Saturday, November 25, 2006

Apexindo bukan big boy

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk sempat akan dijual oleh induknya PT Medco Energi Internasional Tbk. Perusahaan minyak dari India Aban Loyd Chiles Offshore Ltd bahkan sudah menawar 52% saham Apexindo di Medco senilai US$550 juta atau Rp3.666 per saham. Namun, dengan alasan harga yang tidak cocok, divestasi itu batal.

Seberapa prospektif bisnis Apexindo sehingga kini menjadi 'emas' bagi bisnis keluarga Panigoro itu, berikut petikan perbincangan Bisnis dengan Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan:

Bagaimana prospek jasa pengeboran di tengah kecenderungan dunia yang mulai mengalihkan penggunaan bahan bakar fosil ke biofuel?

Kalau melihat nilai ekonomis dan investasinya, dampak dari peralihan itu bersifat jangka panjang. Bila dilihat dari proyeksi International Energy Agency [IEA], meski permintaan gas dan batu bara meningkat, permintaan minyak masih mencapai 2% setahun karena minyak diperlukan bukan saja untuk energi listrik dan transportasi, tetapi segala macam, termasuk industri kimia.

Dengan pertumbuhan permintaan yang masih positif, kebutuhan mencari cadangan atau eksplorasi migas pun meningkat. Untuk itu diperlukan pengeboran yang sekarang ini tentunya lebih ekspansif karena permintaan yang luar biasa, meningkat satu level didorong permintaan dari India dan China dalam dua atau tiga tahun terakhir.

Dengan harga minyak yang naik di atas US$50 per barel, semua membangun rig dan yang dibangun adalah jack-up [rig berkaki untuk pengeboran lepas pantai] dan floaters [rig terapung yang bisa langsung mengebor di laut dalam]. Memang dikhawatirkan terjadi kelebihan pasok rig, tetapi kebutuhan akan anjungan pengeboran itu semakin mendesak.

Apakah potensi bisnis rig lepas pantai semenarik rig darat?

Pencarian minyak di darat mengalami keterbatasan, sementara di laut banyak yang belum dijamah. Areanya masih luas, nah itu masih bisa digarap. Contohnya di Kepulauan Natuna atau di Laut Utara, Norwegia [wilayah eksplorasi minyak] berada di laut yang sangat dalam.

Kalau dulu eksplorasi di laut dalam sulit dilakukan karena biaya operasionalnya besar sekitar US$2 per barel, bahkan sampai US$12 per barel di North Sea dengan harga minyak US$18-US$20 per barel. Dengan harga minyak di atas US$50 per barel, kini hal itu menjadi feasible.

Jadi perusahaan minyak terus mencari cadangan. Di samping itu, mereka yang sudah berproduksi mempertahankan supaya produksinya tidak turun. Sumur itu tetap harus digali dan dirawat. Itu kan perlu rig. Rig yang kami punya bisa untuk eksplorasi dan eksploitasi, jadi kemungkinan mendapatkan kontrak ada. Nah Apexindo fokus untuk eksploitasi.

Meski harga minyak belakangan ini turun, kami tidak perlu khawatir karena kebutuhan rig akan tetap ada.

Makanya Apexindo tidak punya luxury seperti yang lain, jual mahal, tarif sewa rig kami US$165.000 per hari. Padahal di pasar mencapai US$220.000 per hari. Tetapi apalah artinya US$220.000 kalau bersifat jangka pendek. Apexindo dapat kontrak US$165.000 per hari dalam tiga tahun di lapangan migas Sisi dan Nubi, Kaltim untuk jack-up Soehanah dari Total E&P Indonesie.

Apexindo berencana untuk memiliki jack-up ketiga. Apakah itu karena ada kontrak baru lagi?

Sebelum Pak Pierre [Ducasse, Direktur Apexindo] meninggal, kami sudah mengadakan pertemuan dengan Total di Paris. Mereka tawarkan proyek di Nigeria, tetapi kami tertarik di Iran karena jumlah cadangannya besar sekali dan mereka memberikan dalam lima tahun. Sekarang ini kami sedang mengadakan pertemuan intensif dengan mereka.

Bagaimana dengan pesaing lainnya?

Pesaing ada, tetapi mereka mengetahui siapa Apexindo. Kalau harganya cocok, tidak terlalu mahal pasti kami ambil. Kami bukan big boy yang punya rig banyak. Punya 50 rig, nganggur 5-10 tidak masalah. Kami hanya punya jack-up rig dua [Raniworo dan Soehanah] dan akan membangun yang ketiga. Kalau satu tidak dapat proyek, wah... sudah berapa pendapatan yang hilang.

Pewawancara: Pudji Lestari

Bisnis Indonesia

Thursday, November 23, 2006

Penguatan Saham Apexindo Berlanjut

JAKARTA, Investor Daily --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan melanjutkan penguatan untuk perdagangan jangka pendek. Penguatan APEX akan tertopang faktor teknis maupun fundamental.

“Kabar penjualan saham APEX oleh perusahaan induk (Medco, red) ikut mendorong penguatan harganya,” kata analis PT Danasakti Securities Arief Budisatria kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (21/11).

Pada perdagangan kemarin, APEX menguat Rp 110 ke posisi Rp 1.870. Saham sektor pertambangan tersebut ditransaksikan 842 kali, dengan volume transaksi sebanyak 18,59 juta saham senilai Rp 33,85 miliar.

Menurut Arief, secara teknis, saham Apexindo berpotensi melanjutkan penguatan untuk jangka pendek. Konfirmasi tersebut terbaca dari indikator stochastic oscillator dan moving average convergence divergence (MACD) yang masih menunjukkan ruang bagi APEX untuk bergerak ke atas. “Jika level resistance Rp 1.940 tertembus dalam waktu dekat, kemungkinan besar APEX akan membentuk harga baru,” jelasnya.

Indikator teknis lain seperti relative strength index (RSI) 10 hari juga memperlihatkan arah menguat pada saham Apexindo dalam waktu dekat. Meski RSI lima hari menunjukkan peluang aksi ambil untung (profit taking), karena posisi saham mulai memasuki area jenuh beli (overbought). “Sepertinya konfirmasi itu bisa terpatahkan, karena volume transaksi yang cukup besar turut memicu penguatan harga sahamnya,” ujarnya.

Selain itu, kata Arief, faktor fundamental yang cukup menjanjikan turut mendukung penguatan APEX. Tahun ini, kinerja perseroan diperkirakan positif, setelah tahun sebelumnya mencatatkan rugi bersih. “Per September 2006 perseroan mengantungi laba bersih US$ 26 juta, sedangkan periode sama 2005 rugi bersih US$ 9,7 juta,” ujarnya.

Arief melanjutkan, pertumbuhan earning per share (EPS) Apexindo untuk tahun ini juga diprediksi mencapai Rp 146 per saham dibanding tahun sebelumnya minus Rp 17 (2005) dan Rp 16 pada 2004, terdorong perbaikan kinerja perseroan.

“Valuasi APEX pun termasuk murah dibanding saham sejenis seperti Antam, karena price to earning ratio (PER) Apexindo 12,8 kali dan price to book value (PBV) 2,74 kali. Sedangkan PER ANTM 13,98 kali, dengan PBV 4,44 kali,” jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Sarijaya Permana Sekuritas Muhammad Alfatih mengungkapkan, pada 2002, APEX mengalami tren naik dan sempat melemah antara Mei hingga Juni 2006, sebelum bergerak mendatar selama Agustus-November tahun ini di kisaran Rp 1.550-1.700.

“Kemarin (Senin, red) terjadi pengujian resistance yang ada, sehingga memungkinkan APEX bergerak kembali dengan target harga tertinggi sebelumnya di level Rp 1.940-1.980,” ujarnya.

Dia mengakui, jika saham Apexindo pada jangka pendek kembali menembus level resistance, harga APEX berpeluang bergerak menguat ke posisi resistance berikutnya Rp 2.225. “Potensi itu bisa terjadi, terutama bila sentimen positif masih menyertai pergerakan sahamnya,” tegas Alfatih.

Target Pendapatan

Sementara itu, pada 2006, Apexindo menargetkan pendapatan sebesar US$ 150 juta atau naik 29% dibanding akhir 2005 US$ 116,6 juta. Proyeksi tersebut dipicu oleh kenaikan harga sewa harian dan tingkat utilisasi rig milik perseroan. Manajemen Apexindo beberapa waktu lalu mengatakan, tingkat utilisasi rig lepas pantai ditargetkan mencapai 100% dan rig darat 70%.

Anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk tersebut juga memproyeksikan pendapatan sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 60-65 juta per 31 Desember 2006. Sedangkan marjin EBITDA diharapkan naik menjadi sekitar 45%, menyusul program efisiensi yang diterapkan secara konsisten.

Marjin EBITDA Apexindo saat ini tercatat sekitar 43% dan menempati posisi ke-8 dari 15 perusahaan sejenis di dunia. Marjin EBITDA tertinggi dimiliki oleh Diamond Offshore sebesar 56%, disusul oleh ENSCO (54%), dan Noble Corp (54%).

Hingga akhir kuartal III 2006, pendapatan perseroan mencapai US$ 111,8 juta, naik 34,2% dibandingkan periode sama 2005 sebesar US$ 83,4 juta. EBITDA tercatat tumbuh 45% menjadi US$ 47,7 juta dari sebelumnya US$ 32,9 juta.

Laba usaha per 30 September 2006 mencapai US$ 31,4 juta, naik signifikan 76% dari periode sama tahun lalu US$ 17,9 juta. Alhasil, Apexindo membukukan laba bersih sebesar US$ 26 juta dari sebelumnya merugi bersih US$ 9,7 juta.

Rekomendasi

Arief merekomendasikan trading buy APEX untuk investor jangka pendek. Namun, untuk jangka menengah maupun panjang, pemodal bisa hold APEX. “Support saham ini di level Rp 1.830 dan resistance Rp 1.940,” ujarnya. Sedangkan Alfatih merekomendasikan beli APEX pada jangka pendek, menengah dan panjang, karena masih memiliki kinerja yang menjanjikan. “Support pertama Rp 1.820 dan kedua Rp 1.700, dengan resistance di level Rp 1.940 dan Rp 2.225,” jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: berpeluang membuat harga baru

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per September 2006, laba bersih US$ 26 juta

PER: 12,8 kali, PBV: 2,74 kali

Teknis

MACD: ada ruang naik

Stochastic: menguat kembali

RSI 10 hari: berpotensi menguat

RSI 5 hari: rentan profit taking

Rekomendasi

Arief Budisatria:

Jangka pendek: trading buy

Menengah-panjang: hold

Support: Rp 1.830, resistance: Rp 1.940

M Alfatih:

Jangka pendek: beli

Menengah-panjang: beli

Support: Rp 1.820/1.700, resistance: Rp 1.940/2.225

Wednesday, November 15, 2006

Lega setelah Lima Tahun

Jawa Pos --- Kerja keras Dirut PT Apexindo Pratama Duta Tbk Hertriono Kartowisastro dalam melobi Departemen Keuangan patut dijadikan panutan. Betapa tidak, selama lima tahun dia bersama tim Apexindo dengan sabar "membujuk" Depkeu agar mengizinkan laporan keuangan perseroan dalam satuan dolar AS.

"Akhirnya, kami katakan, jika tidak dibuat dalam USD, perusahaan akan merugi akibat distorsi forex exchange dan kami tidak bisa bayar pajak," ujarnya kepada Jawa Pos.

Mendengar alasan tersebut, orang-orang di Depkeu mengabulkan permintaan Tri, panggilan akrab penggemar olahraga gantole itu. "Apalagi saat tahu bahwa pajak kita nantinya juga dibayarkan dalam bentuk USD," katanya.

Selama ini, lanjut dia, laporan keuangan anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk itu disajikan dalam denominasi rupiah. Padahal, menurut pria yang bersama Arifin Panigoro mendirikan Medco pada 1980 itu, 60 persen pendapatan perseroan dalam bentuk USD. "Kami lega akhirnya disetujui," sebutnya.

Lepas dari itu, dia menyarankan agar prudent dalam mengelola perusahaan. Segala risiko harus dipertimbangkan masak-masak. Apalagi, bagi perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, seperti Apexindo. "Saya mementingkan good corporate governance yang tercermin dalam corporate social responsibility. CSR bukan saja terhadap msayarakat atau lingkungan, tapi yang utama juga untuk pekerja," tegasnya. (aan)

Saturday, November 11, 2006

Penguatan Saham Apexindo Berlanjut

JAKARTA, Investor Daily --- Penguatan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan berlanjut untuk perdagangan jangka pendek. Potensi kenaikan harga APEX akan ditopang faktor teknis maupun fundamental yang positif.

“Jadi, pemodal bisa mengoleksi saham pertambangan ini, karena menjanjikan untuk investasi,” kata analis PT Meridian Capital Indonesia M Habdi kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (9/11).

Pada perdagangan kemarin, APEX menguat Rp 100 ke posisi Rp 1.690. Saham perusahaan pertambangan tersebut ditransaksikan 1.088 kali, dengan volume transaksi sebanyak 18,54 juta saham senilai Rp 31,21 miliar.

Menurut Habdi, saham Apexindo berpotensi menguat kembali untuk jangka pendek. Konfirmasi tersebut terlihat dari indikator Williams%R (W%R) yang masih mengindikasikan ruang bagi APEX untuk bergerak ke atas. “Indikator teknis lain, seperti relative strength index (RSI) tujuh hari juga memperlihatkan peluang serupa,” jelasnya.

Habdi menambahkan, selain sisi teknis yang positif, faktor fundamental turut mendukung APEX untuk menguat kembali dalam waktu dekat. Kinerja perusahaan tahun ini diperkirakan kembali positif dibanding tahun sebelumnya yang masih mencatatkan rugi bersih. “Per 30 September 2006, perseroan membukukan laba bersih US$ 26 juta, sedangkan periode sama 2005 rugi bersih US$ 9,7 juta,” ujarnya.

Dia mengatakan, earning per share (EPS) Apexindo tahun ini akan mencapai Rp 147 per saham, setelah tahun sebelumnya minus Rp 17 dan Rp 16 pada 2004. “Valuasi APEX termasuk murah dibanding saham sejenis seperti Aneka Tambang (ANTM), karena price to earning ratio (PER) Apexindo 11,5 kali dan price to book value (PBV) 2,4 kali. Sedangkan PER ANTM 12,74 kali, dengan PBV 3,38 kali,” jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Citi Pacific Securities Hendri Effendi berpendapat, APEX diprediksi menguat untuk jangka menengah, karena posisi saham berada di atas moving average (MA) 5 dan 10 hari. “Sedangkan penguatan hari ini (kemarin, red) terpicu volume perdagangan yang cukup besar,” ujarnya.

Dia mengakui, saham Apexindo untuk jangka pendek berpeluang bergerak konsolidasi. Sebelumnya, APEX sudah menguat signifikan. “Jadi, APEX akan menguat untuk jangka menengah, sedangkan jangka pendek konsolidasi dulu,” tegas dia.

Target Pendapatan

Sementara itu, pada akhir 2006, Apexindo menargetkan pendapatan sebesar US$ 150 juta atau naik 29% dibanding US$ 116,6 juta pada akhir 2005. Proyeksi tersebut akan dipicu kenaikan harga sewa harian dan kenaikan tingkat utilisasi rig milik perseroan.

Manajemen Apexindo di Jakarta, awal pekan ini menyatakan, tingkat utilisasi rig lepas pantai ditargetkan sebesar 100% dan rig darat 70%. Anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk tersebut juga memproyeksikan pendapatan sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 60-65 juta per 31 Desember 2006. Sedangkan marjin EBITDA diharapkan naik menjadi sekitar 45% atau lebih, menyusul program efisiensi yang diterapkan secara konsisten.

Marjin EBITDA Apexindo saat ini sekitar 43% dan menempati posisi ke-8 dari 15 perusahaan sejenis di dunia. Marjin EBITDA tertinggi dimiliki oleh Diamond Offshore sebesar 56%, disusul oleh ENSCO (54%), dan Noble Corp (54%).

Hingga kuartal III 2006, pendapatan perseroan mencapai US$ 111,8 juta, naik 34,2% dibanding periode sama 2005 US$ 83,4 juta. EBITDA tercatat tumbuh 45% menjadi US$ 47,7 juta dari sebelumnya US$ 32,9 juta.

Pendapatan dan EBITDA Apexindo mencatat tren kenaikan. Pendapatan dan EBITDA masing-masing mencapai US$ 31,6 juta dan US$ 13,5 juta pada kuartal I 2006. Selanjutnya pada kuartal II 2006, pendapatan dan EBITDA perseroan tercatat US$ 37 juta dan US$ 16,6 juta. Sedangkan pada kuartal III, pendapatan dan EBITDA masing-masing menjadi US$ 43,2 juta dan US$ 17,6 juta.

Laba usaha per 30 September 2006 mencapai US$ 31,4 juta, naik 76% dari periode sama tahun lalu sebesar US$ 17,9 juta. Apexindo pun membukukan laba bersih sebesar US$ 26 juta dari sebelumnya rugi bersih US$ 9,7 juta. Pada periode Januari-September 2006, rasio kewajiban terhadap ekuitas (DER) tercatat 0,4 kali dari sebelumnya 0,6 kali.

Rekomendasi

Habdi merekomendasikan hold APEX untuk investor jangka pendek. Namun, dalam jangka menengah maupun panjang, pemodal bisa melakukan pembelian. “Support saham ini di level Rp 1.650 dan resistance Rp 1.950,” ujarnya. Sedangkan Hendri merekomendasikan buy on weakness saham di industri minyak dan gas tersebut pada jangka pendek. Untuk jangka menengah dan panjang, dia menyarankan hold, karena masih memiliki kinerja yang menjanjikan. “Support pertama Rp 1.650 dan kedua Rp 1.610, dengan resistance di level Rp 1.710/1.750,” jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: menguat kembali

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per 30 September 2006, pendapatan US$ 111,8 juta

PER: 11,5 kali, PBV: 2,4 kali

Teknis

W%R: berpotensi naik

RSI: berpeluang menguat

Rekomendasi

M Habdi:

Jangka pendek: hold

Menengah-panjang: beli

Support: Rp 1.650, resistance: Rp 1.950

Hendri Effendi:

Jangka pendek: buy on weakness

Menengah-panjang: hold

Support: Rp 1.650/1.610, resistance: Rp 1.710/1.750

Friday, November 10, 2006

Target Laba Bersih Apexindo Sekitar 32 Juta Dollar AS

Jakarta, Kompas - Perusahaan kontraktor pengeboran minyak dan gas, PT Apexindo Pratama Duta Tbk, menargetkan bisa membukukan laba bersih sedikitnya 32 juta dollar AS (atau setara Rp 294,4 miliar dengan nilai tukar Rp 9.200 per dollar AS) sampai akhir tahun 2006. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2005 dengan kerugian bersih Rp 43,126 miliar (karena rugi kurs).

"Rata-rata laba bersih yang kami peroleh setiap triwulan pada tahun ini 8 juta dollar AS. Jika pada triwulan IV juga sebesar itu, akumulasinya hingga akhir tahun sebesar 32 juta dollar AS," kata Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B Lomboan, dalam pemaparan kepada publik, Rabu (8/11) di Jakarta.

Adapun pendapatan hingga akhir tahun juga diprediksi naik sebesar 29 persen dibandingkan pendapatan tahun 2005, menjadi 150 juta dollar AS. Menurut Agustinus, kenaikan pendapatan tersebut terutama karena peningkatan sewa harian dan utilisasi alat pengeboran di darat milik perseroan.

Agustinus mengatakan, kontrak yang dimiliki saat ini akan memberikan pendapatan bagi perseroan hingga tahun 2010. "Pada tahun 2007 pendapatan perseroan tanpa adanya perpanjangan kontrak atau kontrak baru sebesar 186 juta dollar AS. Pada tahun 2008 sebesar 150 juta dollar AS, pada 2009 sebesar 120 juta dollar AS, dan pada 2010 sebesar 5 juta dollar AS," ujarnya.

Namun, Agustinus menyatakan, perseroan tetap mengupayakan perpanjangan kontrak dan kontak baru untuk peningkatan pendapatan perseroan.

"Dengan adanya perpanjangan kontrak, pendapatan perseroan pada tahun 2007 diperkirakan mencapai lebih dari 200 juta dollar AS," katanya.

Presiden Direktur Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan, untuk perpanjangan kontrak (rig 9 dan rig 10 yang dikontrak oleh VICO) tidak akan memberikan harga baru yang lebih mahal demi kelangsungan kontrak dalam waktu lama.

Hertriono menuturkan, Menteri Keuangan telah memberikan izin Apexindo membuat laporan keuangan yang menggunakan dollar AS. "Ini sangat baik sebab 100 persen pendapatan perseroan dalam dollar AS dan 60 persen pengeluaran dalam dollar AS juga," ujarnya. (TAV)

Optimistis Bukukan Laba Bersih USD32 Juta

JAKARTA (SINDO) – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) menargetkan perolehan laba bersih mencapai USD32 juta tahun ini. Sementara pendapatan tahun depan dipatok sebesar USD186 juta atau meningkat sekitar 24% dari prediksi pendapatan tahun ini sebesar USD150 juta.

Hal itu diungkapkan Direktur Keuangan Apexindo Pratama Duta Agustinus Lomboan dalam paparan publik perseroan di Jakarta, kemarin. Manajemen optimistis target laba bersih itu tercapai dengan melihat tren rata-rata perolehan laba bersih kuartalan tahun ini.

Agus menjelaskan, laba bersih perseroan Maret 2006 sebesar USD9,074 juta, sedangkan per Juni 2006 sebesar USD7,173 juta. Sementara kuartal III tahun ini laba bersih perseroan mencapai USD9,704. Dari data tersebut tercermin laba bersih rata-rata sebesar USD8,650 juta per kuartal.

Mengenai belanja modal (capital expediture/capex), menurut Agus, sampai September 2006 perseroan telah menggunakan dana capex sebesar USD10,606 juta, dari total capex tahun ini sebesar USD23,483 juta.

Dia menambahkan, uang muka untuk membiayai pembangunan rig jack up Soehanah sebesar USD26,745 juta telah dibayarkan pada 2005. Karena itu, perseroan harus melunasi sisanya pada awal 2007.

Pelunasan tersebut dibiayai fasilitas pinjaman jangka panjang senilai USD125 juta, yang berasal dari sebuah konsorsium beranggotakan lima bank asing. Diantaranya Standard Chartered Bank, UOB Singapore, dan PMA Hongkong.

“Pinjaman tersebut berjangka waktu 10 tahun dengan tingkat bunga setara dengan LIBOR plus 215 basis poin,” papar dia.

Rencananya, tahun depan rig jack up Soehanah sudah bisa memberikan tambahan revenue bagi perseroan sekitar USD45 juta. Itu dihitung dari biaya sewa per hari (day rate) rig tersebut saat ini yang mencapai USD165.000. Rig itu akan beroperasi penuh April 2007.

Sementara itu, tahun depan perseroan menganggarkan capex sebesar USD12,43 juta, di antaranya untuk melunasi rig jack up Soehanah sebesar USD123,25 juta dan sisanya USD19,17 juta untuk capex tahunan perseroan.

Selain itu, dana capex juga digunakan untuk upgrading mesin-mesin berbagai rig darat dan memperbaiki katup-katup mesin pengeboran.

Analis Sarijaya Securities M Alfatih menilai kinerja Apexindo tahun ini cukup positif. Hal itu terlihat dari laba bersih kuartalan tahun ini, padahal tahun lalu Apexindo masih mengalami rugi bersih. “Saya lihat kinerjanya terus membaik, terlebih banyak kontrak baru yang mereka dapatkan tahun ini,” kata dia.

Dia optimistis target yang ditetapkan perseroan bisa tercapai. “Target tersebut masih wajar, malah saya lihat melebihi ekspetasi yang ditargetkan pada awal tahun,” tambah dia. Alfatih mengatakan, kinerja yang terus membaik tersebut berdampak pada aktivitas saham Apexindo di bursa. (rakhmat baihaqi)

Laba Bersih Apexindo

Jakarta, Media Indonesia --- Perusahaan jasa pertambangan PT Apexindo Pratama Duta Tbk menargetkan perolehan laba bersih sepanjang 2006 sebesar US$32 juta. Itu berarti peningkatan signifikan dari rugi bersih yang diterima perseroan tahun lalu, sekitar Rp 43,13 miliar, ujar Dirut Apexindo Agustinus Lomboan. Sementara itu, sampai akhir 2006 perseroan menargetkan kenaikan pendapatan 24% dari US$150 juta menjadi US$9,07 juta dan per Juni 2006 US$7,17 juta. Sedangkan sampai kuartal ketiga laba bersih perseroan mencapai US$9,70 juta.

Sampai akhir tahun, utilisasi rig off shore (lepas pantai) ditargetkan terpakai semua atau 100%. Sedangkan utilisasi on shore mencapai 70% di akhir tahun. Untuk 2007, total pendapatan perseroan ditargetkan mencapai lebih dari US$200 juta. (Pia/E-s)

Apexindo tekan bunga obligasi US$2,5 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk bakal menekan beban bunga US$2 juta-US$2,5 juta per tahun setelah buyback obligasi Rp250 miliar tahun depan.

Penghematan ini berdampak signifikan terhadap keuangan perseroan. "Rupiah sekarang menguat, jadi secara cash dan akuntansi kami untung besar."

Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan mengatakan langkah buyback ini merupakan yang pertama kali dilakukan perseroan. "Kami sudah sampaikan bahwa kami ada rencana [buyback obligasi]. Kurang lebih Rp250 miliar. Itu dilakukan dalam satu tahun," tuturnya kepada Bisnis kemarin.

Menurut dia, selain karena penghematan bunga, Apexindo tidak mempunyai opsi untuk membayar obligasinya sebelum jatuh tempo.

Dengan peningkatan tingkat tarif harian anjungan pengeboran (rig), maka perseroan bakal kelebihan uang tunai.

"Kas itu untuk apa? Karenanya kami akan buyback. Kalau pada tahun ini sepertinya tidak karena ada kebutuhan belanja modal," kata Agus.

Kinerja Apexindo Pratama triwulan III (Rp miliar)

2006 2005

Pendapatan 1.030 798,93

Laba kotor 354,79 230,54

Laba usaha 304,11 177,94

Laba bersih 289,22 (156,49)

Proyeksi keuangan pada 2006

Anggaran belanja modal US$23,5 juta

Target pendapatan US$150 juta

Target laba bersih US$32 juta

Sumber : Data paparan publik perseroan pada 8 November 2006

Dia menambahkan pelaksanaan pembelian kembali surat utang dijadwalkan berlangsung pada 1 November hingga Desember 2007.

Tahun lalu, Apexindo menerbitkan surat utang yang terbagi dalam bentuk konvensional dan syariah dengan nilai masing-masing Rp510 miliar dan Rp240 miliar.

Obligasi yang jatuh tempo pada 2009 itu mempunyai tingkat bunga 12,25%, di mana obligasi syariah mengikuti patokan bunga surat utang konvensional.

Bangun rig baru

Sementara itu, anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk tersebut berencana membeli atau membangun sebuah jack-up rig baru. Rencana tersebut akan dipertimbangkan dengan kemungkinan perseroan mendapatkan proyek dari perusahaan minyak asal Prancis Total untuk proyek migas di Iran.

Menurut Agustinus, saat ini perseroan dalam pembicaraan intensif dan menargetkan proyek tersebut bisa difinalisasi pada Desember tahun ini. "Kami sudah masukkan persyaratan sekarang sedang menyiapkan dokumen penawaran." (pudji.lestari@bisnis. co.id)

Oleh Pudji Lestari

Bisnis Indonesia

Apexindo Sewakan Rig US$ 165.000 Per Hari

JAKARTA, Investor Daily – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) tengah membangun rig jack up Soehana yang akan disewakan kepada Total E&P Indonesie US$ 165.000 per hari. Rig tersebut akan digunakan mengebor lapangan gas Sisi dan Nubi di Blok Mahakam, Kalimatan Timur, awal 2007.

Sekretaris Perusahaan Apexindo Ade R Satari mengatakan, pihaknya telah membayar uang muka (down payment) pembuatan rig tersebut US$ 27 juta (30%) dari harga US$ 152 juta. “Pembuatan rig dibiayai dari pinjaman sindikasi lima bank asing yaitu, Standard Chartered, Netaxis, Goldman Park, PMA dan UOB, kata Ade R Satari kepada waratawan di Jakarta, Rabu (8/11).

Saat ini, lanjut dia, Apexindo memiliki delapan rig darat dan enam rig laut, termasuk Soehana. Dia mengatakan, bisnis sewa rig semakin menarik karena harga sewa rig yang semakin bagus, seiring meningkatnya harga pembuatan rig.

Namun, pihaknya ke depan akan mempertimbangkan pembuatan rig lebih matang karena pembiayaannya mencapai US$ 180 juta. “Satu rig membutuhkan waktu pembuatan 2-3 tahun dan kita belum tahu market-nya di tahun mendatang,” imbuhnya. (c94)

Apexindo Proyeksikan Laba 32 juta dolar AS

JAKARTA, Republika – PT Apexindo Pratama Duta Tbk memperhitungkan perolehan laba bersih mencapai 32 juta dolar AS di akhir 2006. Untuk pendapatan tahun depan ditargetkan mencapai 186 juta juta dolar atau meningkat 24 persen dari prediksi pendapatan 2006 yang 150 juta dolar.

“Target laba bersih tersebut dihitung berdasarkan laba bersih rata-rata per kuartal perseroan selama Januari-September 2006,” kata Direktur Keuangan Apexindo, Agustinus Lomboan di Jakarta, Rabu (8/11).

Laba bersih perseroan pada kuartal I 2006 sebesar 9,074 juta dolar AS, sedangkan pada kuartal II 7,173 juta dolar AS. Sampai akhir September 2006, laba bersih perseroan mencapai 9,704 juta dolar AS. Dari data tersebut, Agustinus memperhitungkan laba bersih rata-rata kuartal sebesar 8,650 juta dolar AS.

Pada 2007, pengeboran rig jack up Soehanah diharapkan bisa memberikan tambahan pendapatan sekitar 45 juta dolar AS. Rig tersebut rencananya baru akan beroperasi penuh pada awal April 2007. una