Wednesday, January 17, 2007

Apexindo Terima Kontrak Pemboran US$ 3,476 Juta

JAKARTA, investorindonesia.com --- PT Apexindo Pratama Duta (APEX) mendapat kontrak US$ 3,476 juta dolar untuk pekerjaan pemboran darat yang akan dikerjakan di rig 2 untuk lokasi pemboran Blok Senoro-Toili, Sulawesi yang akan berakhir hingga 21 April 2007.

Pada 15 Januari 2007 lalu Apexindo telah menandatangani kontrak dengan JOB Pertamina-Medco E&P Tomon Sulawesi dengan total estimasi (perkiraan) maksimum kontrak US$ 3,476 juta,” Sekretaris Perusahaan APEX Ade R. Satari, dalam laporannya ke Bursa Efek Jakarta, Rabu, seperti dilansir Antara.

Ade menambahkan, transaksi tersebut mengandung benturan kepentingan (karena perseroan dan Medco E&P adalah anak perusahaan Medco Internasional), sehingga akan dimintakan persetujuan kepada pemegang saham independen dalam RUPSLB. (*)

Jumlah Saham Apexindo Naik

JAKARTA, Koran Tempo -- Bursa Efek Jakarta mengumumkan ada penambahan saham baru pada saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk., sehingga terjadi peningkatan menjadi 2.623.392.000 saham yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta.

Kepala Divisi Pencatatan Sektor Riil Yose Rizal dalam pengumuman bursa kemarin menjelaskan penambahan saham baru itu berasal dari konversi saham ESOP (saham yang sudah ditawarkan kepada karyawan) sebanyak 30 ribu saham. Saham baru itu mulai dicatatkan sekaligus diperdagangkan hari ini.

Selanjutnya, papar Yose, ESOP PT Apexindo yang belum dikonversi jumlahnya ekuivalen dengan 36.458.000 saham.

Tuesday, January 9, 2007

Biaya pengeboran minyak meroket hingga 100%

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Biaya pengeboran minyak bumi untuk wilayah lepas pantai melonjak hingga 100% pada awal tahun ini, akibat sulitnya mendapatkan anjungan pengeboran (rig) di dalam negeri.

Sekjen Asosiasi Pemboran Migas Indonesia Tito Kurniadi mengungkapkan ongkos jasa pengeboran minyak bumi untuk kawasan lepas pantai (offshore) kini mencapai US$160.000 per hari.

"Hal ini berarti mengalami kenaikan hingga 100%. Mengingat ongkos [pengeboran offshore] sebelumnya hanya berkisar US$70.000-US$90.000 per hari," ujarnya, kemarin.

Penyebab utama dari melonjaknya ongkos jasa pengeboran tadi, menurut dia, karena terjadi kelangkaan rig yang diikuti dengan kenaikan tarif sewa.

"Terus terang tingginya harga minyak mentah di pasar internasional membuat kontraktor migas gencar melakukan drilling. Tapi kegiatan mereka tidak dibarengi dengan ketersediaan rig di dalam negeri. Akibatnya, perusahaan penyedia peralatan tadi mematok harga sewa yang tinggi," papar Tito.

Sementara itu, Presdir Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro membenarkan terjadinya kenaikan tarif sewa rig. Bahkan kenaikannya mencapai 100%.

Kenaikan tarif sewa rig tadi membawa konsekuensi pada melonjaknya ongkos jasa pengeboran minyak.

"Masih tingginya harga minyak mentah, membuat usaha jasa pengeboran minyak akan mendapatkan hasil yang menggembirakan tahun ini."

Tapi, menurut Sekjen APMI, tidak semua perusahaan jasa pengeboran minyak menuai pendapatan tinggi dari kenaikan harga minyak mentah yang terjadi sejak 2 tahun lalu.

Pendapatan yang didapat dari perusahaan jasa pengeboran minyak wilayah daratan (onshore), katanya, tidak sepesat perusahaan yang beroperasi di lepas pantai.

Hal itu dimungkinkan, kata Tito, karena produksi minyak yang akan dicapai pada wilayah lepas pantai dan laut dalam jauh lebih besar dibandingkan wilayah daratan.

Masih ada distorsi

Meskipun bisnis pengeboran sedang naik daun, tapi Tito melihat masih ada distorsi dalam praktiknya di lapangan. Indikasinya antara lain terjadi ketidakwajaran dalam perhitungan harga kontrak rig.

"Praktik ini terjadi karena pengusaha [rig] tidak konsisten dalam menentukan rate. Mereka hanya mengejar bagaimana caranya mendapatkan proyek."

Di sisi lain, kata Tito, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) selaku pemilik atau pengelola proyek migas cenderung memilih perusahaan penawar terendah dalam tender jasa pengeboran.

"Akibatnya [untuk mendapatkan proyek] terjadi saling banting harga antarsemasa pengusaha jasa pengeboran. Situasi ini tanpa disadari merusak iklim bisnis migas."

Buat KKKS dan perusahaan rig asing, lanjutnya, situasi tadi mungkin tidak menjadi persoalan karena target dari kehadiran mereka di Indonesia adalah mengejar keuntungan.

Tapi buat pengusaha pengeboran nasional akan menjadi masalah besar karena daya saing menjadi lemah, sehingga kelangsungan usaha terpuruk.

"Akhirnya, Indonesia tidak bisa melahirkan pengusaha jasa pengeboran minyak yang tangguh." (ismail.fahmi@bisnis.co.id)

Oleh Ismail Fahmi

Bisnis Indonesia

Saturday, December 30, 2006

Apexindo beli balik obligasi

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk telah membeli kembali obligasinya senilai Rp10 miliar pada 26 Desember.

Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Jakarta kemarin disebutkan pembelian surat utang itu dilaksanakan pada harga 99% dan dibantu oleh PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas. (Bisnis/wiw)

Friday, December 22, 2006

2007, Total Indonesie Investasi US$ 2,2 M

JAKARTA, Investor Daily Online --- Pada 2007, Total E&P Indonesie akan menyiapkan dana investasi US$ 2,2 miliar. Dana itu akan digunakan untuk meningkatkan produksi gas alam Blok Mahakam di Kalimantan Timur, dari 2,640 miliar kaki kubik per hari (billion cubic feet per day/bcfd) pada tahun ini.

“Rinciannya, US$ 1,6 miliar untuk belanja modal (capital expenditure/capex), US$ 500 juta untuk biaya operasional (operational expenditures), dan US$ 100 juta untuk membiayai eksplorasi dan eksploitasi Blok Mahakam,” ujar President Director and General Manager Total E&P Indonesie Phillipe Armand di Balikpapan, Rabu (20/12).

Menurut dia, sebagian besar capex akan akan digunakan mengembangkan lapangan gas Tunu, Peciko, Sisi, dan Nubi. Khusus untuk lapangan gas Sisi dan Nubi, Total menyiapkan dana investasi pengembangan US$ 500 juta agar segera dapat optimal memproduksi gas.

Dengan dana investasi tersebut, lanjut dia, Total akan tetap menjadi produsen gas terbesar di Indonesia. Total berusaha mempertahankan produksi gas alam sebesar 2,6 bcfd dan minyak mentah serta kondensat 70-80.000 barel per hari.

“Pendapatan kami kotor tahun 2006 ini sekitar US$ 9 miliar, dari tahun 2005 mencapai US$ 7,4 miliar,” imbuhnya.

Vice President (VP) Drilling, Well Service & Logistic Total E&P Indonesie Darto Sayogyo mengatakan, total sumur eksplorasi yang akan dibor pada 2007 sebanyak 122 dari tahun ini sebanyak 116 sumur. Lokasi sumur tersebar di lapangan Tunu, Mahakam, Tambora, Handil, Saliki, Peciko, Bekapai, Sisi, dan Nubi.

“Untuk membantu pengeboran pada tahun depan, kami akan mendatangkan rig milik Apexindo jenis jack up. Sementara untuk 2008, kami akan datangkan rig dari Afrika yang kini sedang dalam tahap tender,” jelasnya.

VP Field operation Total E&P Indonesie Hardy Pramono menambahkan, produksi gas untuk 2007 ditargetkan bisa mencapai 2.600 mmscfd atau sedikit turun dibandingkan realiasi tahun ini 2.642 mmscfd. Produksi minyak mentah dan kondensat diperkirakan sama dengan tahun ini mencapai 60.000-62.000 bph.

Hardy memaparkan, pada 2006, produksi terbesar gas Total dikontribusi dari Lapangan Peciko dan Tunu. Lapangan Peciko memproduksi gas 1,150-1,200 bcfd dan minyak mentah 23.000-26.000 bph. Lapangan Tunu dan Tambora memproduksi gas 1,450-1,500 bcfd dan minyak mentah 30.000 bph.

Lapangan Bekapai memproduksi minyak mentah 1.500-2.000 bph dan gas 11.000-12.000 mmscfd. Sementara Lapangan Handil memproduksi gas 110-120 mmscfd dan minyak mentah 21-25.000 bopd.

“Sumur harus terus di-maintenance agar produksinya stabil. Kami punya perimbangan antara yangg diproduksi dengan reserves yang ditemukan,” jelasnya. Menurut dia, lapangan gas di South Mahakam juga sudah bisa dieksploitasi pada 2008 atau 2009 dan diperkirakan mampu memproduksi gas 100-300 mmscfd.

Sebelumnya, Corporate Communications Manager Total E&P Indonesie Ananda Idris pernah menyampaikan, pada 2006 capex Total E&P mencapai US$ 1,3-1,5 miliar, untuk mengembangkan lapangan gas Sisi dan Nubi. “Investasi kita untuk pengembangan Sisi dan Nubi itu sebenarnya tak jauh beda dengan pada 2005 yang US$ 1 miliar,” katanya.

Pengembangan Lapangan Sisi dan Nubi untuk mempertahankan kontribusi pasokan gas Blok Mahakam sesuai komitmen kontrak ke Kilang LNG Bontang di Kalimantan Timur 2,5-2,6 bcfd. Kedua lapangan diharapkan mampu memproduksi gas sebanyak 300 mmscfd mulai 2007/2008.

Namun, Total masih mengandalkan produksi gas dari Lapangan Peciko dan Tunu yang mulai berproduksi tahun 2000 dan 1990 dan diharapkan masih bisa berproduksi hingga 15-20 tahun ke depan. Saat ini, Blok Mahakam masih mengontribusi pasokan gas sebesar 70% dari kapasitas Kilang LNG Bontang, untuk diekspor ke Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan.

Total bersama dengan Inpex Jepang memiliki saham 50:50 di Blok Mahakam, dengan Total sebagai operator. Total masuk ke blok tersebut pada 1970 karena undangan dari Japex untuk mengekplorasi bersama. Kemudian, Japex berubah nama menjadi Inpex. (ari)

Monday, December 18, 2006

China Oilfield Services to Buy TNK-BP Oil Service Unit Stake

Rigzone.com, Dow Jones Newswires 12/18/2006, SHENZHEN, Dec 18, 2006 (Dow Jones Newswires)

Chinese oil drilling services provider China Oilfield Services Ltd. (2883.HK) said Monday it signed a preliminary agreement to buy a stake in an oil field services unit of Russia's OAO TNK-BP (TNKB.RS).

The Chinese company said the deal won't cost more than CNY500 million (US$64 million).

"Russia has a very rich resource of energy and gas," COSL President Yuan Guangyu told reporters during a field visit in Shekou, Shenzhen.

"We are aiming for a controlling stake, but it's too early to talk about the details as they aren't final yet."

Yuan declined to name the TNK-BP unit in which COSL is investing.

Hong Kong-listed COSL is also preparing to list in mainland China to raise funds for further expansion, he said.

The Russian deal follows COSL's failed attempt to buy a stake in Indonesian oil field services company PT Apexindo Pratama Duta Tbk earlier this year. PT Apexindo had decided not to proceed with the deal.

TNK-BP, a joint venture that incorporates BP PLC's (BP) assets in Russia, has 43 units engaging in oil field services, including drilling, well servicing, maintenance and electricity transmission. The venture has said it plans to eventually withdraw from services provision, which it sees as a non-core operation.

Yuan said COSL is preparing to list in China but doesn't have a definite plan yet.

"The mainland's (stock) market is improving, there is investor interest in our company," he said.

"But whether we will do it or not, it all depends on how much money we need for expansion."

He said if the company's net debt to equity ratio goes above 70%, that may be the time for it to list to raise money. COSL's net debt to equity ratio is about 30%, he added.

Last week, COSL said it will seek shareholders' approval to issue up to CNY2 billion worth of bonds next year to fund its capacity expansion.

COSL plans to upgrade one of its existing vessels into an eight-cable exploratory vessel, which would take a year to build and cost about CNY500 million, said Yu Zhanhai, general manager of the company's geophysics division.

The more cables an exploratory vessel has, the more efficiently it can collect undersea seismic data, which is part of the preparatory work for exploration of crude oil and gas offshore.

Most oil services providers now use 16-cable exploratory vessels. COSL has one six-cable vessel, and most of the rest are four-cable or single-cable.

Friday, December 15, 2006

Apexindo Bantu Pascagempa Yogyakarta

YOGYAKARTA, Investor Daily – PT Apexindo Pratama Duta Tbk (Apexindo) bekerja sama dengan Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid (DPU DT) dan Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa) Yogyakarta, membangun kembali saluran irigasi yang rusak di kawasan Bantul, Yogyakarta.

Saluran irigasi yang merupakan sumber air bagi lima desa ini rusak parah akibat gempa. Terhentinya pasokan air tersebut mengakibatkan lumpuhnya perekonomian sekitar 400 KK di wilayah itu yang memiliki mata pencaharian sebagai petani dan pengrajin batu bata.

Saluran irigasi tersebut telah dibangun kembali sejak Oktober 2006 dan peresmian dilakukan pada 13 Desember 2006. Acara ini dihadiri oleh Direktur Utama Apexindo Hertriono Kartowisastro, Direktur DPU DT H. Muhammad Iskandar, Manager Recovery DPU DT Achmad Sudrajat, dan Dewan Penasehat Gema Nusa yang juga mantan Walikota Yogyakarta Muhammad Syukri Fadholi.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Apexindo terhadap program pemulihan pasca gempa Yogyakarta. Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” kata Hertriono dalam siaran pers yang diterima Investor Daily, Rabu (13/12). (es)

Saturday, November 25, 2006

Apexindo bukan big boy

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk sempat akan dijual oleh induknya PT Medco Energi Internasional Tbk. Perusahaan minyak dari India Aban Loyd Chiles Offshore Ltd bahkan sudah menawar 52% saham Apexindo di Medco senilai US$550 juta atau Rp3.666 per saham. Namun, dengan alasan harga yang tidak cocok, divestasi itu batal.

Seberapa prospektif bisnis Apexindo sehingga kini menjadi 'emas' bagi bisnis keluarga Panigoro itu, berikut petikan perbincangan Bisnis dengan Direktur Keuangan Apexindo Agustinus B. Lomboan:

Bagaimana prospek jasa pengeboran di tengah kecenderungan dunia yang mulai mengalihkan penggunaan bahan bakar fosil ke biofuel?

Kalau melihat nilai ekonomis dan investasinya, dampak dari peralihan itu bersifat jangka panjang. Bila dilihat dari proyeksi International Energy Agency [IEA], meski permintaan gas dan batu bara meningkat, permintaan minyak masih mencapai 2% setahun karena minyak diperlukan bukan saja untuk energi listrik dan transportasi, tetapi segala macam, termasuk industri kimia.

Dengan pertumbuhan permintaan yang masih positif, kebutuhan mencari cadangan atau eksplorasi migas pun meningkat. Untuk itu diperlukan pengeboran yang sekarang ini tentunya lebih ekspansif karena permintaan yang luar biasa, meningkat satu level didorong permintaan dari India dan China dalam dua atau tiga tahun terakhir.

Dengan harga minyak yang naik di atas US$50 per barel, semua membangun rig dan yang dibangun adalah jack-up [rig berkaki untuk pengeboran lepas pantai] dan floaters [rig terapung yang bisa langsung mengebor di laut dalam]. Memang dikhawatirkan terjadi kelebihan pasok rig, tetapi kebutuhan akan anjungan pengeboran itu semakin mendesak.

Apakah potensi bisnis rig lepas pantai semenarik rig darat?

Pencarian minyak di darat mengalami keterbatasan, sementara di laut banyak yang belum dijamah. Areanya masih luas, nah itu masih bisa digarap. Contohnya di Kepulauan Natuna atau di Laut Utara, Norwegia [wilayah eksplorasi minyak] berada di laut yang sangat dalam.

Kalau dulu eksplorasi di laut dalam sulit dilakukan karena biaya operasionalnya besar sekitar US$2 per barel, bahkan sampai US$12 per barel di North Sea dengan harga minyak US$18-US$20 per barel. Dengan harga minyak di atas US$50 per barel, kini hal itu menjadi feasible.

Jadi perusahaan minyak terus mencari cadangan. Di samping itu, mereka yang sudah berproduksi mempertahankan supaya produksinya tidak turun. Sumur itu tetap harus digali dan dirawat. Itu kan perlu rig. Rig yang kami punya bisa untuk eksplorasi dan eksploitasi, jadi kemungkinan mendapatkan kontrak ada. Nah Apexindo fokus untuk eksploitasi.

Meski harga minyak belakangan ini turun, kami tidak perlu khawatir karena kebutuhan rig akan tetap ada.

Makanya Apexindo tidak punya luxury seperti yang lain, jual mahal, tarif sewa rig kami US$165.000 per hari. Padahal di pasar mencapai US$220.000 per hari. Tetapi apalah artinya US$220.000 kalau bersifat jangka pendek. Apexindo dapat kontrak US$165.000 per hari dalam tiga tahun di lapangan migas Sisi dan Nubi, Kaltim untuk jack-up Soehanah dari Total E&P Indonesie.

Apexindo berencana untuk memiliki jack-up ketiga. Apakah itu karena ada kontrak baru lagi?

Sebelum Pak Pierre [Ducasse, Direktur Apexindo] meninggal, kami sudah mengadakan pertemuan dengan Total di Paris. Mereka tawarkan proyek di Nigeria, tetapi kami tertarik di Iran karena jumlah cadangannya besar sekali dan mereka memberikan dalam lima tahun. Sekarang ini kami sedang mengadakan pertemuan intensif dengan mereka.

Bagaimana dengan pesaing lainnya?

Pesaing ada, tetapi mereka mengetahui siapa Apexindo. Kalau harganya cocok, tidak terlalu mahal pasti kami ambil. Kami bukan big boy yang punya rig banyak. Punya 50 rig, nganggur 5-10 tidak masalah. Kami hanya punya jack-up rig dua [Raniworo dan Soehanah] dan akan membangun yang ketiga. Kalau satu tidak dapat proyek, wah... sudah berapa pendapatan yang hilang.

Pewawancara: Pudji Lestari

Bisnis Indonesia

Thursday, November 23, 2006

Penguatan Saham Apexindo Berlanjut

JAKARTA, Investor Daily --- Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) diperkirakan melanjutkan penguatan untuk perdagangan jangka pendek. Penguatan APEX akan tertopang faktor teknis maupun fundamental.

“Kabar penjualan saham APEX oleh perusahaan induk (Medco, red) ikut mendorong penguatan harganya,” kata analis PT Danasakti Securities Arief Budisatria kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (21/11).

Pada perdagangan kemarin, APEX menguat Rp 110 ke posisi Rp 1.870. Saham sektor pertambangan tersebut ditransaksikan 842 kali, dengan volume transaksi sebanyak 18,59 juta saham senilai Rp 33,85 miliar.

Menurut Arief, secara teknis, saham Apexindo berpotensi melanjutkan penguatan untuk jangka pendek. Konfirmasi tersebut terbaca dari indikator stochastic oscillator dan moving average convergence divergence (MACD) yang masih menunjukkan ruang bagi APEX untuk bergerak ke atas. “Jika level resistance Rp 1.940 tertembus dalam waktu dekat, kemungkinan besar APEX akan membentuk harga baru,” jelasnya.

Indikator teknis lain seperti relative strength index (RSI) 10 hari juga memperlihatkan arah menguat pada saham Apexindo dalam waktu dekat. Meski RSI lima hari menunjukkan peluang aksi ambil untung (profit taking), karena posisi saham mulai memasuki area jenuh beli (overbought). “Sepertinya konfirmasi itu bisa terpatahkan, karena volume transaksi yang cukup besar turut memicu penguatan harga sahamnya,” ujarnya.

Selain itu, kata Arief, faktor fundamental yang cukup menjanjikan turut mendukung penguatan APEX. Tahun ini, kinerja perseroan diperkirakan positif, setelah tahun sebelumnya mencatatkan rugi bersih. “Per September 2006 perseroan mengantungi laba bersih US$ 26 juta, sedangkan periode sama 2005 rugi bersih US$ 9,7 juta,” ujarnya.

Arief melanjutkan, pertumbuhan earning per share (EPS) Apexindo untuk tahun ini juga diprediksi mencapai Rp 146 per saham dibanding tahun sebelumnya minus Rp 17 (2005) dan Rp 16 pada 2004, terdorong perbaikan kinerja perseroan.

“Valuasi APEX pun termasuk murah dibanding saham sejenis seperti Antam, karena price to earning ratio (PER) Apexindo 12,8 kali dan price to book value (PBV) 2,74 kali. Sedangkan PER ANTM 13,98 kali, dengan PBV 4,44 kali,” jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Sarijaya Permana Sekuritas Muhammad Alfatih mengungkapkan, pada 2002, APEX mengalami tren naik dan sempat melemah antara Mei hingga Juni 2006, sebelum bergerak mendatar selama Agustus-November tahun ini di kisaran Rp 1.550-1.700.

“Kemarin (Senin, red) terjadi pengujian resistance yang ada, sehingga memungkinkan APEX bergerak kembali dengan target harga tertinggi sebelumnya di level Rp 1.940-1.980,” ujarnya.

Dia mengakui, jika saham Apexindo pada jangka pendek kembali menembus level resistance, harga APEX berpeluang bergerak menguat ke posisi resistance berikutnya Rp 2.225. “Potensi itu bisa terjadi, terutama bila sentimen positif masih menyertai pergerakan sahamnya,” tegas Alfatih.

Target Pendapatan

Sementara itu, pada 2006, Apexindo menargetkan pendapatan sebesar US$ 150 juta atau naik 29% dibanding akhir 2005 US$ 116,6 juta. Proyeksi tersebut dipicu oleh kenaikan harga sewa harian dan tingkat utilisasi rig milik perseroan. Manajemen Apexindo beberapa waktu lalu mengatakan, tingkat utilisasi rig lepas pantai ditargetkan mencapai 100% dan rig darat 70%.

Anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk tersebut juga memproyeksikan pendapatan sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$ 60-65 juta per 31 Desember 2006. Sedangkan marjin EBITDA diharapkan naik menjadi sekitar 45%, menyusul program efisiensi yang diterapkan secara konsisten.

Marjin EBITDA Apexindo saat ini tercatat sekitar 43% dan menempati posisi ke-8 dari 15 perusahaan sejenis di dunia. Marjin EBITDA tertinggi dimiliki oleh Diamond Offshore sebesar 56%, disusul oleh ENSCO (54%), dan Noble Corp (54%).

Hingga akhir kuartal III 2006, pendapatan perseroan mencapai US$ 111,8 juta, naik 34,2% dibandingkan periode sama 2005 sebesar US$ 83,4 juta. EBITDA tercatat tumbuh 45% menjadi US$ 47,7 juta dari sebelumnya US$ 32,9 juta.

Laba usaha per 30 September 2006 mencapai US$ 31,4 juta, naik signifikan 76% dari periode sama tahun lalu US$ 17,9 juta. Alhasil, Apexindo membukukan laba bersih sebesar US$ 26 juta dari sebelumnya merugi bersih US$ 9,7 juta.

Rekomendasi

Arief merekomendasikan trading buy APEX untuk investor jangka pendek. Namun, untuk jangka menengah maupun panjang, pemodal bisa hold APEX. “Support saham ini di level Rp 1.830 dan resistance Rp 1.940,” ujarnya. Sedangkan Alfatih merekomendasikan beli APEX pada jangka pendek, menengah dan panjang, karena masih memiliki kinerja yang menjanjikan. “Support pertama Rp 1.820 dan kedua Rp 1.700, dengan resistance di level Rp 1.940 dan Rp 2.225,” jelasnya. (asp)

Tips APEX

Tren

Jangka pendek: berpeluang membuat harga baru

Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per September 2006, laba bersih US$ 26 juta

PER: 12,8 kali, PBV: 2,74 kali

Teknis

MACD: ada ruang naik

Stochastic: menguat kembali

RSI 10 hari: berpotensi menguat

RSI 5 hari: rentan profit taking

Rekomendasi

Arief Budisatria:

Jangka pendek: trading buy

Menengah-panjang: hold

Support: Rp 1.830, resistance: Rp 1.940

M Alfatih:

Jangka pendek: beli

Menengah-panjang: beli

Support: Rp 1.820/1.700, resistance: Rp 1.940/2.225

Wednesday, November 15, 2006

Lega setelah Lima Tahun

Jawa Pos --- Kerja keras Dirut PT Apexindo Pratama Duta Tbk Hertriono Kartowisastro dalam melobi Departemen Keuangan patut dijadikan panutan. Betapa tidak, selama lima tahun dia bersama tim Apexindo dengan sabar "membujuk" Depkeu agar mengizinkan laporan keuangan perseroan dalam satuan dolar AS.

"Akhirnya, kami katakan, jika tidak dibuat dalam USD, perusahaan akan merugi akibat distorsi forex exchange dan kami tidak bisa bayar pajak," ujarnya kepada Jawa Pos.

Mendengar alasan tersebut, orang-orang di Depkeu mengabulkan permintaan Tri, panggilan akrab penggemar olahraga gantole itu. "Apalagi saat tahu bahwa pajak kita nantinya juga dibayarkan dalam bentuk USD," katanya.

Selama ini, lanjut dia, laporan keuangan anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk itu disajikan dalam denominasi rupiah. Padahal, menurut pria yang bersama Arifin Panigoro mendirikan Medco pada 1980 itu, 60 persen pendapatan perseroan dalam bentuk USD. "Kami lega akhirnya disetujui," sebutnya.

Lepas dari itu, dia menyarankan agar prudent dalam mengelola perusahaan. Segala risiko harus dipertimbangkan masak-masak. Apalagi, bagi perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, seperti Apexindo. "Saya mementingkan good corporate governance yang tercermin dalam corporate social responsibility. CSR bukan saja terhadap msayarakat atau lingkungan, tapi yang utama juga untuk pekerja," tegasnya. (aan)