Thursday, December 29, 2005

Saham Apexindo Cenderung Sideways

Jakarta, Investor Daily --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan bergerak mendatar (sideways) pada perdagangan jangka pendek. Saham sektor pertambangan dan energi tersebut kurang likuid di pasar.

Selain kurang likuid, volume transaksi saham Apexindo cenderung sepi sejak awal Oktober 2005, kata analis PT Meridian Capital Indonesia M Habdi kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (27/12). Pada perdagangan kemarin tidak terjadi transaksi pada APEX, sehingga harga saham stagnan pada posisi Rp 720.

Menurut Habdi, secara teknis, indikator Williams%R (W%R) menunjukkan saham Apexindo Pratama mulai oversold, meskipun dari relative strength index (RSI) masih memperlihatkan pola sideways.

Kendati demikian, lanjut Habdi, secara fundamental APEX menjanjikan karena kinerja perusahaan diperkirakan kembali positif tahun ini, terutama setelah adanya restrukturisasi utang. Laba bersih 2004 terbukukan minus Rp 27,1 miliar, sedangkan tahun sebelumnya mencapai Rp 52,7 miliar. Akhir tahun ini, laba bersih bisa mencapai Rp 4,46 miliar, sebab per September 2005 sudah terbukukan Rp 3,3 miliar, ujarnya.

Dia menambahkan, pertumbuhan earning per share (EPS) Apexindo diperkirakan juga bergerak positif menjadi Rp 2-3 per lembar saham untuk tahun ini, setelah tahun sebelumnya minus Rp 16. Namun valuasinya sudah mahal dibanding saham sejenis, karena price to earning ratio (PER) mencapai 360 kali, dengan price to book value (PBV) 1,25 kali. Sedangkan PER ENRG (Energi Mega Persada) hanya 23,87 kali dan PBV 11,94 kali, jelasnya.

Analis PT Aneka Arthanusa Sekurindo Teguh Ramadani juga berpendapat, indikator relative strength index (RSI) memperlihatkan APEX akan melanjutkan pola mendatar. Sebab, posisinya masih di area netral, ujarnya.

Teguh menambahkan, selama ini, investor melirik saham Apexindo ketika saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat. Karena mereka berasumsi, kalau MEDC menguat biasanya APEX juga terangkat, kata dia.

Pendapatan US$ 120 Juta

Sementara itu, manajemen Apexindo Pratama Duta menargetkan pendapatan pada 2006 dapat mencapai sekitar US$ 120 juta. Angka tersebut melebihi target pendapatan perseroan akhir tahun ini sebesar US$ 110 juta.

Saya tidak bisa memberi angka pastinya, tapi diperkirakan di sekitar itu (US$ 120 juta), kata Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Menurut dia, kenaikan pendapatan itu terutama didorong oleh dua faktor. Pertama, dayrate dua dari empat rig jenis Submersible Swamp Barge Apexindo diperkirakan naik 15-20% pada tahun depan menyusul adanya kontrak baru.

Keduanya dikontrak oleh Total E&P Indonesie untuk pekerjaan pengeboran di Tunu, Kalimantan Timur pada kurun waktu Maret 2006 Maret 2009. Total nilai kedua kontrak itu mencapai US$ 98,9 juta. Terkait dua kontrak itu, saat ini kami masih menunggu keputusan BP Migas, imbuh Agus.

Kedua, rig Raniworo yang beroperasi di Teluk Persia akan memeroleh kontrak baru pada 2006. Perseroan berharap memperoleh harga sewa harian lebih tinggi dibanding harga sewa Statoil sebesar US$ 51 ribu. Perseroan tengah bernegosiasi dengan calon penyewa baru untuk memeroleh harga sewa sesuai harga pasar US$ 80 ribu.

Hingga kuartal III 2005, pendapatan perseroan tercatat Rp 798,93 miliar atau naik 6% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 755,63 miliar. Akibatnya, perseroan mematok margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortasi (EBITDA) tahun 2006 sebesar 44%. Persentase itu di atas target margin EBITDA akhir tahun ini 41%.

Selain kenaikan dayrate di sejumlah rig, posisi margin EBITDA terangkat karena Apexindo telah merevisi sejumlah pos biaya pada tahun depan. Biaya-biaya itu antara lain, biaya angkutan, akuntan, dan kru pengeboran.

Per 30 September tahun ini, EBITDA perseroan naik 27% menjadi Rp 324,53 miliar dari sebelumnya Rp 255,07 miliar. Kenaikan terbesar terjadi di kuartal III dengan sumbangan EBITDA sebesar Rp 129,68 miliar.

Sehingga posisi laba bersih tahun 2006 kami perkirakan di atas US$ 10 juta, ujar Agus. Beban bunga pada tahun depan akan jauh berkurang sebagai akibat pengembalian hasil rights issue perseroan kepada perusahaan induk Medco Energi Internasional.

Rekomendasi

M Habdi menyarankan investor untuk menghindari dulu APEX untuk jangka pendek. Sedangkan pada jangka menengah maupun panjang, dia menyarankan wait and see. Support saham ini di level Rp 700 dan resistance Rp 950, ujarnya. Sedangkan Teguh merekomendasikan hold APEX dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Support di level Rp 720 dan resistance Rp 740, jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: mendatar

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per September 2005, pendapatan naik 6% Rp 798,93 miliar

PER: 360 kali, PBV: 1,25 kali

Teknis

RSI: sideways

W%R: oversold

Rekomendasi

M Habdi:

Jangka pendek: hindari

Menengah-panjang: wait and see

Support: Rp 700, resistance: Rp 950

Teguh Ramadani:

Jangka pendek: hold

Menengah-panjang: hold

Support: Rp 720, resistance: Rp 740

Tuesday, December 27, 2005

Apexindo teken kontrak US$4,83 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk telah menandatangani kontrak senilai US$4,83 juta untuk jasa pengeboran darat berikut satu paket peralatan pengeboran rig #5 selama satu tahun.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Jakarta Jumat pekan lalu, Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R. Satari mengatakan penandatanganan kontrak itu dilakukan antara Apexindo dan Job Pertamina-Amerada Hess Jambi Merang terhitung mulai 21 Desember 2005. (Bisnis/wiw)

Wednesday, December 7, 2005

Saham Apexindo Cenderung Mendatar

Jakarta, Bisnis Indonesia --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan bergerak mendatar (sideways) pada perdagangan jangka pendek. Arah mendatar saham Apex ditopang faktor teknis, meskipun secara fundamental masih menjanjikan.

”Beberapa indikator teknis menunjukan trend mendatar pada saham ini, kata Analysis PT Bapindo Bumi sekutaris Harry Kurniawan kepada Investor Daily di Jakarta Senin ( 5/12).

Pada perdagangan kemarin. Saham Apex ditutup terkoreksi Rp 30 ke level Rp 700 saham sektor minyak dan gas itu ditransaksikan hanya empat kali dengan volume transaksi sebanyak 37.500 unit saham senilai Rp 26, 4 juta .

Menurut Harry secara teknis indikator relative strength index (RSI) untuk lima dan sepuluh hari untuk menunjukan saham Apexindo Pratama bergerak dalam trend mendatar untuk jangka pendek. “Arah mendatar juga terbaca dari indikator lain, seperti moving evarage convergence divergence (MACD),“ kata Harry.

Dia mengakui, pergerakan yang cenderung sideways didalam saham APEX juga di dukung volume transaksi yang kecil sejak awal Oktober 2005, apalagi saham APEX juga tidak termasuk likuid setelah kepemilikian publik hanya 5% dari sebelumnya 11,5% akibat right isue. “Namun, kalau melihat trend jangka panjang, saham ini masih menguat, “ujarnya.

Kendati demikian lanjut Harry, secara fundamental saham Apexindo Pratama masih menjanjikan, karena kinerja perusahaan diperkirakan kembali positif tahun ini setelah retrukturisasi utang. Laba bersih perseroan tahun 2004 minus Rp 27,1 miliar, sedangkan tahun sebelumnya mencapai 52,7 miliar. “Hingga kuartal III 2005 laba bersih perseroan sudah terbukukan Rp 3,3 miliar ,“ ujarnya.

Dia menambahkan pertumbuhan earning per share ( EPS ) Apexindo diperkirakan juga bergerak positif mejadi Rp 4-5 per lembar saham untuk tahun ini setelah tahun sebelumnya minus Rp 16. Namun valuasi saham APEX cukup mahal jika di bandingkan dengan emiten sejenis karena price to earning ratio (PER) mencapai 350 kali, dengan price to book value ( PBV ) 1,22 kali. Sedangkan PER Medco Energi (MEDC) hanya 12,2 kali,” jelasnya.

Sedangkan analisis PT Sari Jaya Permana Sekutaris M Alfatih mengatakan sejak pertengahan tahun 2004 saham APEX mulai naik. Namun selama tahun 2005 pergerakannya bergerak fluktuatif antara 550 – 900. “Kalau jangka pendek, saham ini masih tertekan. Tapi untuk jangka panjang berpotensi menguat.” ujarnya.

Pendapatan US$ 120 juta

Sementara itu Manajemen PT Apexindo Pratama Duta menargetkan pendapatan sekitar US$ 120 juta pada tahun 2005. Jumlah tersebut melebihi target pendapatan perseroan akhir tahun ini sebesar US$ 110 juta .

“Saya tidak bisa memberikan yang pastinya, tapi diperkirakan sekitar itu (US$ 120 juta) , kata Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan kepada Investor di Jakarta belum lama ini.

Menurut dia kenaikan pendapatan ini ditopang oleh dua faktor, pertama, dayrate dari empat rig jenis submersible barge Apexindo diperkirakan naik 15% – 20% di tahun depan adanya kontrak baru. Keduanya dikontrak oleh Total E & P Indonesia untuk pengeboran di Tunu, Kalimantan Timur untuk jangka waktu Maret 2006 – Maret 2009. Total nilai kedua kontrak itu mencapai US$ 98,9 juta.“Terkait dua kontrak itu saat ini kami masih menunggu keputusan BP Migas,” imbuh Agus.

Kedua rig Rani Woro yang beroperasi di Teluk Persia akan memperolah kontrak baru pada tahun 2006. Perseroan berharap dapat memperoleh harga sewa harian lebih tinggi dibandingkan dengan harga sewa Statoil sebesar US$ 51 ribu. Perseroan sedang bernegosiasi dengan calon penyewa yang baru untuk memperoleh harga sewa sesuai harga pasar US$ 80 ribu.

Rig Raniworo dikontrak oleh Statoil sejak Desember 2003 senilai US$ 50 juta. Tapi Statoil belum lama ini memutuskan tidak memperpanjang kontraknya yang akan berakhir pada Januari 2006, karena itu Apexindo berkesempatan untuk mencari kontrak yang baru dengan harga sewa yang sesuai harga pasar yang terus meroket .

Hingga kuratal III 2005, pendapatan perseroan tercatat Rp 798,93 miliar atau naik 6% di banding periode sama tahun lalu sebesar Rp 755, 63 miliar .

Per 30 September tahun ini EBITDA perseroan naik 27% menjadi Rp 324,53 miliar dari sebelumnya Rp 255,07 miliar. Kenaikan terbesar terjadi pada kuartal III dengan sumbangan EBITDA sebesar Rp 129, 68 miliar .

“Sehingga posisi laba bersih tahun 2006 kami diperkirakan di atas US$ 10 juta,“ ujar Agus.

Rekomendasi

Harry merekomendasikan acumulate trading buy saham APEX untuk jangka pendek, namun pada jangka panjang, dia menyarankan hold. “Support saham in di level Rp 700 dan resistance Rp 750 ,” ujarnya .

Sedangkan Alfatih merekomendasikan wait end see saham sektor minyak gas tersebut dalam jangka pendek. Tapi untuk jangka menengah dan panjang dia menyarankan beli support pertama saham APEX di level Rp 700 dan kedua Rp 600. Sedangkan resistanse pertama pada Rp 750 dan kedua Rp 800,“ jelasnya. (asp)

Saturday, December 3, 2005

2006, Pendapatan Apexindo US$ 120 Juta

Jakarta, Investor Daily – PT Apexindo Pratama Duta Tbk menargetkan pendapatan tahun 2006 sebesar US$ 120 juta. Target itu melebihi target pendapatan perseroan akhir tahun ini sebesar US$ 110 juta.

Demikian pernyataan Direktur Keuangan Agustinus B Lomboan pada paparan publik perseroan di Jakarta, belum lama ini. “Saya tidak bisa memberikan angka pasti, tapi diperkirakan di sekitar itu,” ujarnya.

Menurut dia, kenaikan pendapatan itu terutama didorong dua faktor, pertama dayrate dua dari empat rig jenis submersible swamp barge Apexindo diperkirakan naik 15%-20% menyusul adanya kontrak baru. “Terkait dua kontrak itu, kami masih menunggu keputusan BP Migas,” imbuh Agus.

Selain itu, rig Raniworo yang beroperasi di Teluk Persia akan memperoleh kontrak baru pada tahun 2006. Dengan demikian, Perseroan berharap memperoleh harga sewa lebih tinggi dibandingkan harga sewa Statoil sebesar US$ 15 ribu. Perseroan tengah bernegosiasi dengan calon penyewa baru untuk memperoleh harga sewa sesuai harga pasar US$ 80 ribu.

Rig Raniworo dikontrak oleh Statoil sejak bulan Desember 2003 senilai US$ 50 juta. Tapi, Statoil belum lama ini memutuskan tidak memperpanjang kontraknya yang akan berakhir pada Januari 2006. Karena itu, Apexindo berkesempatan untuk mencari kontrak baru dengan harga sewa sesuai harga pasar yang terus meroket.

“Kami perkirakan, harga sewa yang disepakati lebih tinggi 25% dibandingkan harga sewa Statoil,” jelasnya. Perseroan, kata dia, juga masih mendapapat tambahan pendapatan dari hasil sewa rig-rig darat. Apexindo juga tengah mengusahakan kontrak jangka panjang, baik dari penyewa lama maupun baru.

Hingga kuartal III 2005, pendapatan perseroan tercatat Rp 798,93 miliar atau naik 6% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 755,63 miliar.

Akibatnya, perseroan mematok margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) tahun 2006 sebesar 44%. Persentasi itu di atas target marjin EBITDA akhir tahun ini 41%.

Selain kenaikan dayrate di sejumlah rig, posisi marjin EBITDA terangkat karena Apexindo telah merevisi sejumlah pos biaya di tahun depan. Biaya-biaya itu antara lain, biaya angkutan, akuntan, dan kru pengeboran.

Hingga akhir September 2005, EBITDA perseroan naik 27% menjadi Rp 324,53 miliar dari sebelumnya Rp 225,07 miliar. Kenaikan terbesar terjadi di kuartal III dengan sumbangan EBITDA sebesar Rp 129,68 miliar.

“Sehingga posisi laba bersih tahun 2006 kami perkirakan di atas US$ 10 juta,” ujar Agus. (c77)

Friday, December 2, 2005

Apexindo Tambah Satu Rig

JAKARTA, Koran Tempo - PT Apexindo Pratama Duta Tbk. berencana menambah investasi dengan membeli satu rig lepas pantai pada Desember 2006. Perusahaan pengeboran minyak yang terafiliasi dengan Medco Group ini sudah membayar uang muka US$ 24 juta dari total harga US$ 140 juta.

Menurut Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade Satari, dana itu diperoleh dari hasil penerbitan saham baru senilai Rp 750 miliar beberapa waktu lalu. Sisa pembayaran akan dibayarkan tahun depan, yang pendanaannya masih dibahas oleh perseroan. "Mungkin meminjam atau melakukan kerja sama. Yang pasti bukan dari kas internal," katanya kemarin.

Jika tidak mampu membayar tahun depan, pihak produsen yang ada di Singapura memberi keringanan kepada Apexindo untuk mencicil 30 persen dalam tiga tahun dan membayar 75 persen sisanya pada akhir jangka waktu itu. Saat ini, perusahaan penyewa alat pengeboran dan kru itu memiliki sembilan rig darat dan lima rig laut.

Thursday, December 1, 2005

Apexindo patok pendapatan naik 10%

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk mematok pendapatan perseroan pada tahun depan naik 10% menjadi sekitar US$120 juta, dari prediksi sepanjang tahun ini sebesar US$110 juta.

Direktur Keuangan Apexindo Agustinus Lomboan mengatakan peningkatan pendapatan ini berasal dari kenaikan nilai kontrak harian pemakaian rig--alat pengebor sumur minyak dan gas bumi--, misalnya, untuk submersible swamp barge yang naik 15%-20%.

Sedangkan untuk rig Raniworo yang kontrak jangka panjangnya di Teluk Persia akan habis pada Januari 2006, diharapkan bisa memperoleh kenaikan nilai kontrak sekitar 25% dari harga kontrak lama.

Menurut dia, nilai kontrak lama rig yang sekelas dengan Raniworo sebesar US$51 ribu, dan kemungkinan bisa naik menjadi US$80 ribu. Saat ini rig Raniworo tengah dikontrak oleh perusahaan minyak Statoil.

"Bila itu berjalan dengan baik tanpa ada kegagalan operasi di lapangan maka patokan pendapatan tahun ini yang sebesar US$110 juta, bisa naik menjadi US$120 juta," tutur Agustinus saat paparan publik perseroan di Jakarta kemarin. (Bisnis/02)

Saturday, November 12, 2005

Apexindo Sukses Bukukan Laba

JAKARTA (Media Indonesia): Perusahaan pengeboran minyak PT Apexindo Pratama Duta Tbk berhasil membukukan laba bersih pada triwulan ketiga 2005 setelah pada tahun sebelumnya merugi Rp27 miliar. Laba bersih sampai 30 September 2005 tercatat Rp3,4 miliar.

Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R Satari dalam siaran persnya, kemarin, mengatakan pada triwulan ketiga tahun ini perseroan mampu menekan beban langsung dan beban usaha dalam rangka efisiensi biaya. Meskipun, total pendapatan perseroan hanya tumbuh 5,7%.

Pada periode triwulan ketiga 2005, perseroan membukukan pendapatan Rp798,9 miliar, sedikit lebih tinggi daripada pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp755,6 miliar. Rendahnya pertumbuhan pendapatan disebabkan kontribusi pendapatan pengeboran darat menurun tahun ini.

Seiring dengan menurunnya tingkat utilisasi rig darat menjadi 46% pada triwulan ketiga tahun ini--dari 54% pada kuartal III tahun sebelumnya--kontribusi pendapatan dari pengeboran darat juga menurun 16,7%, yakni dari Rp227,2 miliar pada triwulan ketiga 2004 menjadi Rp189,3 miliar periode yang sama tahun ini.

''Penurunan utilisasi rig darat ini disebabkan beberapa rig darat perseroan, seperti Rig 5, 8, dan 12 yang masih dalam kondisi stacked (menganggur),'' ungkap Ade.

Sebaliknya, pendapatan dari pengeboran lepas pantai naik 15,4% menjadi Rp609,6 miliar bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp528,4 miliar, dengan tingkat utilisasi 100%. Utilisasi secara penuh itu dicapai karena kontrak-kontrak dengan para klien masih berjalan dengan baik sebagaimana yang direncanakan.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan menyatakan upaya efisiensi terus dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga, walaupun terjadi kenaikan biaya operasional baik di lapangan maupun di kantor pusat akibat dampak kenaikan harga BBM nasional dan dunia serta peningkatan inflasi secara global, pembengkakan biaya dapat ditekan.

Laba bersih positif yang dicapai di triwulan ketiga, tambah Agustinus, selain dipicu keberhasilan perseroan menekan biaya, juga didukung penurunan kerugian selisih kurs sebesar 26,7% dari Rp79,2 miliar pada triwulan ketiga 2004 menjadi Rp58,1 miliar di periode sama tahun ini. Penurunan kerugian kurs disebabkan keberhasilan perseroan memperkecil net open position sehingga mengurangi risiko kerugian kurs dari fluktuasi mata uang.

Pada triwulan ketiga tahun ini Apexindo membukukan net monetary asset sebesar US$9,3 juta berbanding pembukuan net monetary liabilities sebesar US$93,6 juta pada periode sama tahun lalu. Hal itu, kata Agustinus, menunjukkan suksesnya aksi korporasi perseroan sepanjang tahun ini. (Ndy/E-3)

Thursday, November 10, 2005

Harga Minyak Angkat Bisnis Rig Apexindo

Jakarta, Investor Daily --- Meskipun sempat turun, harga minyak mentah saat ini menguntungkan bagi perusahaan minyak karena ada pendapatan extra sebagai dampak harga minyak yang tinggi . Karena itu perusahaan minyak juga baerusaha memacu produksi dengan mengembangkan dan membuka lapangan minyak baru.

Imbasnya perusahaan jasa pengeboran sumur migas pun juga kebanjiran order dan tarif sewa alat pengeboran (rig) juga terdongkrak naik. Salah satu yang beruntung ialah PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) selaku perusahaan pengeboran terbesar di Indonesia. Berikut wawancara wartawan Investor Daily Tri Listiyarini dengan Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro, belum lama ini.

Bagaimana anda melihat kondisi harga minyak terkini ?

Jelas, kenaikan harga minyak saat ini merupakan kesempatan bagi produsen atau perusahaan minyak untuk meraih keuntungan sebesar- besarnya. Mereka bisa memproduksi lapangan atau cadangan minyak yang mereka miliki sebesar –besarnya. Upaya ini tentunya mengharuskan adanya pengeboran. Boleh dibilang, setelah sekian bisnis minyak di bawah tangan, kini berada diatas angin .

Kira–kira fenomena seperti ini akan bertahan sampai kapan ?

Mungkin bukan pada posisi saya bicara harga minyak. Tetapi kalau bicara Medco Group saya bisa sampaikan. Harga yang tercapai pada Agustus pada kisaran di atas US$ 50 per barel dan pada dua bulan penghabisan tahun ini pasti akan naik lagi, tahun 2006 akan naik turun, dan prediksi Medco Group harga minyak tetap di atas US$ 50 per barel sampai 2007.

Lalu apa imbasnya bagi perusahaan pengeboran ?

Sangat menguntugkan. Saat ini biaya mengangkat minyak dari dalam bumi (lifting cost) masih di bawah US$ 10 per barel, jadi kebayang marginnya masih cukuup besar. Jadi ini masih sangat atraktif bagi perushaan minyak untuk tetap melakukan explorasi atau menemukan cadangan yang baru. Dengan harga di atas US$ 50 per barel, jadi satu hal yang menguntungkan .

Apa pengaruhnya bagi Apexindo ?

Kami sekarang sedang memperbaiki rig yang dulu sudah kami anggap mati. Karena kami berpikir dengan haraga minyak di atas US$ 50 per barel, perusahaan jasa pengeboran sangat dicari. Saat ini utilisasi rig perusahaan pengeboran naik karena kebutuhan yang meningkat, selanjutnya hak tarif atau sewa harian rig juga ikut naik. Itu bukan hanya bagi kami, tetapi juga buat perusahaan yang sejenis dengan kami .

Bagaimana kondisi utilisasi rig perseroan saat ini ?

Kalau rig lepas pantai (offshore) sudah 100% terpakai. Sehingga untuk saat ini kami mengandalkan keberadaan rig darat (onshore) saja . Utilisasi darat akan meningkat dari 47 % tahun lalu menjadi 52 % tahun ini, dan akan meningkat lagi menjadi 72 % pada tahun 2006. Rig darat kami yang masih belum terkontrak denga siapa pun yakni masih tiga, yakni rig lima ( 2.000 tenaga kuda ) , rig delapan ( 1.000 tenaga kuda ) dan rig 12 ( 600 tenaga kuda ) . Itupun saat ini juga mengikuti tender didalam maupun diluar negeri.

Apakah Apexindo berniat untuk menambah rig baru ?

Untuk rig darat, sementara kita tidak ada penambahan sampai kami bisa terpakai 100 % tahun 2007 atau 2008 mendatang. Sementara rig lepas pantai akan ada penambahan rig jenis jack up baru pada akhir tahun 2006 mendatang, itu bisa langsung kerja. Kami juga berencana membuat satu rig jack up lagi di Singapura yang diharapkan langsung bisa kerja pada 2008. Untuk membuat rig itu, kami akan menggandengan perusahaan yang sudah memiliki rig tapi bukan operator dengan biaya US$ 140- 160 juta .

Itu berarti perseroan baru akan menambah rig darat setelah 2008 ?

Iya. Atmosfer bisnis rig darat masih belum terlalu kondusif. Itu berbeda dengan rig lepas pantai yang tidak berpikir mengenai pembukaan lahan dan tidak berpikir bagaimana tantangan masyarakat pasca otonomi daerah. Tapi, saat ini bisnis rig darat mulai membaik, meski belum seperti rig lepas pantai. Di sisi lain masuknya rig darat asal Cina yang yang menawarkan harga murah membuat kami kalah bersaing.

Bukankah persaingan persewaan bisa mendongkrak harga sewa rig darat, selain karena faktor harga minyak?

Oh iya. Misalnya sewa rig darat kami untuk Vico Indonesia pada 2 tahun yang lalu sewanya hanya US$ 15.000 per hari, sekarang kami minta naikkan menjadi US$ 25 .000 per hari. Lalu sewa untuk Unocal Indonesia juga naik menjadi US$ 22,000 per hari menjadi 29 .000 per hari . Untuk krig darat yang kan kami tawarkan ke Amerada Hess juga dimungkinkan naik dari US$ 17.000 – 18.000 per hari . Tapi kami juga berprinsip, lebih aman kontrak yang tidak terlalu besar untungnya tapi juga bisa berjangka panjang untuk secure bisnis kami .

Untuk rig lepas pantai, apakah kenaikan sewanya juga signifikan ?

Iya, untuk rig jenis jack up Rani Woro kami sewakan US$ 52.000 per hari baik di Timur Tengah maupun di Teluk Persia, naik hingga 40%- 50 % menjadi US $ 80.000 per hari. Sementara untuk jenis biasa yang bernama Raisis dan Yunani rata – rata naik 20% .

Apakah Apexindo berniat expansi lagi keluar negeri ?

Pasti. Kami mendapat tawaran dari Nigeria dan Sudan untuk rig darat. Tapi kami akan lihat dulu, apakah margin yang kami peroleh akan menyamai ketika rig kami di operasikan di sini , karena mobilisasinya sangat tinggi. Untuk saat ini kami akan expansi ke Asia terutama ke AsiaTenggara, karena kami bisa mengontrol biaya yang harus dikeluarkan. Kami mendapat tawaran dari Petronas, kami juga tengah mengikuti tender di Thailand, Bangladesh, dan India.

Kedepan, apa keinginan dan harapan anda selaku pengusaha jasa pengeboran ?

Kami ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sekarang rig Cina tidak memikirkan pengembalian biaya rig, karena tidak pernah ada pinjaman dan di subsidi pemerintah mereka. Kalau kami harus bersaing dengan cara komersial , sama saja menggali kuburan sendiri. Kami hanya bisa menunjukan prestasi supaya dilihat oleh perushaan – perusahaan minyak besar, yang lebih mencari pengeboran yang handal dan berpengalaman.

Wednesday, November 9, 2005

Apexindo Upayakan Tembus Asia

Jakarta, Investor Daily – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) tengah berupaya ekspansi ke wilayah Asia, terutama kawasan Asia Tenggara. Perusahaan ini kini tengah mengikuti sejumlah tender jasa pengeboran di Thailand, Bangladesh dan India, yang sat ini sedang giat memproduksikan ladang-ladang minyaknya.

“Kami tertarik untuk bisa mengebor di Asia terutama Asia Tenggara, karena masih bisa mengontrol biaya yang harus dikeluarkan,” kata Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro di Jakarta, belum lama ini.

Perseroan, kata dia, saat ini masih memiliki tiga rig darat (on shore) yang tidak dalam kondisi terkontrak, yakni rig lima, delapan dan 12. Hertriono mengatakan, pihaknya memilih Asia terutama Asia Tenggara, karena peluang di wilayah ini secara bisnis masih menguntungkan.

Dia menuturkan, perusahaan minyak di wilayah Asia sat ini sedang mengaktifkan kembali lapangan-lapangan minyaknya, seiring harga minyak yang tinggi di atas US$50 per barrel. “Kemarin kita sudah kalah, tapi kami akan coba lagi,” katanya.

Saat ini, rig lima perseroan yang berkekuatan 2.000 tenaga kuda tengah mengikuti tender di Jabung Jambi yang diadakan Amerada Hess. Rig delapan yang berkekuatan 1.000 tenaga kuda juga sedang mengikuti tender yang diadakan Petronas. Sementara rig 12 yang berkeuatan 600 tenaga kuda masih belum mengikuti tender sama sekali.

Blok Libia

Hertriono mengatakan, pihaknya sama sekali tidak tertarik untuk mengebor di Blok Libia yang telah dimiliki PT Pertamina (Persero), belum lama ini. “Biaya untuk memobilisasi rig darat kami sangat besar. Belum tentu keuntungan (profit) disana bisa menyamai dengan mengoperasikan rig disini,” katanya. (ari)

Penjualan Bersih Apexindo Capai Rp 755, 6 Miliar

Jakarta, Investor Daily - PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX ) membukukan laba bersih sebesar Rp 3,4 Miliar pada triwulan III 2005 atau naik drastis di banding periode sama tahun lalu yang merugi Rp 27 miliar. Hingga akhir tahun ini, laba bersih di perkirakan mencapai Rp 30 miliar.

Penjualan juga meningkat sekitar 5,7% menjadi Rp 755, 6 miliar. Peningkatan laba bersih itu di dukung konsistensi perseroan menekan biaya dan penurunan biaya kerugian akibat selisih kurs. Kerugian akibat selisih kurs berkurang sekitar 26, 7 % dari Rp 79, 2 miliar tahun lalu menjadi Rp 58,1 miliar .

Ditrektur Apex Agustinus B Lomboan mengatakan, penurunan kerugian selisih kurs tersebut di sebabkan keberhasilan perseroan memperkecil net open position sehinggga mengurangi resiko kerugian kurs dari flukturasi mata uang. ”Kami mampu membukukan net monetary asset sebesar US $ 9,3 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 93,6 juta,” ujarnya lewat siaran pers yang diterima Investor Daily di Jakarta,Senin (7/11).

Selain itu, perseroan pada kuartal ketiga tahun ini dapat mengurangi jumlah utang dengan signifikan sehingga beban bunga turun cukup tajam. Agustinus mengatakan, pelunasan utang itu berpengaruh cukup signifikan sehingga beban bugna turun cukup tajam. Hal itu secara signifikan dapat mengangkat laba bersih dan peningkatan pada rasio interest coverage perseroan dimasa mendatang.

Dia menjelaskan, perlunasan sebagian utang kepada Medco Energi Finance Overseas (MEFO) dengan menggunakan dana dari right issue sebesar Rp 460, 7 miliar telah menurunkan rasio utang berbunga dengan ekuitas menjadi 0, 69 kali dari sebelumnya 1,06 kali periode sama tahun 2004. Hal itu mengakibatkan neraca keuangan perseroan makin membaik .

Selama kuartal ketiga tahun 2005, perseroan yagn bergerak di bidang penyewaan rig dan kontraktor pemboran minyak berhasil menekan biaya langsung dan beban usaha. Akibatnya, EBITDA perseroan meningkat sekitar 2, 2 menjadi Rp 324, 5 miliar di bandingkan tahun lalu Rp 255, 1 miliar. Margin operasi juga meningkat dari 16, 9% menjadi 23,9 %. “Upaya efisiensi yang dilakukan secara berkesinambungan berhasil meningkatkan profitabilitas yagn makin membaik walaupun terjadi kenaikan biaya oprasional baik di lapangan maupun di kantor pusat yang di sebabkan dampak kenaikan bahan bakar minyak dan peningkatan secara inflasi secara global,” paparnya .

Meski perseroan berhasil membukukan laba bersih, lanjut dia, kontribusi pendapatan dari pemboran darat turun sekitar 16,7 % dari Rp 227,2 miliar menjadi Rp 189,3 miliar. Menurut dia, penurunan ini disebabkan akibat dari utilisasi dari rig darat dalam kondisi stagnan. Sebaliknya pendapatan ini pemboran lepas pantai menigkat sebesar 15,4 % menjadi Rp 609,6 miliar, dari tahun lalu menjadi Rp 528,4 miliar.

Sedangkan likuiditas dari perseroan pada kuartal ketiga dari tahun ini makin membaik, peningkatan rasio lancar menjadi 3,45 kali dari sebelumnya 1,75 kali peningkatan rasio tersebut dipicu peningkatan kas dan setara kas sekitar 260,1% dari 39, 0 miliar menjadi Rp 140, 5 miliar. Faktor penting pemicu peningkatan kas dan setara kas tersebut yakni bebasnya kas idle di rekening penampungan di projet finance. Setelah pelunasan secara penuh sisa outstanding utang ke Fortis Bank US$ 36,8 juta dengan menggunakan dana hasil dari penerbitan obligasi. (c73).

Ikhtisar Keuangan Apexindo (dalam miliar Rp)

Kuartal III 2004

Kuartal III 2005

Pendapatan Bersih

755,63

798,93

Laba Kotor

186,65

240,11

Laba Sebelum Pajak

(30,55)

9,60

EBITDA

255,07

324,53

Laba Bersih

(27,00)

3,35

Laba per Saham

(16)

2