, Jakarta – Otoritas pengawas pasar modal menilai divestasi PT Apexindo Pratama Duta (APEX) terlalu murah dan itu merugikan pemodal publik. Di sisi lain, larisnya saham APEX membuat valuasinya tampak makin cantik.

Pada akhir pekan lalu, saham APEX bergerak positif dengan mencatatkan kenaikan 10,26% atau Rp 200 dan ditutup di level Rp 2.150, level tertingginya. APEX sebelumnya sempat melemaha ke posisi Rp 1.900 akibat anjloknya bursa Wall Street.

Meski begitu, karena banyaknya penawaran, saham migas ini mampu melesat menembus level psikologis di kisaran Rp 2.000. Transaksi saham APEX pada akhir pekan lalu tercatat 1.821 kali dengan nilai Rp 59,395 miliar dan volume 28,70 juta lembar saham.

Head of Research Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing dalam riset hariannya merekomendasi investor buy on weakness untuk saham APEX.

Harga minyak yang fluktuatif bahkan sempat menyentuh level terbaru di US$ 142 per barel dinilai menjadi indikasi positif yang menambah pesona APEX.

Samuel Sekuritas menyarankan investor untuk tetap mencermati pergerakan saham APEX. Dalam riset hariannya, Senin (30/6), mereka menempatkan APEX dalam kategori under review.

Hal ini terkait pernyataan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) yang mengingatkan transaksi penjualan saham APEX kepada PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) berpotensi merygikan investor publik karena harga divestasinya lebih rendah dari harga wajar saham.

Bapepam-LK mengaku masih menunggu laporan tertulis tentang divestasi anak perusahaan Medco itu. Pada 9 Juni 2008, Medco memenangkan MIRA dalam tender penjualan saham Apexindo.

Perusahaan yang dikendalikan keluarga Arifin Panigoro itu sepakat bertransaksi jual beli saham APEX pada harga Rp 2.450 per saham. Padahal, PT Pertamina menawar saham APEX Rp 2.625 per saham atau 7,14% lebih tinggi, bahkan menyanggupi membayar tunai akuisisi maksimal 60 hari setelah tanda tangan jual beli.

Oleh karena itu, Pertamina meminta Bapepam-LK mengulang proses tender offer saham APEX. Pasalnya, Pertamina tidak pernah merasa diajak berunding tentang penjualan saham APEX.

Di sisi lain, sesuai Peraturan Nomor IX H1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka dan Nomor IX F1 tentang Penawaran Tender, MIRA akan menggelar penawaran tender atas saham publik Apexindo.

Komisaris Utama Mitra Rajasa Tito Sulistio mengatakan, perseroan mematok harga penawaran tender pada level Rp 2.450 atau sama dengan harga pembelian 2,12 miliar saham Apexindo.

"Harga itu termasuk premium karena harga tertinggi di 90 hari terakhir sebelum pengumuman adalah Rp 1.930. Soal kami yang berhasil mengakuisisi Apexindo, seperti saya bilang, kami adalah yang terbaik bagi Medco," kata Tito.

Saham Apexindo yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 26 Juni lalu adalah 2,64 miliar. Setelah dikurangi 2,12 miliar saham Medco dan Encore Limited, saham publik yang bisa diserap melalui penawaran tender adalah 524 juta saham.

Mengacu pada patokan Rp 2.450 per saham, total kebutuhan dana guna menyerap seluruh saham publik dalam penawaran tender itu Rp 1,28 triliun.

Melalui Sabre Systems International Pte Ltd (SSI), APEX kemudian membentuk perusahaan induk yang disokong melalui pinjaman yang diatur Goldman Sach untuk mendanai penawaran tender.

SSI adalah anak perusahaan MIRA yang berkedudukan di Singapura. Mitra Rajasa ingin mendapat kepastian setelah empat bulan negosiasi dengan Medco untuk mengantongi kepemilikan mayoritas dalam perusahaan induk yang dibangun bersama Goldman Sachs dan mitra strategis untuk mengambilalih saham Apexindo itu.

Analis Sinarmas Sekuritas Alfiansyah berharap, Bapepam mempercepat penyelesaian pemeriksaan untuk menghindari risiko yang dihadapi investor publik. Penuntasan pemeriksaan akan mempengaruhi tren harga saham kedua perusahaan di bursa.

Harga saham MIRA akhir pekan lalu ditutup pada level Rp 740 atau naik 4,23% dibandingkan penutupan sebelumnya. Mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar MIRA adalah Rp 2,02 triliun.

Bagi MIRA, transaksi material atas pengambilalihan 2,12 miliar saham Apexindo itu tergolong transaksi material karena perbandingan dengan saldo ekuitas mencapai 966% dan terhadap pendapatan mencapai 3.060%.

Akuisisi Apexindo senilai US$ 562 juta atau Rp 5,19 triliun. Padahal, berdasarkan laporan keuangan konsolidasi tahun buku 2007 yang telah diaudit, saldo ekuitas Mitra Rajasa Rp 538,11 miliar dan pendapatan Rp 169,9 miliar. [E1/I3]

Asteria & Ibrahimsyah, Kontributor INILAH.COM

Harga jual Apexindo rugikan pemodal publik

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyatakan pemodal publik kemungkinan besar dirugikan oleh transaksi penjualan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk kepada PT Mitra Rajasa Tbk karena harga divestasi itu terlalu rendah.

Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil Bapepam-LK Nur Haida mengatakan menerima penjelasan secara lisan dari manajemen PT Medco Energi Internasional Tbk atas divestasi anak perusahaan Medco, Apexindo.

Meski otoritas pasar modal masih menunggu laporan tertulis dari Medco, tetapi dia mengingatkan mekanisme akuisisi perusahaan terbuka seharusnya melalui lelang terbuka.

"Kami tetap menunggu laporan resmi secara tertulis. Kami akan menilai harga itu. Apabila di bawah harga wajar, kami akan mempertanyakan hal itu kepada Medco. Pada dasarnya harga akuisisi itu tidak boleh merugikan investor publik," tuturnya akhir pekan lalu.

Bapepam-LK hingga saat ini mengaku belum menerima laporan tertulis tentang divestasi anak perusahaan Medco tersebut, meski pada 9 Juni 2008 Medco telah memenangkan Mitra dalam tender penjualan saham Apexindo.

Perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga Panigoro itu sepakat dengan Mitra untuk bertransaksi jual beli saham Apexindo pada harga Rp2.450 per saham.

PT Pertamina menawar saham Apexindo dengan kisaran harga teratas Rp2.625 per saham atau 7,14% lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual Apexindo kepada Mitra Rajasa.

Harga saham emiten berkode APEX itu ditutup pada level Rp2.150 pada Jumat pekan lalu, melonjak 10,26% dibandingkan dengan harga penutupan saham sebelumnya.

Pada 28 Juni 2008, Mitra Rajasa mengumumkan bahwa berdasarkan Peraturan No. IX. H. 1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka dan No. IX. F. 1 tentang Penawaran Tender emiten berkode MIRA ini wajib menggelar penawaran tender atas saham publik Apexindo.

Patok harga

Komisaris Utama Mitra Rajasa Tito Sulistio mengatakan perseroan akan mematok harga penawaran tender pada level Rp2.450 atau sama dengan harga pembelian 2,12 miliar saham Apexindo.

"Harga itu termasuk premium karena harga tertinggi selama 90 hari terakhir sebelum pengumuman adalah Rp1.930. Soal kami yang berhasil mengakuisisi Apexindo, saya mau bilang apa, bagi Medco kami adalah yang terbaik."

Saham Apexindo yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 26 Juni lalu adalah 2,64 miliar. Setelah dikurangi 2,12 miliar saham Medco dan Encore Limited, saham publik yang dapat diserap melalui penawaran tender adalah 524 juta saham.

Apabila mengacu pada patokan Rp2.450 per saham, total kebutuhan dana guna menyerap seluruh saham publik dalam penawaran tender itu Rp1,28 triliun.

Perseroan, lanjutnya, melalui Sabre Systems International Pte Ltd (SSI) atau anak perusahaan yang dibentuk SSI, yaitu perusahaan induk yang akan disokong melalui pinjaman yang diatur oleh Goldman Sach untuk mendanai penawaran tender.

Harga saham Mitra Rajasa ditutup pada level Rp740 atau naik 4,23% dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Apabila mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar Mitra Rajasa mencapai Rp2,02 triliun. (sylviana.pravita@bisnis.co.id)

Oleh Sylviana Pravita R.K.N.

Bisnis Indonesia