Friday, September 22, 2006

Medco berpeluang lepas Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Medco Energi Internasional Tbk akan kembali mempertimbangkan penjualan anak usahanya, PT Apexindo Pratama Duta Tbk, jika muncul tawaran pembelian yang menarik di masa mendatang.

Pemilik Medco Group Arifin Panigoro mengatakan perseroan memang secara resmi telah membatalkan rencana penjualan Apexindo beberapa waktu lalu. Namun, keputusan itu tak berlaku permanen sehingga penjualan itu bisa saja kembali dilakukan sewaktu-waktu di masa mendatang.

"Perusahaan terbuka seperti kami kan memperhitungkan keuntungan. Kalau harganya bagus sekali mungkin juga [Apexindo] dijual," ujarnya.

Hingga kini, lanjut dia, perseroan masih mempertahankan perusahaan jasa pengeboran itu karena dinilai masih strategis untuk menopang proyek eksplorasi migas mereka.

Dia menjelaskan biaya sewa jasa pengeboran di luar Apexindo masih terlalu mahal jika dibandingka menggunakan jasa anak usahanya sendiri. Karenanya, perseroan masih mempertahankan perusahaan tersebut.

Sebelumnya, Medco berencana menjual 52% saham yang dimilikinya di Apexindo. Tiga investor asing telah menyebutkan minatnya yakni Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (ALCO) dari India, China Oilfield Services Limited (COSL), dan China National Offshore Oil Corporation Limited (CNOOC).

ALCO menawar harga saham Med-co senilai US$550 juta atau Rp3.666 per lembar saham, sementara China Oilfield Services Limited (COSL) dan China National Offshore Oil Corpo-ration Limited (CNOOC) telah meng-gelar uji tuntas (due dilligence).

Namun, Medco membatalkan ren-cana penjualan tersebut. Dalam riset tentang Apexindo kemarin, Danareksa Sekuritas meyakini dua alasan pembatalan penjualan Apexindo.

Pertama, keputusan itu di luar dari tujuan strategis Medco yang fokus pada bisnis eksplorasi dan produksi. Kedua, karena harga penawaran yang terlalu rendah da tingkat sewa rig di pasar saat ini naik empat hingga lima kali lipat dibandingkan tahun lalu

Arifin menegaskan pembatalan penjualan Apexindo itu bukan karena harga penawaran yang terlampau rendah, melainkan lebih karena masih besarnya kebutuhan jasa pengeboran perusahaan energi itu.

Dia mengakui harga penawaran yang diberikan investor atas saham Apexindo sangat bagus. Pihaknya dapat membukukan keuntungan besar karena sahamnya terjual dengan harga premium.

"Pembatalan kemarin karena pertimbangan bisnis karena kami masih perlu dukungan jasa drilling. Kalau Apexindo dilepas, jangan-jangan untuk operasi kami sendiri nanti malah susah," tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Dalam perdagangan kemarin, saham Medco (MEDC) diperdagangkan seharga Rp3.350 atau menguat Rp100 dari posisi penutupan sehari sebelumnya. Sementara itu, saham Apexindo diperdagangkan seharga Rp1.570 atau turun Rp10.

Pernyataan pembatalan penjualan saham Apexindo pada 12 Agustus lalu, menyebabkan harga saham emiten tersebut anjlok Rp190 ke posisi Rp1.560. Ini merupakan penurunan terbesar sejak 18 Agustus 2005. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.

Bisnis Indonesia

Wednesday, September 20, 2006

APEXINDO LINDUNGI EKOSISTEM DI TELUK BANTEN


Pada tanggal 20 September 2006, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (“Apexindo”/”Perseroan”) melaksanakan acara pencanangan kegiatan penanaman bakau dan lamun (sea weed) di Teluk Banten, Propinsi Banten. Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Serang, Dinas Pengendalian Lingkungan Hidup Kabupaten Serang dan Lembaga Swadaya Masyarakat Rekonvasi Bhumi. Pada kegiatan ini, Apexindo akan menanam pohon bakau seluas 2 hektar dan lamun seluas 1,6 hektar di lokasi Teluk Banten.

“Inisiatif penanaman bakau dan lamun di Teluk Banten ini menunjukkan kepedulian Apexindo dalam melindungi ekosistem setempat, mengingat tanaman bakau dan lamun merupakan elemen penting dalam jaringan ekosistem laut. Sebagai perusahaan pemboran yang berhubungan erat dengan lingkungan hidup, Manajemen Apexindo sangat menaruh perhatian pada faktor kesehatan, keselamatan dan lingkungan. Manajemen Perseroan menginginkan tidak adanya kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan Perseroan, lebih jauh lagi kami selalu berusaha untuk melindungi dan ikut melestarikan lingkungan”, demikian keterangan Hertriono Kartowisastro, Direktur Utama Perseroan.

Pemerintah Daerah Kabupaten Serang juga sangat mendukung pelaksanaan kegiatan ini. Bupati Serang, H. Taufik Nuriman, menyampaikan komentarnya, “Kerjasama yang baik antara Pemerintah Daerah dan dunia usaha telah dibuktikan melalui kegiatan ini. Kami berharap bahwa kegiatan pelestarian lingkungan yang sangat baik ini dapat diikuti oleh perusahaan-perusahan lainnya, khususnya di Kabupaten Serang”.

Hingga saat ini, kegiatan penanaman lamun di Indonesia untuk mengembalikan ekosistem laut belum pernah dilakukan dalam skala besar dan masih sebatas kegiatan penelitian. Wawan Kiswara dari Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI menyampaikan “Apexindo merupakan perusahaan yang pertama kali di Indonesia dan satu-satunya yang melakukan kegiatan penanaman lamun dalam skala besar dengan memberdayakan masyarakat setempat. Usaha ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk dapat mencapai tujuan menciptakan areal penangkapan ikan dan mengembalikan fungsi ekologis padang lamun di Teluk Banten”.

Pada kegiatan ini, Apexindo melibatkan 29 orang nelayan setempat sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat. Hertriono menjelaskan, “Kami juga mendorong peran serta masyarakat untuk ikut menjaga ekosistem di Teluk Banten dan mengingat mata pencaharian mereka sebagai nelayan, maka kami berharap bahwa pada akhirnya mereka akan ikut merasakan manfaat dari kegiatan ini.”

Tuesday, September 19, 2006

Drilling Rig Expected to Return to the Mubarek Field in Early November

Rigzone.com, Sky Petroleum 9/19/2006 --- Sky Petroleum and Crescent Petroleum Company International Limited, the operator of the Mubarek Field, announce that the Rani Woro jackup rig, currently drilling for another operator, is expected to return to the field around November 1, 2006. This date is approximately 45 days later than originally anticipated due to operational delays with the current operator. Earlier this year, Crescent signed a contract with P.T. Apexindo Pratama Duta Tbk, to drill the two obligation wells using the Rani Woro jackup rig. The Rani Woro can operate to a water depth of 350 feet and has a 25,000 foot drilling capacity.

As announced on July 26, 2006 Sky Petroleum and Crescent have agreed on a second well location to be drilled to the Ilam/Mishrif reservoir. The data from the first well, Mubarek H2, allowed an up to date assessment of the factors affecting reservoir performance in this mature field which indicated that the proposed J3 location should be reconsidered. The second well, designated Mubarek K2-ST3, will now be drilled on the northwest of the field proximal to the Mubarek K1 well location. K1 was drilled as Thamama producer (a deeper gas condensate reservoir underlying the Ilam/Mishrif) and electric log readings over the Ilam/Mishrif section indicate good oil saturated reservoir.

Crescent has also continued evaluating the H2 well. Following a review of the results of the Memory Production "MPLT" data, Crescent plans to carry out wireline work on the H2 well within the coming weeks. The objective will be to set a bridge plug to isolate perforations which appear to be producing water and no oil. In addition the planned alterations to the gas lift system in the well are anticipated to enable an increase in oil production from the well. After observing the well's performance as a result of this configuration change Crescent will evaluate whether a re-stimulation program of the zones in the Ilam section should be carried out. During August the oil production from the H2 well averaged approximately 200 bopd with an average water cut of 90%.

"We continue to generate revenues of approximately $200,000 per month and believe we will see improved income from the Mubarek Field when both wells are on production," said Brent Kinney, chief executive officer of Sky Petroleum, Inc. "We are also continuing to look at other oil and gas opportunities that will add shareholder value."

The Participation Agreement with Crescent gives Sky Petroleum the right to participate in a share of the future production revenue by contributing up to $25 million in drilling and completion costs related to two obligation wells in the Mubarek Field, offshore United Arab Emirates. The $25 million commitment for both wells was fully paid by the end of the first quarter of 2006. It is anticipated that the second obligation well, which will spud in the fourth quarter of 2006 will be completed within 45 days. On completion of the two obligation wells a further well development program will be evaluated. Sky Petroleum believes that there is potential for additional wells to be drilled and anticipates production from these wells to commence in late 2007 or 2008 subject to a positive evaluation and rig availability.

Monday, August 14, 2006

Apexindo bukan untuk dijual

Jakarta, Bisnis Indonesia: Pernyataan pembatalan penjualan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk oleh induknya PT Medco Energi Internasional Tbk pada Kamis lalu, telah menyebabkan harga sahamnya anjlok Rp190 ke posisi Rp1.560 per saham. Ini merupakan penurunan terbesar sejak 18 Agustus 2005.

Kendati demikian analis PT Danareksa Sekuritas Bonny Setiawan tetap menganggap fundamental Apexindo positif. Dia memperkirakan keputusan Medco itu dilandasi oleh dua hal.

Pertama, Medco menyimpang jauh dari tujuan strategisnya yaitu fokus pada bisnis eksplorasi dan produksi migas. Kedua, tawaran yang masuk terlalu rendah, terlebih tarif sewa rig (alat pengeboran migas) di pasar sekarang ini sudah naik empat hingga lima kali lipat dibandingkan tahun lalu.

"Namun apapun alasannya kami yakin kabar itu akan menjadi sentimen buruk, walaupun kami masih menganggap fundamental Apexindo tetap positif," tulis Bonny dalam laporannya.

Pada 10 Agustus, dia merevisi laba Apexindo pada tahun ini dan tahun depan bakal naik masing-masing sebesar 30,3% dan 8,9%. Ini ditunjang oleh biaya operasi perseroan pada semester I/2006 yang lebih kecil dari ekspektasi.

Bonny menilai biaya ini akan bertahan dalam tiga tahun ke depan, sehingga mengangkat margin EBIT untuk 2006 dan 2007 masing-masing sebesar 26,7% dan 29,8%.

Selain itu, faktor pendukung lainnya adalah biaya bunga yang lebih rendah, terutama untuk obligasi sebesar Rp750 miliar yang diterbitkannya. Berkat kesepakatan transaksi swap, biaya bunga bersih menjadi hanya 8%-9% per tahun dibandingkan biaya aslinya yang sebesar 12,25%.

Pada kurun yang sama, perseroan juga mampu mencapai tingkat efisiensi yang lebih besar yang akhirnya memangkas biaya operasi dari tahun ke tahun sekitar 1% menyusul tuntasnya pembangunan gudang rig di Bojonegara.

Sementara itu, pembangunan jack-up rig baru yang dinamai Soehanah sudah mencapai 70% pada Juni. Ini menunjukkan pengirimannya akan sesuai jadwal yakni Januari 2007.

Apexindo berencana untuk memiliki jack-up rig baru lagi pada 2009, dengan harga pasar yang sekarang US$200 juta. "Neraca sepertinya tak mungkin diregangkan untuk itu, mengingat estimasi net gearing untuk 2008 hanya 48,8%," kata Bonny.

Jika perseroan melanjutkan rencananya, tambahan jack-up rig ini diharapkan menambah pemasukan sebesar US$64,8 juta dengan asumsi utilisasi 100% dan EBITDA sebesar US$36,9 juta.

Danareksa kembali memberi peringkat tahan terhadap saham Apexindo. Di saat yang sama target harganya dinaikkan menjadi Rp1.868, dari sebelumnya Rp1.800 per saham.

Sementara itu, analis Kim Eng Securities Andrey Wijaya memangkas estimasi laba bersih perseroan pada tahun ini dari Rp232 miliar menjadi Rp217 miliar. Sedangkan estimasi penjualan diturunkan dari Rp1,4 triliun menjadi Rp1,36 triliun.

Menurut dia, indikasi EBITDA sebesar US$60 juta sejalan dengan ekspektasi. Begitu juga dengan utilisasi rig darat. Namun, utilisasi rig lepas pantai di bawah ekspektasi.

"Kami yakin alasan utama Medco membatalkan penjualan Apexindo karena ingin mengamankan peluang pemasukannya di masa datang," kata dia. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari

Wartawan Bisnis Indonesia

Saturday, August 12, 2006

Nilai Aktiva Apexindo Capai Rp 2,85 T

Jakarta – Nilai aktiva PT Apexindo Pratama Duta Tbk tercatat Rp 2,85 triliun pada semester pertama 2006, bukan sebesar Rp 2,95 triliun seperti diberitakan Investor Daily (11/8).

Pada tabel berita yang sama tertulis perseroan merugi Rp 72,51 miliar pada semester pertama 2006, seharusnya mencetak laba bersih sebesar Rp 190,55 miliar pada semester pertama 2006.

Sebelumnya, pemegang saham PT Medco Energi Internasional Tbk, induk perusahaan Apexindo, membatalkan rencana penjualan 51,88% sahamnya di perseroan kepada investor India dan Cina.

Pada perdagangan kemarin, harga saham Apexindo menguat 40 poin menjadi Rp 1.600 per lembar. Jumlah saham berpindahtangan mencapai 6,11 juta lembar dengan nilai transaksi Rp 9,73 miliar. (hut)

Friday, August 11, 2006

Medco batal jual Apexindo

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Medco Energi Internasional Tbk membatalkan niatnya untuk menjual 52% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk karena mempertimbangkan aspek strategis perusahaan pengeboran itu.

Padahal, Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (ALCO) dari India menawar saham Medco US$550 juta atau Rp3.666 per saham.

China Oilfield Services Limited (COSL) juga sudah terang-terangan menyatakan berminat terhadap Apexindo seiring dengan China National Offshore Oil Corporation Limited (CNOOC).

ALCO telah menyampaikan harga penawaran awal, sedangkan COSL dan CNOOC baru sampai tahap uji tuntas Apexindo.

"Kami sudah memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengajukan penawaran. Setelah dievaluasi, pemegang saham Medco sepakat tidak ingin menjual Apexindo dalam jangka panjang," tutur CEO Medco Energi Hilmi Panigoro sesuai Annual Report Award, kemarin.

Menurut dia, pembatalan penjualan saham Apexindo bukan karena soal harga melainkan terkait strategi jangka panjang dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

"Kami sudah menyampaikan kepada calon pembeli bahwa Medco tidak berniat menjual Apexindo, sehingga uji tuntas yang mereka lakukan dihentikan," tutur Hilmi.

Kemarin, harga saham Apexindo ditutup merosot ke Rp1.560 per saham dari penutupan sebelumnya Rp1.750 per saham. Saham Apexindo mencapai titik tertinggi Rp1.910 pada penutupan 2 Agustus.

Dalam riset Apexindo kemarin, Danareksa Sekuritas meyakini dua alasan yang masuk akal terhadap keputusan Medco. Pertama, keputusan itu di luar dari tujuan strategis Medco yang fokus pada bisnis eksplorasi dan produksi.

Kedua, harga penawaran yang terlalu rendah di mana tingkat sewa rig di pasar saat ini naik empat hingga lima kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Apapun alasannya, Danareksa percaya berita itu akan merusak sentimen meskipun fundamental Apexindo masih dipandang positif.

Sekuritas itu telah menaikkan prediksi laba bersih tahun ini dan 2007 masing-masing 30,3% dan 8,9% dengan pertimbangan biaya operasi pada semester pertama tahun ini yang lebih rendah dari estimasi, yang diprediksi dapat dipelihara hingga tiga tahun ke depan, mendongkrak prediksi margin EBIT tahun ini dan 2007 masing-masing menjadi 26,7% dan 29,8%.

Tingkat bunga yang lebih rendah dari prediksi, terutama dari obligasi Rp750 miliar, yang dimasukkan ke transaksi swap menjadi biaya bunga bersih sebesar 8%-9% per tahun dibandingkan bunga sebenarnya 12,25% per tahun. (wisnu. wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia

Medco Tidak Menjual Apexindo

Jakarta, kompas - PT Medco Energi Internasional Tbk memutuskan untuk tidak menjual anak usahanya PT Apexindo Pratama Duta Tbk, yang beberapa waktu lalu sempat diminati oleh tiga pembeli asing. Alasannya bukan karena harga pembelian yang tidak cocok, melainkan karena alasan strategis dan nasionalisme.

Presdir PT Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro menjelaskan, ke depan jasa pengeboran minyak dan gas akan menjadi hal yang semakin langka.

Jika Apexindo dilepas ke pembeli asing, akan lebih sulit bagi Medco untuk mendapatkan rig-rig dengan harga murah.

"Untuk menjaga suplai migas tetap ada kan memerlukan rig. Nah, keberadaan Apexindo untuk alasan strategis tersebut," kata Hilmi, usai menerima penghargaan laporan keuangan terbaik 2005, Kamis (10/8) di Jakarta.

Apexindo merupakan perusahaan jasa pengeboran yang memiliki peran cukup signifikan di Indonesia. "Kalau perusahaan ini kami jual, Indonesia tidak punya perusahaan pengeboran yang berarti," kata Hilmi.

Hilmi mengatakan, Apexindo tidak dijual bukan karena harga penawaran dari pembeli yang tidak cocok.

"Medco memang tidak pernah niat untuk menjual Apexindo. Namun, sebagai perusahaan publik, jika ada tawaran pembelian seperti itu, harus kami pertimbangkan dan evaluasi. Nah, setelah dievaluasi ternyata tawaran tersebut tidak sesuai dengan strategi perusahaan," kata Hilmi.

Pada akhir Mei 2006, sebuah perusahaan patungan milik India, Aban Loyd Chiles Offshore Ltd (ALCO) menyatakan minatnya untuk membeli Apexindo.

Beberapa perusahaan asing lainnya juga menyatakan minat untuk membeli perusahaan yang 51,78 persen sahamnya dimiliki Medco tersebut.

Tanggal 30 Mei 2006, harga saham Apexindo berada di level Rp 1.350. Pada bulan Juli, harganya terus meningkat, dimana pada 31 Juli mencapai Rp 1.760.

Bahkan pada 2 Agustus lalu, harga saham Apexindo mencapai Rp 1.910, namun hari Kamis kemarin (10/8) harganya terkoreksi menjadi Rp 1.560.

Sementara itu, harga saham Medco cenderung stabil sejak Mei lalu. Namun , harganya turun dari Rp 3.800 pada 9 Agustus jadi Rp 3.575 di tanggal 10 Agustus.

Jabar pusat bisnis

Sementara itu PT ELNUSA memantapkan Jawa Barat sebagai pusat bisnis energi mereka.

Lewat PT Jabar Energy, perusahaan patungan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, ELNUSA membidik pengembangan biofuel, pembangunan kilang elpiji mini, dan pengembangan minyak tanah dari kondensat.

Direktur Operasi dan Marketing ELNUSA Eddy Sjahbuddin mengatakan, proyek-proyek itu diharapkan sudah bisa direalisasikan tahun 2007.

"Potensi energi di Jawa Barat cukup banyak untuk dikembangkan, seperti potensi migas di Pondok Tengah, Bekasi, Subang, Cirebon" ujarnya.

Menurut Eddy, Elnusa akan membangun pabrik elpiji mini dengan nilai investasi 8 juta dollar AS di Subang.

ELNUSA juga akan mencoba memproduksi minyak tanah dari turunan kondensat sehingga harganya bisa lebih murah daripada minyak tanah subsidi.

Selain itu, ELNUSA akan menyiapkan lokasi di sekitar Pelabuhan Bojonegara di Provinsi Banten, untuk membangun kilang minyak berkapasitas 400.000 barrel per hari.

Bojonegara memiliki kelebihan karena pelabuhan alaminya lebih dalam sehingga cocok untuk kapal tanker besar dan dekat dengan sumber gas alam di sekitar Laut Jawa maupun Sumatera Selatan. (TAV/DOT)

Medco jadi juara ARA

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Panitia pemilihan Annual Report Award (ARA) memutuskan PT Medco Internasional Tbk sebagai juara umum setelah pada tahun lalu menyabet gelar yang sama.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemilihan PT Medco Internasional Tbk merupakan gambaran dari kinerja seluruh elemen perusahaan yang ikut terlibat dalam menggerakkan perusahaan.

"Di dalam penilaian tentunya meliputi semua aspek kinerja, perusahaan yang tidak menang mungkin disebabkan karena laporan keuangan yang bagus tetapi waktu wawancara direksinya tidak mengerti. "

Terpilih untuk kategori non keuangan listed adalah PT. Adhi Karya Tbk di peringkat pertama di susul, PT Perkebunan Nusantara V, dan PT Tambang Bukit Asam Tbk.

Selanjutnya untuk kategori, nonkeuangan yang belum terbuka adalah PT Petrokimia Gresik, PT Perkebunan Nusantara XIII, dan PT Rekayasa Industri. Kategori nonkeuangan perusahaan swasta tercatat adalah Medco, PT Indosat Tbk, dan PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk.

Lembaga yang terpilih untuk kategori nonkeuangan private nonlisted adalah PT BEJ.

Untuk kategori keuangan BUMN private listed adalah Perum Pegadaian, PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Oleh M. Munir Haikal & Rahayuningsih

Bisnis Indonesia

Medco Energi Juara Umum ARA

Jakarta (Media Indonesia): PT Medco Energi Internasional Tbk kembali mengantongi juara umum Penghargaan Laporan Tahunan (Annual Report Award/ARA) 2005. Setahun sebelumnya, perusahaan milik keluarga Panigoro ini juga menyabet gelar yang sama.

ARA merupakan kegiatan rutin tahunan. Program ini hasil kerja sama antara Departemen Keuangan (Depkeu), Kementrian BUMN, BI, BEJ, Komnas GCG dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Pemenang lain PT Adhi Karya Tbk, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk sebagai pemenang untuk kategori nonkeuangan BUMN listed. Kategori nonkeuangan BUMN, non-listed adalah PT Petrokimia Gresik, PTPN XIII, dan PT Rekayasa Industri (Rekin). Kategori nonkeuangan private-listed adalah PT Indosat Tbk dan PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk. Sementara kategori nonkeuangan private non-listed adalah Bursa Efek Jakarta.

Kategori keuangan listed adalah Perum Pegadaian, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Sedangkan untuk kategori keuangan private listed adalah PT Bank Niaga Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, dan PT Bank Bumiputera Tbk.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyayangkan turunnya jumlah peserta ARA dari 122 pada 2005 menjadi hanya 105 pada 2006. Padahal, menurutnya laporan keuangan seharusnya sudah menjadi kewajiban moral dan etika perusahaan baik yang sudah terdaftar di bursa (listed) maupun yang belum (non-listed).

Apexindo Batal Dijual

Sementara Presdir PT Medco Energi Internasional Tbk, Hilmi Panigoro menyatakan, pihaknya tidak pernah berniat menjual anak perusahaannya PT Apexindo Pratama Duta Tbk meskipun ada penawaran dari sejumlah calon investor.

Hilmi mengungkapkan hal itu terkait dengan minat China Oilfield Services (COSL) untuk membeli Apexindo, perusahaan pengeboran minyak dan gas bumi (operator rig) ini. Selama ini, 51,7% saham Apexindo dimiliki PT Medco Energi Internasional Tbk. (Mel/Ant/E-3)

Medco Energi Batal Jual Apexindo

JAKARTA, Koran Tempo -- PT Medco Energi International Tbk. membatalkan rencana penjualan anak usahanya, PT Apexindo Pratama Duta Tbk. Alasannya, perusahaan pengeboran minyak dan gas itu memiliki nilai strategis bagi Medco. "Alasan strategis," kata Presiden Direktur Medco Hilmi Panigoro di Jakarta kemarin.

Sebagai kontraktor yang sangat ahli menangani pengeboran minyak bumi di darat dan lepas pantai, Apexindo memiliki kemampuan drilling rig yang masih langka di Indonesia. Jadi, bila Apexindo sampai dijual, Medco sebagai perusahaan minyak dan gas bumi bakal kesulitan mencari kontraktor yang ahli dalam pengeboran sumur-sumur minyak.

Hilmi mengatakan Medco akan tetap menggunakan kemampuan teknologi Apexindo dalam dua hingga tiga tahun ke depan. "Sebab, kami melihat kesulitan industri drilling masih berlangsung selama masa itu," katanya. Jadi selama masa waktu itu, keputusan Medco sudah bulat: tak bakal menjual Apexindo.

Hingga kini Medco menguasai 52,4 persen saham Apexindo. Selain perusahaan milik Arifin Panigoro itu, komposisi pemegang saham Apexindo adalah Seadrill Ltd.--melalui Abacus Capital International Ltd.--sebanyak 32,3 persen dan publik 15,3 persen. Selama setahun terakhir ini beredar kabar bahwa Medco bakal menjual Apexindo karena dinilai tidak termasuk dalam bisnis inti perusahaan. Bahkan sekitar sebulan lalu ada tiga perusahaan asal Cina dan India yang menyatakan berminat membeli Apexindo.

Tapi Hilmi membantah jika dinyatakan bahwa Medco pernah berniat menjual Apexindo. "Memang ada yang datang kepada kami untuk membelinya," kata dia. Sebagai perusahaan publik, Medco mengevaluasi penawaran tersebut. "Hasilnya, pemegang saham tidak setuju untuk menjual Apexindo," katanya.

Dia membantah pernyataan bahwa Medco tidak bersedia menjual Apexindo karena tidak tercapai kesepakatan harga dengan calon pembeli. Menurut Hilmi, hingga kini memang belum ada proses penjualan ataupun uji tuntas (due diligence) dari calon pembeli. "Ini bukan soal harga, melainkan karena strategi perusahaan untuk mempertahankan Apexindo," katanya.

Pernyataan Hilmi berbeda dengan pengakuan Investor Relation Medco, Nusky Suyono, sekitar dua pekan yang lalu. Menurut Nusky, tiga investor asal Cina dan India telah memasukkan penawaran untuk membeli Apexindo. "Medco menginginkan harga premium karena sebagai pemilik saham mayoritas," katanya. YULIAWATI | BUDI RIZA