Thursday, August 3, 2006

Chinese Firms May Buy Apexindo Stake

The Jakarta Post --- Chinese companies have made rival bids for Southeast Asia’s biggest oil drilling company after India’s Aban Loyd Chilles Offshore Ltd. offered to buy a stake in PT Apexindo Pratama Duta valued at about US$170 million.

Aban said recently it is in talks for a 32 percent stake in Apexindo from PT Medco Energi Internasional, Indonesia’s largest publicly traded oil company, which controls the oil driller.

China National Offshore Oil Corp. and China Oilfield Services Ltd. have also joined a bid for Apexindo, Bisnis Indonesia reported Wednesday, citing an official it didn’t name.

“Aban Loyd came to us and as the news spread, some Chinese companies then told us, “Hey we want to buy it too,” Rashid Mangunkusumo, Medco’s chief growth officer, said in an interview in Jakarta, without naming the Chinese bidders.

“We won’t be rushing to sell Apexindo. It’s very profitable unit for us. And if we sell it, we want the highest price.”

Indian and Chinese companies are competing to acquire overseas oil exploration assets to meet rising demand at home as crude oil prices surge.

China and India consume 11 percent from the world’s oil, up from 9 percent in 2000, according to BP Plc data. Apexindo, which is partly owned by SeaDrill Ltd., an oil-rig owner controlled by Norwegian billionaire John Fredriksen, swung to a profit in the first half of the year.

Liu Junshan, a Beijing-based spokesman for China National Offshore Oil Corp., and Helen Wu, a spokeswoman for China Oilfield Services Ltd., both said they had no knowledge of their companies bidding for Apexindo.

Apexindo had net income of Rp 191.5 billion in the first six months, from a loss of Rp 72.5 billion a year earlier. Sales climbed 29 percent to Rp 635.3 billion. The company last posted an annual profit in 2003.

Apexindo Bagi Dividen Interim Rp 15

Jakarta, detik.com - PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) membagikan dividen interim (sementara) Rp 15 per saham atas perolehan laba bersih semester I-2006.

Laba bersih Apexindo pada semester I-2006 mencapai Rp 191,483 miliar, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang rugi bersih Rp 72,513 miliar.

Dividen akan dibayarkan pada 13 September 2006 dengan batas recording date pada 30 Agustus 2006. Demikian penjelasan direksi Apexindo yang dipublikasikan Kamis (3/8/2006).

Apexindo adalah anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk yang bergerak pada jasa pengeboran minyak (drilling) dengan kepemilikan saham 51,87 persen.

Saat ini diketahui ada tiga investor asing berminat membeli saham Apexindo milik Medco. Dua diantara investor itu berasal dari Cina dan satu dari India.(ir)

Wednesday, August 2, 2006

Investor India dan Cina Bersaing Beli Apexindo

Jakarta, Investor Daily – Investor Cina dan India bersaing ketat untuk membeli 51,78% saham milik PT Medco Energi International Tbk pada PT Apexindo Pratama Duta Tbk. Medco ditaksir mengantungi dana segar sekitar Rp 2,41 triliun dengan asumsi harga Rp 1.780 per lembar saham.

ALCO dari India telah menyelesaikan proses due diligence atas Apexindo belum lama ini dan merupakan perusahaan publik di bursa India. Sedangkan dua badan usaha milik Negara (BUMN) Cina sedang melakukannya.

“Kami masih harus menunggu rampungnya proses due diligence investor Cina sebelum menentukan siapa pemenang. Sebab, Medco tidak perlu terburu-buru melepas kepemilikan saham Apexindo,” kata Investor Relations Medco Nusky Suyono pada acara presentasi emitmen “Investor Forum 1” di Jakarta, Selasa (1/8).

Menurut Nusky, posisi Medco dalam menjual saham anak perusahaan yang bergerak di bidang penyewaan jasa rig bukan merupakan penjual aktif. Dengan demikian, pihaknya baru bersedia melepas sahamnya bagi penawar tertinggi.

“Pokoknya harus dilepas dengan harga premium dan kami belum bisa menyebutkan harga premium saat ini, mengingat harga saham Apexindo berfluktuasi setiap hari di bursa,” tandas dia.

Ketika ditanya nama investor Cina yang sudah memasukkan penawaran, dia enggan menyebutkannya. Sebab, kedua perusahaan merupakan perusahaan publik. Menurut dia, kedua perusahaan menggunakan induk perusahaan masing-masing dan termasuk BUMN cukup besar di negeri tirai bambu tersebut. Selain itu, mereka merupakan investor jangka panjang dan berniat mengembangkan bisnis terkait lain di migas.

Sumber Investor Daily, mengatakan, Grup CITIC kemungkinan besar tertarik membeli saham Apexindo. Karena perseroan bergerak pada bidang penyewaan rig dan migas lewat anak perusahaannya, Citic Resources Ltd. Citic Resources kini tercatat di bursa Hong Kong dan 60% dimiliki Grup Citic. Belum lama ini, Citic Resources mengakuisisi 59% saham blok migas di Pulau Seram, Maluku Tengah dari KUPEC senilai US$ 97 juta. KUPEC merupakan anak perusahaan Kuwait Oil Company Ltd.

Nusky memprediksi, due diligence investor Cina butuh waktu sekitar dua bulan. “Sekiranya harga yang ditawarkan ketiga perusahaan belum juga cocok, transaksi dapat dibatalkan dan kami siap menerima calon investor lain,” tandas dia. Hasil divestasi saham Apexindo akan digunakan Medco untuk memperkuat bisnis inti.

Lebih jauh dia menjelaskan, tender offer divestasi saham Apexindo akan dilakukan sesuai aturan pasar modal.

Pemegang saham Apexindo lain adalah Asian Opportunities Fund I Segregated (15,98%) dan CLSA Ltd (15,99%). Medco merupakan pemegang saham mayoritas (51,78%) atau setara 1,35 miliar lembar saham.

Pada perdagangan kemarin, harga saham Apexindo ditutup menguat Rp 20 menjadi Rp 1.780 per lembar. Jumlah saham yang berpindah tangan mencapai 4,68 juta lembar dengan nilai transaksi Rp 8,22 miliar.

Laba Bersih Medco

Di tempat yang sama, Direktur Keuangan Medco D Cyril Noerhadi mengatakan, produsen minyak swasta terbesar di Indonesia itu berhasil membukukan laba bersih US$ 55,1 juta pada semester pertama 2006 atau nai 15,4% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Menurut dia, penyebab utama peningkatan laba bersih adalah kenaikan harga rata-rata minyak dan gas bumi sebesar US$ 65,05 per barel dibandingkan periode sebelumnya US$ 50,22. Sedangkan harga gas bumi turun sekitar 1,2% menjadi US$ 2,30 per juta british termal unit (BTU) dari US$ 2,33.

Sementara itu, pendapatan tercatat US$ 372 juta pada semester pertama 2006 atau naik 26,4% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 294,4 juta. “Pendapatan minyak dan gas bumi meningkat 32,2% menjadi US$ 269,1 juta dibandingkan tahun sebelumnya US$ 199 juta,” kata dia.

Pendapatan lain dari semua anak perusahaan turun 12,1% dari US$ 52,4 juta menjadi 46,15 juta. Beban eksplorasi meningkat drastis menjadi US$ 22,5 dari sebelumnya US$ 2,6 juta. Kenaikan disebabkan adanya provisi sejumlah sumur yang dianggap belum ekonomis.

Sementara itu, harga saham Medco ditutup melemah dari Rp 3.800 per lembar menjadi 3.775 pada perdagangan kemarin. Nilai transaksi mencapai Rp 25,74 miliar.

Nusky menambahkan, nilai belanja modal perseroan hingga 2009 mencapai US$ 1,5 miliar dan kini mempunyai dana kas sekitar US$ 100 juta hingga US$ 110 juta. (hut/kp)

COSL & CNOOC incar Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Selain Aban Loyd Chiles Offshore Limited (ALCO), China Oilfield Services Limited (COSL) dan China National Offshore Oil Corporation Limited (CNOOC) diketahui berminat membeli 52% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk milik PT Medco Energi Internasional Tbk.

Satu eksekutif yang mengetahui transaksi itu mengatakan COSL dan CNOOC juga termasuk calon pembeli potensial Apexindo, sehingga perebutan saham perusahaan pengeboran milik Medco itu dengan ALCO kini semakin ketat.

"ALCO telah merampungkan proses uji tuntas terhadap Apexindo dan sudah mengajukan harga penawaran awal, sedangkan COSL dan CNOOC baru menjalani tahap uji tuntas. Jika keduanya selesai, harga penawaran dari ketiga calon pembeli saham Apexindo dapat dilihat siapa yang tertinggi," tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Seperti dilaporkan dari Times India, ALCO berencana membeli saham Apexindo Pratama senilai US$550 juta.

Jika penawaran harga itu untuk membeli 52% saham atau sekitar 1,35 miliar saham Apexindo, berarti ALCO akan membeli perusahaan pengeboran itu Rp3.666 per saham, premium 105,95% dari harga penutupan saham kemarin Rp1.780.

CNOOC merupakan perusahaan publik di Hong Kong yang bergerak di eksplorasi, produksi dan pengembangan minyak mentah dan gas di China. CNOOC merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar di Indonesia.

Hingga 31 Desember tahun lalu, cadangan bersih minyak mentah dan gas CNOOC mencapai 2,36 miliar barel minyak ekuivalen. Volume produksi bersih rata-rata tahun lalu mencapai 424.108 barel minyak ekuivalen per hari.

COSL merupakan perusahaan publik di Hong Kong yang bergerak di bisnis penyedia jasa di daerah penghasil minyak. Jasa yang diberikan COSL meliputi empat bisnis segmen termasuk jasa pengeboran, jasa sumur, pendukung di laut, jasa pengangkutan, dan jasa geophysical.

Hingga 31 Desember 2005, COSL mengoperasikan 14 rig pengeboran termasuk 10 jack-up dan tiga semi yang dapat menyelam, dan satu jack-up yang disewakan. Perusahaan itu juga memiliki dan mengoperasikan 68 kapal, lima tanker minyak, dam satu tanker pengangkut bahan kimia.

Mayoritas bisnis COSL dilakukan di darat dan laut di China, Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Utara, Timur Tengah, laut Afrika dan Eropa.

Ketika dikonfirmasi, Investor Relation Medco Energi Nusky Suyono mengatakan tidak dapat memberitahukan identitas dua calon pembeli 52% saham Apexindo

Namun, dia membenarkan bahwa kedua calon investor itu berasal dari China dan sedang menjalani uji tuntas terhadap Apexindo.

"Selain ALCO, memang terdapat dua calon pembeli dari China. Tetapi saya tidak dapat membuka namanya. Yang pasti Medco menginginkan harga premium dari pasar karena kami bukan penjual aktif Apexindo dan bukan mencari pembeli," tuturnya.

Direktur Keuangan Medco Cyril Noerhadi juga mengatakan tidak dapat mengungkapkan identitas calon pembeli Apexindo. Apexindo mempunyai bisnis yang baik, apalagi harga sewa rig melonjak dua kali lipat.

"Medco akan melihat penawaran dari calon pembeli melalui proses yang adil dan mengikuti praktik tata kelola perusahaan yang baik serta peraturan pasar modal," tuturnya.

Apabila pembelian 52% saham Apexindo terjadi, pembeli harus menempuh penawaran tender terhadap sisa saham yang dikuasai publik sesuai dengan ketentuan Bapepam dan bursa.

Kim Eng Securities mengatakan target harga saham Apexindo Rp1.750 per saham telah tercapai. Menurut perhitungan sekuritas itu, nilai wajar Apexindo mencapai Rp1.910 per saham. Kim Eng juga merekomendasikan beli terhadap saham Apexindo. (wisnu.wijaya@ bisnis.co.id)

Oleh Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia

Cina dan India Incar Apexindo

JAKARTA, Koran Tempo -- Dua perusahaan pengeboran asal Cina dan India mengincar PT Apexindo Pratama Duta Tbk., perusahaan pengeboran yang mayoritas sahamnya dikuasai PT Medco Energi Internasional Tbk.

Investor Relation Medco Energi Nusky Suyono mengatakan para investor itutelah memasukkan penawaran untuk membeli kepemilikan saham Medco Energi diperusahaan.

Dia enggan mengungkapkan besaran harga penawaran masing-masing. "Medco menginginkan harga premium karena sebagai pemilik saham mayoritas di sana," kata Nusky kemarin.

Namun, Direktur Keuangan Medco Energi D. Cyril Noerhadi mengatakan Medco tidak berencana menjual kepemilikan sahamnya di perusahaan jasa pengeboran itu.

Tapi sejumlah perusahaan tertarik untuk membeli perusahaan itu karena prospek bisnis pengeboran sangat baik. "Harganya naik dua kali lipat dibanding tahun lalu," katanya. BUDIRIZA

Anak Usaha Medco Diminati

Jakarta, Kompas - Investor asing banyak yang meminati perusahaan kontraktor pengeboran minyak dan gas PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo), di mana 51,78 persen sahamnya dimiliki PT Medco Energi Internasional Tbk.

Tanpa pernah menawarkan untuk dijual, anak usaha andalan Medco tersebut ingin dibeli sedikitnya oleh dua investor asing, yakni perusahaan patungan milik India, Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (ALCO); dan sebuah perusahaan dari China.

"Sebetulnya yang berminat membeli Apexindo ada beberapa. Saya belum bisa paparkan di sini. Tapi, dalam satu bulan ini kami akan memberikan tanggapan terhadap penawaran tersebut," ujar Direktur Keuangan Medco Cyril Noerhadi dalam jumpa pers di Indonesia Investor Forum, Selasa (1/8) di Jakarta.

Dia mengatakan, jika ada yang menawar dengan harga bagus, tidak menutup kemungkinan Medco akan melepas seluruh kepemilikan sahamnya.

"Kami tidak terburu-buru dalam menjual Apexindo sebab bisnis pengeboran saat ini sangat bagus. Jika pada akhirnya kami melepas seluruh saham kami, prosesnya harus melalui tender offer sesuai dengan peraturan," kata Cyril.

Pada semester I tahun 2006 laba bersih Apexindo meningkat 364,1 persen, dari rugi bersih Rp 72,5 miliar pada semester I 2005 menjadi Rp 191,5 miliar.

Cyril memastikan, pelepasan Apexindo tidak akan memengaruhi kinerja Medco ke depan.

Kinerja Medco

Sampai Juni tahun ini Medco berhasil mencatat laba bersih 55,1 juta dollar AS, atau meningkat 15,4 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar 47,7 juta dollar AS.

Kenaikan laba bersih itu didorong oleh meningkatnya penjualan dan pendapatan usaha sebesar 26,3 persen, dari 294,416 juta dollar AS pada semester I tahun 2005 menjadi 372,030 juta dollar AS pada semester I tahun 2006.

Beban eksplorasi perseroan meningkat tajam dari 2,6 juta dollar AS pada semester I tahun 2005 menjadi 22,5 juta dollar AS pada semester I tahun 2006.

Peningkatan tersebut akibat adanya provisi untuk beberapa sumur yang dianggap belum ekonomis sehingga menyebabkan pengeluaran sebesar 9,1 juta dollar AS serta pengeluaran akibat sumur kering sebesar 10,45 juta dollar AS.

Selain itu, perseroan juga harus menanggung beban operasi yang naik dari 45,2 juta dollar AS pada semester I tahun 2005 menjadi 59,5 juta dollar AS pada semester I tahun ini.

Meningkatnya beban operasi tersebut akibat adanya kenaikan gaji, biaya kontrak, beban depresiasi, beban perjalanan, dan beban ekspor. (TAV)

Tuesday, August 1, 2006

Tiga Investor Asing Minati Saham Apexindo

Jakarta, detik.com - Tiga investor asing berminat membeli saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), anak usaha milik PT Medco Energi Internasional. Dua diantara investor itu berasal dari Cina dan satu dari India.

"Saat ini sedang menghitung angka penawaran mana yang menarik," kata Investor Relation Medco, Nusky Suyono, disela acara publik ekspose Medco dalam Indonesia Investor Forum di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (1/8/2006).

Medco menguasai 51,87 persen saham di Apexindo, anak usahanya yang bergerak di sektor jasa pengeboran.

Sementara Direktur Keuangan Medco, Cyril Noerhadi mengatakan, jika penjualan seluruh saham Medco di Apexindo jadi dilakukan, maka perseron akan melakukan tender offer karena jumlah transaksi akan sangat material.

Namun menurut Cyril, industri pemboran saat ini sedang bagus-bagusnya, sehingga perseroan tidak terlalu terburu-buru untuk menjualnya sambil menunggu penawaran tertinggi yang masuk.

"Deadline-nya tidak ada, kita tidak ingin jual tapi ada yang mau beli, kalau harganya sangat tinggi kita lepas," ungkap Cyril.

Cyril memastikan, pelepasan anak usaha tersebut tidak akan mempengaruhi kinerja Medco, karena kedua perusahaan memiliki bisnis yang berbeda.

Medco bergerak di eksplorasi dan produksi migas, sedangkan Apexindo di jasa pengeboran (driling).

(ir)

Laba Bersih Gudang Garam Turun

Jakarta, Kompas - Laba bersih PT Gudang Garam Tbk pada semester I tahun ini turun sekitar 50 persen dari Rp 1,070 triliun pada semester I tahun 2005 menjadi Rp 545 miliar.

Anjloknya laba akibat peningkatan biaya pokok penjualan. "Biaya pokok penjualan timbul akibat meningkatnya beban cukai dan pajak pertambahan nilai akibat kenaikan cukai bulan Juli 2005 dan April 2006," kata Direktur yang juga Sekretaris Perusahaan Gudang Garam Heru Budiman, dalam pemaparan kepada publik di Indonesia Investor Forum, Senin (31/7) di Jakarta.

Secara keseluruhan produksi industri rokok keretek pada paruh pertama tahun 2006 ini mengalami penurunan 12 persen. Ini seiring dengan penurunan penjualan akibat berkurangnya daya beli yang dipicu kenaikan harga jual eceran serta harga bahan bakar minyak.

Pada semester I tahun 2005 volume produksi rokok keretek baik tangan maupun mesin sebesar 108,3 miliar batang. Sementara pada semester I tahun 2006, produksi menjadi 94,8 miliar batang.

"Untuk enam bulan ke depan, kondisi penjualan rokok keretek masih akan sangat bergantung pada membaiknya daya beli masyarakat. Saya harap tidak akan turun sebesar 12 persen lagi. Setidaknya bisa sama dengan angka 2005 sebesar 207 miliar batang," ungkap Heru Budiman.

Menurut Heru, hampir semua produsen rokok mengalami penurunan volume penjualan pada semester pertama ini, kecuali untuk PT HM Sampoerna Tbk.

Semua pangsa pasar perusahaan pada semester I 2006 memang mengalami penurunan, kecuali Sampoerna. Gudang Garam mengalami penurunan pangsa pasar dari 31 persen di semester I 2005 menjadi 29,5 persen pada semester I 2006.

Pangsa pasar Djarum menurun dari 18,7 persen pada semester I 2005 menjadi 17,4 persen pada semester ini. Merek rokok lain turun dari 21,6 persen pada tahun lalu menjadi 21,2 persen. Hanya Sampoerna yang mengalami peningkatan dari 16 persen pada tahun lalu menjadi 18,9 persen.

Sementara itu PT Apexindo Pratama Duta Tbk pada semester I tahun 2006 berhasil membukukan laba bersih yang meningkat 364,1 persen, dari rugi bersih Rp 72,5 miliar pada semester I 2005, menjadi laba bersih Rp 191,5 miliar.

"Peningkatan laba bersih ini terutama dipicu oleh pertumbuhan pendapatan yang meyakinkan, ditunjang dengan kemampuan Apexindo untuk terus melakukan efisiensi biaya serta keberhasilan menekan distorsi pada laporan laba rugi," kata Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan.

Pendapatan perseroan pada semester I tahun ini naik dari Rp 490,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 634,3 miliar.

Kontribusi pendapatan dari segmen rig darat naik 85,5 persen menjadi Rp 193,9 miliar dibandingkan Rp 104,5 miliar pada tahun sebelumnya.

Peningkatan pendapatan tersebut , ujar Agustinus, dipicu oleh keberhasilan Apexindo dalam mendapatkan beberapa kontrak baru dengan peningkatan harga sewa harian. (TAV/OIN/DAY)

Apexindo optimistis raih laba US$20 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk optimistis dapat mencapai laba bersih US$20 juta hingga akhir tahun ini dengan kenaikan pendapatan sebesar 20% dibandingkan tahun lalu.

Pertumbuhan kinerja Apexindo itu akan berlanjut karena beberapa rig seperti rig lima, delapan, dan dua akan memberikan tambahan pendapatan pada semester kedua.

"Pendapatan Apexindo tahun ini diperkirakan mencapai US$125 juta-US$130 juta dibandingkan tahun lalu US$116 juta," tutur Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan, kemarin.

Pada semester pertama tahun ini, laba bersih Apexindo mencapai Rp191,48 miliar dibandingkan dengan rugi bersih Rp72,51 miliar.

Tanpa menyertakan adanya transaksi swap, katanya, laba bersih dari operasi Apexindo mencapai sekitar Rp121 miliar. "Kalau angka itu disetahunkan, paling tidak kami membukukan laba bersih Rp242 miliar tahun ini."

Pada semester satu 2006, anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk itu membukukan kenaikan pendapatan 29,4% menjadi Rp634,25 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp490,32 miliar.

Kenaikan itu disebabkan peningkatan sumbangan pendapatan dari segmen rig darat sebesar 85,5% menjadi Rp193,9 miliar dibandingkan Rp104,5 miliar.

Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi emiten pengeboran itu juga meningkat 42,8% menjadi Rp278,28 miliar pada semester pertama 2006 dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp194,85 miliar.

Laba usaha Apexindo meroket 78,4% menjadi Rp190,55 miliar pada semester pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp106,83 miliar.

Tahun ini, tutur Agustinus, Apexindo menganggarkan belanja modal US$142 juta di mana US$22 juta untuk pemeliharaan rig dan selebihnya untuk membayar pembangunan rig Soehanah yang sebagian sudah dilunasi sebesar US$30 juta.

Pinjaman sindikasi

Apexindo mendapatkan pinjaman sindikasi US$120 juta dari Natexis, Standard Chartered Bank, UOB Singapura, Goldman Sachs, dan PMA, manager investasi Hong Kong.

"Mudah-mudahan kesepakatan pinjaman itu dapat ditandatangani bulan ini sehingga Januari tahun depan dapat digunakan oleh Apexindo," tuturnya.

Rasio utang berbunga bersih dibandingkan ekuitas Apexindo menurun menjadi 0,3 kali. Perusahaan itu dapat meningkatkan likuiditas seiring dengan peningkatan kas dan setara kas secara signifikan sebesar 134,6% menjadi Rp292,4 miliar karena kenaikan kinerja.

Kemampuan Apexindo dapat membayar bunga juga meningkat yang tercermin pada interest coverage menjadi 10,8 kali.

Oleh Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia

Saturday, July 29, 2006

ALCO pastikan beli Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (ALCO) memasuki tahap lanjutan untuk membeli 32,152% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk senilai US$550 juta kendati PT Medco Energi International Tbk, pemegang saham mayoritas Apexindo, masih membuka kesempatan kepada pihak lain untuk berkompetisi dalam transaksi tersebut.

Koran Times of India melaporkan ALCO, perusahaan pengeboran minyak asal India, memastikan rencana pembelian saham Apexindo dengan harga perkiraan US$550 juta atau sekitar Rp5 triliun, tulis Bloomberg.

Koran itu melaporkan ALCO berencana menjual sebagian saham miliknya yang ada di unit Singapura untuk mendanai akuisisi tersebut. ALCO berniat mengumpulkan dana US$200 juta melalui opsi menjual saham unit usahanya tersebut atau menerbitkan obligasi dalam denominasi mata uang asing.

Pada 18 Mei, ALCO melaporkan rencana pembelian saham perusahaan pengeboran Indonesia kepada National Stock Exchange India. Dalam pengumuman terpisah ke Bursa Efek Jakarta pada 31 Mei, ALCO menyatakan akan membeli 32,152% saham Apexindo.

Pernyataan ALCO ini berbeda dari niat Medco sebelumnya yang akan melepas seluruh sahamnya di Apexindo sebanyak 51,78%.

Isu masuknya ALCO mengerek saham Apexindo hingga menyentuh rekor Rp1.760 pada penutupan perdagangan Kamis lalu. Namun harga saham itu kemarin terkoreksi Rp40 menjadi Rp1.720.

Transaksi saham Apexindo sempat naik tajam pada Kamis dengan volume 22,63 juta lembar. Tetapi kemarin volume transaksi saham perusahaan penyewa rig (alat pengebor migas) ini turun menjadi 2,16 juta lembar.

Kinerja dan prediksi kinerja PT Apexindo Pratama Duta Tbk

2005 2006* 2007*

Pendapatan (Rp miliar) 1.135,6 1.247,1 2.236,5

Pertumbuhan pendapatan (%) 11,2 9,8 79,3

EBITDA (Rp miliar) 459,9 495,5 908,3

Pertumbuhan EBITDA (%) 38,4 7,7 83,3

Laba bersih (Rp miliar) (43,1) 133,2 321,5

Earning per share (Rp) (16,7) 51,6 124,5

Sumber: Danareksa Sekuritas

* = perkiraan

Dirut Medco Energi International Tbk (Medco) Hilmi Panigoro mengatakan Medco sudah menerima penawaran itu. "Tapi kami belum mengambil keputusan karena harus mempelajari lebih lanjut," ujarnya kepada Bisnis.

Dia mengakui dalam penawaran yang diterima, ALCO belum menyebutkan berapa harga yang disanggupi oleh pembeli tersebut. "Boleh saja mereka sebagai pembeli menyebut angka itu. Tapi kami belum mengambil keputusan."

Berkompetisi

Helmi melanjutkan kendati ALCO sangat serius untuk membeli saham Apexindo, Medco akan tetap memberi kesempatan kepada pihak lain berkompetisi dalam transaksi tersebut untuk mencari penawaran terbaik.

Namun, Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade. R. Satari mengaku tidak mengetahui rencana pembelian saham Apexindo itu. "Waktu itu pernah disebutkan bahwa Aban Loyd sebagai pihak yang berminat membeli, tetapi kelanjutannya kami tidak tahu."

Hingga Kamis, katanya, belum ada informasi apa pun terkait pelaksanaan transaksi tersebut.

Sekretaris Perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk Andy Karamoy juga mengaku belum mendapat informasi apapun mengenai pembelian saham Apexindo.

Medco, yang bergerak dalam bidang pengeboran minyak dan gas, menguasai 51,78% saham Apexindo. Pemegang saham Apexindo lainnya per 30 Juni 2006 adalah Asian Opportunities Fund I Segregated 15,8%, dan CLSA Ltd yang mewakili kliennya memegang 15,8%.

Menurut Sebastian Tobing, analis pertambangan dari Trimegah Securities, pembelian US$550 juta itu akan setara dengan Rp1.950 per saham. Diharapkan transaksi itu akan berdampak positif bagi pemegang saham Medco.

Medco akan berpeluang membeli ladang migas baru atau mengembangkan ladang yang ada setelah transaksi itu.

"Rumor penjualan saham Apexindo ini sudah cukup lama. Kalau hal itu terjadi, tujuan Medco lebih fokus ke bisnis pengeboran minyak akan tercapai."

Sedangkan analis Danareksa Sekuritas Bonny Setiawan memperkirakan akuisisi 53% saham Apexindo akan selesai pada akhir bulan ini dengan harga premium.

Dengan akuisisi itu, Apexindo akan mempunyai sinergi teknis meski bukan dalam dukungan finansial. "Apexindo membutuhkan tambahan dana jika mereka memutuskan menambah jack-up rig lagi pada 2008, dan tambahan pinjaman ini tampaknya akan datang dari ALCO."

Menurut Kepala Divisi Pencatatan Sektor Riil BEJ Yose Rizal, bursa menunggu kabar lebih lanjut tentang realisasi transaksi itu. Jika transaksi terjadi, ALCO diperkirakan wajib melakukan penawaran tender. (Pudji.Lestari@Bisnis.co.id & abraham.runga@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari & Abraham Runga

Bisnis Indonesia