Thursday, October 11, 2007

Total temukan sumur gas di Kaltim

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Total E&P Indonesie kembali menemukan dua sumur gas di Selatan Blok, lepas pantai Mahakam, sekitar 45 kilometer dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) dan merupakan bagian dari pengembangan lapangan Stupa.

Vice President Government & Media Relations Total E&P Indonesie Ananda Idris mengatakan kedua sumur dibor di kedalaman air sekitar 60 meter. Sumur East Mandu dan West Stupa-1 telah ditemukan lapisan sedimen dengan ketebalan 164 dan 72 meter dengan kandungan gas berkualitas baik.

"Tentunya ini kabar baik. Berapa persis potensi sumur itu, kami belum bisa informasikan. sampaikan," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Namun, akhirnya Ananda bersedia menyebutkan potensi sumur itu. Menurut dia, dengan penemuan sumur gas baru itu akan memperpanjang produksi 2,5 miliar hingga 2,6 miliar kaki kubik per hari. "Artinya, kami bisa memproduksi hingga awal masa dasawarsa mendatang."

Dia menambahkan penemuan kedua sumur itu diharapkan segera dikembangkan seiring rencana pengembangan Lapangan Stupa. Validasi bisa dimulai dalam waktu dekat dan mulai produksi 2012. Total sendiri telah menyerahkan rencana pengembangan lapangan itu ke BP Migas Juli 2007.

Produsen gas

Pengeboran sumur di East Mandu-1 ini agak sensitif mengingat kesulitan yang dihadapi untuk mengawasi tekanan dan cairan sumur tersebut. "Keberhasilan operasi ini adalah berkat kemampuan teknis tinggi yang dimiliki Total dan pengalaman beroperasi di Blok Mahakam selama 36 tahun," tukas Ananda.

Dia menjelaskan, pekerjaan pengeboran ini dilakukan oleh PT Apexido Pratama Duta Tbk, yang juga sedang mengoperasikan lima rig untuk Total. Hadir di Indonesia sejak 1968, Total E&P Indonesie saat ini menjadi produsen gas terbesar di Indonesia.

Gas yang dihasilkan oleh Total rata-rata mencapai 2,6 miliar kaki kubik per hari pada paruh 2007 dan diharapkan dapat bertahan hingga awal dasawarsa mendatang. Blok Mahakam juga memproduksi minyak mentah dan kondensat dengan kisaran rata-rata 90.000 barrel per hari pada paruh pertama 2007.

Sejak 1999, produksi Total terus berkembang pesat. Pada saat ini, Total memproduksi 80% gas yang dialirkan ke kilang pencairan gas di Bontang yang kesemuanya bersumber dari lapangan Tambora, Tunu dan Peciko di areal Mahakam. (09)

Total Temukan Gas di Blok Mahakam

JAKARTA, Investor Daily --- PT Total EP Indonesie menemukan gas di dua sumur yang terletak di selatan lepas pantai Blok Mahakam atau sekitar 45 km dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Penemuan gas masuk dalam areal pengembangan Lapangan Stupa dan akan meningkatkan potensi cadangan lapangan tersebut.

Manajer Komunikasi Perusahaan Total EP Indonesie Ananda Idris dalam siaran pers di Jakarta, Rabu mengatakan, rencana pengembangan Lapangan Stupa telah diajukan pada Juli 2007 lalu ke Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas).

Kedua sumur yang dinamakan East Mandu-1 dan West Stupa-1 dibor dalam kedalaman air sekitar 60 meter.

Gas sumur East Mandu-1 dan West Stupa-1 yang ditemukan berkualitas baik di masing masing lapisan sedimen dengan ketebalan 164 dan 72 meter.

Ia mengatakan, kedua sumur akan dikembangkan seiring rencana pengembangan Lapangan Stupa yang akan divalidasi dalam bulan-bulan mendatang agar dapat mulai berproduksi tahun 2012.

Pekerjaan pengeboran itu dilaksanakan PT Apexindo Pramata Duta Tbk, yang juga sedang mengoperasikan lima rig Total di Indonesia.

Blok Mahakam memproduksi gas sebesar 2,6 miliar juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Gas yang bersumber dari Lapangan Tambora, Tunu, dan Peciko itu merupakan 80% dari total gas yang dialirkan ke Kilang LNG Bontang, Kaltim.

Blok Mahakam juga memproduksi minyak mentah dan kondensat sebesar rata-rata 90.000 barel per hari pada semester pertama tahun 2007. (ant/gor)

Wednesday, October 10, 2007

Medco membeli 32% saham Apexindo dari Seadrill, Short list pembeli ditetapkan pekan ini

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Medco Energi Internasional Tbk dan penasihat keuangannya Credit Suisse bakal menetapkan daftar pendek (short list) calon pembeli 52% saham perusahaan pengeboran PT Apexindo Pratama Duta Tbk pada 11 Oktober.

Sumber Bisnis yang mengetahui transaksi itu mengatakan awal pekan ini, calon pembeli Apexindo memasukkan dokumen penawaran.

"Rencananya, daftar pendek calon pembeli saham Apexindo yang dianggap layak ditetapkan pada 11 Oktober," tuturnya, kemarin.

Ketika dikonfirmasi, Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro membenarkan soal penentuan daftar pendek calon pembeli Apexindo pekan ini.

Anehnya, di tengah proses penjualan saham Apexindo kepada sejumlah investor, Director of Corporate Growth Medco Rashid Mangunkusumo, seperti dikutip Bloomberg, tiba-tiba mengatakan Medco membeli 32% saham Apexindo dari Seadrill, sehingga kepemilikannya kini menjadi 84%.

"Kami ingin mengombinasikan saham [yang sudah kami miliki dengan yang dari Seadrill] untuk kemudian menjualnya sebagai satu paket," kata Rashid, kemarin. Hilmi Panigoro justru membantah berita soal pembelian saham Apexindo. "Tidak benar itu. Bloomberg yang salah kutip. Rashid juga sudah membantahnya."

Medco ingin menjual kepemilikannya di Apexindo karena akan fokus pada pengembangan hulu minyak dan gas.

Perusahaan yang dikendalikan oleh Keluarga Panigoro itu menawarkan saham perusahaan pengeboran tersebut kepada kurang dari 50 calon pembeli strategis berbasis internasional. Untuk melakukan divestasi tersebut, Medco menunjuk Credit Suisse sebagai penasihat keuangan.

Sejumlah perusahaan yang ditawari untuk membeli saham Apexindo di antaranya adalah perusahaan raksasa private equity Texas Pacific Group (TPG), Grup 3I, Ashmore, Recapital, dan sejumlah institusi keuangan luar negeri seperti di Timur Tengah.

Sementara itu, dalam pengumuman resmi, Seadrill menyatakan menjual saham Apexindo US$220 juta. Dengan menjual 32% saham atau 835 juta saham Apexindo, perusahaan itu bakal membukukan keuntungan US$150 juta pada kuartal keempat.

Namun, dalam pernyataannya kepada bursa saham Oslo, manajemen Seadrill sama sekali tidak menyebutkan identitas pembeli tersebut.

Chief Financial Officer Seadrill Trond Brandsrud juga menolak menyebutkan identitas pembeli dengan alasan kerahasiaan perjanjian.

Penjualan dilakukan Seadrill setelah menilai kepemilikannya di Apexindo bukan lagi strategis. Seadrill membeli saham Apexindo pada 2005 ketika perusahaan itu didirikan oleh miliuner perkapalan kelahiran Norwegia John Fredriksen. Perusahaan berbasis di Bermuda dengan pengoperasian usaha dijalankan dari Stavanger, Norwegia.

Kala itu, kata Brandsrud, Seadrill memang tengah mencari mitra strategis untuk membangun perusahaan. Kemudian ketika perusahaan membeli perusahaan pesaing di Norwegia yakni Semedfig ASA pada 2006, investasi di Apexindo menjadi tak lebih dari investasi keuangan.

"Kepemilikan [saham Apexindo] dulu itu sebagai opsi strategis ketika kami baru memulai sebagai sebuah perusahaan. Kini kami telah membangun operasi di kawasan itu dan harganya bagus, jadi kami jual," kata Brandsrud.

Apexindo tercatat mempunyai sembilan rig (alat pengeboran) darat, empat swamp barge, dan dua jack-up rig.

Belum lama ini, Presdir Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan divestasi akan membuat Apexindo lebih leluasa mencari pendanaan guna mendukung ekspansinya a.l. membeli jack-up rig ketiga sebagaimana telah direncanakannya. (pudji.lestari@bisnis.co.id /munir. haikal@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari & M. Munir Haikal
Bisnis Indonesia

Tuesday, October 9, 2007

Seadrill Sells Stake in Medco’s Unit

Jakarta, The Jakarta Post -- Seadrill Ltd., the Norwegian oil-rig company founded by billionaire John Fredriksen, sold its stake in the drilling unit of PT Medco Energi Internasional for $220 million.

Seadrill will book a gain of about $150 million in the fourth quarter after selling its 32 percent stake, or 835 million shares, in Indonesia's PT Apexindo Pratama Duta, the company said in a statement to the Oslo stock exchange Monday.

“The investment in Apexindo was acquired at the time when Seadrill was seeking a ``strategic partner'' to build up the infrastructure of the company, Seadrill said.

After buying Norwegian Norwegian rival Smedvig ASA in 2006, the investment in Apexindo “became more of a financial investment for Seadrill, it said. - Bloomberg

Lepas Apexindo, Seadrill untung US$150 juta

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Seadrill Ltd, perusahaan pengeboran minyak asal Norwegia, melego 32% saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk seharga US$220 juta.

Seadrill dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Oslo kemarin, mengatakan perusahaan asing itu akan membukukan keuntungan US$150 juta pada kuartal keempat dari penjualan 32% saham atau 835 juta saham Apexindo.

"Investasi di Apexindo dilakukan pada saat Seadrill mencari mitra strategis untuk membangun infrastruktur perusahaan," tulis manajemen Seadrill dalam pernyataan tersebut seperti dikutip Bloomberg, kemarin.

Setelah membeli perusahaan pesaing di Norwegia yakni Semedfig ASA pada 2006, investasi di Apexindo menjadi investasi keuangan.

Seadrill didirikan oleh miliuner perkapalan kelahiran Norwegia John Fredriksen yang berbasis di Bermuda dan usahanya dijalankan dari Stavanger, Norwegia.

Apexindo tercatat mempunyai sembilan rig (alat pengeboran) darat, empat swamp barge, dan dua jack-up rig.]

Sementara itu, perusahaan yang dikendalikan keluarga Panigoro PT Medco Energi Internasional Tbk menawarkan 52% saham Apexindo kepada 20-30 pemodal strategis dari domestik ataupun luar negeri.

Sejumlah perusahaan yang ditawari untuk membeli saham Apexindo di antaranya adalah perusahaan raksasa private equity Texas Pacific Group (TPG), Grup 3I, Ashmore, Recapital, dan sejumlah institusi keuangan luar negeri seperti di Timur Tengah.

Dalam proses penjualan saham itu, Medco dibantu oleh bank investasi asing Credit Suisse sebagai penasihat.

Seorang eksekutif yang terlibat dalam transaksi ini mengatakan sebagian besar investor yang ditawari Medco untuk membeli Apexindo berasal dari luar negeri.

"Valuasi saham yang ditawarkan oleh Medco cukup tinggi bisa mencapai enam kali nilai bukunya. Namun, sampai saat ini belum ada kesepakatan."

Analis CIMB-GK Securities Indonesia Robert Adair mengatakan dengan menerapkan P/BV sebesar 1,7 kali yang dikalikan revaluasi aset akan memberikan target harga? Rp2.700 per saham. Harga saham Apexindo kemarin ditutup turun Rp75 menjadi Rp2.500 per saham.

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Thursday, October 4, 2007

Saham Apexindo dicatatkan

JAKARTA, Bisnis Indonesia: PT Apexindo Pratama Duta Tbk menambah saham baru hasil pelaksanaan konversi program opsi saham untuk karyawan (employee stock option program/ESOP) menjadi saham sebanyak 6.000 saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi kepada BEJ kemarin disebutkan saham hasil konversi ESOP itu akan dicatatkan dan diperdagangkan pada hari ini.

Dengan demikian, sebagai akibat pencatatan itu, jumlah saham Apexindo Pratama yang tercatat di BEJ seluruhnya mencapai 2,63 miliar saham, sedangkan ESOP yang belum dikonversi setara dengan 26,72 juta saham. (Bisnis/06)

Monday, October 1, 2007

Apexindo Dapatkan Perpanjangan Kontrak

JAKARTA, Koran Tempo -- PT Apexindo Pratama Duta Tbk. mendapatkan perpanjangan kontrak Virginia Indonesia Co. LLC. dalam pengeboran rig 9 dan rig 10 di Nilam, Kalimantan Timur.

Sekretaris Perusahaan Apexindo Pratama Duta Ade R. Setari dalam penjelasan kepada Bursa Efek Jakarta mengatakan kontrak ini akan diperpanjang dua bulan lagi sampai 31 Oktober 2007. Seharusnya kontrak sudah selesai 1 September lalu, tapi, karena proyek pengeboran di rig 9 dan rig 10 belum selesai, jadi kontrak diperpanjang.

Terjadi perubahan nilai kontrak dengan adanya perpanjangan ini. Ada kenaikan 9,08 persen biaya kontrak dibanding kontrak sebelumnya. "Nilai kontrak sebelumnya, yakni US$ 13,93 juta, berubah menjadi US$ 15,33 juta," kata Ade.

Apexindo merupakan kontraktor pengeboran minyak, gas, dan panas bumi swasta nasional dengan jumlah rig terbesar. Saat ini Apexindo memiliki 8 rig darat dan 6 rig lepas pantai. SAHALA LUMBANRAJA

Tuesday, September 25, 2007

Harga naik, Apexindo sulit buy back obligasi

JAKARTA, Bisnis Indonesia: Harga obligasi PT Apexindo Pratama Duta Tbk naik di level 103%, akibatnya manajemen kerepotan menjalankan rencana pembelian kembali (buy back) obligasi pada tahun ini.

Direktur Keuangan Apexindo Agustinus Lomboan mengatakan perseroan memiliki kas yang cukup untuk menjalankan rencana buy back, yang sudah diagendakan sejak tahun lalu.

Menurut rencana, perseroan menawarkan opsi untuk membeli kembali obligasinya melalui mekanisme pasar hingga sebanyak-banyaknya US$20 juta atau setara dengan Rp184 miliar (dengan asumsi US$1= Rp9.200).

Agustinus mengatakan posisi kas perseroan memang meningkat, akan tetapi harga obligasi I/2005 sudah mencapai level 103%. Dengan harga yang premium ditambah transaksi obligasi perseroan yang likuid di pasar, dia mengatakan cukup repot untuk menjalankan buy back.

"Walau ada kas yang bisa digunakan untuk buy back, kalau harganya premium tentu tidak bermanfaat. Buy back belum tentu batal. Kami perlu hitung-hitungan lagi dalam tiga bulan ini," tuturnya pekan lalu.

Agustinus menambahkan kemungkinan buy back tetap terbuka, terlebih jika ada pemegang obligasi yang mau melepas kepemilikannya di bawah harga pasar. Pembelian diizinkan selama perseroan masih menyisakan surat utang itu tercatat di Bursa Efek Surabaya (BES).

Rencana buy back obligasi telah diinformasikan kepada para pemegang obligasi melalui BES tahun lalu. Perseroan mempunyai hak untuk membeli kembali obligasi satu tahun setelah obligasi diterbitkan.

Pada 2005, Apexindo menerbitkan surat utang yang terbagi dalam bentuk konvensional dan syariah dengan nilai masing-masing Rp510 miliar dan Rp240 miliar.

Obligasi yang jatuh tempo pada 2009 itu mempunyai tingkat bunga 12,25%, di mana obligasi syariah mengikuti patokan bunga surat utang konvensional.

Dalam perkembangan terakhir, Presdir Apexindo Hertriono Kartowisastro mengatakan dalam rangka divestasi kepemilikan saham mayoritas di Apexindo, PT Medco Energi Internasional Tbk telah menyebarkan sebanyak 50 undangan kepada sejumlah perusahaan pembiayaan/investment banking dan perusahaan pengeboran sejenis dengan Apexindo, baik asing maupun domestik.

Konglomerat domestik

Dari daftar calon penawar itu, diakui Hertriono, sebagian besar merupakan investment banking. Di antara daftar itu pula terdapat konglomerat bisnis domestik. Namun, dia menolak menyebutkan nama.

Dia mengakui lebih menyukai pembeli yang berasal dari perusahaan sejenis, sehingga lebih mudah dalam perencanaan ke depan. "Tetapi, skala perusahaan pengeboran juga harus yang cukup besar, sehingga mampu membeli Apexindo. Di samping itu, calon pembeli tentu yang mempunyai kepentingan dan pembelian memberi nilai tambah baginya," tuturnya.

Hertriono juga mengungkapkan kemungkinan perusahaan domestik mampu membeli dengan pembiayaan dari luar negeri. "Tetapi jangan lupa banyak perusahaan di Indonesia yang sudah punya perusahaan keuangan sendiri," ujarnya.

Agustinus mengatakan ada kemungkinan konglomerat itu menggunakan nama lain, sehingga sulit terdeteksi. Saat ini, Credit Suisse yang ditunjuk sebagai penasihat keuangan dalam divestasi ini tengah melakukan beauty contest calon pembeli strategis tersebut. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

Friday, September 21, 2007

Tujuh Perusahaan Incar Apexindo

Jakarta (Media Indonesia): Tujuh perusahaan bersaing memperebutkan 51% saham perusahaan pengeboran minyak PT Apexindo Pratama Tbk senilai lebih dari US$500 juta atau Rp4,5 triliun yang dimiliki Medco Energy (Medco).

Dari tujuh perusahaan itu, empat di antaranya merupakan perusahaan investasi asing raksasa. Sedangkan untuk calon pembeli lokal diantaranya perusahaan infrastruktur milik pengusaha Aksa Mahmud.

Sumber Media Indonesia yang mengetahui proses penawaran 51% saham Apexindo ini mengungkapkan empat perusahaan investasi asing itu adalah Texas Pasific Group (TPG) asal Amerika Serikat (AS), CVC Investment Group (AS), dan 3i Investment Group Plc asal Inggris.

TPG, Charlie, dan CVC merupakan tiga di antara lima perusahaan investasi (private equity fund) terbesar di AS. Sedangkan 3i merupakan salah satu perusahaan investasi terbesar di Inggris dan Eropa.

Di Asia Pasifik, TPG baru saja mengakuisisi maskapai penerbangan Australia, Qantas. Sedangkan di Indonesia, TPG melalui afiliasinya, North Star Equity Partners, yang dipimin pengusaha muda Patrick Walujo, juga telah mengakuisisi Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) dan meminati Garuda Indonesia.

Sedangkan Carlile merupakan perusahaan investasi yang secara historis selalu dipimpin mantan petinggi pemerintahan AS dari Partai Republik. Keempat perusahaan investasi asing tersebut masing-masing mengelola dana lebih dari US$100 miliar.

Peminat lokal yang turut serta dalam persaingan perebutan Apexindo antara lain PT Nusantara Infrastructure Tbk, yang mayoritas sahamnya dimiliki kelompok Bosowa melalui anak usahanya, PT Nusantara Konstruksi Indonesia (NKI).

Bosowa sendiri dimiliki oleh pengusaha asal Makassar, Aksa Mahmud. Menurut sumber tersebut, Nusantara Infrastructure sebenarnya tidak masuk dalam daftar perusahaan yang diundang oleh Medco untuk ikut tender akuisisi Apexindo. “Namun, menjelang penutupan pengajuan minat, Nusantara tiba-tiba masuk dan mengajukan surat minat,” ungkap sumber tersebut.

Sedangkan dua perusahaan lokal lainnya merupakan perusahaan investasi dan pemilik sebuah tambang batu bara di Kalimantan yang dipimpin oleh para pengusaha muda.

Nilai aset US$1,1 miliar

Sementara itu, dalam penghitungan yang dilakukan oleh Credit Suisse selaku konsultan keuangan penjualan, nilai aset Apexindo diperkirakan berkisar US$1,1 miliar atau sekitar Rp10 triliun. Jumlah ini berarti lebih dari 10 kali EBITDA (earning, before income tax depreciation and amortization) Apexindo, yang pada tahun lalu tercatat kurang lebih US$90 juta.

Berdasarkan perhitungan tersebut, nilai 51% saham Apexindo yang dimiliki Medco diperkirakan bernilai kurang lebih US$500 juta.

Saat ini proses penjualan Apexindo akan segera memasuki tahap due dilligence setelah masa pengajuan minat ditutup Rabu (19/9) kemarin. Diharapkan awal November nanti proses penjualan Apexindo akan selesai.

Apexindo sendiri menginginkan investor di bidang usaha sejenis menjadi pembelinya. Hal itu dinilai lebih efektif untuk mendukung kinerja perseroan selanjutnya. “Kalau dibeli oleh perusahaan sejenis, mungkin kita akan dilebur dengan usaha mereka dan kita bisa menjadi lebih berkembang,” ujar Dirut Apexindo Hertriono Kartowisastro.

Selain dikuasai Medco, 32% Apexindo dimiliki oleh perusahaan pengeboran asal Norwegia, Seadrill, dan sisanya 17% dimiliki oleh publik. (Dre/CR-79/E-1)

Kontrak Rig Apexindo Naik 100%

JAKARTA (Seputar Indonesia) – PT Apexindo Pratama Duta Tbk optimistis pendapatan dari anjungan pengeboran (rig) akan meningkat dua kali lipat pada tahun depan.

Sikap optimistis manajemen perseroan didasarkan pada kenaikan tarif sewa harian yang mencapai 100% dari dua anjungan pengeboran, yang beroperasi pada paruh kedua tahun ini dan tahun depan. ”Pendapatan dari Rig Raniworo tahun depan naik dari USD72.000 menjadi USD146.000,” ungkap Direktur Utama Apexindo Pratama Duta Hertriono Kartowisastro di Jakarta kemarin. Dia menuturkan, kenaikan pendapatan yang cukup signifikan tersebut disebabkan kontrak Rig Raniworo naik 100% dibandingkan kontrak sebelumnya dari Cresent Petroleum.

Tahun ini Rig Raniworo akan dibawa dari Iran ke Jawa Timur untuk mengerjakan kontrak dari Santos. Sampai akhir tahun ini, menurut Hertriono, pendapatan perseroan juga diperkirakan meningkat dengan beroperasinya Rig Soehanah. Peningkatan pendapatan itu didorong segmen anjungan pengeboran darat yang naik 88,6% menjadi Rp529,5 miliar, dari semula Rp280,8 miliar. Di sisi lain, segmen rig laut menyumbang pendapatan Rp906,4 miliar, atau naik hanya 6% dari Rp854,7 miliar. Apexindo telah mengantongi empat kontrak pengeboran baru dan perpanjangan kontrak lama dengan total nilai proyek USD22,5 juta.

Perseroan mendapat perpanjangan kontrak USD13,9 juta untuk pengeboran selama enam bulan di Kalimantan Timur dari VICO untuk Rig 9 dan Rig 10. Kontrak untuk Rig 15 dari Pearoil (Tungkal) Limited senilai USD2,6 juta,kontrak Rig 8 sebesar USD2,5 juta dolar dari Lundin Blora BV, dan Rig 2 dari joint operation body (JOB) Pertamina- Medco Tomori senilai USD3,5 juta. Pada Desember 2006, perseroan mencatatkan pendapatan USD156 juta. Sedangkan sampai semester I/ 2007, pendapatan perseroan tercatat USD81 juta. Mengenai rencana penjualan Apexindo oleh induk perusahaan PT Medco Energi International Tbk, Hertriono berharap perseroan akan dibeli perusahaan yang mempunyai bidang sama.

Hal ini dipandang sangat membantu untuk meningkatkan kinerja perseroan. Jika dibeli sebuah institusi keuangan, sering kali hanya dibeli untuk kemudian dijual kembali. Jadi, saat ini kemungkinannya ada dua. Apexindo dibeli perusahaan yang memang bergerak di bidang pengeboran atau dibeli institusi keuangan. ”Kalau dibeli perusahaan sejenis, kemungkinan kita akan dilebur dengan usaha mereka, dan kita bisa menjadi lebih berkembang. Jika dibeli investment banking atau institusi keuangan, nanti kita lihat saja apa yang akan dilakukan terhadap Apexindo,” tambahnya.

Lebih jauh, dia menuturkan nilai penjualan Apexindo harus lebih tinggi dari kapitalisasi perseroan saat ini yang sebesar USD700 juta. ”Nilai perkiraan yang diberikan investor tidak boleh lebih kecil dari nilai itu. Jika lebih kecil maka tidak akan ada bedanya dengan investor tersebut masuk melalui pasar saham,”ujarnya. Selain Medco, saat ini Apexindo dimiliki Asian Opportunities Fund I Segregated sebanyak 15,858%, serta CIMB-GK Securities Pte Ltd sebanyak 15,858% dan publik sebanyak 16,742%.

Dihubungi terpisah, analis Bhakti Securities Budi Ruseno mempertanyakan alasan penjualan Apexindo oleh Medco. Menurut dia, hal itu sangat aneh di tengah industri pertambangan yang saat ini sedang booming. ”Ada apa Medco melepas Apexindo,”tanyanya. Budi mendukung jika nantinya Apexindo dikuasai oleh perusahaan sejenis. Hal itu akan membuat Apexindo lebih berkembang. ”Kalau perusahaan itu concern dengan usaha yang dilakukan oleh Apexindo, tentu ini akan sangat bagus,” tambahnya. (rakhmat baihaqi)