Jakarta (Media Indonesia): Tujuh perusahaan bersaing memperebutkan 51% saham perusahaan pengeboran minyak PT Apexindo Pratama Tbk senilai lebih dari US$500 juta atau Rp4,5 triliun yang dimiliki Medco Energy (Medco).
Dari tujuh perusahaan itu, empat di antaranya merupakan perusahaan investasi asing raksasa. Sedangkan untuk calon pembeli lokal diantaranya perusahaan infrastruktur milik pengusaha Aksa Mahmud.
Sumber Media Indonesia yang mengetahui proses penawaran 51% saham Apexindo ini mengungkapkan empat perusahaan investasi asing itu adalah Texas Pasific Group (TPG) asal Amerika Serikat (AS), CVC Investment Group (AS), dan 3i Investment Group Plc asal Inggris.
TPG, Charlie, dan CVC merupakan tiga di antara lima perusahaan investasi (private equity fund) terbesar di AS. Sedangkan 3i merupakan salah satu perusahaan investasi terbesar di Inggris dan Eropa.
Di Asia Pasifik, TPG baru saja mengakuisisi maskapai penerbangan Australia, Qantas. Sedangkan di Indonesia, TPG melalui afiliasinya, North Star Equity Partners, yang dipimin pengusaha muda Patrick Walujo, juga telah mengakuisisi Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dan meminati Garuda Indonesia.
Sedangkan Carlile merupakan perusahaan investasi yang secara historis selalu dipimpin mantan petinggi pemerintahan AS dari Partai Republik. Keempat perusahaan investasi asing tersebut masing-masing mengelola dana lebih dari US$100 miliar.
Peminat lokal yang turut serta dalam persaingan perebutan Apexindo antara lain PT Nusantara Infrastructure Tbk, yang mayoritas sahamnya dimiliki kelompok Bosowa melalui anak usahanya, PT Nusantara Konstruksi Indonesia (NKI).
Bosowa sendiri dimiliki oleh pengusaha asal Makassar, Aksa Mahmud. Menurut sumber tersebut, Nusantara Infrastructure sebenarnya tidak masuk dalam daftar perusahaan yang diundang oleh Medco untuk ikut tender akuisisi Apexindo. “Namun, menjelang penutupan pengajuan minat, Nusantara tiba-tiba masuk dan mengajukan surat minat,” ungkap sumber tersebut.
Sedangkan dua perusahaan lokal lainnya merupakan perusahaan investasi dan pemilik sebuah tambang batu bara di Kalimantan yang dipimpin oleh para pengusaha muda.
Nilai aset US$1,1 miliar
Sementara itu, dalam penghitungan yang dilakukan oleh Credit Suisse selaku konsultan keuangan penjualan, nilai aset Apexindo diperkirakan berkisar US$1,1 miliar atau sekitar Rp10 triliun. Jumlah ini berarti lebih dari 10 kali EBITDA (earning, before income tax depreciation and amortization) Apexindo, yang pada tahun lalu tercatat kurang lebih US$90 juta.
Berdasarkan perhitungan tersebut, nilai 51% saham Apexindo yang dimiliki Medco diperkirakan bernilai kurang lebih US$500 juta.
Saat ini proses penjualan Apexindo akan segera memasuki tahap due dilligence setelah masa pengajuan minat ditutup Rabu (19/9) kemarin. Diharapkan awal November nanti proses penjualan Apexindo akan selesai.
Apexindo sendiri menginginkan investor di bidang usaha sejenis menjadi pembelinya. Hal itu dinilai lebih efektif untuk mendukung kinerja perseroan selanjutnya. “Kalau dibeli oleh perusahaan sejenis, mungkin kita akan dilebur dengan usaha mereka dan kita bisa menjadi lebih berkembang,” ujar Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro.
Selain dikuasai Medco, 32% Apexindo dimiliki oleh perusahaan pengeboran asal Norwegia, Seadrill, dan sisanya 17% dimiliki oleh publik. (Dre/CR-79/E-1)
Friday, September 21, 2007
Tujuh Perusahaan Incar Apexindo
Labels: Divestasi Apexindo
Kontrak Rig Apexindo Naik 100%
JAKARTA (Seputar Indonesia) – PT Apexindo Pratama Duta Tbk optimistis pendapatan dari anjungan pengeboran (rig) akan meningkat dua kali lipat pada tahun depan.
Sikap optimistis manajemen perseroan didasarkan pada kenaikan tarif sewa harian yang mencapai 100% dari dua anjungan pengeboran, yang beroperasi pada paruh kedua tahun ini dan tahun depan. ”Pendapatan dari Rig Raniworo tahun depan naik dari USD72.000 menjadi USD146.000,” ungkap Direktur Utama Apexindo Pratama Duta Hertriono Kartowisastro di Jakarta kemarin. Dia menuturkan, kenaikan pendapatan yang cukup signifikan tersebut disebabkan kontrak Rig Raniworo naik 100% dibandingkan kontrak sebelumnya dari Cresent Petroleum.
Tahun ini Rig Raniworo akan dibawa dari Iran ke Jawa Timur untuk mengerjakan kontrak dari Santos. Sampai akhir tahun ini, menurut Hertriono, pendapatan perseroan juga diperkirakan meningkat dengan beroperasinya Rig Soehanah. Peningkatan pendapatan itu didorong segmen anjungan pengeboran darat yang naik 88,6% menjadi Rp529,5 miliar, dari semula Rp280,8 miliar. Di sisi lain, segmen rig laut menyumbang pendapatan Rp906,4 miliar, atau naik hanya 6% dari Rp854,7 miliar. Apexindo telah mengantongi empat kontrak pengeboran baru dan perpanjangan kontrak lama dengan total nilai proyek USD22,5 juta.
Perseroan mendapat perpanjangan kontrak USD13,9 juta untuk pengeboran selama enam bulan di Kalimantan Timur dari VICO untuk Rig 9 dan Rig 10. Kontrak untuk Rig 15 dari Pearoil (Tungkal) Limited senilai USD2,6 juta,kontrak Rig 8 sebesar USD2,5 juta dolar dari Lundin Blora BV, dan Rig 2 dari joint operation body (JOB) Pertamina- Medco Tomori senilai USD3,5 juta. Pada Desember 2006, perseroan mencatatkan pendapatan USD156 juta. Sedangkan sampai semester I/ 2007, pendapatan perseroan tercatat USD81 juta. Mengenai rencana penjualan Apexindo oleh induk perusahaan PT Medco Energi International Tbk, Hertriono berharap perseroan akan dibeli perusahaan yang mempunyai bidang sama.
Hal ini dipandang sangat membantu untuk meningkatkan kinerja perseroan. Jika dibeli sebuah institusi keuangan, sering kali hanya dibeli untuk kemudian dijual kembali. Jadi, saat ini kemungkinannya ada dua. Apexindo dibeli perusahaan yang memang bergerak di bidang pengeboran atau dibeli institusi keuangan. ”Kalau dibeli perusahaan sejenis, kemungkinan kita akan dilebur dengan usaha mereka, dan kita bisa menjadi lebih berkembang. Jika dibeli investment banking atau institusi keuangan, nanti kita lihat saja apa yang akan dilakukan terhadap Apexindo,” tambahnya.
Lebih jauh, dia menuturkan nilai penjualan Apexindo harus lebih tinggi dari kapitalisasi perseroan saat ini yang sebesar USD700 juta. ”Nilai perkiraan yang diberikan investor tidak boleh lebih kecil dari nilai itu. Jika lebih kecil maka tidak akan ada bedanya dengan investor tersebut masuk melalui pasar saham,”ujarnya. Selain Medco, saat ini Apexindo dimiliki Asian Opportunities Fund I Segregated sebanyak 15,858%, serta CIMB-GK Securities Pte Ltd sebanyak 15,858% dan publik sebanyak 16,742%.
Dihubungi terpisah, analis Bhakti Securities Budi Ruseno mempertanyakan alasan penjualan Apexindo oleh Medco. Menurut dia, hal itu sangat aneh di tengah industri pertambangan yang saat ini sedang booming. ”Ada apa Medco melepas Apexindo,”tanyanya. Budi mendukung jika nantinya Apexindo dikuasai oleh perusahaan sejenis. Hal itu akan membuat Apexindo lebih berkembang. ”Kalau perusahaan itu concern dengan usaha yang dilakukan oleh Apexindo, tentu ini akan sangat bagus,” tambahnya. (rakhmat baihaqi)
Labels: Divestasi Apexindo
Investor Strategis Apexindo Bukan dari Kanada
Jakarta, Kompas --- Rencana PT Medco Energi Tbk untuk melepas 51,385 persen saham miliknya di PT Apexindo Pratama Duta diawali dengan mengundang 50 investor strategis. Dalam pemberitaan Rabu (19/9), disebutkan bahwa salah satu dari 50 perusahaan tersebut merupakan perusahaan dengan bidang usaha sejenis yang berasal dari Kanada. Presiden Direktur Apexindo Hertriono Kartowisastro kemarin menyatakan, perusahaan dari Kanada tersebut hanya merupakan ilustrasi mengenai perusahaan asing yang bergerak di bidang yang sama. Perusahaan tersebut tidak secara spesifik sebagai calon investor strategis dalam penjualan Apexindo. (*/tav)
Labels: Divestasi Apexindo
Apexindo Optimistis Tingkatkan Pendapatan
JAKARTA, Bisnis Indonesia -- Perusahaan jasa pemboran minyak, PT Apexindo Pratama Duta Tbk, optimistis, pendapatan perseroan akan meningkat signifikan. Peningkatan tersebut akan diperoleh dari dua anjungan pengeboran (rig) yang beroperasi pada paruh kedua tahun ini dan 2008 mendatang.
''Tahun ini rig Raniworo akan dibawa dari Iran ke Jawa Timur untuk mengerjakan kontrak dari Santos," kata Dirut Apexindo, Hertriono Kartowisastro, di Jakarta, Rabu (19/9) malam. Menurutnya, pendapatan perseroan tahun depan dari rig Raniworo bisa meningkat dua kali lipat, dari 72 ribu dolar AS menjadi 146 ribu dolar AS. Menurut Hertriono, tarif sewa harian yang dikantongi Raniworo sudah naik 100 persen, dibandingkan kontrak sebelumnya bersama Cresent Petroleum.
Sementara sampai akhir tahun ini, pendapatan perseroan juga diperkirakan meningkat dengan beroperasinya rig Soehanah. Peningkatan pendapatan itu didorong segmen anjungan pengeboran darat yang naik 88,6 persen menjadi Rp529,5 miliar, dari semula Rp 280,8 miliar. Di sisi lain, segmen rig laut menyumbang pendapatan Rp 906,4 miliar, atau hanya naik 6 persen dari sebelumnya, Rp 854,7 miliar.
Pertumbuhan pendapatan tersebut terutama akan didongkrak oleh kontrak dari Total Indonesie yang didapatkan Soehanah, serta dari kontrak baru dengan Santos (Sampang) Pte Ltd untuk jack-up rig Raniworo.
Sampai saat ini Apexindo mengantongi empat kontrak pengeboran baru dan perpanjangan kontrak lama. Semua itu bertotal nilai proyek sebesar 22,5 juta dolar AS. Perseroan mendapat perpanjangan kontrak 13,9 juta dolar AS untuk pengeboran selama enam bulan di Kalimantan Timur dari VICO untuk Rig 9 dan Rig 10.
Selain itu, ada juga kontrak untuk rig 15 dari Pearoil (Tungkal) Limited senilai 2,6 juta dolar AS, kontrak rig 8 sebesar 2,5 juta dolar AS dari Lundin Blora BV, dan rig 2 dari joint operation body (JOB) Pertamina-Medco Tomori, senilai 3,5 juta dolar AS. Pada Desember 2006 lalu perseroan mencatatkan pendapatan 156 juta dolar AS. Sedangkan sampai semester pertama 2007, pendapatan perseroan tercatat 81 juta dolar AS.
Terkait rencana penjualan saham Apexindo oleh PT Medco Energi Internasional Tbk sebagai induk perusahaan, Hertriono menuturkan, pihaknya menjadi lebih leluasa dalam mencari sumber pendanaan. Dengan pendanaan dari luar, memungkinkan Apexindo tumbuh dengan cara organik seperti membeli rig baru atau non organik dengan penggabungan usaha (merger) atau akuisisi.
Medco Energi berencana menawarkan kepemilikan sahamnya di anak Apexindo kepada 50 calon pembeli strategis Internasional. Dari 50 investor yang mendapatkan penawaran, sebagian besar merupakan lembaga keuangan (investment bank company).
Hertriono menambahkan, penawaran kepada lembaga keuangan itu akan memperbesar peluang untuk mempertahankan manajerial Apexindo. Pasalnya, lembaga keuangan dipandang tidak memiliki keahlian. Ia juga tidak menutup kemungkinan calon pembeli dari pihak domestik. "Bisa saja dari pihak domestik tapi dananya masuk dari luar negeri," kata Hertriono. ria
Labels: Divestasi Apexindo
Thursday, September 20, 2007
Divestasi
Seputar Indonesia --- Divestasi saham perusahaan penyedia jasa pengeboran migas, PT Apexindo Pratama Duta Tbk oleh induknya PT MedcoEnergi Internasional Tbk, diperkirakan berdampak positif pada perseroan. Setelah dilepas, Apexindo akan lebih leluasa mencari sumber pendanaan untuk tumbuh secara organik maupun nonorganik dengan merger atau akuisisi. Tampak suasana saat manajemen perusahaan memberikan penjelasan tentang divestasi di Jakarta, kemarin.
Labels: Divestasi Apexindo
Apexindo Berharap Dibeli Perusahaan Sejenis
Jakarta, Kompas - Perusahaan jasa pengeboran PT Apexindo Pratama Duta Tbk menginginkan agar investor yang akan membeli 51,385 persen saham milik Medco Energi di perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang sama bidang usahanya. Hal ini dipandang jauh lebih efektif serta bisa mendukung kinerja Apexindo ke depan.
"Jadi saat ini kemungkinannya ada dua. Apexindo dibeli perusahaan yang memang bergerak di bidang pengeboran atau dibeli oleh suatu institusi keuangan. Kalau dibeli perusahaan sejenis, kemungkinan kita akan dilebur dengan usaha mereka dan kita bisa menjadi lebih berkembang. Tapi, jika dibeli oleh investment banking atau institusi keuangan, nanti kita lihat saja apa yang akan dilakukan terhadap Apexindo," ujar Presiden Direktur Apexindo Pratama Duta Hertriono Kartowisastro, Rabu (19/9) di Jakarta.
Dia mengatakan, jika dibeli oleh sebuah institusi keuangan, sering kali hanya dibeli untuk kemudian dijual kembali.
Menurut Hertriono, 50 calon pembeli strategis yang disebutkan oleh Medco sebelumnya merupakan pihak yang diundang untuk melihat kinerja Apexindo. "Nah, 50 investor tersebut benar-benar baru memasuki tahap awal, di mana baru menandatangani confidentially agreement. Saat ini belum memasuki tenggat untuk pengembalian surat tersebut dalam rangka menyatakan minat untuk membeli Apexindo," katanya.
Setelah menyatakan minat, kemudian para investor tersebut akan memasukkan harga perkiraan. Kemudian oleh penasihat keuangan Medco dalam divestasi Apexindo tersebut, yakni Credit Suisse, akan disortir mana yang memenuhi kriteria. "Nilai perkiraan tersebut tentunya tidak boleh lebih rendah dari kapitalisasi pasar Apexindo saat ini. Jika dihitung berdasarkan harga saham terakhir (kemarin di level Rp 2.300 per saham), maka kapitalisasi kita mencapai 700 juta dollar AS," kata Hertriono.
Menurut dia, nilai perkiraan yang diberikan investor tidak boleh lebih kecil dari nilai itu. Jika lebih kecil, maka tidak akan ada bedanya dengan investor tersebut membeli saham melalui bursa.
Dari 50 investor yang diundang, menurut Hertriono, lebih banyak institusi keuangan. Untuk perusahaan sejenis kebanyakan milik asing, salah satunya dari Kanada.
Pada Agustus tahun lalu, Apexindo ditawar oleh perusahaan dari India, yakni Aban Loyd Chiles Offshore Ltd, dan sebuah perusahaan dari China. Namun, saat itu tawaran tidak diterima Medco. "Waktu itu kan harga sahamnya masih Rp 1.900, jadi belum dilepas," katanya.
Selain Medco, saat ini Apexindo dimiliki Asian Opportunities Fund I Segregated sebanyak 15,858 persen, CIMB-GK Securities Pte Ltd sebanyak 15,858 persen, dan publik sebanyak 16,742 persen.
Mengenai kinerja keuangan Apexindo, sampai Agustus sudah sesuai target. "Jika harga minyak terus naik, tentunya pengeboran minyak akan semakin banyak, dan kami bisa maksimal menggunakan semua rig yang kami miliki. Setelah semua rig terpakai kami bisa menaikkan biaya sewa per hari," kata Hertriono.(tav/joe)
Labels: Divestasi Apexindo
Apexindo Andalkan Rig Soehana
Jakarta, Investor Daily --- Manajemen PT Apexindo Pratama Duta Tbk optimis, pendapatan usaha pada semester II 2007 akan meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu. Anjungan dan pengeboran migas (rig jack up) laut Soehana yang disewakan kepada Total E&P Indonesia sejak awal 2007 dengan tarif US$ 165 ribu per hari akan menjadi andalan perseroan.
Pada semester I 2007, Apexindo membukukan pendapatan usaha US$ 81 juta dibanding 2006 sebesar US$ 156 juta. “Kami optimis, tahun depan pendapatan Apexindo akan meningkat karena tarif penyewaaan rig Raniworo akan naik dari US$ 72 ribu per hari menjadi US$ 145 ribu per hari,” ujar Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro di Jakarta, Rabu (19/9).
Rig Raniworo saat ini disewakan kepada Crescent Petroleum Company Inc, sebuah perusahaan migas di Republik Islam Iran. Menurut rencana, rig tersebut akan kembali ke Indonesia akhir 2007. “Santo s teleh meneken kontrak untuk penyewaaan rig Raniworo senilai US$ 145 ribu per hari selama tiga tahun,” ujar Hertriono.
Dia menegaskan, kenaikan harga minyak mentah yang kemarin menembus ke level US$ 82 per barel mempengaruhi tarif sewa rig. Ketika jumlah eksplorasi migas tidak sebanyak saat ini, lanjut dia, banyak rig yang tidak terpakai. Namun, dengan naiknya harga minyak mentah, sejumlah investor yang bergerak di sektor migas mulai banyak yang melakukan pengeboran, sehingga banyak rig yang terpakai dan harga penyewaannya meningkat.
Hertriono memperkirakan, pada 2008-2009 akan ada 70 rig yang dikeluarkan dari galangan kapal dari sejumlah pabrik di luar negeri. Dia mencontohkan Amerika Serikat yang membuat rig dengan harga masing-masing rig sekitar US$ 200 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun. (pya)
Labels: Kinerja 2007
Wednesday, September 19, 2007
Medco Energi akan Divestasi Apexindo
JAKARTA, Republika -- Perusahaan minyak dan gas, Medco Energi Internasional (MEDC), berencana melakukan divestasi atas kepemilikan sahamnya di PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) karena dalam jangka panjang perseroan akan fokus dalam pengembangan hulu minyak dan gas. ''Divestasi ini rencananya akan dilakukan dengan menawarkan saham Apexindo kepada sekitar 50 calon pembeli strategis berbasis internasional,'' kata Dirut Medco, Hilmi Panigoro, dalam penjelasannya kepada BEJ, Selasa (18/9).
Untuk melakukan divestasi tersebut, kata dia, perseroan telah menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan. ''Saat ini perseroan sedang memproses langkah-langkah yang akan dilakukan serta dokumentasi yang diperlukan sehubungan dengan divestasi tersebut,'' tambahnya. Menurut Hilmi, dampak keuangan dari divestasi ini akan tergantung dari hasil divestasi tersebut. Yang pasti, dengan divestasi tersebut aktiva tetap Medco akan menurun. Namun, sebaliknya Medco akan menerima uang tunai.
Manajemen Medco yakin divestasi ini akan memberikan dampak positif terhadap rasio utang terhadap ekuitas perseroan, sedangkan pada saat yang sama hasil dari divestasi dapat dipergunakan untuk memperkuat neraca perseoran dan untuk investasi si bidang usaha hulu minyak dan gas. Berdasarkan data BEJ, pemegang saham lima persen atau lebih Apexindo per 31 Agustus 2007, terdiri dari Medco Energi menguasai 51,39 persen dan Asian Opportunities Fund I menguasai 15,86 persen.
Labels: Divestasi Apexindo
Medco Jual Apexindo ke 50 Investor
Jurnal Nasional --- PT Medco Energi Internasional Tbk. akan mendivestasi kepemilikan sahamnya di PT Apexindo Pratama Duta Tbk.
Divestasi ini rencananya akan dilakukan dengan menawarkan saham Apexindo kepada sekitar 50 calon pembeli strategis berbasis internasional. "Strategi jangka panjang Medco adalah fokus dalam pengembangan hulu minyak dan gas. Oleh sebab itu, kami berencana berencana melakukan divestasi atas kepemilikan saham di Apexindo sebesar 51,3 persen," kata Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro dalam suratnya ke Bursa Efek Jakarta, Selasa (18/9).
Untuk melakukan divestasi ini perseroan telah menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan. "Saat ini perseroan sedang memproses langkah-langkah yang akan dilakukan serta dokumentasi yang diperlukan sehubungan dengan divestasi ini," ujarnya.
Menurut Hilmi, dampak keuangan yang bakal dirasakan Medco karena melakukan aksi korporasi ini akan tergantung dari hasil divestasi tersebut. "Meskipun demikian, dengan adanya divestasi aset ini, aktiva tetap Medco Energi akan turun. Namun, sebaliknya, Medco juga akan menerima uang tunai," kata dia.
Manajemen Medco yakin divestasi ini akan memberikan dampak positif terhadap rasio utang terhadap ekuitas perseroan. Dana hasil dari divestasi, dapat digunakan untuk memperkuat neraca perseroan. "Juga untuk investasi investasi Medco di bidang usaha bisnis hulu minyak dan gas bumi," kata dia.
Per Juni 2007, laba bersih Medco Energi sebesar US$29,589 juta atau meningkat 14 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sejumlah US$25,928 juta. Dari sisi operasional, pada semester I/2007 terjadi pertumbuhan pendapatan usaha menjadi sebesar US$403,358 juta, dari setahun sebelumnya, US$397,539 juta.
Sedangkan Apexindo selama semester I/2007 membukukan pendapatan usaha dan laba bersih masing-masing senilai US$81,815 juta dan US$15,007 juta. Dibandingkan periode sama setahun sebelumnya, pendapatan perseroan naik namun laba bersih terkoreksi. Per Juni 2006, pendapatan dan laba bersih Apexindo sebesar US$68,619 juta dan US$16,246 juta.
Kemarin, harga saham Medco Energi di BEJ yang ditransaksikan dengan kode perdagangan MEDC ditutup stagnan di posisi Rp3.850. Sedangkan harga saham Apexindo (APEX) naik Rp25 ke level Rp2.175.
by : Nurul Siti Nurjanah
Medco Tawarkan Apexindo
Jakarta, Kompas - Perusahaan minyak Medco Energi Internasional telah menawarkan salah satu anak perusahaannya, Apexindo Pratama Duta, kepada 50 calon pembeli strategis internasional.
"Pelepasan Apexindo ini sejalan dengan fokus Medco Energi dalam pengembangan hulu minyak dan gas," ujar Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro kepada BEJ, Selasa (18/9).
Sekretaris Perusahaan Medco Energi Sisca Alimin menambahkan, Medco akan melepaskan seluruh sahamnya di Apexindo, sekitar 51 persen. Saat ini Medco Energi menguasai 51,385 persen saham Apexindo, bersama Asian Opportunities Fund I Segregated (15,858 persen), CIMB-GK Securities Pte Ltd (15,858 persen), serta publik (16,742 persen).
Apexindo sendiri memiliki empat anak perusahaan, yaitu Apexindo Asia Pasific BV, PT Antareja Jasatama, Apexindo Khatulistiwa, dan Apexindo Offshore.
Apexindo merupakan perusahaan yang memberikan jasa pengeboran minyak, gas, dan geotermal. Selain di Indonesia, wilayah kerja Apexindo juga ada di Timur Tengah. Pekan lalu, Apexindo mendapatkan kontrak pengeboran tujuh juta dollar AS.
Hilmi mengatakan, dengan divestasi ini aktiva tetap Medco Energi akan turun, namun akan menerima uang tunai.
Pada penutupan perdagangan di bursa, harga saham Apexindo kemarin Rp 2.225 per saham.
"Manajemen Medco Energi yakin divestasi ini akan memberikan dampak positif pada rasio utang terhadap ekuitas Medco Energi, sedangkan pada saat yang sama hasil divestasi tersebut dapat dipergunakan untuk memperkuat neraca Medco Energi dan untuk investasi di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi," kata Hilmi.
Direktur Keuangan Agustinus B Lomboan berharap, tingkat profitabilitas meningkat hingga akhir tahun karena rig Raniworo segera menyelesaikan sumur terakhirnya di Petroleum Company Pty dan memulai proyek Santos di Sampang.
Selama semester I-2007, laba bersih Apexindo turun 7,4 persen, dari 16,2 juta dollar AS menjadi 15 juta dollar AS, karena penurunan laba nonkas atas transaksi swap. Pendapatan naik 19,2 persen menjadi 81,8 juta dollar AS dari 68,6 juta dollar AS periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini didorong kontribusi segmen rig darat yang naik 46,4 persen. (joe)
Labels: Divestasi Apexindo